NAMAKU TETAP SENJA 07
(Tien Kumalasari)
Mbok Mangun sudah duduk di kursi makan, menunggu Rimba segera menyusul. Tapi Rimba tak kunjung datang.
“Rimba,” panggilnya.
Rimba mendekat sambil membawa kertas temuannya.
“Mbok ….”
“Mbakyumu mungkin terlambat, akhir-akhir ini katanya ada pelajaran tambahan.”
“Iya, Rimba tahu. Ini lho Mbok, ini apa?” katanya sambil menunjukkan tulisan yang ditemukannya.
“Apa ini? Simbok nggak bisa baca tulis, apa kamu lupa?”
“Ini catatan hutang.”
“Apa?” mbok Mangun terkejut.
“Ini catatan hutang. Di sini tertulis sisa hutang tujuh juta empat ratus rupiah.”
“Apa?”
“Simbok punya hutang?”
“Ada-ada saja, barangkali punya pengirim beras tadi,” kata simbok dengan hati berdebar.
Ia tak ingin anak-anaknya tahu bahwa dia punya hutang. Tapi dia khawatir, ada tulisan namanya di situ. Memang tadi pak RT memberikan catatan, tapi simbok tak memperhatikannya, kertas diletakkan sembarangan. Toh dia tidak bisa membaca.
“Rimba menemukannya terjatuh di lantai situ, barangkali punya Simbok.”
“Apa ada tulisannya nama simbok?”
“Tidak ada, hanya catatan hutang, Mencicil, membayar bunga, sisa hutang … “
“Buang saja Le, simbok nggak ngerti, ayo makan saja. Apa kamu tidak lapar?”
“Ya lapar Mbok,” kata Rimba yang segera duduk.
Sementara simbok meremas kertas itu lalu dibuangnya di tempat sampah.
Ada rasa miris ketika teringat hutangnya yang sudah hampir tiga tahun dicicil tiap seminggu sekali, tapi berkurangnya tidak seberapa.
“Kok Simbok tidak makan?”
“Simbok menemani kamu dulu, nanti simbok makan bersama mbakyumu,” kata simbok yang sesungguhnya kehilangan selera makan ketika teringat lagi hutangnya.
“Nanti Rimba bantuin Simbok menakar beras ya?”
“Apa kamu tidak capek, baru pulang sekolah?”
“Setelah makan capeknya hilang,” kata Rimba sambil menyendok makanannya.
Simbok terharu melihat sang anak makan dengan lahap. Hanya sayur dari tuntut pisang dan ikan asin, tapi Rimba makan dengan lahap.
***
Arka bersiap untuk pulang ketika ponselnya berdering, dari Rosa. Enggan Arka mengangkatnya tapi dering itu menyakitkan telinganya.
“Ya….?”
“Arka, kamu masih di kantor? Kata ayahmu sudah saatnya kamu pulang.”
“Ini mau pulang.”
“Ternyata kamu suka sepedaan juga? Tadi ayahmu bilang kalau mau aku dimintanya nyamperin kamu untuk sepedaan bersama.”
“Nggak. Belum tentu suka, hanya coba-coba karena lama tidak melakukannya.”
“Besok kan hari Minggu, aku ke rumah kamu ya, kita sepedaan bersama, pasti seru. Kalau pagi aku suka sepedaan sendiri. Nah ini aku dapat teman.”
“Aku terkadang malas.”
“Besok aku bangunin kamu untuk sepedaan bersama ya.”
Arka belum sempat menjawab ketika ponsel Rosa sudah dimatikan. Ia benar-benar mengeluh. Ayahnya sangat ingin agar dirinya bisa semakin dekat dengan Rosa, apapun caranya. Sedangkan bersepeda saja sang ayah menemukan jalan untuk mempersatukannya.
Arka pulang dengan wajah lesu. Esok hari dia akan pergi pagi-pagi sekali, sebelum si reseh itu datang.
***
Senja mengayuh sepedanya pelan. Ada tambahan pelajaran yang membuatnya harus pulang sore. Ia sudah mengatakannya kepada simbok, jadi simbok sudah tahu kalau anak gadisnya akan pulang terlambat.
Sedang enak-enak mengayuh sepeda, tiba-tiba sebuah mobil berjalan pelan di sampingnya.
“Senjaaaa,” pengendara itu berteriak.
Sekarang Senja sudah hapal suaranya. Tuan ganteng itu ngapain saja, selalu tiba-tiba muncul tanpa diharapkan kehadirannya. Ia menoleh ke samping, pengendara mobil itu membuka jendela mobilnya, melambaikan tangannya sambil tersenyum. Senja merengut, adanya mobil di samping membuatnya risih. Ia menggenjot sepedanya lebih cepat, tapi mobil itu terus saja ada di sampingnya.
“Senja, mau jus buah?” teriaknya lagi sambil memperlihatkan keresek bening yang di dalamnya berisi beberapa gelas minuman.
Senja mendiamkannya, tapi kemudian mobil itu berhenti di depannya, membuat Senja tiba-tiba turun dari sepedanya.
“Tuan kenapa sih, setiap saat mengganggu saja?” sungutnya.
“Jangan marah Senja.”
Ia memang Arka, yang kemudian turun dan mengulurkan keresek kepada Senja.
“Nggak mau!”
“Senja, ini jus buah, segar dan sehat. Dalam udara yang panas begini, minum jus buah sangat menyegarkan,” kata Arka yang langsung menggantungkan keresek itu di stang sepeda Senja.
Sebelum Senja mengomel, Arka sudah masuk ke dalam mobilnya kemudian berlalu setelah melambaikan tangannya sambil tersenyum.
“Ya ampuun, tuan ganteng itu kenapa nekat sekali? Dan kenapa juga saat dia pulang, padahal sudah sore, masih juga bertemu dia?”
***
Belum masuk ke rumah, sang ayah yang duduk di teras sudah menyambutnya dengan ucapan yang membuatnya kesal.
“Arka, besok Rosa mau kemari pagi-pagi. Kamu tungguin dia untuk bersepeda bersama.”
Arka tak menjawab, terus berlalu masuk ke rumah, membuat sang ayah berteriak.
“Arka! Bapak bicara sama kamu.”
Arka terpaksa berhenti dan kembali mendekati sang ayah.
“Arka sudah mendengarnya. Tapi kelihatannya Arka sedang malas, tidak ingin ke mana-mana."
“Besok kan hari Minggu, saatnya ber rekreasi. Rosa ingin sekali bersepeda. Itu memang kesukaannya."
“Kita lihat saja nanti,” jawabnya sambil berlalu.
“Hm, susah sekali anak itu diatur. Gadis seperti Rosa, tidak bisa menarik hatinya? Itu kebangetan sekali,” gumamnya kesal.
“Kenapa Pak, anak baru datang sudah dimarah-marahi,” kata sang istri yang menyusul duduk di dekatnya.
“Anakmu itu susah diatur. Berjodoh sama Rosa itu sebuah keberuntungan bagi usahanya, tapi tampaknya dia tidak tertarik sama sekali.”
“Kita harus bersabar, cinta tidak bisa datang tiba-tiba. Harus melalui liku-liku yang panjang.”
“Ada orang mengatakan, bisa saja manusia jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Tidak semua bisa begitu. Banyak hal menarik yang membuat orang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Tapi Arka tidak begitu. Padahal apa kurangnya Rosa?”
“Arka orang yang tidak mudah jatuh cinta. Teman-temannya kuliah dulu juga cantik-cantik. Tidak satupun membuatnya tertarik. Aku juga heran.”
“Tapi untuk yang satu ini, bagaimanapun caranya, Rosa harus menjadi menantu kita. Ibu harus mendukung aku. Sering-sering Ibu bilang kepada Arka, bahwa Rosa gadis terbaik yang bisa menjadi istrinya.”
“Nanti ibu bicara sama dia, yang penting harus bersabar. Arka tidak bisa diatur-atur dalam hal cinta.”
“Pokoknya Ibu harus bantu aku. Tidak boleh tidak, Arka harus mau beristrikan Rosa. Jangan sampai kita mengecewakan pak Daryono.”
“Padahal kelihatannya pak Daryono bersikap sangat lunak lhoh.”
“Itu hanya kelihatannya, hanya untuk menenangkan hati Arka. Sudah, Ibu jangan lemah, terus beritahu Arka bahwa jodohnya adalah Rosa.”
Sang istri menghela napas panjang, ia tak pernah bisa membantah apa kata suaminya yang begitu keras dan boleh dikatakan sangat arogan.
***
"Mbak Senja membawa apa?” teriak Rimba dari dalam ketika melihat Senja datang sambil membawa keresek yang belum juga dibuka isinya.
“Ini, buka sendiri,” kata Senja sambil memberikan keresek itu kepada adiknya.
“Wooouw, ada jus buah. Macam-macam ini, entah bagaimana rasanya.”
“Kamu beli jus buah, Nduk?” tanya simbok.
“Tidak Mbok, dikasih orang itu lagi.”
“Orang itu lagi yang mana?”
“Yang kemarin lusa menolong Senja, lalu memberikan es buah juga.”
“Ketemu lagi?”
“Iya. Tadi pagi malah ketemu ketika Senja mau berangkat sekolah.”
“Dia rumahnya di mana, kok sering ketemu?”
“Nggak tahu MBok.”
“Mbok, ini buat simbok sama mbak Senja, aku yang kuning saja, ini rasanya seperti mangga.”
“Ya ampun, ini enak sekali. Kamu yang mana Nja? Simbok sisanya saja.”
“Simbok ambil yang mana saja, Senja sisanya. Sekarang mau bersih-bersih dan ganti baju.”
“Simbok tunggu di meja makan ya Nduk, sama jusnya simbok bawa ke sana sekalian,” kata simbok.
Senja berlalu, dan simbok masih berpikir tentang kebaikan orang yang sudah menolong Senja dan berkali-kali memberikan minuman sehat.
***
Arka sudah berganti pakaian rumahan, beranjak ke belakang menemui bibik pembantu.
“Bik, Bibik kalau beli beras di mana?”
“Apa Tuan muda? Tuan bicara tentang beras?” tanya bibik heran.
“Iya, beras yang dimasak jadi nasi itu.”
“Ya di pasar Tuan, sudah langganan.”
“Mulai besok, aku yang akan membeli beras.”
Bibik menatap dengan heran. Tuan mudanya akan membeli beras?
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning..
DeleteAlhamdulillah eNTeeS_07 sdh hadir. Terima kasih mbak Tien, salam SEROJA, tetap SEMANGAT & tetap ADUHAI.
ReplyDeleteSalam hormat untuk kangmas Tom Widayat.
Nuwun mas Kakek. Wa'alaikumussalam warah matullahi wabarakatuh darimas Tom
DeleteSuwun mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yang tie
Deleteππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_07
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄ππͺ΄
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteMatur suwun bu Tien ππ
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteAlhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat
ReplyDeleteSami2 pak Bambang. Salam sehat juga. Nggal pernah baca fb lagi?
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien sekeluarga selalu sehat, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Latief
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah NAMAKU TETAP SENJA,07 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulilah maturnuwun bu Tien senja sudah tayang, semoga ibu selalu sehat penuh berkah dan sll dlm lindungan Allah SWT aamiin yra.... salam aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteAlhamdulillah sudah tayang. suwun Bu Tien. Semoga sll sehat sekeluarga. Aamiin
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Handayaningsih
DeleteAlhamdulillah dah tayang, maturnuwun Bu Tien, selalu membuat para pembaca tertarik jatuh hati PD cerbungnya Bu Tien, kalau terlambat pasti kangen....semoga buTien tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 07 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah Arka Senja or Senja-nya Arka
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien
❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 jeng Susi
DeleteMks bunda Arka dan Senja sdh hadir....selamat malam bun, smg bumda sekelrg selalu sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Supriyati
DeleteAlhamdulillah cerbung yg di tunggu sdh hadir mksh Bu Tien smg sll diberikan kesehatan umur yg barokah
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ida
DeleteTerimakasih bunda Tien, sehat, semangat dan bahagia selalu. Tak lupa, Selamat Hari Raya Idul Adha, mohon maaf lahir batinπππ₯°π₯°
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah. Selamat Idhul Adha. Maaf lahir batin juga
DeleteDengan cinta, apapun bisa dilakukan, termasuk melewati Selat Hormuz...
ReplyDeleteO.. ya? Bisa kok. Asalkan sama prof.
DeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng enjang Bunda Tien, Selamat Hari Raya Idul Adha bahagia dan sehat selalu bersama keluarga tercinta.
Tetap semangat untuk berkarya dan kita semua menikmati nya trimakasih π€π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Etty. Selamat Idhul Adha juga. Mohon maaf lahir batin
Delete