Tuesday, February 24, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 17

 BIARKAN AKU MEMILIH  17

(Tien Kumalasari)

 

Anton menunggu di teras, sementara pendatang itu adalah Adri, yang mendekat tanpa ragu. Ia datang untuk menolong, atas permintaan Dwi.

“Selamat pagi,” sapa Adri.

“Pagi,” jawab Anton dingin.

“Saya …._”

“Anda siapa?” potong Anton sebelum Adri melanjutkan bicara.

“Saya teman Dwi, sekantor.”

“Adri, kamu sudah datang?” tiba-tiba Dwi keluar, berjalan tertatih dengan kruk sebagai penyangga kakinya.

“Jadi kamu pergi dengan laki-laki ini? Kamu bersikeras minta cerai, karena sudah punya seseorang yang lebih kamu sukai?”

“Itu bukan urusan kamu lagi, setelah aku bilang minta cerai,” kata Dwi yang langsung keluar, melewati Anton yang berdiri mematung.

“Adri, bantu aku turun,” katanya sambil berusaha turun dari tangga teras.

Adri segera mendekat, membantu Dwi turun, lalu Dwi melangkah sendiri ke arah mobil.

Anton menatapnya dengan mata berapi-api.

“Kamu masih istri aku, tapi kamu sembarangan berhubungan dengan laki-laki.”

“Dia ini direktur perusahaan yang ingin membantu aku,” teriak Dwi sambil memasuki mobil. 

Adri mengambil kruknya dan meletakkannya di bagian belakang mobil, lalu dia mengangguk ke arah Anton.

“Terima kasih, saya hanya membantu dia karena dia yang meminta.”

Adri menuju ke arah mobil, duduk di belakang kemudi, lalu menjalankan mobilnya keluar dari halaman.

Anton membanting kakinya dengan marah.

“Bik, apakah sudah lama nyonyamu berhubungan dengan laki-laki itu?”

“Saya melihatnya pertama kali ketika dia datang saat nyonya kesakitan, lalu dia membawanya ke rumah sakit. Setelah itu saya tidak pernah melihatnya datang kemari.”

“Ya sudah. Kamu sudah tahu apa yang terjadi kan?”

“Sedikit Tuan, saya hanya mendengar dari jauh dan tidak berani bertanya.”

“Nyonyamu itu tetap akan aku jadikan ratu di rumah ini. Tapi aku harus membawa istri baru yang dipilihkan ibu. Hanya saja dia tidak mau.”

“Maaf Tuan, biasanya perempuan itu tidak ada yang mau dimadu. Kalaupun ada, seribu satu.”

“Baiklah, nanti kalau dia mau pergi dari sini ya terserah saja. Tapi kamu tetap di sini melayani istri baruku. Lakukan seperti kamu melayani nyonyamu sekarang ini.”

“Tuan. Mohon maaf, nyonya sudah meminta saya untuk mengikutinya ke manapun nyonya pergi.”

“Kamu mau?”

“Bagaimana lagi tuan, saya sudah lama melayani nyonya.”

“Bodoh. Nanti aku tambah gaji kamu.”

“Maaf Tuan.”

“Dasar orang kampung. Mosok gaji besar tetap ditolak?”

“Maaf Tuan.”

Akhirnya Anton pergi dengan uring-uringan.

***

Adri mengendarai mobilnya pelan. Ada perasaan tidak enak ketika bertemu laki-laki yang pastinya adalah suami Dwi.

“Itu tadi suami kamu?”

“Calon mantan,” jawab Dwi singkat.

“Pasti dia mengira aku ada hubungan denganmu. Agak tidak enak juga rasanya. Tanggapannya terasa kaku. Pandangannya seperti menuduh,” omel Adri.

“Mengapa? Memangnya kita harus peduli tentang apa yang dia pikirkan?”

“Ya tidak enak, nanti dikira aku menjadi orang ketiga.”

“Bukan kamu, tapi dia yang menghadirkan orang ketiga.”

“Kamu tidak menyesal ingin bercerai darinya?”

“Mengapa harus disesali? Aku sudah tidak punya perasaan apa-apa pada dia. Aku juga tidak akan peduli apa yang akan dia lakukan. Itu sebabnya aku ingin segera pindah dari rumah itu.”

“Bukankah kamu juga berhak atas rumah itu? Harusnya kamu tidak usah pergi.”

“Aku? Aku tidak peduli dengan harta. Aku tidak sudi hidup bersama dalam suasana yang tidak nyaman. Menurut kamu apakah aku harus menerima perempuan yang....dan memperebutkan cinta Anton? Seperti tidak ada laki-laki lain saja,” kata Dwi sengit.

“Apa benar kamu tidak mencintai suami kamu lagi?”

“Tidak ada cinta lagi. Tidak ada. Dan tolong segera carikan aku kontrakan ya Dri, kalau bisa yang dekat kantor.”

“Ya, nanti kita bicara lagi. Ada hal yang perlu kita bicarakan nanti.”

“Semoga bukan karena istrimu yang marah karena aku menelpon kemarin,” kata Dwi khawatir.

“Bukan, istriku tidak marah. Dia bukan tipe wanita yang suka menuduh sembarangan. Dia tahu suaminya orang baik,” kata Adri sambil tersenyum.

“Istri yang baik,” kata Dwi, agak sedikit sinis. Tiba-tiba ada rasa tidak suka ketika mendengar Adri selalu memuji-muji istrinya.

“Benar. Dia memang baik.”

Dwi ingin mengatakan sesuatu, tapi mobil Adri sudah memasuki halaman kantor.

***

Adri membantu Dwi turun, lalu Dwi berjalan sendiri menuju ruangannya. Tapi kemudian Adri menghentikannya.

“Kita ke ruanganku dulu,” kata Adri ketika melihat Dwi ingin berbelok ke ruangannya sendiri.

“Oh, kita mau bicara sekarang?”

Adri mendahului Dwi menuju ke ruangannya, setelah itu barulah dia duduk, diikuti Dwi setelah dengan susah payah meletakkan kruknya.

“Serius amat?”

“Maaf Dwi, ini harus aku katakan. Tapi lebih dulu bacalah surat ini,” kata Adri sambil mengambil sebuah amplop, diletakkannya di depan Dwi.

“Apa ini?” tanya Dwi sambil membuka amplopnya. Wajahnya berubah pias setelah membacanya.

“Aku dipindahkan?”

“Ini ditanda tangani oleh direktur utama, kemarin aku dipanggil untuk ini.”

“Apakah pekerjaanku sangat buruk?”

“Bukan, kantor cabang membutuhkan orang seperti kamu.”

Tiba-tiba air mata Dwi berlinang. Ada sedih membayang pada wajahnya.

“Apakah kamu yang mengusulkan ini semua? Karena kamu keberatan dengan semua permintaan aku?” suaranya bergetar.

“Dwi, jangan salah sangka. Aku tidak tahu semua ini. Kemarin aku dipanggil karena pak Bondan sudah memutuskan. Aku tidak bisa menolaknya karena alasannya adalah di kantor cabang dibutuhkan orang seperti kamu. Tolong jangan salah sangka."

“Dri, apa kamu tahu bahwa aku sangat sedih karena berjauhan dari kamu?” air mata Dwi sudah menetes. Adri mengambilkan tissue, diberikannya kepada Dwi.

“Mengapa kamu menangis? Kamu mendapat kedudukan yang sama. Di sana sudah ada tempat untuk kamu tinggal. Jadi kamu tidak usah mencari rumah atau kontrakan.”

“Itu sebabnya kamu tidak segera mencarikan rumah kontrakan untuk aku di sekitar kantor ini?”

“Sesungguhnya iya.”

“Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak awal sehingga aku tidak berharap bisa selalu berdekatan dengan kamu?”

“Ini masalah dinas, aku tidak bisa mengatakannya di luar kantor. Lagipula waktunya tidak mengijinkan. Melalui telpon juga tidak pantas, jadi aku mengatakannya setelah kamu berada di kantor. Maaf Dwi, sekali lagi aku katakan bahwa ini keputusan direktur utama.”

"Bulan depan tinggal dua minggu lagi, sementara kakiku masih seperti ini,” keluh Dwi sambil mengusap air matanya.

“Dengan berjalannya waktu, semoga kakimu sudah lebih membaik.”

“Kamu tega, Dri,” lalu Dwi kembali menangis.

Adri merasa luluh. Ia tak pernah melihat Dwi sesedih itu. Bahkan ketika menceritakan perbuatan suaminya.

“Jangan begitu Dwi, walaupun jauh, kita masih akan bisa sering bertemu.”

“Sering bertemu?”

“Aku akan sering mengunjungi kamu.”

Mata Dwi melebar, menatap Adri tak percaya.

“Benarkah Adri?”

“Itu janjiku, karena kamu adalah sahabat baik aku. Jangan sedih begitu, aku tidak tega melihat perempuan menangis. Istriku tidak pernah menangis sih.”

“Kamu selalu membandingkan aku dengan istri kamu.”

“Tidak membandingkan. Kalian berbeda. Kamu rapuh, membuat aku trenyuh.”

“Apa boleh buat Dri, aku harus menerima keputusan ini, karena aku memang butuh pekerjaan, apalagi setelah cerai dari suami aku. Semoga kakiku segera pulih. Besok maukah mengantarkan aku untuk kontrol?”

“Ya, tentu saja. Nanti dari kantor saja, langsung. Apa ada yang kamu rasakan? Misalnya rasa nyeri atau tidak enak di luka dan bekas operasi itu?”

“Tidak, biasa kalau luka merasa nyeri. Aku hanya merasa sering pusing.”

“Nanti bilang kepada dokter tentang apa yang kamu keluhkan.”

“Aku merasa kuat karena ada kamu. Dan kamu berjanji akan sering mengunjungi aku.”

Adri tersenyum.

“Sekarang kembalilah ke ruangan kamu. Pasti staf kamu sangat prihatin dengan keadaan kamu.”

Dwi berdiri lalu meraih kruknya.

“Hati-hati,” pesan Adri.

***

“Tadi Dwi sudah masuk kantor.”

“Aku tahu, kamu tadi bilang akan menjemputnya kan?”

“Iya. Agak kasihan juga, dia sedih karena segera harus pindah ke kantor cabang.”

“Mengapa sedih? Bukankah dia masih mendapatkan fasilitas yang sama, termasuk rumah di mana dia bisa tinggal?”

“Benar. Tapi dia kan masih belum bisa berjalan normal.”

“Apa kamu membantu dia berjalan juga?” kali ini pertanyaan Nirmala agak bernada menyindir.

“Tidak, dia bisa berjalan sendiri dengan bantuan kruk.”

“Kapan dia mau pindah?”

“Perintahnya bulan depan, dia harus hati-hati tentang kakinya. Semoga saat pindah keadaannya sudah lebih baik.”

Nirmala terdiam. Sesungguhnya dia tak begitu suka Adri membicarakan Dwiyanti. Jadi ia lebih baik diam ketika Adri menceritakan juga perlakuan suami Dwi, yang tentu saja Adri mendengar dari cerita Dwi.

“Besok aku mengantarkannya kontrol.”

Lagi-lagi Nirmala tidak menanggapi.

***

Sesuai janjinya, hari itu Adri mengantarkan Dwi ke rumah sakit. Untunglah tidak banyak pasien sehingga mereka tidak terlalu lama menunggu.

Adri tiba-tiba bangkit dan keluar dari ruang periksa, karena ada telpon dari kantor. Ia berbicara agak lama, sampai kemudian terlihat Dwi keluar dari ruangan dengan wajah panik.

“Ada apa?”

“Dri, ketika aku bilang sering pusing, dokter menyarankan aku ke dokter kandungan. Apa ya maksudnya?”

“Dokter kandungan? Apa kamu mengandung?”

“Entahlah, tadi itu kan dokter bedah, entah mengapa dia berkata begitu. Katanya dia tidak bisa memastikan.”

***

Besok lagi ya.

19 comments:

  1. Alhamdulillah.....
    BeAaeM-17 sudah ditayangkan.
    Matur nuwun, mBak Tien.
    Salam SEROJA.

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah
    Matur nuwun Bunda
    Sehat slalu beserta keluarga
    Wah Dwi mengandung nih...

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~17 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah tayang gasik
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. πŸ₯™πŸ₯ͺπŸ₯™πŸ₯ͺπŸ₯™πŸ₯ͺπŸ₯™πŸ₯ͺ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung BeAaeM_17
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ₯™πŸ₯ͺπŸ₯™πŸ₯ͺπŸ₯™πŸ₯ͺπŸ₯™πŸ₯ͺ

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 17 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah Cerbung "BAM 17" sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, tayang ontime,.... maturnuwun Bu Tien, semoga Bu Tien sehat,bahagia dan tetap semangat menayangkan cerbung yg selalu aduhai ceritanya...πŸ™

    ReplyDelete
  10. Terima kaih cerbungnya bunda..slmr mlm dan slm sht sll unk bunda bersm bpkπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....

    ReplyDelete
  12. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 17 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Dwi...kembalilah ke suamimu, beri kabar gembira klu kamu sdh berbadan dua.
    Jangan mengganggu ketentramam kel Adri, krn yang kalian inginkan sdh di kabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah..semoga selalu sehat bunda..

    ReplyDelete
  14. Bisa-bisa Adri dituduh yang menyemaikan benih...
    Mbak Tien akan lebih leluasa mempermainkan perasaan pemirsa...
    Terimakasih Mbak Tien, mau ke sebelah...

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 18

  BIARKAN AKU MEMILIH  18 (Tien Kumalasari)   Adri menatap Dwi yang tampak kebingungan. “Mengapa kamu kelihatan panik? Bukankah itu anugrah,...