BIARKAN AKU MEMILIH 18
(Tien Kumalasari)
Adri menatap Dwi yang tampak kebingungan.
“Mengapa kamu kelihatan panik? Bukankah itu anugrah, seandainya perkiraan dokter itu benar?”
“Adri, mengapa kamu mengatakannya sebagai anugrah, aku ingin cerai, kalau kehamilan ini diketahui, akan sulit bagiku menggugat cerai.”
“Kamu lupa ya, suami kamu ingin menikah lagi karena mengira kamu tidak bisa hamil? Nah, sekarang ternyata kamu hamil, berarti kamu bisa menolak keinginan suami kamu untuk menikah lagi.”
“Apa? Tidak. Aku tidak mau.”
“Bagaimana kamu ini. Ternyata kamu bisa hamil, itu keinginan suamimu dan mertua kamu kan?”
“Aku tetap minta cerai.”
“Dwi, sebenarnya akar permasalahan itu kan ada di kamu, tentang kamu yang dianggap tidak bisa hamil. Lhah kalau ternyata kamu bisa hamil, berarti mertua kamu tidak perlu menginginkan adanya menantu baru.”
“Masalahnya aku terlanjur kehilangan rasa cinta aku pada suami. Jadi aku tetap akan minta cerai, atau menggugat cerai. Masalah kehamilan, kalau benar, akan aku rahasiakan.”
“Dwi, sebaiknya_”
“Aku akan ke dokter kandungan dulu.”
“Maaf Dwi, tadi aku ditelpon dari kantor, ada tamu menunggu aku, kalau aku harus menemani kamu ke dokter kandungan, tamuku kelamaan menunggu.”
“Baiklah, aku tidak usah kamu temani. Hasilnya nanti aku kabari.”
“Nggak apa-apa ya, sendirian?”
“Nggak apa-apa. Besok kalau aku sudah jauh dari kamu, apapun juga aku harus menjalaninya sendiri.”
“Ya sudah, kamu hati-hati ya. Atau kamu menelpon pembantu kamu saja, biar dia menyusul kamu kemari.”
“Iya, gampang. Sekarang pergilah. Urusan kantor barangkali lebih penting,” kata Dwi yang langsung duduk lalu mulai menelpon pembantunya, sementara Adri langsung keluar untuk kembali ke kantor.
***
Dwi menunggu di klinik dokter kandungan, dengan perasaan tak menentu. Seperti dikatakannya tadi kepada Adri, bahwa ia tidak lagi mencintai suaminya. Rasa cinta itu hilang perlahan sejak suaminya menelpon dan kemudian mendorongnya terjatuh sehingga kakinya sakit.
“Aku tidak sudi kembali pada dia. Aku sudah tidak mencintai kamu lagi. Aku harus bercerai darimu,” kata batinnya berkali-kali.
Tiba-tiba saja Dwi merasa nyaman berada di dekat Adri. Adri yang selalu melindungi, Adri yang selalu ada setiap kali mendengar keluhannya. Terkadang Dwi berpikir, apakah sebenarnya Adri mencintainya, tapi terhalang oleh pernikahannya? Tapi mengapa Adri sering memuji-muji istrinya? Untuk menutupi rasa hati yang sebenarnya? Bisa jadi begitu. Bukankah aku juga cantik dan menarik? Banyak laki-laki suka padaku, kemungkinan demikian juga Adri. Seandainya itu benar, mengapa tidak boleh? Adri juga sebenarnya suka padanya. Dan menikah lagi kan tidak dilarang? Kalau benar istri Adri baik, pasti ia akan mengijinkan suaminya menikah lagi.
Pikiran Dwi lari ke mana-mana. Setan sedang mengipasi jiwanya dan bercerita tentang nikmatnya dosa. Dan Dwi adalah perempuan rapuh yang mudah tergoda. Kebaikan Adri membuatnya tergila-gila. Bukankah sejak kecil mereka dekat? Bukankah mereka sering main petak umpet, berlarian kesana kemari lalu jatuh berguling-guling bersama-sama? Manisnya masa lalu sangat menggodanya. Ingin sekali ia kembali berguling-guling di pasir pantai, bersama-sama. Apa??? Dwi memukul kepalanya berkali-kali.
“Tidak … tidak … mengapa aku begini?”
Seorang ibu yang duduk tak jauh darinya bertanya, melihat ulahnya yang mengherankan.
“Ada apa Bu?”
“Apa?” Dwi terkejut sendiri, tak mengira ada yang melihat kelakuannya.
“Ibu memukul-mukul kepala Ibu, apakah terasa sakit?” tanya ibu itu lagi.
“Tidak, tidak … ini … kepala saya tiba-tiba terasa sangat sakit.”
“Ibu sedang hamil?”
“Entahlah, baru mau periksa.”
“Bawaan orang hamil memang begitu. Ini kehamilan pertama?”
“Saya belum tahu apakah saya hamil atau tidak. Seandainya benar hamil, ini kehamilan saya yang pertama.”
“O, baru mau periksa ya. Semoga Ibu benar-benar hamil. Rasa pusing itu biasa pada awal kehamilan, Ibu tampak sangat gelisah,” katanya lagi sambil menjauh.
Dwi merasa kesal. Wanita itu malah mendoakan agar aku bear-benar hamil? Huhh, tidak lah. Semoga tidak.
“Nyonya Dwiyanti,” panggilan itu mengejutkannya. Ia segera berdiri dan masuk ke dalam ruangan periksa.
***
Bibik pembantu sudah datang. Tadi nyonya majikan menyuruhnya menemui di klinik kandungan, jadi ia langsung pergi ke sana. Tapi ia tak melihat sang nyonya ada di sana.
“Apakah nyonya sudah pulang ya?”
Bibik melongok ke sana kemari, lalu bertanya pada orang di dekatnya.
“Bu, apakah nyonya saya sudah pulang ya?”
“Nyonya siapa ya?”
“Nyonya Dwi … Dwiyanti … “
“O, sepertinya sedang ada di dalam.”
“O, sedang diperiksa. Ya sudah, terima kasih Bu, saya tunggu di sini dulu,” kata bibik sambil duduk.
“Mengapa juga, nyonya periksa ke dokter kandungan? Apa nyonya hamil ya? Kalau begitu tuan Anton itu salah. Dikiranya nyonya tidak bisa hamil. Lha tapi hamil sama siapa ya? Jangan-jangan hamilnya sama tuan ganteng yang kemarin menjemput itu? Waduh, seneng dong, pasti segera dinikahi,” kata batin bibik seenaknya.
Dan pemikiran itu langsung saja dilontarkan ketika sang nyonya majikan keluar dari ruang periksa.
“Apa benar Nyonya hamil?”
“Iya Bik, baru dua minggu,” jawab Dwi dengan wajah muram.
“Bagus sekali Nyonya, segeralah nyonya bilang sama tuan ganteng itu, supaya segera menikahi,” kata bibik seenaknya.
“Apa maksudmu?”
“Kalau dia membuat nyonya hamil, harusnya dia segera menikahi kan?”
“Maksudmu apa? Ngomongnya jangan keras-keras, pada ngelihatin kesini tuh,” kata Dwi sambil menarik si bibik pergi.
“Yang nyonya kandung itu, anak tuan ganteng yang menjemput nyonya kemarin kan?” kata bibik lebih pelan, sambil menuntun nyonya majikannya berjalan keluar rumah sakit.
“Ngawur kamu itu. Orang tidak ngapa-ngapain bagaimana bisa menghamili?” jawab Dwi suram.
“Waduh, bukan dia ? Jadi ini benih tuan Anton ?”
“Jangan bilang pada dia kalau aku hamil, nanti susah kalau aku minta cerai.”
“Tapi nyonya harus bersenang hati. Nyonya tidak mandul seperti apa yang dikatakan tuan Anton dan ibunya.”
“Entahlah, aku tidak tahu, haruskah aku senang, atau sedih."
”Lho, Nyonya kok bilang begitu. Harus senang dong.”
“Ya sudah, tolong panggilkan taksi, kamu langsung pulang, mampir ke kantor aku, aku harus kembali ke kantor. Tapi kepalaku pusing sekali nih.”
“Nyonya tidak diberi obat?”
“Diberi resep, beli di luar saja, aku nggak bisa lama-lama di sini.”
“Ya sudah, saya langsung panggil taksi untuk pulang, Nyonya tidak usah kembali ke kantor saja ya.”
“Ya, cepat panggil, aku duduk di situ dulu.”
“Bibik mengantarkan nyonya majikannya duduk di bangku lobi, lalu dia meminta ponsel sang nyonya untuk memanggil taksi.
***
Dwi sedang berbaring di kamarnya, ia menunggu Adri menelpon untuk menanyakannya, tapi ponsel Adri tidak aktif. Ketika ia menelpon sekretarisnya, sang sekretaris mengatakan kalau pak Adri sedang ada tamu penting.
“Siapa tamunya?”
“Tamu bisnis. Ibu masih di rumah sakit?”
“Aku sudah pulang. Nanti kalau sudah selesai menemui tamunya, tolong bilang aku tidak kembali ke kantor, kepalaku pusing sekali,” pesan Dwi kepada sekretaris Adri.
“Baiklah Bu, nanti akan saya sampaikan.”
Dwi kembali berbaring, agak kecewa karena tidak bisa segera mengabarkan kehamilan itu kepada Adri.
Ketika ia hampir tertidur, bibik yang disuruh membeli obatnya di apotik sudah datang.
“Nyonya, ini obatnya.”
“Ambilkan yang obat pusing, biar aku minum dulu.”
“Nyonya tidak makan terlebih dulu?”
“Tadi aku sudah makan di kantor. Ambilkan obatnya, dan siapkan segelas air putih.”
Bibik segera menyiapkan air putih yang diminta, lalu membantu meminumkan obatnya. Ada dua resep yang tadi diambil bibik, yaitu obat dari dokter bedah tulang serta dari dokter kandungan. Tapi Dwi minta yang obat pusing dulu, karena kepalanya terasa semakin berdenyut. Barangkali karena Dwi banyak pikiran, jadi pusingnya bertambah parah.
***
Sore hari itu Adri langsung pulang ke rumah. Karena kesibukannya seharian itu, maka ia lupa menanyakan Dwi tentang hasil pemeriksaan di dokter kandungan itu.
Ia langsung mandi dan bercanda dengan Pratama.
Nirmala heran, dua hari ini Adri pulang lebih cepat dari dirinya. Ia senang melihat Adri bercanda dengan anaknya.
Ketika ia berlalu setelah menyapa Tama ala kadarnya, ponsel Adri berdering. Nirmala hanya melihatnya sekilas, tapi ada ucapan awal suaminya yang didengarnya dan membuatnya gemetar.
“Kamu benar-benar hamil?” itu suara Adri, cukup keras.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah.....
ReplyDeleteDwi hamil, secara agama tidak boleh cerai ... πππ
Matur nuwun Mbak Tien
Salam SEROJA selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan
Sami2 mas Kakek
DeleteSalam seroja ugi
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih udah tayang. Semoga sehat slalu
Selamat berbuka puasa
Sami2 bapak Endang
DeleteAlhamdulillah .... terimakasih Bunda, semoga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Tutus
Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 18" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sontenπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis
DeleteSugeng dalu
Suwun mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 18 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Sri
Aduhai aduhai
Alhamdulillah.... terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Yati
Matur suwun bu Tien salam sehat selalu.πππ
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 18 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Herry
Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bu Tien dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Endah
Aduhai hai hai
π₯ππ₯ππ₯ππ₯π
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung BeAaeM_18
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π₯ππ₯ππ₯ππ₯π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun jeng Sari
Terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda semelππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien BAM telah tayang ,sehat dan bahagia selalu bersama keluarga Bu,π
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Tatik
Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~18 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Djodhi
Alhamdulillah.. suwun Bu Tien. Smg sehat dan bahagia sll bersama keluarga
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Handayaningsih
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 18 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Dwi..payah bukannya gembira akan punya anak..malah mau menggugat cerai...jelek loe Dwi krn tdk mau bersyukur.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Munthoni
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Reni
Alhamdulillah...Biarkan Aku Memilih 18 sudah tayang .
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien...
Dwi gak suka di madu..tetapi kok malah mikir mau jadi madu...
Dwi...Dwi...
Perasaan Nirmala jadi tak menentu setelah mendengar percakapan suami di telpon.
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...