BIARKAN AKU MEMILIH 16
(Tien Kumalasari)
Nirmala tak menjawab, bukankah Dwi adalah teman biasa? Maksudnya biasa yang bagaimana? Biasa mengganggu di saat istirahat? Biasa menelpon saat di rumah?
“Adri … “ dari seberang terdengar teriakan.
“Adri sedang memandikan anaknya,” jawab Nirmala datar.
“Oh, maaf. Apakah ini Ibu Nirmala?”
“Ya. Telpon nanti sebentar lagi. Okey?”
Lalu Nirmala menutup ponselnya, maksudnya ponsel Adri yang sedang dipegangnya. Lalu ia meletakkannya di tempat semula.
Nirmala termangu beberapa saat.
“Sejauh apa hubungan mereka?”
Lalu Nirmala masuk ke dalam kamarnya, dengan beribu pertanyaan memenuhi benaknya. Sang suami yang di rumah selalu menunjukkan cinta dan perhatian, terlebih kepada satu-satunya anaknya, ada hubungan dengan wanita yang katanya teman masa kecilnya? Kalau tidak, mengapa dia berani menelpon saat Adri sedang tidak ada di rumah? Karena sangat penting dan tidak bisa ditunda? Nirmala menyesal, seharusnya tadi dia bertanya, ada keperluan apa perempuan itu menelpon.
“Ah, sudahlah, aku harus segera mandi agar badan serta jiwaku terasa lebih segar. Masalah perempuan itu pasti akan segera terjawab ketika Adri berbicara dengannya nanti. Seandainya mau berbicara sih, seperti biasanya.
***
Begitu selesai berpakaian rumahan dan rapi, Nirmala sudah mendengar celoteh Pratama di ruang tengah. Nirmala keluar dari kamar, dan disambut teriakan nyaring si kecil.
“Mm..maaa ….”
“Sayang, kamu sudah wangi, ganteng, pintar ….” kata Nirmala sambil langsung merengkuh Pratama dalam gendongannya.
“Sama ibu dulu ya, bapak gantian mandi,” kata Adri yang kemudian berdiri, beranjak meninggalkan mereka.
Adri sama sekali tidak menoleh ke arah ponsel yang masih tergeletak di tempat yang sama. Nirmala tidak memperhatikannya ketika ponsel itu bergetar, dan ada tanda notifikasi pesan.
Ia mengajak Tama ke arah depan, lalu bercanda dan keduanya tertawa-tawa karena Tama merasa sangat senang, dan Nirmala terkekeh menyaksikan kelucuan anak semata wayangnya.
Mbak Rana yang ngelesot di dekat mereka ikut senang menyaksikan keakraban mereka. Pratama adalah anak yang berbahagia, karena dicintai sepenuhnya oleh ayah bundanya, walau keduanya sibuk seharian. Waktu luang sepulang kerja adalah waktu untuk Pratama, sehingga si kecil tidak pernah merasa kehilangan kebersamaan dengan kedua orang tuanya.
“Apakah Tama makan dengan baik, Mbak?” tanya Nirmala kepada mbak Rana.
“Makan lahap sekali Nyonya, bahkan setelah makan masih menghabiskan sebotol susu.”
“Jangan lupa selalu diberi buah yang sudah aku sediakan.”
“Tentu Nyonya. Dia juga senang. Tapi yang paling disukainya adalah alpukat.”
“Iya, itu juga buah yang sehat.”
Agak lama mereka bercanda, ketika terdengar Adri yang sepertinya sudah selesai mandi sedang berbicara di ponsel.
“Jangan dipikirkan. Tidak untuk waktu ini … aku sedang bersama istriku dan anakku. Tapi besok kita bisa bicara lagi. Ya, aku sudah melihat-lihat iklan tentang rumah yang akan dikontrakkan, tapi sebaiknya besok saja kita bicara…. tentu, aku akan selalu membantu kamu. Ya, tidak apa-apa, nanti aku bicara. Tidak, dia tidak marah. Ya sudah, tenang saja. Sampai besok.”
Pembicaraan itu berhenti, terdengar kemudian langkah Adri mendekati Nirmala.
“Tadi Dwi menelpon?”
“Ya, aku angkat, takutnya ada yang penting tentang sakitnya. Ternyata dia tidak mengatakan apa-apa. Maaf, aku lupa memberi tahu kamu.”
“Tidak apa-apa, dia sudah kirim pesan, juga sudah menelpon. Dia mengingatkan agar aku mencarikan rumah kontrakan, kalau bisa yang dekat kantor.”
“Dia, mencari kontrakan?”
“Dia akan bercerai dengan suaminya. Dia akan segera pindah rumah, karena mungkin suaminya akan mengajak istri mudanya tinggal di rumah itu.”
“Oh. Kamu yang diminta mencarikan rumah kontrakan?”
“Iya, tidak apa-apa kan?”
“Silakan saja, kalau cuma mencarikan rumah kontrakan.”
“Tapi aku kan belum bisa mencarikannya. Kamu tahu, dia akan dipindahkan ke kantor cabang di luar kota, tapi dia belum tahu, makanya dia ingin mencari kontrakan dekat kantor. Padahal kan dia mau pindah. Itu sebabnya aku akan mengajaknya bicara besok.”
“Jadi dia belum tahu?”
“Kan dia baru mau masuk kantor besok? Nekat saja dia, padahal kakinya masih dibebat dan dia hanya bisa berjalan dengan kruk.”
Nirmala hanya mengangguk.
“Kamu kan tahu, untuk yang ditugaskan di luar kota sudah ada tempat kost yang disiapkan untuk mereka?”
“Ya, aku tahu. Masalahnya kan dia ingin kost di dekat kantor sini.”
“Mm..maaaa,” Tama berteriak karena merasa tidak diperhatikan ketika ayah ibunya sedang bicara.
“Eeeh, maaf sayang … kamu diacuhkan ya? Baiklah, ayuk main lagi. Mana mobil kecil yang tadi Tama pegang?”
Tama menunjukkan sebuah mobil-mobilan yang dipegangnya, lalu meminta agar ibunya membuat mobil kecil itu berlari.
Tama berteriak-teriak senang.
Dering panggilan telpon terdengar lagi. Adri bergegas menghampiri.
“Oh … ya, nggak apa-apa, nanti aku jemput. Agak pagi, karena ada rapat jam delapan … ya, jangan khawatir."
Nirmala mendengarkan.
“ O, minta dijemput. Bukan main ….” kata batinnya.
***
Pagi hari itu Dwi sudah mandi, dibantu bibik pembantu yang setia melayaninya.
“Bik, besok kalau aku pindah rumah, kamu tetap ikut aku ya.”
“Nyonya mau pindah rumah?”
“Tentu saja, mana mungkin aku mau tetap tinggal di sini sementara suami aku akan membawa istri mudanya juga di rumah ini.”
“Nyonya sebagai istri tua, tentu lebih berkuasa, mengapa harus pergi?”
“Berkuasa apa? Tidak ada istri tua, aku tidak sudi dimadu.”
“Jadi Nyonya akan minta cerai?”
“Iya Bik, tapi bibik tetap ikut aku ya.”
“Iya Nyonya, biarpun saya menyayangkan kalau Nyonya benar-benar bercerai, tapi saya setia pada Nyonya.”
“Terima kasih, Bik.”
“Yang datang kemari dan mengantarkan Nyonya itu ganteng sekali. Lebih ganteng dari pada tuan.”
Dwi tertawa kecil.
“Dia memang ganteng. Bukan hanya ganteng, tapi juga baik hati. Aku akan sangat berbahagia kalau bisa menjadi istrinya.”
“Bibik doakan keinginan Nyonya bisa terlaksana.”
“Sayangnya dia sudah punya istri.”
"Waduh, sayang sekali Nyonya.”
“Dia itu teman masa kecilku. Sudah sejak masih kanak-kanak aku menyukai dia.”
“Mengapa Nyonya tidak menjadi istrinya saja, dan Nyonya malah memilih tuan, yang akhirnya malah harus bercerai?”
“Lama sekali kami terpisah, lalu tiba-tiba dia sudah menikah. Mau bagaimana lagi?”
“Sayang sekali ya Nyonya.”
“Tapi aku senang dia sangat perhatian sama aku. Siapa tahu, di dalam hatinya dia juga suka sama aku.”
“Benarkah? Tapi kan dia sudah punya istri?”
“Iya sih, tapi dia itu benar-benar perhatian sama aku. Ketika di rumah sakit, dia menunggui aku siang malam. Dia belum pulang kalau aku belum tertidur. Aku sangat bahagia kalau berdekatan dengan dia.”
“Tapi nyonya harus berhati-hati, kalau sampai Nyonya juga suka sama dia, namanya kan merusak rumah tangga orang?”
Tapi Dwi tak mengacuhkannya. Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.
“Kamu nekat mau berangkat kerja?” tanya sang suami.
“Ya, memangnya kenapa?”
“Harusnya istirahat dulu beberapa hari."
”Terserah aku, mau kerja atau tidak. Mulai sekarang semuanya bukan urusan kamu.”
“Baiklah, kalau begitu ayuk aku antarkan.”
“Tidak usah, jangan repot-repot untuk aku.”
“Kamu kan masih istri aku, tidak ada salahnya aku mengantar kamu.”
“Tidak usah, aku berangkat sendiri saja.”
“Bisa setir mobil? Kakimu kan masih sakit?”
“Bukan urusan kamu.”
“Naik taksi ya, biar aku carikan, mau berangkat sekarang?”
“Tidak usah, aku bilang semua yang aku lakukan adalah bukan urusan kamu, jadi tidak usah sok baik hati, aku tidak terpengaruh.”
Bibik pembantu melangkah pergi, tidak enak menyaksikan suami istri yang sedang bertengkar.
“Dwi, yang kamu harus tahu, aku masih mencintai kamu.”
“Jangan bicara tentang cinta. Itu hanya pepesan kosong. Mana ada cinta tapi menipunya, membohonginya, lalu tahu-tahu minta ijin untuk menikah lagi.”
“Aku terpaksa, itu kemauan orang tuaku, alasannya kan kamu sudah tahu?”
“Diamlah, tinggalkan aku, aku tidak mau mendengar apapun.”
Anton keluar dari kamar dengan putus asa. Sungguh sebenarnya ia sangat mencintai istrinya. Ia terpaksa melakukannya, karena setiap malam sang ibu mempertemukannya dengan wanita lain yang diharapkan bisa memberinya keturunan. Apa boleh buat, alasannya adalah anak.
Anton melangkah keluar, lalu tiba-tiba ia melihat mobil berhenti di halaman. Ia tidak mengenali mobil itu. Ia juga tidak mengenali laki-laki gagah yang turun dari mobil itu, lalu mengangguk ke arahnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 16 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah tayang gasik tenan iki, merga arep masak.
ReplyDeleteSugeng masak-masak mBak Tien.
Sehat terus dan terus sehat.
Dan ADUHAI
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek. ADUHAI
DeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 16" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sonten🙏
ReplyDeleteSami2 pak Sis
DeleteSugeng dalu
Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 16 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteMatur nuwun, Bu Tien. Tayang gasik
ReplyDeleteSami2 ibu Anik
Delete🎉🏮🎉🏮🎉🏮🎉🏮
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung BeAaeM_16
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🎉🏮🎉🏮🎉🏮🎉🏮
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteTrmksh mb Tien 🙏
ReplyDeleteSamo2 Yangtie
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~16 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteMatir nuwun pak Munthoni
DeleteMatur suwun bu Tien🙏🙏🙏
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Waduh.. Pasti seru besok Anton dan Adri bertemu... Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu... Aduhaii
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah
DeleteAlhamdulillah BAM dah tayang, ....ceritanya makin seru dan penasaran ....semoga rumah tangga Nirmala tetap utuh tidak goyah adanya badai.
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien ,sehat selalu Bu, tetap semangat dan bahagia,.......karena ibu sll menghibur banyak penggemar..🙏🙏
.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 16 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Dwi yang tdk punya malu, ingin merebut suami orang, ketahuan s Anton suaminya yang sah, di jemput oleh Adri.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteTerima kasih Bu Tien
ReplyDeleteAnton cemburu?
ReplyDeleteSeharusnya iya. Pertahankan rumah tanggamu Nton...
Terimakasih Mbak Tien...