BIARKAN AKU MEMILIH 19
(Tien KUmalasari)
Nirmala masuk ke kamarnya dan tak lagi mendengarkan Adri yang sepertinya masih menelpon. Tapi sepotong kalimat yang didengarnya cukup menggetarkan hatinya. Sejauh apa hubungan suaminya dan Dwi, yang katanya hanya teman masa kecil, tapi ternyata dia hamil? Nirmala luluh dalam keterkejutan dan rasa gundah. Ini namanya perselingkuhan. Ia ingat kata sang ayah ketika dirinya mengutarakan rasa cintanya pada Adri. Sang ayah sangat tidak setuju. Ia melihat sesuatu yang buruk dan akan terjadi pada rumah tangganya. Dan inilah sesuatu itu.
Nirmala masuk ke kamar mandi, tapi tidak segera mandi. Air matanya bercucuran, bersaing dengan kucuran air kran yang dipakainya mengisi bathup yang akan dipakainya. Selama berumah tangga, baru kali ini Nirmala mengucurkan air mata. Baru kali ini NIrmala merasa sedih dan menyesal.
“Keadaan sudah sangat buruk, haruskah aku minta cerai?” gumamnya lirih, dan air mata itu masih tetap saja mengalir.
Tapi kalau sampai dia bercerai, apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya?
“Tidak, aku tak ingin menunjukkan pada bapak dan ibu tentang buruknya rumah tanggaku. Aku ingin mereka melihat bahwa hidupku bahagia,” katanya sambil masuk ke dalam bathup dan berendam dalam air hangat, lalu membasuh wajahnya yang basah oleh air mata.
Nirmala menghitung-hitung, jalan mana yang akan ditempuh setelah mendengar sepotong suara suaminya di telpon. Apakah bercerai adalah hal terbaik yang harus dilakukan? Tapi bagaimana dengan orang tuanya. Tapi akan kuatkah dirinya menghadapi hidup berumah tangga dengan segala kepalsuan yang dilakukan suaminya? Sambil berendam itu ia mereka-reka tentang apa yang akan dikatakan suaminya. Selama ini hubungannya dengan Dwi selalu diceritakannya. Lalu setelah Dwi hamil, apakah Adri juga akan berterus terang kepadanya?
Sambil menguatkan hatinya, Nirmala menunggu apa yang nanti akan dikatakan sang suami.
Tiba-tiba pintu kamar mandi diketuk keras dari luar.
“Nirma, kamu masih mandi?”
Nirmala membasuh wajahnya berkali-kali. Tampaknya suaminya sudah menunggu dirinya dan ingin mengatakan sesuatu.
“Nirma!”
“Ya, aku sudah selesai.”
Nirmala meraih handuk yang tersampir untuk membalut tubuhnya, lalu beranjak keluar. Sang suami masih di luar pintu, menegurnya.
“Lama sekali mandinya.”
“Pengin segar, jadi berlama-lama.”
Nirmala ingin berlalu, tapi Adri menghentikannya. Aroma wangi dari tubuh sang istri yang menguar, dan balutan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya, membuatnya menarik tangan sang istri.
Nirmala tahu apa yang diinginkan Adri, tapi tiba-tiba ia merasa jijik. Ia mendorong tubuh suaminya.
“Jangan dekat, aku sedang menstruasi,” kemudian Adri membiarkannya menjauh, dan masuk ke dalam ruang ganti.
Adri keluar kamar dengan kecewa.
Dan nyatanya sampai malam hari, Nirmala menunggu, Adri tak bercerita apapun kepada dirinya tentang Dwi, seperti yang sering dia lakukan. Oh ya, tentu saja ia malu mengatakannya. Ini kan tentang Dwi yang hamil. Bukan main suaminya ini. Dibalik sikapnya yang manis, tersembunyi perbuatan yang menjijikkan.
Hari itu Nirmala tidak makan malam dengan alasan badannya sedang tidak enak. Ia tak mengatakan apapun pada suaminya. Ia juga tak menunjukkan sikap marah atau kesal. Rupanya Nirmala sedang menunggu tentang apa yang ingin dilakukannya. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkannya. Mana yang lebih berat. Menjaga hatinya sendiri, atau menjaga perasaan orang tuanya? Orang tuanya pasti akan sedih kalau melihat rumah tangganya yang retak. Atau juga dia sambil dimarah-marahi karena dulu tidak menurut pada kata-katanya.
Malam itu Nirmala tidur di kamar lain. Ketika Adri bertanya, ia hanya tak ingin berdekatan dengan sang suami karena sedang ‘berhalangan’.
***
Hari itu Dwi yang sudah masuk kerja mengeluh tentang kehamilannya.
“Kalau kamu hamil, kamu tidak bisa bercerai kan?”
“Kehamilan ini akan aku sembunyikan. Aku tidak peduli, aku hanya ingin bercerai.”
“Kalau kamu bicara tentang kehamilan ini, bisa jadi suami kamu membatalkan keinginannya menikah lagi.”
“Biarkan saja, aku lebih baik bercerai.”
“Hidup sendirian dalam keadaan hamil tentu tidak enak. Lebih baik ada suami yang akan mendukung dan menjaga kamu.”
“Aku tidak butuh dukungan dia. Ada kamu di dekat aku, itu sudah cukup.”
“Ini sangat berbeda.”
“Pokoknya aku sudah meminta dia mengurus perceraian, dan dia sudah menyanggupinya. Semoga urusannya segera rampung.”
“Bagaimana keadaan kamu sekarang, apa sudah lebih baik?”
“Sangat baik. Kakiku sudah tidak terasa nyeri, setelah sebelumnya tampak agak bengkak. Aku sebenarnya ingin segera pindah ke kantor cabang saja. Kelamaan di sini berarti akan lebih sering bertemu suami aku.”
“Kurang seminggu lagi, bertahanlah.”
“Aku tidak tahan. Tapi sebenarnya yang membuat aku sedih adalah berjauhan dengan kamu.”
“Akan banyak yang akan menjaga kamu di sana. Teman-teman kita baik semua.”
“Entahlah. Apakah nanti kamu akan mengantarkan aku saat aku pindah?”
“Mulai sekarang kamu bisa mulai bebenah. Mana yang akan kamu bawa.”
“Kalau begitu bisakah besok aku melihat rumah yang akan aku pakai di sana?”
“Sekalian bawa barang-barang kamu. Kalau sudah siap boleh ke sana sebelum mulai bekerja, sehingga saat bekerja tidak akan ada yang mengganggu.”
“Baiklah, besok akan aku suruh bibik menata barang-barang yang akan aku bawa. Setelah siap aku akan membawanya ke sana dulu.”
“Itu bagus.”
“Kamu mengantarku kan?”
“Aku harus mengantar kamu?”
“Tolong Adri, kita bisa berangkat sore setelah pulang kerja. Masa aku yang masih belum bisa berjalan cepat ini akan berangkat sendirian?”
“Kamu bilang akan membawa bibik pembantu. Bawa aja bibik, dan suruh dia menunggu di sana sampai kamu benar-benar pindah.”
“Tapi kita akan lama tidak bertemu, aku ingin kamu mengantarkan aku melihat rumahnya.”
“Kita atur dulu waktunya.”
“Benar ya Dri, antar aku melihat rumahnya dulu, sambil membawa sebagian barangku. Sambil menunggu aku pindah, biar bibik membersihkan dan mengatur rumahnya. Aku belum bisa membayangkan, rumahnya seperti apa.”
“Nanti aku bilang dulu pada istriku.”
“Yaah, mana mungkin dia mengijinkan.”
“Istriku tidak pernah punya pikiran jelek, pasti dia mengijinkan aku mengantar kamu, hanya saja melihat waktunya.”
“Kalau hari Minggu?”
“Biasanya kalau Minggu aku mengajak Tama jalan-jalan, bersama Nirmala juga. Jadi sebaiknya sepulang kerja. Tapi bagaimanapun aku harus bicara dengan istri juga. Atau begini saja, kamu benahi barang-barang kamu, aku akan minta salah satu karyawan untuk menemani kalian melihat-lihat. Aku akan mengantarkan kamu ketika kepindahan kamu bulan depan nanti.”
“Nggak jadi besok sambil membawa barang-barang?”
"Minggu ini tidak bisa, aku lupa, pak Bondan akan rapat di sini dengan seluruh staf, tapi harinya aku tidak tahu.”
“Makanya sepulang kantor. Aku kan belum bisa menyetir sendiri.”
“Makanya akan ada yang mengantar kamu.”
“Kapan sih rapatnya?”
“Belum tentu. Pak Bondan sering tiba-tiba mengatur jadwalnya. Biasanya mulainya sore, sampai malam, dan aku tidak tahu kapan. Sudahlah, daripada aku pusing memikirkannya, aku suruh orang untuk mengantarkan kamu saja.”
Dwi terpaksa diam dengan perasaan kecewa.
***
Berhari-hari sesudahnya, diantara Adri dan Nirmala tak ada yang bicara tentang Dwi. Mungkin bagi Adri tak ada yang penting dibicarakan dengan istrinya, karena Dwi sudah bersiap untuk pindah ke kota lain, dan ia menganggap sang istri bisa memaklumi kalau dia sering membantu Dwi. Bukankah Nirmala sudah tahu kalau Dwi adalah teman masa kecil, jadi tak ada yang perlu dicurigai. Kalau saja Adri tahu bahwa kehamilan Dwi yang terlontar dari mulutnya beberapa hari yang lalu, telah membuat sang istri mengira bahwa hubungannya dengan Dwi sudah sampai ke titik yang paling tajam. Nirmala salah paham tapi tidak segera membicarakan dengan sang suami.
Nirmala diam, hanya untuk menjaga agar rumah tangganya kelihatannya baik-baik saja. Sekali dia melontarkan kemarahannya karena sang suami menghamili wanita lain, maka rumah tangganya dipastikan akan selesai saat itu juga. Lalu orang tuanya akan sedih, akan kecewa. Kecuali itu ia juga akan disalahkannya.
Perubahan sikap Nirmala membuat Adri bertanya-tanya.
“Nirma, mengapa sikapmu kelihatan aneh?”
“Aneh? Apakah aku bersikap aneh? Perasaan biasa-biasa saja kok. Sejak dulu aku kan memang tidak banyak bicara?”
“Benar, tapi wajah kamu selalu tampak kusut.”
“Aku kelelahan. Di kantor banyak pekerjaan.”
“Kalau lelah, kamu kan bisa pulang lebih awal, dan banyak istirahat.”
“Ya, nanti aku pikirkan.”
“Oh ya, dua hari lagi Dwi sudah akan pindah kantor.”
“Aku sudah tahu,” jawab Nirmala singkat.
“Dia minta agar aku mengantarkan kepindahannya.”
"O, ya … silakan saja. Berbuat baik itu kan pekerjaan mulia.”
Dan bodohnya Adri ia merasa bahwa sang istri menganggap bahwa dirinya laki-laki yang baik hati.
***
Besok lagi ya.
Matur suwun bu Tien
ReplyDeleteSamo2 pak Indriyanto
DeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 19" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sontenπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng dalu
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bu DA.
Semoga sehat slalu beserta keluarga
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteSuwun mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah BeAaeM_19 dudah hadir "gasik". Belum.jam 5 sdh siap, berarti sang penulis mau masak besar untuk buka & makan sahur, nich.. karena dua cerbung sdh tayang semua di blogspot dan di FB.
ReplyDeleteSalam SEROJA & terus sehat ya mBak Tien
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 19 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah, Nirmala tayang mruput.
ReplyDeleteMatur nwn bu Tien, salam sehat dari mBantul
Sami2 pak Bam's.
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulilah Cerbung "BAM 19 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah tayang ontime, maturnuwun Bu Tien,semoga ibu selalu sehat,bahagia dan semangat terus berkarya cebung...πππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteNuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~19 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteMatur nuwun, Bu Tien. Semoga selalu sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibi Reni
Deleteππ«ππ«ππ«ππ«
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung BeAaeM_19
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππ«ππ«ππ«ππ«
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 19 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Adri pelan2..msk ke jebakan Batman nya Dwi.
Adri di lulu oleh Nirma kok tidak peka ta ya.
Terimakasih bunda Tien, cerbung asyik sdh tayang, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aamiin YRA π€²π€²π€²
ReplyDeleteAdri ini orang aneh, tak mengerti bahasa satire...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...