BIARKAN AKU MEMILIH 12
(Tien Kumalasari)
Nirmala termenung di kantornya. Ada manager pemasaran yang baru. Memang dia pernah mendengarnya, tapi itu kan kebijakan perusahaan dari pusat, Nirmala tak akan ikut campur. Tapi perhatian suaminya yang besar atas manager baru itu menimbulkan perasaan lain di hatinya. Memang suaminya sudah mengatakan kalau ia mengantarkan orang sakit, menungguinya sampai jam 2 malam, lalu saat bekerja Adri juga menaruh perhatian besar atas manager baru itu. Dan dia juga mengatakannya. Sekedar perhatian kepada bawahan, atau ada yang lebih dari itu?
Ia memang tidak menanyakannya siapa yang ditolong itu, apakah dia laki-laki atau perempuan. Tapi ketika dia tanpa sadar mencari informasi, ternyata dia perempuan, bernama Dwiyanti. Lupa-lupa ingat dia akan nama itu. Jauh sebelum wanita itu menjadi karyawan baru, kapan ya ia pernah mendengar namanya? Di pesta pernikahannya? Sepertinya tidak. Ah, entahlah, Nirmala tak mau ambil pusing tentang wanita itu, tapi perhatian besar dari suaminya, tetap saja mengganggu perasaannya. Cemburu? Iyalah, Adri kan suaminya. Walau dia sedang kesal, mana mungkin dia rela ada wanita lain di hati sang suami?
Nirmala sadar ia sangat mencintai sang suami, dan ia juga tahu suaminya juga sangat mencintai dirinya. Apakah cinta bisa luntur? Apa yang salah dalam keluarganya?
Salahkah kalau dia kesal akibat ketidak percayaan Adri atas dirinya ketika mengandung Pratama? Tentu dia kesal. Siapa yang tidak kesal, merasa benar tapi dianggap salah? Nirmala memijit keningnya. Mau tak mau ia harus bicara pada suaminya tentang perempuan itu. Kalau hanya teman kerja dan rasa simpatinya sebatas teman, okelah. Tapi kalau lebih dari itu, Nirmala harus mengambil sikap.
Rumah tangganya bisa terkoyak. Tapi kan itu belum jelas. Toh sesungguhnya Adri selalu berterus terang sejak kepulangannya semalam, bahkan pagi harinya sudah mengatakan juga kalau dia mau ke rumah sakit, jadi memang Adri tidak bohong. Salahnya adalah dia tidak menanyakan siapa yang sakit, dan kalau itu ditanyakannya pasti Adri tidak akan membohonginya. Nirmala tahu, sekeras apapun hati Adri tapi dia tidak suka berbohong.
Lalu Nirmala merasa lebih tenang dan berharap hal itu tidak akan menggoyahkan rumah tanggaya.
***
Siang harinya Dwi baru mendapat giliran operasi, sementara Adri sudah menungguinya dari pagi.
“Aku senang kamu selalu menemani aku Adri, aku tahu kamu sahabat yang baik. Tanpa kamu, apa jadinya aku ini.”
“Aku tidak berbuat apa-apa kan? Hanya menemani saja.”
“Justru itu yang membuat aku kuat Adri. Dalam badai rumah tanggaku yang menjadikannya porak poranda, aku sangat rapuh dan tak berdaya. Tapi dengan adanya kamu, aku menjadi kuat dan bisa menjalani semuanya dengan baik.”
Adri merasakan rasa yang aneh, yang belum pernah dirasakannya. Seseorang merasa kuat dengan adanya dirinya, itu membuatnya menjadi penuh arti.
“Adri, kamu adalah laki-laki sejati. Alangkah bahagianya istri kamu mendapatkan suami sebaik kamu.”
Adri tersenyum dengan debar dada yang aneh. Benarkah Nirmala senang mendapatkan suami seperti dirinya? Nirmala selalu bisa mandiri. Selalu bisa mengatasi apapun tanpa bantuan darinya. Dia wanita kuat, tidak rapuh dan gampang mengeluh. Seharusnya Adri senang, tapi kemudian dia merasa tak berguna.
“Adri, mengapa kamu diam? Kamu bosan menemani aku?”
“Tidak, mengapa berkata begitu? Aku senang bisa menolong teman.”
“Terima kasih Adri. Sebentar lagi aku dioperasi, apakah kamu masih akan menunggui di sini?”
“Sesuai permintaan kamu, aku akan menemani kamu sampai selesai di operasi.”
Dwi tersenyum manis sekali. Karena senang rasa nyeri di kakinya hampir tidak terasa lagi.
Tak lama kemudian beberapa perawat masuk. Dwi sudah dipersiapkan untuk masuk ke ruang operasi.
“Adri, selalu temani aku ya.”
Adri mengangguk sambil tersenyum. Ia terus menatap brankar yang membawa Dwi ke ruang operasi, sampai bayangan Dwi menghilang di balik pintu.
***
Adri ingin meninggalkan Dwi selama operasi berlangsung, tapi dokter yang menanganinya mengatakan bahwa operasinya tak akan berlangsung lama, karenanya Adri duduk menunggu. Beberapa kali telpon dari kantor, selalu dijawabnya bahwa dia masih menunggu. Ia berjanji akan segera kembali begitu operasi itu selesai. Karyawan kantor ada yang mengacuhkannya, tapi ada yang kemudian menduga-duga. Mengantarkan ke rumah sakit semalam, lalu menunggui saat operasi, pasti itu bukan perilaku seorang teman biasa. Sebagai seorang pimpinan, bisa saja Adri menyuruh orang untuk menungguinya, tapi Adri tidak melakukannya. Ini luar biasa. Mereka juga sering melihat Adri makan berdua saat istirahat.
“Padahal dua-duanya sudah punya keluarga,” celetuk seorang karyawan.
“Jangan berprasangka dulu. Pak Adri orang baik, barangkali hanya ingin menolong.”
“Iya, tapi apa kamu tahu, tadi bu Nirmala menelpon, menanyakan siapa yang sakit lhoh. Berarti suaminya melakukan itu tanpa sepengetahuan istrinya.”
“Kata siapa bu Nirmala menelpon?”
“Aku dengar dari resepsionis.”
“Ah, ya sudahlah. Tidak usah bergosip tentang hal yang bukan urusan kita. Yang penting kerja … kerja … kerja.”
Demikianlah, hal yang tidak wajar selalu menjadi bahan perbincangan.
***
Dwi tidak dibius total, hanya bagian kaki kanannya saja, karenanya ia tahu ketika keluar dari ruang operasi, ada Adri duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu. Ketika melintasinya, Dwi berteriak.
“Adri!”
Adri terkejut, ia membuka matanya lalu mengikuti brankar yang membawa Dwi, masuk ke ruang inap.
“Terima kasih Adri, kamu benar-benar menepati janji kamu.”
“Syukurlah selesai dengan cepat. Setelah ini aku mau kembali ke kantor. Banyak yang menunggu. Lalu setelah itu aku mau pulang dulu.”
“Yaaah, mengapa pulang Dri. Tidak kembali kemari lagi?”
“Aku punya istri, dia pasti akan bertanya-tanya kalau aku pulang terlambat.”
“Apa dia pemarah?”
Adri diam. Istrinya memang sedang marah, tapi sesungguhnya dia bukan pemarah. Karena itu ia menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Istriku bukan tipe istri yang suka marah. Dia wanita yang kuat dan mandiri,” katanya seperti sedang memamerkan sang istri.
“Bukan main. Tapi dia harus berbahagia memiliki suami yang seperti kamu Dri.”
Adri hanya tersenyum. Ia melihat ke arah arloji tangannya.
“Karena kamu sudah baik-baik saja, aku ke kantor dulu ya.”
“Lalu pulang?”
“Ya, kan aku sudah bilang.”
“Maukah setelahnya kamu kembali kemari?”
“Malam nanti?”
“Aku selalu takut sendirian. Dan besok kan aku boleh pulang dan rawat jalan, kalau sudah pulang kamu tidak usah menemani aku, karena di rumah sudah ada pembantu.”
“Baiklah, tapi aku harus bilang dulu pada istri aku.”
“Pasti dia tidak akan mengijinkan,” cemberut Dwi.
“Dia akan mengijinkan. Istriku seorang wanita yang baik.”
“Hm, baiklah. Aku tunggu ya Dri.”
***
Sore itu Adri pulang tepat waktu, Nirmala sedang duduk sendirian di teras.
Ia sudah menyiapkan kopi panas di meja di depannya, dan mengatakan kepada sang suami bahwa dia akan bicara.
Adri mengangguk, lalu ia langsung masuk ke dalam rumah. Ia keluar setelah berganti pakaian rumah. Tampaknya ia sekalian mandi, tampak dari aroma wangi yang tercium.
“Aku mandi sekalian. Nanti setelah makan aku mau ke rumah sakit lagi,” katanya sambil duduk, lalu meraih gelas kopinya.
Nirmala menatap suaminya tak berkedip. Tampaknya sang suami benar-benar memperhatikan anak buahnya yang sedang sakit.
“Siapa sih yang sakit?”
“Dia manager pemasaran yang baru beberapa minggu masuk. Kiriman dari pusat.”
“Perempuan?”
“Ya, namanya Dwiyanti.”
“Kamu sangat perhatian pada dia.”
“Dia itu teman kecilku. Aku pernah mengatakan bahwa aku punya teman kecil bernama Dwiyanti.”
“O, iya.”
Rupanya Adri sendiri yang menyebut nama Dwiyanti teman masa kecilnya belum lama ketika mereka menikah. Itu sebabnya Nirmala seperti pernah mendengar nama itu, yang hampir lupa dia itu siapa. Lepas dari itu Nirmala sedikit lega. Sudah diduganya, suaminya tak suka bohong. Jadi ia memang mengatakan apa yang benar-benar terjadi.
“Kamu tidak apa-apa kan, kalau aku ke rumah sakit lagi nanti malam?”
“Tidak,” jawabnya singkat, membuat Adri merasa lega. Ia juga lega karena Nirmala sudah mau bicara.
Sebelum makan malam, Adri dan Nirmala ada di dalam kamar. Rasa kesal Nirmala sudah mulai surut. Ia senang Adri tetap bersikap manis, yang membuat dia tidak memikirkan hal buruk yang dilakukan sang suami.
Lama marahan, membuat keduanya merasa kangen satu sama lain. Tapi tiba-tiba ponsel Adri berdering.
Kemesraan yang nyaris terjadi menjadi buyar seketika, saat Adri memerlukan meraih ponsel dan membawa pesan yang tertera di sana.
“Adri, jam berapa kamu akan datang?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur sembah nuwun Mbak Tien
Sami2 jeng Ning
DeleteAlhamdulillah gasik tenan BeAaeM_12 sudah tayang.
ReplyDeleteMatur nuwun
π€π€ππΉ
Owh iya ding, nBak Tien mau masak ya, persiapan untuk makan sahur nanti menjelang shubuh, bersama mas Tom dan AMANCU tentunya.
Selamat menunaikan ibadah shaum Ramadhan 1447-H, semoga Allah menerima ibadah kita dan mengijabah doa2 yang kita langitkan.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
π€²π€²ππΉ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget mas Kakek. Doa sama untuk mas Kakek n keluarga
DeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 12" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sontenπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSugeng sonten
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda.
Tayang lebih awal... Mau tarawih ya.
Selamat berpuasa
Semoga ibadah kita lebih husu. Lebih baik lagi
.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget bapak Endang. Doa sama untuk bapak
Deleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung BeAaeM_12
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππππππππ
Bunda Tien & Bpk Tom Widayat,
Delete_*Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1447 H/2026 M, mohon maaf lahir bathin. Semoga ibadah kita mendapat ridho Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbalalamiin*_ π€²π€².
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari.
DeleteSaya juga mohon maaf lahir batin yaa
Mks bun ....tayang gasik, selamat sore smg sll sehat n bahagia
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Supriyati
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~12 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 12 ~ sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry
DeleteSuwun mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget Yangtie
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhandulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteNuwun pak Munthoni
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Reni
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 12 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteSelamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1447, mohon maaf lahir batin ya bun
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri.
DeleteMohon maaf lahir batin juga
Tks bu tien Cernungnya.Selamat menjlnkan ibadah Puasa.Sht2 slalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Dwi
DeleteTerimakasih bunda Tien, Selamat beribadah puasa Ramadhan 1447 H, sehat selalu bunda Tien Sekeluarga....Aamiin yaa Rabbal alaamiinπ€²π€²π€²
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Komariyah
DeleteMatur nuwun Bu Tien,semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia ππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Tatik
DeleteAdri ini bisa terjebak Guntur nampaknya...
ReplyDeleteAdri tak bisa memposisikan diri sebagai teman dan sebagai suami..
Terimakasih Mbak Tien....
Wakakaa... guntur lagi.. guntur lagi. Memang ini lagi musim hujan prof. Jadi sering terdengar gelegar guntur
DeleteMatur nuwun Bu Tien.
ReplyDeleteSugeng siam ramadhan 1447 H.
Sami2. Matur nuwun kawigatosanipun.
Delete