SAKITKU ADALAH CINTAKU 27
(Tien Kumalasari)
Zein melangkah cepat keluar rumah. Wajah Indras menjadi pias. Sudah beberapa kali Zein mengancam bunuh diri. Kepalanya berdenyut. Ia segera mengejarnya.
“Apa maksudmu?”
”Biarkan aku mati. Aku tak tahan lagi, biarkan aku mati,” Zein terduduk di tanah dan merasa lemas.
Indras menarik tangannya.
“Bukan kamu pemilik kehidupan ini. Jadi mati atau hidup kamu tidak berhak menentukannya.”
Zein menutup wajahnya. Kemudian berdiri dan kembali ke rumah. Indras mengikutinya.
“Lakukan yang kamu suka, tapi jangan pernah mencari mati.”
Indras merasa lega ketika melihat suaminya duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.
“Ya Allah … Ya Allah …,“ bisik Indras sambil masuk ke dalam mushala.
Sekarang ia tak berani mengatakan apa-apa lagi. Semuanya serba sulit, sepatah kata yang keluar dari mulutnya bisa jadi petaka kalau dia mengulangi keinginannya untuk mati.
Sekarang, lagi-lagi Indras hanya bisa menangis, sesambat kepada Sang Pencipta, dan mohon petunjuk apa yang seharusnya dia lakukan.
Lama sekali dia bersujud di sana, berulang kali menyebut nama Allah sesembahannya. Air matanya tumpah bak hujan deras yang tercurah dari langit.
Indras keluar dari mushala ketika lewat tengah malam. Langkahnya lunglai seperti tanpa daya.
***
Sampai pagi hari mereka tak bicara, tapi Indras merasa lega karena Zein tampak tenang, dan dengan bersemangat berangkat ke tempat kerja.
Ia teringat apa yang dikatakan Pri, sahabatnya, bahwa Zein memang sakit. Tapi yang membuat Indras heran, ia tak pernah melihat Zein meminum obat, yang pastinya diberikan oleh psikhiater yang menanganinya. Indras tak pernah bertanya, karena Zein menyembunyikan penyakitnya. Tentu ia tak mau berterus terang kepada dirinya, karena sikap tinggi hati yang dimilikinya. Memang sifatnya atau karena penyakitnya? Entahlah. Lama-lama justru Indras yang merasa bahwa dirinyalah yang sakit.
Setiap hari merasa bingung. Seandainya orang berjalan, ia terhuyung-huyung tanpa ada pegangan. Ia sendirian, disebuah dunia yang senyap tanpa suara, kecuali detak derita yang mendera di sepanjang langkahnya.
Hari itu ia pulang lebih awal karena kepalanya terasa berdenyut. Bisa dimengerti. Ia kurang tidur dan terlalu berat apa yang dipikirkannya.
Sinta yang kebetulan ada dirumah mendekati sang ibu yang sudah berbaring di kamarnya sambil memijir-mijit kepalanya.
“Mama sakit?”
Indras menatap putrinya dengan mata berbinar. Ia ada, karena anak-anaknya. Kalau tidak, entah dia akan bagaimana dan akan lari ke mana.
Derita yang disandangnya benar-benar dipikulnya sendiri. Sesambat kepada orang tuanya? Bukankah sejak awal orang tuanya sudah melarang? Bahwa kemudian akhirnya direstui, adalah karena jiwa kemanusiaan orang tuanya tersentuh oleh derita Zein dan pengorbanan ibunya. Sekarang, ketika ia merasa sendirian dan dirundung papa, haruskah mengadu kepada orang tuanya? Jangan. Janganlah ketenangan orang tua terusik oleh pemikiran yang tidak menyenangkan tentang anaknya. Biarlah apapun yang terjadi hanya akan ada dipundaknya saja.
“Ma, Sinta tahu keluarga kita tidak baik-baik saja.”
“Jangan ikut campur. Pikirkan saja kuliah kamu.”
“Bukan ikut campur, hanya ingin mengingatkan Mama. Barangkali papa salah, tapi Mama juga harus menyadari, apakah Mama sudah melakukan hal yang benar?”
Dada Indras seperti dipukul sebuah palu besar. Ia menatap anaknya tak berkedip.
“Maafkan Sinta ya Ma,” hanya itu yang dikatakannya, lalu Sinta melangkah keluar dari kamarnya.
Indras termenung sendirian. Menurut sang anak, dirinya belum melakukan hal yang benar? Memang Sinta hanya bertanya, tapi pertanyaan itu lebih berat ke menuduhnya.
“Jadi aku juga salah? Di mana salahku? Aku hanyalah korban. Pelampiasan rasa tidak suka itu kepada diriku, dan ketika di kantor dia bisa bersinar karena perempuan itu bisa menghiburnya?” gumamnya.
“Yang membuat heran, ketika ia mengatakan ingin pergi, dia selalu mengancam ingin bunuh diri. Apa itu artinya dia tidak ingin berpisah dengan diriku? Karena mencintai aku, atau karena dengan adanya diriku maka ada seseorang yang bisa dijadikan sasaran kekesalannya?” gumamnya lagi
Kepala Indras terasa kembali berdenyut. Bukan obat berbentuk tablet atau kapsul yang bisa menghentikannya, tapi ketenangannya dalam berpikir.
Ia berusaha dan terus berusaha. Hanya dirinya yang bisa menolong dirinya sendiri.
Sore hari itu ia keluar rumah. Ada seorang psikiater yang dikenalnya, tapi bukan yang menangani Zein seperti apa yang dikatakan Pri. Ia sangat dikenalnya, walau jarang untuk berkomunikasi dengannya. Ia dokter Daniel.
Sekarang dia duduk berhadapan, mengatakan beban yang dipanggulnya, sehingga ia merasa sakit.
Tapi dokter itu mengatakan, bahwa dirinya tidak sakit.
“Indras, kamu tidak sakit. Tak perlu obat. Suami kamulah yang sakit. Yang harus kamu lakukan adalah kamu harus bersabar.”
Indras menundukkan kepalanya. Rupanya dokter Daniel sudah tahu tentang suaminya.
Indras pulang dengan perasaan yang tidak puas. Ia tak perlu obat, ia hanya harus bersabar.
“Ya Allah, kuatkanlah hamba.”
***
Di kantor, dokter Tyas selalu mengungkit ketika mengundang Zein untuk datang ke rumah dan Zein menolaknya. Tapi Zein hanya menanggapinya sambil bercanda. Sesungguhnya Zein tidak punya keberanian untuk berbuat gila-gilaan dengan perempuan lain. Ia hanya ingin bersenang hati dengan sanjungan dari dokter cantik yang tampak sekali sangat mengidolakan dirinya. Di kantor, Zein seperti anak kecil mendapat mainan, dan di rumah dia merasa seperti direcokin mainannya.
Bukan main, tapi Zein tidak merasa bahwa hal itu salah. Ia adalah benar. Yang salah adalah yang menyalahkannya.
“Dokter, mengapa makanannya tidak dimakan?”
“Sudah tadi kan?”
“Tapi cuma sedikit.’
“Tidak begitu lapar.”
“Dokter sakit? Ya ampun dok, laki-laki segagah dokter bagaimana bisa sakit? Mau aku pijit sebentar?”
“Jangan, ini di kantor.”
“Dokter tidak mau ke rumah sih, padahal di rumah tidak ada siapa-siapa. Pembalntupun tidak ada, saya benar-benar sendirian. Datanglah sepulang kantor, saya bisa memijit enak lhoh Dok. Betul, saya janji Dokter Zein akan keenakan dan bisa tertidur nyenyak,” rayu dokter Tyas, tak tahu malu.
“Dokter Tyas tukang pijit juga?” goda Zein, membuat dokter Tyas merengut.
“Dokter kok gitu. Masa aku tukang pijit? Kalaupun aku suka memijit, itu hanya untuk Dokter saja, bukan untuk sembarang orang.”
“Benarkah?”
“Benar, boleh nanti selepas kerja dicobain. Ya?” dokter cantik masih mencoba merayu.
“Kapan-kapan saja.”
“Istri dokter Zein galak ya?”
Zein menggeleng sambil tersenyum.
“Kalau begitu mengapa Dokter takut seandainya pergi sebentar, atau pulang terlambat beberapa saat?”
“Bukan takut.”
“Lalu apa?”
“Khawatir saja.”
“Khawatir ketahuan istri, lalu diomelin? Lalu sang istri marah-marah?”
“Tidak begitu.”
“Lalu apa?”
“Sulit dijelaskan. Yang penting bisa ketemu di sini, bercanda, memenuhi apa keinginan dokter cantik. Ya kan?”
“Tapi aku menginginkan sesuatu yang lain.”
“Yang lain itu sangat mahal.”
“Tidak. Dokter tidak usah mengeluarkan uang.”
“Justru kalau mengeluarkan uang itu tidak mahal.”
“Saya tidak mengerti maksud Dokter.”
“Tidak usah mengerti. Aku saja yang mengerti," kata dokter Zein dengan senyuman khasnya.
Dan senyuman itu yang sesungguhnya membuat dokter Tyas mabuk kepayang. Tapi alangkah susah menguasainya. Dokter Tyas begitu royal, begitu penuh kasih sayang, tapi bukan kasih sayang seperti yang selalu diperlihatkan melalui pemberian barang-barang mahal. Dokter Tyas butuh kasih sayang yang lain. Yang akan membuat dirinya dimiliki dan memiliki.
“Ya sudah Dok, kalau makannya sudah kenyang, akan saya beresin mejanya ya, sebelum ketahuan yang lain.”
Zein mengangguk. Dokter Tyas membungkuk memunguti sisa makanan dan itu membuat Zein harus memalingkan muka. Dokter Tyas terlalu berani dalam berpakaian, dan Zein teringat ketika dirinya digunjingkan para perawat, bahwa dokter Tyas berpakaian tidak pantas, lalu dia tidak mengingatkannya.
Dokter Tyas berlama-lama membungkuk, pura-pura sangat sibuk mengumpulkan sisa makanan yang terserak di meja, lalu merasa kesal sendiri karena dokter Zein malah sibuk mengotak atik ponselnya.
“Dokter sedang mengirim pesan kepada istri Dokter?”
“Tidak.”
Zein meletakkan ponselnya, lalu melihat dokter Tyas tak lagi membungkuk.
“Dokter, bolehkah saya mengatakan sesuatu?”
Dokter Tyas yang sudah mengumpulkan sisa makanan di dalam keresek, kembali duduk.
“Bagaimana kalau mulai besok pagi Dokter memakai pakaian yang lebih tertutup?”
Dokter Tyas menatap Zein dengan mata berkedip-kedip.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah... Matur suwun Bu Tienπ
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien
ReplyDeleteTrmksh mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (27)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteπ·πΉπ·πΉπ·πΉπ·πΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eSAaCe_27 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π·πΉπ·πΉπ·πΉπ·πΉ
Alhamdulilah Sakitku adalah cintaku 27 sudah tayang ... maturnuwun bu Tien, semoga zein segera sadar dan Indras diberi kesabaran dan kekuatan serta bisa mengatasi. NPD nya zein dg cara yg tepat. Salam hangat dan aduhai aduhai bunda ❤️❤️❤️ ...
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~27 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Hamdalah sampun tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah.
ReplyDeleteHatur nuhun Bunda. Sehat slalu beserta keluarga.
Indras sabar ya.... Apa yg dikatakan anakmu. Renungkan lah dr Indras...
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 27 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 27 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
s Janda muda mulai kegatelen, ... akhirnya Zein menegur halus,.. mulai bsk harus berpakaian yang sopan, tertutup dan tidak seronok.
Nggak dimana - dimana namanya janda selalu jadi bahan perbincangan ya...ππ
Alhamdulillah.... cerbung asyik sdh tayang terimakasih bunda Tien, salam sehat, bahagia dan aduhaaii
ReplyDeleteAssalamu'alaikum
ReplyDeleteTrimakasih Bunda Tien cerbung malam ini. Ternyata dr Zen wasih waras juga menegur dr cantik nya.
π. Sehat selalu Bunda Tien