Thursday, February 19, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 13

 BIARKAN AKU MEMILIH  13

(Tien Kumalasari)

 

Adri turun dari pembaringan, meninggalkan Nirmala yang masih terbaring dengan wajah kesal.

Notifikasi pesan terdengar lagi, Adri kembali membukanya.

“Adri, aku takut sekali. Bekas operasi ini berdenyut-denyut sakit. Kalau ada kamu, barangkali sakit ini akan berkurang."

Adri tidak membalasnya.

“Aku akan segera kembali,” katanya sambil melangkah ke kamar mandi, lalu ke ruang ganti. 

Ketika mendekati Nirmala, Adri sudah berganti pakaian rapi.

Nirmala sudah tahu, pasti dari perempuan itu.

“Dia sangat penakut. Kasihan dia sendirian,” katanya sambil mencium kening Nirmala.

Adri berlalu, Nirmala terpaku. Ia tak punya sanak saudara? Apakah dia jatuh dari langit? Pikir Nirmala sambil memiringkan tubuhnya, memeluk guling dengan pikiran ke mana-mana.

“Apa yang terjadi pada suamiku? Begitu perhatiannya. Benarkah hanya karena teman sejak kecil? Lalu sekarang menjadi anak buahnya? Apakah harus begitu besar perhatiannya? Dan perempuan bernama Dwi itu, enak saja memanggil suami orang, mengatakan bahwa dia takut, di saat malam, saat di mana suami istri biasanya meluangkan waktu untuk sekedar mencurahkan kasih sayangnya?” gumam Nirmala yang tak urung air matanya kemudian berlinang. Sekuat apapun hatinya tapi suaminya ‘dipinjam’ untuk menungguinya di rumah sakit dengan alasan takut. Ada kemarahan menelusuri aliran darahnya, membuatnya kemudian tak bisa tidur.

***

Dwi tersenyum cerah ketika melihat Adri memasuki kamarnya dan langsung mendekatinya.

“Belum tidur?”

“Aku yakin kamu akan datang setelah aku mengirimi kamu pesan. Kamu laki-laki yang baik, Adri,” kata Dwi sambil terus mengulaskan senyum.

“Aku mengkhawatirkan kamu, karena kamu selalu mengatakan takut. Apa yang kamu takutkan? Diluar banyak perawat jaga yang akan datang setiap saat ketika kamu memencet bel panggilan.”

“Itu beda Adri. Kedatangan kamu sangat berarti bagiku. Kamu luar biasa, aku tak akan bisa melupakan kebaikan kamu.”

Adri mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.

“Kamu tadi mengatakan kalau kakimu nyeri, harusnya kamu bilang pada perawat.”

“Aku mau kamu dulu yang datang.”

“Aku tidak bisa apa-apa, aku bukan dokter. Lagipula kalau terasa sedikit nyeri, itu akibat luka operasi itu. Tentu terasa tidak nyaman karena ada luka.”

“Iya, aku tahu. Tapi setelah kamu datang, rasa nyeri itu berkurang.”

“Dwi, kamu meng ada-ada.”

“Itu benar.”

“Tapi aku tidak bisa lama. Istriku akan bertanya-tanya karena aku pergi malam-malam.”

“Adri, apa kamu tidak bisa bilang kalau sahabat kamu sedang sakit?”

“Menungguinya siang malam akan terasa aneh Dwi, aku harap kamu mengerti.”

Tiba-tiba Dwi menangis. Terisak perlahan.

“Baiklah, sekarang kamu pulang saja. Biarkan aku sendiri. Aku bukan istri kamu, aku tak pantas merepotkan kamu, pergilah,” kata Dwi sambil menangis, dan sekarang tidak hanya terisak, tapi benar-benar menangis, membuat Adri kebingungan. Ia tak pernah menghadapi perempuan menangis di hadapannya. Ia bingung harus melakukan apa. Istrinya tak pernah menangiskan sesuatu. Istrinya seorang wanita kuat yang mandiri. Tiba-tiba Adri merasa tak tega. Dipegangnya tangan Dwi untuk menghiburnya.

“Jangan menangis begitu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sudah datang tapi kamu mengusir aku.”

“Habis kamu mengolok-olok aku, seakan aku sangat mengganggu kebersamaan  kamu bersama istri kamu. Aku memang bukan siapa-siapa, yang tak pantas mendapat perhatian dari kamu.”

“Aku mengatakan hal yang sebenarnya Dwi. Kalau aku pamit malam-malam, istriku akan bertanya-tanya.”

“Bukankah kamu bisa menjawabnya?”

“Tapi aku sudah menunggui kamu sejak pertama kamu aku bawa ke rumah sakit, lalu paginya dioperasi. Aku baru pulang sebentar, lalu kamu memintaku datang lagi. Aku bingung, istriku pasti akan bertanya-tanya.”

“Besok kalau aku sudah sembuh, aku akan datang kepada istri kamu, meminta maaf karena telah merepotkan kamu.”

“Tidak usah. Istriku sudah tahu, karena aku tidak pernah membohonginya. Aku mengatakan semuanya, sejak mengantarkan kamu ke rumah sakit, sampai menunggui kamu operasi, bahkan sampai kepergian aku kemari malam ini.”

Dwi sangat takjub. Suami yang tidak bisa bohong? Sementara suaminya yang hampir setiap malam pamit keluar bersama teman-temannya, yang katanya hanya di pos ronda, ternyata sedang bersama perempuan lain. Itu dikatakan mertuanya saat kemarin datang sehingga dia bertengkar dengan suaminya.

Saat itu suaminya baru pulang kerja. Suaminya sama sekali tidak membicarakan masalah dia menelpon dan mengatakan akan menikah lagi, jadi Dwi mendahului bicara.

“Apa yang Mas katakan itu benar? Mas ingin menikah lagi?”

“Maaf Dwi, aku terpaksa melakukannya, karena anjuran dari orang tuaku.”

“Apa kamu anak kecil sehingga apa yang kamu lakukan harus tergantung dari anjuran orang tua kamu?” Dwi mulai kesal.

“Mereka punya alasan, ingin segera punya cucu, sedangkan kamu tidak segera hamil.”

“Itu benar. Kamu tidak bisa hamil,” kata ibu mertuanya yang tiba-tiba datang.

“Mengapa ibu berusaha merusak rumah tangga kami?”

“Aku tidak akan merusaknya, teruslah berumah tangga, teruslah menjadi menantuku, tapi akan ada wanita lain yang menemani kamu, yaitu madumu.”

“Ibu memaksakan kehendak,” suara Dwi meninggi.

“Apa maksudmu? Ini bukan aku yang memaksanya. Suami kamu selalu menemui calon istri barunya setiap malam,” kata sang ibu mertua enteng.

“Apa? Benar Mas? Kamu pamit ke pos ronda hampir setiap malam, ternyata kamu menemui perempuan lain?”

“Itu benar. Jangan memojokkan suami kamu seperti itu. Sadarilah bahwa kamu memang bukan perempuan sempurna.”

Dwi naik pitam, ia menubruk suaminya, ingin menamparnya, memukulnya dengan kemarahan yang membabi buta, tapi kemudian sang mertua menariknya, dan suaminya mendorongnya keras, sehingga dia terjatuh. Sebuah meja kecil dengan kaca diatasnya menimpa kakinya. Pergelangan kaki terluka, dan patah tulangnya. Bukan menolongnya, sang ibu mertua menarik tangan suaminya dan mengajaknya pergi mengendarai mobilnya.

“Dwi, sudahlah, jangan menangis.”

Dwi sadar dari lamunannya. Apa yang dialaminya sudah diceritakan semua kepada Adri. Kebohongan sang suami dan kekejaman ibu mertuanya yang membuatnya sakit, bukan hanya raganya, tapi juga hatinya.

“Aku minta maaf Adri, aku sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya luka ini, tapi juga luka di dalam hatiku. Sekarang aku sadar bahwa harus membawa luka ini seorang diri, dan tidak merepotkan kamu, sekarang pulanglah Adri. Maaf merepotkan kamu,” katanya masih dengan isak kecil.

Apa yang dikatakan Dwi membuat Adri tersentuh. Ia sudah tahu apa yang terjadi, dan itulah kenapa ia merasa iba terhadap nasib Dwi.

Mendengar perkataan Dwi yang terakhir, membuat Adri kemudian ingin selalu menghiburnya. Ia menganggap Dwi seorang wanita malang yang pantas dikasihani. Karenanya kemudian ia menungguinya sampai Dwi benar-benar terlelap.

***

Tengah malam lebih Adri baru memasuki kamarnya, dan melihat Nirmala tidur memunggungi pintu memeluk guling. Rasa bersalah menghantuinya.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia berbaring di samping sang istri, memeluknya dari belakang, tapi Nirma bergeming. Ia seperti tak merasakan apa-apa, dan Adri kemudian membiarkannya dengan penuh perasaan bersalah. Tapi ketika bayangan Dwi melintas, Adri justru membayangkan sebuah drama kekejaman yang digambarkan Dwi melalui ceritanya. Ketika suaminya berbohong, lalu membuatnya terluka, dan meninggalkannya dalam rasa sakit luar dalam.

Adri menghela napas. Keadaan Dwi, membuatnya kasihan dan ingin selalu menghiburnya. Dianggapnya Dwi adalah seorang yang teraniaya, dan membutuhkan dirinya untuk menguatkannya. Nirmala bisa menjaga dirinya dan tidak membutuhkannya.

Adri kemudian terlelap, lalu bermimpi tentang Dwi, yang mengajaknya berjalan-jalan di sebuah taman, lalu ia memetik bunga, disematkan pada telinga Dwi. Mereka berlarian dengan riang gembira, lalu tiba-tiba ia melihat Dwi terperosok ke dalam lubang. Adri ingin menolongnya, tapi kemudian diapun terjatuh. Kepalanya terantuk lantai, menimbulkan suara berdebum yang keras, membuatnya mengaduh, lalu Nirmala terbangun. Nirmala terkejut melihat suaminya berusaha bangun sambil memegangi dahinya.

“Ada apa?” tak urung Nirmala panik melihat sang suami kesakitan.

Ia turun dan membantu sang suami bangun.

“Kamu tidur terlalu minggir,” kata Nirmala yang kemudian mengambilkan segelas air minum yang selalu tersedia di atas nakas.

“Terima kasih, aku … aku mengejutkan kamu.”

“Sakit? Keningmu benjol, aku ambilkan salep, agar berkurang sakitnya dan tidak lagi benjol, ” kata Nirmala yang kemudian bangkit, lalu mengambil sebuah salep dalam tube berwarna pink, lalu dioleskannya salep itu ke dahi suaminya.

“Dingin. Terima kasih,” kata sang suami yang kemudian memeluknya.

Nirmala tak bereaksi. Ia mendorong suaminya agar kembali tidur, sedangkan dia kemudian pergi ke kamar mandi. Saatnya shalat malam.

***

Pagi hari itu Adri tampak bersiap-siap pergi ke kantor. Nirmala tidak bertanya apapun tentang kepergiannya semalam.

“Nirma, aku minta maaf.”

Nirmala terkejut. Baru sekali suaminya mengucapkan kata "maaf". Ini luar biasa. Karena itulah ia menatap suaminya tak berkedip. Malaikat mana yang menuntun sang suami mengucapkan kata langka itu dari mulutnya.

“Aku mengasihaninya, hanya kasihan, karena nasibnya yang mengenaskan.”

Nirmala melebarkan matanya.

“Tidak apa-apa, segera pergi ke kantor, ini sudah kesiangan,” jawab Nirmala sambil mendorongnya pelan setelah mencium tangannya. Adri membalikkan tubuhnya, mencium kening istrinya, lalu berjalan menuju mobilnya. Nirmala masuk ke rumah sebelum mobil Adri keluar dari halaman.

Ketika akan mempersiapkan diri untuk pergi ke kantornya, ponselnya berdering. Dari sang ayah.

“Assalamu' alaikum,” sapa Nirmala.

“Wa’alaikumussalam, Nirma. Bapak hanya ingin mengingatkan. Awasi suamimu.”

Nirmala terkejut.

***

Besok lagi ya.

39 comments:

  1. Alhamdulillah tayang gasik....
    Matur nuwun mBak Tien.....

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget Yangtie

      Delete
  3. ๐Ÿฎ๐Ÿชญ๐Ÿฎ๐Ÿชญ๐Ÿฎ๐Ÿชญ๐Ÿฎ๐Ÿชญ
    Alhamdulillah ๐Ÿ™๐Ÿ˜
    Cerbung BeAaeM_13
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. ๐Ÿ’๐Ÿฆ‹
    ๐Ÿฎ๐Ÿชญ๐Ÿฎ๐Ÿชญ๐Ÿฎ๐Ÿชญ๐Ÿฎ๐Ÿชญ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget jeng Sari

      Delete
  4. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 13 sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐Ÿคฒ๐Ÿ™⚘๐ŸŒท

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Herry

      Delete
  5. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 13 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Nirma..bilang sama ayahmu...sebaiknya Dwi..di pindah tugaskan di luar kota, agar tdk sering bertemu Adri. Dwi...pelan2 akan mengganggu ketentraman rumah tanggamu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Munthoni

      Delete
  6. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 13" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sonten๐Ÿ™

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah Cerbung "BAM 13 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐Ÿ™๐Ÿฉท๐ŸŒน๐ŸŒน

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  9. Alhamdulillah tayang gasik
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sejeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  10. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~13 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien ๐Ÿ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..๐Ÿคฒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget pak Djodhi

      Delete
  11. Alhamdulilah
    Matur nuwun bunda
    Selamat berbuka puasa

    ReplyDelete
  12. Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Dwi

      Delete
  13. Terima kaih bunda cerbungnya..slm sht selalu unk bunda bersm bpk ๐Ÿ™๐Ÿฅฐ๐ŸŒน❤️

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah.... Terimakasih bunda Tien. Semoga Adri tidak selingkuh dgn Dwi. Sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aduhaai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun sanget ibu Komariyah

      Delete
  15. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk....

    ReplyDelete
  16. Matur nuwun Bu Tien, sehat2 dan semangat,bahagia sll bersama Kel tercinta.

    ReplyDelete
  17. Kuda-kuda harus dipasang kata Nirmala
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  18. Kalo gak ada konflik juga gak asyik ya cerita Nirmala ini.
    Sehat selalu bunda Tie

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 14

  BIARKAN AKU MEMILIH  14 (Tien Kumalasari)   Nirmala masih memegangi ponselnya dengan perasaan heran. “Nirma, kamu mendengar apa yang bapak...