Wednesday, April 29, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 28

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  28

(Tien Kumalasari)

 

 

Dokter Tyas termangu. Tangannya yang memegang keresek berisi sisa-sisa makanan kemudian menghentikan kegiatannya, lalu kembali duduk.

“Dokter yang aku kagumi menegur saya?” katanya dengan suara memelas.

“Maaf Dokter.”

“Dokter tak suka?”

“Bukan karena suka dan tidak suka. Sudah lama masalah pakaian yang Dokter kenakan itu menjadi pergunjingan, dan aku juga yang kena.”

“Mengapa Dokter yang kena?”

“Apa Dokter lupa, bahwa aku adalah pimpinan di rumah sakit ini? Mereka menuduh sebagai pimpinan aku tidak menegur Dokter. Sekali lagi maaf.”

“Sebenarnya Dokter suka kan?” dokter Tyas memang tak tahu malu. Teguran itu dianggapnya tidak serius. Hanya karena mendengar kasak kusuk dari luar.

“Tidak, Dokter Tyas. Itu memang tidak pantas. Ini lingkungan kerja. Adalah sebaiknya Dokter mengenakan baju yang lebih tertutup dan sopan. Orang-orang memandangnya sebagai sesuatu yang dipamerkan. Profesi Dokter di sini adalah profesi yang sangat terhormat. Beda kalau kita berada di area umum, area olah raga, sedang belanja, nonton bioskup, dan sebagainya.”

Zein heran pada dirinya karena tiba-tiba bisa mengatakan semua itu dengan sangat baik. Hal yang semula tidak dipikirkannya, tiba-tiba sebuah kesadaran melintas.

Dokter Tyas menatap dokter pujaannya dengan mata berkedip-kedip, seperti boneka anak-anak milik Santi atau Sinta ketika sedang dimainkan di rumah.

“Apa Dokter bisa mengerti?”

Dokter Tyas mengangguk.

“Saya sangat mengerti. Mulai besok saya akan memakai pakaian yang lebih rapat. Hanya saja pakaian saya sebagian besar ya seperti ini. Maukah Dokter mengantar saya untuk membelinya?” Ini lebih tak tahu malu lagi. Mengantar membeli berarti minta dibelikan. Sudah sering dokter Tyas bersikap begitu, dan Zein selalu menurutinya.

Tapi Zein tersenyum.

“Kalau mengantar membeli baju perempuan, aku tidak bisa. Dokter beli saja sendiri, nanti uangnya saya transfer ke rekening Dokter.”

”Benarkah?”

Apapun itu, berarti dokter ganteng itu masih mau memperhatikannya. Dokter Tyas mengangguk, pura-pura malu.

“Tentu saja benar. Kapan aku pernah berbohong?”

“Aku yakin, dokter Zein adalah dokter terbaik yang pernah saya kenal. Dan itu sebabnya mengapa saya sangat mengidolakan Dokter.”

Zein tersenyum. Ia selalu senang dipuja, dan itu membahagiakannya.

“Saya permisi dulu untuk membuang sampah ini, lalu kembali ke ruang kerja saya.”

Zein tak menjawab, tapi ia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Dokter Tyas melenggang genit, keluar dari ruangan. Zein menghela napas panjang. Bagaimanapun dokter Tyas selalu membuatnya tenang. Bukan goyang pinggulnya ketika melenggang, entah apanya.

***

Zein heran ketika sampai di rumah dilihatnya mobil sang istri sudah ada di garasi. Apa Indras tidak ke kantor? Apa dia sakit?

Zein memasuki rumah, tapi ia melihat sang istri sedang membersihkan kamar. Zein heran, biasanya membersihkan kamar selalu di pagi hari, dan dilakukan oleh bibik pembantu.

“Kamu tidak kerja?”

Indras terkejut. Ini pertama kalinya Zein mengajaknya bicara lebih dulu setelah bertahun-tahun tidak melakukannya.

“Kerja,” jawab Indras singkat.

“Mengapa sore-sore bersih-bersih kamar?”

“Pengin melakukannya saat sore,” katanya sambil menata bantal dan guling yang sudah bersarung, di atas kasur.

Indras melakukannya tanpa mengatakan apapun, sampai merasa kamarnya benar-benar sudah rapi.

Ketika Indras keluar, Zein juga membiarkannya. Seperti baru beberapa hari kenal, ia tak tahu harus bicara apa. Menurut Zein, istrinya sangat kaku dan bersikap sangat menjengkelkan.

Indras pergi ke dapur dan membuat minuman. Ia menolak ketika bibik akan melakukannya.

“Biar aku saja Bik, lanjutkan saja pekerjaan yang lainnya."

“Saya hanya sedang melipat baju sebelum saya menyetrika, Nyonya.”

“Ya, lanjutkan saja. Ini biar aku.”

Bibik mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.

Indras membawa dua gelas minuman, dibawanya ke ruang tengah, diletakkannya di meja. Ketika itulah suaminya juga sedang menuju ke ruang tengah. Indras membawa baki ke belakang, sementara Zein duduk dan menikmati kopinya.

Tiba-tiba terdengar teriakan Zein.

“Bibik! Mengapa kopinya terlalu manis?”

Indras terkejut, ia bergegas menghampiri sang suami, lalu meraih gelas yang baru saja diletakkan.

“Kamu yang membuat?”

“Ya.”

“Kalah dengan pembantu yang sudah tahu kebiasaan suami,” omelnya, cukup keras.

 Indras tak menjawab. Ia merasa Zein hanya sedang mencari gara-gara. Bukankah ia harus bersabar? Ia hanya membawa kopi itu kebelakang, lalu setelah beberapa saat lamanya, ia menyuruh bibik membawa  gelas yang sama, dan kopi yang sama pula dihadapan suaminya.

Zein menyeruputnya.

“Ini pasti buatan bibik. Pas rasanya.”

Indras ingin tertawa, atau mentertawakannya. Itu minuman yang sama, tapi Zein merasakannya seperti berbeda. Sebuah pelampiasan kemarahan yang salah, dan bisa dikatakan ngawur, hanya karena tak suka pada siapa yang membuatnya.

Indras tak menemaninya duduk, daripada nanti tak bisa menahan ketawanya, lalu meledak dihadapan suaminya. Zein sedang mencari pelampiasan kemarahan tapi tak berhasil.

Indras pergi ke kamar dan mandi. Setelah melakukan beberapa kegiatan rumah tangga ia merasa gerah. Lebih gerah lagi ketika mendengar omelan suami yang tidak pada tempatnya.

Ketika mengguyur air dingin dari kepala dan tubuhnya, Indras merasa sedang membuat lelucon yang tidak disadari suaminya, dan hanya dirinya sendiri yang terkekeh geli tapi sebenarnya terasa pedih di hati.

Benar kan? Kalau di rumah dia hanya ingin marah.

Tiba-tiba Indras ingin membuat satu lagi sebuah lelucon, tapi belum terpikirkan lelucon yang seperti apa.

***

Pagi hari itu entah mengapa Indras ingin sekali masak. Ia pergi ke dapur, mendekati bibik yang sedang mempersiapkan sesuatu.

“Bik, mau masak apa untuk sarapan?”

“Tadi tuan minta dibuatkan nasi goreng udang dan telur ceplok.”

“Biar aku yang masak ya Bik.”

“Silakan Nyonya.”

Bibik melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan cucian, sedangkan Indras berkutat membuat nasi goreng.

Aroma nasi goreng yang gurih wangi segera menyebar ke seluruh ruangan.

Zein sedang mengutak atik ponselnya setelah berpakaian dinas rapi. Hidungnya kembang kempis mencium aroma masakan pesanannya.

Indras sudah selesai memasak dan pergi ke kamar mandi. Dia juga harus segera bersiap ke kantor.

Beberapa saat kemudian Zein berteriak, apakah makan pagi sudah siap. Bibik mendekat dan mengatakan bahwa makan pagi sudah siap.

Zein bangkit dan berjalan ke arah ruang makan. Aroma wangi nasi goreng sudah sejak tadi menggelitik hidungnya.

“Tuan, saya panggil nyonya dulu,” kata bibik.

“Tidak usah, aku harus segera berangkat.”

Bibik urung ke kamar untuk memberi tahu sang nyonya, membiarkan tuan majikan menikmati sarapannya.

“Sudah pasti enak, masakan bibik tak pernah mengecewakan,” kata Zein sambil menyendok makanannya, dan tampak sangat menikmatinya.

“Tapi itu bukan masakan saya, Tuan.”

Zein berhenti menyendok, padahal dia sudah menghabiskan hampir separuh nasi gorengnya.

“Ini bukan masakan kamu?”

“Bukan Tuan, sejak pagi Nyonya memasak sendiri di dapur.”

“Pantesan aku rasakan tadi masakan ini agak keasinan,” gumamnya sambil melanjutkan menyuapkan makanannya.

Saat itu Indras sudah berdiri di pintu ruang makan, lalu membalikkan tubuhnya sambil menahan senyum. Dalam tawa yang ditahan ia masih menjaga agar sang suami tidak mendapat malu karena pernyataannya yang aneh. Tapi Indras merasa sedih, karena apa yang dilakukannya belum bisa membuat suaminya merasa puas. Selalu saja ada yang salah, tak ada bagus-bagusnya padahal Indras yakin bahwa Zein menyukai masakannya sejak dulu.

***

Di kantor, dokter Tyas merajuk, karena Zein lupa mentransfer uang yang akan dipergunakannya untuk belanja.

“Maaf. Kemarin ada rapat dengan komisaris tentang perluasan rumah sakit, jadi aku lupa. Hari ini pembicaraan juga akan dilakukan lagi. Tapi kamu sebenarnya tidak usah khawatir. Kamu datang saja ke butik langganan aku, belanja sesuka kamu, dan bilang tagihannya dikirim ke dokter Zein. Mereka sudah mengerti.”

“Begitu ya? Baiklah, nanti sepulang kerja saja saya sekalian mampir. Lihat baju yang saya pakai, sudah rapi kan, tapi saya hanya punya beberapa lembar baju, jadi harus membelinya lagi.”

“Ya, beli saja sesuka kamu. Maaf, saya akan rapat lagi.”

Dokter Tyas senang bukan alang kepalang. Belanja sesuka hati? Ia pasti akan melakukannya, nanti sepulang kerja.

***

Sore hari itu Indras sedang duduk sendirian di teras. Ia sudah mandi dan rapi. Tapi ia tidak sedang menunggui suami pulang. Ia tahu beberapa hari ini ada pengembangan di rumah sakit suaminya tentang perluasan ruangan dan alat-alat baru yang didatangkan dari luar negri.

Ia menikmati kopi dengan nyaman, dan meraih cemilan yang disediakan bibik. Tiba-tiba ada notifikasi di ponselnya. Dari butik langganan.

“Ibu, bersama ini saya mengirimkan total belanjaan atas nama dokter Zein, faktur terlampir.”

Lalu ada faktur yang dilampirkan, yang membuat matanya terbelalak. Suaminya membeli beberapa baju perempuan?

***

Besok lagi ya.

 

 

19 comments:

  1. πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eSAaCe_28
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’

    ReplyDelete
  2. Maturnuwun bu Tien .. salam sehat aduhai aduhai bun

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah...
    Matur sembah nuwun mBak Tien.
    Salam SEROJA tetap ADUHAI dan terus berkarya.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 28" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  5. Matur suwun Bu Tien πŸ™πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  6. Alhamdullilah sdh tayang..mksih bunda..slm seroja dan aduhai sll unk bunda πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah. Terimakasih bunda semoga sehat slalu

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk...

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sdah tayang SAC dng cerita bikin hati gregeten dan senyum2, maturnuwun Bu Tien tetap sehat semangat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta πŸ™πŸ™❤️

    ReplyDelete
  11. Aduh dokter zein diporotin sama tyas yg sabar ya dokter tyas semoga keluarganya baik baik aja

    ReplyDelete
  12. Assalamu'alaikum
    Suwun Bunda cerbung SAC. Aku menikmati ceritanya tapi gemes dg dr genit itu. Kasian dr Indras 😭

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~28 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  14. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 28 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Zein itu kepribadian nya terbelah dua, labil. Sama s janda muda bertekuk lutut klu sdh memuji nya setinggi langit. Sama Indras kebalikannya, tempat pelampiasan marah. Jarno wae lah. Yang penting Zein tahu tanggung jawab nya thd keluarga. Klu uang nya sdh habis di kuras, pasti dia akan uring uringan di rumah..😁😁

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (28)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (28)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 28

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  28 (Tien Kumalasari)     Dokter Tyas termangu. Tangannya yang memegang keresek berisi sisa-sisa makanan kemudian m...