Friday, February 27, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 20

 BIARKAN AKU MEMILIH  20

(Tien Kumalasari)

 

Adri mengangguk, kemudian Nirmala berlalu karena mendengar ponsel Adri berdering. Ia tak ingin mendengar mereka bertelpon. Walau begitu tertangkap sepotong kalimat yang membuatnya merinding.

“Apa maksudmu menggugurkan? Jangan. Bayi itu tak berdosa, mengapa kamu ingin membunuhnya?”

Nirmala masuk ke kamar Pratama. Di atas tempat tidur, ia bermain bersama mbak Rana. Nirmala ikut nimbrung dan duduk di dekat Pratama, yang kemudian melonjak senang, serta merangkul sang ibu sambil tertawa-tawa.

“Maaa … mmaaaa,” pekiknya.

Barangkali ia senang karena sang ibu mau ikut bermain bersamanya.

“Anak pintar, sedang main apa?”

“Bbilll .. ubbbil …”

“Bagus sekali … lanjutkan main mobilnya, nggak boleh ngebut ya, harus hati-hati,” kata Nirmala.

Beban yang menghimpit mencair tiba-tiba karena ada Pratama yang mengajaknya bermain sambil mengeluarkan celoteh-celoteh lucu.

“Apa yang aku cari selama ini? Bahagia? Bukankah bahagia itu ada di setiap apa yang kita sukai? Ada Tama yang menghiburku, tak perlu ada luka. Biarkan dia mengering bersama dengan berjalannya waktu,” kata batin Nirmala.

Nirmala menekan rasa sakit hatinya di dasar lubuk hatinya yang paling dalam. Ia harus bahagia. Harus tampak bahagia dengan menyelimuti jiwa raganya dengan membesarkan hatinya, bahwa semua yang dilakukannya untuk kebahagiaan orang tuanya.

“Mmaa …. mmaaaa,” Tama berteriak. Ia menunjuk-nunjuk ke arah mobilnya yang terjungkal ke bawah bantal.

“O, jatuh ya? Kenapa mobilnya dibawa naik ke situ? Nih, sudah ibu ambil. Jalan lagi?”

Mbak Rana yang tadinya keluar kamar, ternyata masuk sambil membawa botol susu.

“Saatnya mas Tama tidur, Nyonya.”

“Oh ya, baiklah,” Nirmala mengambil botol susu yang dibawa mbak Rana, lalu ditunjukkannya kepada Tama.

“Ayo, mobilnya istirahat dulu ya sayang, saatnya Tama Bobok.”

“Muum … muum?”

“Iya, minum, ibu tungguin di sini, supaya mas Tama bisa tidur nyenyak,” kata Nirmala sambil mengambil mobil-mobilan kecil yang semula dibuat main oleh Pratama, lalu menidurkannya, dan memberikan botol susunya.

Tama menerimanya sambil tertawa-tawa.

Nirmala berbaring di sisinya sambil menepuk-nepuk pantatnya pelan.

Tak lama kemudian Pratama memejamkan matanya dan terlelap dengan botol susu kosong yang tergeletak di sampingnya. Nirmala mengambilnya dan memberikannya kepada mbak Rana.

Ketika mbak Rana keluar, Adri melongok ke dalam.

“Nirma, aku tungguin di kamar, kamu malah ada di sini.”

“Aku tidur di sini.”

“Tidur di sini?”

“Tama agak rewel, biar aku menemani.”

“Kan ada mbak Rana.”

“Biar mbak Rana istirahat. Kasihan, dia pasti lelah.”

Adri menutup kembali pintu kamar anaknya, melangkah ke kamarnya sendiri dengan rasa kecewa. Sudah berkali-kali Nirmala menolaknya, dengan seribu satu macam alasan. Kebetulan, atau disengaja?

Adri berbaring sendirian di kamarnya, dan hampir terlelap ketika ada notifikasi pesan di ponselnya.

Adri meraihnya.

“Adri, besok aku sudah tidak ke kantor lhoh, kamu jadi mau mengantarkan aku kan?”

Dijawab oleh Adri.

“Habis kantor.”

“Jam berapa? Jangan kesorean ya.”

“Aku usahakan.” 

Lalu Adri menutup ponselnya dan memejamkan matanya, memenuhi rasa kantuk yang menyerangnya.

***

Sore hari setelah pulang kantor Adri langsung melaju ke rumah Dwi. Sebenarnya dia sungkan, tapi Dwi mengatakan kalau suaminya tidak pulang sudah dua hari ini.

Begitu sampai, Dwi sudah menunggunya dengan sebuah kopor besar yang siap dibawanya.

“Hanya ini?" kata Adri sambil membantu menarik kopornya.

“Iya, kan yang lain sudah ada di sana beberapa hari yang lalu.”

Dwi berjalan sendiri dengan tongkat. Ia tak memerlukan kruk ketiak karena kakinya sudah bisa untuk menapak, asalkan pelan.

Sudah sore ketika itu, tapi perjalanan ke kantor cabang hanya membutuhkan waktu kira-kira satu setengah jam.

Dwi duduk di samping kemudi, kepalanya bersandar di jok mobil.

“Pusing?”

"Aku pikir lebih baik aku gugurkan kandungan ini.”

“Kemarin sudah kita bahas. Saranku, jangan lakukan. Bayi itu tak berdosa. Apa kamu keberatan merawat bayi? Apakah kehadiran seorang anak tidak membuat kamu bahagia?”

“Karena kondisi aku saat ini.”

“Sudah aku katakan, dengan kondisi apapun, jangan mengorbankan bayi tak berdosa itu.”

“Dri, kalau kamu menjadi aku ….”

“Jangan lagi bahas tentang keinginan melenyapkan bayi itu. Aku tak mau mendengarnya. Semalam sudah lama kita bahas, mengapa kamu membicarakannya lagi?”

Dwi terdiam. Tentu saja kehamilan akan menghambat semua aktifitasnya, termasuk keinginannya untuk selalu mendekati Adri. Biarpun jauh, ia harus berusaha agar Adri benar-benar menyukainya. Pemikiran gila yang sudah lama berada di dalam batinnya.

“Dri, kalaupun jauh, kamu harus sering-sering mengunjungi aku ya.”

“Ya, kalau lagi senggang.”

“Harus ada waktu senggang untuk aku dong,” katanya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Adri.

“Dwi, mengapa begini?”

“Kepalaku tiba-tiba pusing sekali, dengan begini lebih nyaman,” katanya enteng.

Adri agak merasa canggung, tapi ia membiarkannya. Habis alasannya pusing, masa mau menolak?

Ia melirik ke arah bahunya, dan melihat mata Dwi terpejam. Aroma harum menusuk hidungnya, merayapi ke sekujur  tubuhnya. Ini tidak biasa. Sudah lama Nirmala menolaknya, dan kedekatan kali ini sangat mengganggunya. Pikirannya lari ke mana-mana. Iman harus kuat. Ia seorang suami. Istrinya sudah merelakan dia menolong dan membantu Dwi, ia tak boleh tergoda walau setan mulai menggelitik-gelitik jiwanya.

Terbayang wajah Nirmala, terbayang wajah Pratama dengan suara lucunya, lalu perlahan Adri memindahkan kepala Dwi ke arah samping, agar bersandar di jok mobilnya. Tapi tangan Dwi tiba-tiba diletakkan di pangkuannya. Adri menoleh, Dwi tertidur, pasti ia tak sadar melakukannya. Perlahan ia mengalihkan tangan Dwi, diletakkannya di atas pangkuannya sendiri.

Adri mempercepat laju mobilnya, berharap segera sampai di tujuan dan godaan itu segera berlalu.

***

Hari sudah menjelang malam ketika mobil Adri memasuki halaman kecil di depan rumah mungil. Di teras ia melihat bibik sudah menunggu. Begitu mobil berhenti, bibik bergegas menghampiri. Dwi yang baru saja terbangun, tersenyum melihat  bibik pembantunya yang sangat setia membuka pintu mobil dan membantunya turun.

“Bik, bantu aku ke kamar, apa kamarnya sudah beres?”

“Sudah semuanya Nyonya, apakah Nyonya sakit?”

“Pusing sejak di perjalanan Bik,” katanya sambil melangkah dengan tongkat.

Bibik menuntunnya, sedangkan Adri membawa kopornya, masuk ke rumah mengikuti Dwi dan pembantunya. Sangat perhatian Adri, padahal ada banyak karyawan kantor yang bisa melakukannya. Bagi Dwi, Adri memiliki perhatian khusus untuk dirinya, dan itu membuatnya senang. Atau, semangat bercerai dengan sang suami juga dipicu oleh godaan ini? Entahlah, yang jelas ia kemudian merasa sakit, ingin segera berbaring, lalu menyuruh bibik membuatkan minuman hangat.

“Aku letakkan kopornya di sini ya.”

“Ya, biar bibik menatanya di almari.”

“Aku bisa segera pulang kan?”

“Jangan dulu Adri, bibik sedang membuatkan minuman. Dia juga sudah menyiapkan makan malam untuk kita.”

“Mengapa repot-repot? Aku bisa pulang kemalaman dong.”

“Kamu laki-laki, apakah takut pulang sendirian saat malam?”

“Bukan karena takut, tapi_”

“Dri, tolonglah jangan tergesa pulang. Kepalaku pusing sekali, maukah memijit sebentar?”

“Apa? Bukankah bibik bisa melakukannya?”

“Bibik sedang membuatkan minum, tolong sebentar saja. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku berdenyut.”

Adri mendekat.

“Duduklah di sampingku, biar gampang. Aku kalau lagi pusing biasanya sembuh kalau sudah dipijit.”

Adri kebingungan. Ini kan tidak boleh, tapi perempuan di depannya terdengar merintih-rintih. Tangan Dwi meraih tangan Adri kemudian diletakkan di kepalanya.

“Tolong Adri, pijit sebentar saja…” barangkali sudah beratus-ratus kali kata tolong itu terlontar dari bibir tipis itu, sejak pertemuan mereka setelah bertahun menghilang tak ada kabar.

“Pijit, Adri.”

Jari tangan Adri bergerak pelan, memijit kepala Dwi. Entah di bagian mana yang harus dipijit ketika orang merasa pusing, Adri tidak tahu. Ia memijit sekenanya.

“Agak keras sedikit Adri, tanganmu lembut sekali,” kata Dwi, tetap seperti orang merintih.

Adri mulai kebingungan. Ini tidak wajar. Dwi mulai nyerempet-nyerempet bahaya. Dia perempuan muda cantik dan selalu berusaha menarik hatinya. Hanya berdua di kamar itu, karena ketika bibik melongok ke dalam dan melihat mereka berduaan, lalu bibik mundur dan menutup pintunya pelan, sambil memeletkan lidahnya. Bibik tidak mengerti, bahwa tidak pantas nyonya majikannya berbuat seperti itu terhadap laki-laki beristri. Yang dia tahu bahwa laki-laki ganteng itu sangat serasi dengan majikannya, dan ia senang kalau mereka benar-benar saling jatuh cinta. Ia merasa kasihan sang nyonya majikan diejek dan dihina oleh mertuanya, dikata-katai sebagai perempuan mandul.

Ia berharap kandungan sang nyonya akan memiliki ayah yang pantas.

Bibik pergi ke belakang setelah meletakkan dua gelas susu coklat panas di atas meja di ruang tengah.

***

Hampir jam sepuluh malam, Adri belum sampai di rumah. Nirmala berbaring di kamar dengan gelisah. Bohong kalau Nirmala benar-benar sangat tegar dan tidak goyah mendengar seorang wanita hamil karena suaminya. Ada sakit mengiris yang diendapkannya untuk menciptakan senyum bahagia kepada seluruh rumah, kepada kedua orang tuanya. Tapi ada saat endapan sakit hati itu muncul ke permukaan, membuat tangisnya meledak-ledak.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nirmala tak ingin mengangkatnya kalau telpon itu dari suaminya. Paling-paling ada alasan yang entah apa, yang membuat dirinya terlambat datang. Mobil mogok, ban pecah di jalan ….

Tapi panggilan itu dari sang ayah.

Nirmala manata batinnya, agar tak kelihatan kalau dia sedang menangis.

“Assalamu’alaikum Nirma.”

“Wa’alaikumussalam Pak, ada apa malam-malam bapak menelpon? Ibu baik-baik saja kan?” yang dikhawatirkan adalah kalau ada berita buruk.

“Tidak, bapak dan ibumu baik-baik saja, apakah bapak mengganggu?”

“Tidak.”

“Mengapa suara kamu seperti sengau begitu? Kamu sedang menangis?”

Nirmala tertawa, atau pura-pura tertawa.

“Bapak ada-ada saja. Ini Nirma lagi pilek Pak.”

“Oh, ya sudah. Bapak menelpon karena ada hal penting. Baru saja staf dari cabang yang kamu tangani, ada sedikit masalah. Bagaimana kalau besok kamu berangkat ke sana? Biar sopir mengantarkan kamu.”

“Baik, saya berangkat besok. Tidak usah dengan sopir. Saya akan mengajak bibik dan Pratama,” tanpa disuruh dua kali Nirmala menyanggupinya. Barangkali lebih baik jauh dari rumah.

***

Besok lagi ya.

33 comments:

  1. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Endah
      Adujao hai hai

      Delete
  2. Horeee...tayang gasik. Matur nuwun, Bu Tien

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 20 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  4. Dwi... Oh Dwi....
    Kamu tuh kebangetan ....
    Adri tuh sdh punya istri, punya anak.
    Dasar otak pelakor.... Gemes aku mBak Tien mewakili emak² yang tergelitik sesama perempuan, kok gak punya harga diri.... Apalagi mau menggugurkan kandungannya. Salah apa si bayi ???
    Nunggu lanjutannya wae, ah...

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 20" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sontenπŸ™

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~20 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  7. πŸ•πŸ©πŸ•πŸ©πŸ•πŸ©πŸ•πŸ©
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung BeAaeM_20
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ•πŸ©πŸ•πŸ©πŸ•πŸ©πŸ•πŸ©

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah Cerbung "BAM 20 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin
      Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  9. Alhamdulillah,BAM telah tayang,.....dalam cerita sll ada tokoh yg buat pembaca gemes dan gregeten........ Maturnuwun Bu Tien,semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah ..Biarkan Aku Memilih sdh tayang...
    Episode kali ini sungguh bikin deg2 an bacanya..
    Dwi..oh Dwi

    ReplyDelete
  12. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  13. Terimakasih, bunda Tien. Apakah Adri bisa bertahan dari godaan dr Dwi? Bagaimana nasib pernikahan Nirmala?

    ReplyDelete
  14. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 20 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Adri terjebak oleh rayuan Dwi, knp kamu jadi lelaki penurut ya. Dimana ketegasanmu yang pernah kau perlihatkan wkt pacaran sama Nirma.

    ReplyDelete
  15. Sepertinya Adri mau di-Guntur-kan...
    Terimakasih Mbak Tien. ..

    ReplyDelete
  16. Wah, gawat nih Dwi makin nekat, Adri lembek gitu...Nirmala ga mau tanya langsung.😰

    Terima kasih, ibu Tien. Salam sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜€

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 21

  BIARKAN AKU MEMILIH  21 (Tien Kumalasari)   Nirmala menunggu reaksi sang ayah ketika mendengar kesanggupannya yang seperti tanpa berpikir ...