HANYA BAYANG BAYANG 36
(Tien Kumalasari)
Priyadi dan Nilam tenggelam dalam mimpi-mimpi yang memabokkan. Mereka merasa bahwa angan-angan yang dironce berderet-deret pasti akan terjadi seperti dalam mimpi-mimpi mereka.
Sementara di pihak Srikanti juga memiliki mimpi-mimpi yang serupa tapi tak sama. Kejatuhan yang sudah di depan mata, tak disadari oleh mereka semua, karena terbuai oleh indahnya hari-hari yang penuh harapan dan ternyata adalah maya.
***
Sampai malam Srikanti tidak keluar dari kamar. Sekar yang sudah ada di rumah itu terpaksa masuk ke kamarnya, hanya sekedar basa basi. Sungkan juga kalau tidak menanyakan apapun, walau sebenarnya dalam hati tidak menyukai sama sekali kelakuan ibu tirinya.
“Bu, bagaimana keadaan ibu?”
“Ya seperti ini. Belum berani bangun, kalau digantung masih terasa nyeri.”
“Semoga ibu baik-baik saja.”
“Terima kasih. Kamu tidur di sini?”
“Iya Bu, bapak ingin kita rame-rame seperti dulu. Tampaknya bapak kangen kletika kami masih belum menikah, jadi saya mengalah, untuk beberapa hari sama-sama bikin bapak senang.”
“Bapakmu akhir-akhir ini agak aneh. Puspa juga begitu.”
“Mungkin bapak lelah. Puspa juga sedang sibuk mengerjakan tugas akhirnya. Ini baru datang dia, nanti pasti menjenguk ibu.”
Srikanti diam, kemudian Sekar keluar dari kamar, lalu memanggil Puspa.
“Masuklah. Ditunggu ibumu.”
Wajah Puspa gelap.
“Jangan begitu Puspa, sejelek apapun, dia ibu kamu, yang mengandung dan melahirkan kamu. Bersikaplah lebih baik, walau dalam hati tidak menyukai kelakuannya.”
Puspa mengangguk, lalu perlahan memasuki kamar ibunya.
“Kamu? Akhirnya kamu melihat ibumu juga.”
“Puspa sedang sibuk. Bapak sudah mengatakan semuanya tentang sakitnya ibu. Sudah ditangani dengan baik kan?”
“Kamu tidak peduli pada ibumu, ibu kandungmu.”
“Ibu salah, Puspa selalu mendoakan Ibu, agar Allah mengampuni semua dosa ibu, diberikan tuntunan ke jalan yang baik.”
“Apa maksudmu?” sentak Srikanti.
“Itu sebuah doa seorang anak kepada ibunya. Doa itu sangat berarti. Jangan ibu menyepelekan sebuah doa.”
“Kamu kalau bicara selalu membuat jengkel ibu.”
“Bu, Puspa mendoakan yang baik-baik untuk ibu. Ya sudah, daripada ibu marah pada Puspa, lebih baik Puspa keluar dulu, kalau butuh apa-apa ibu panggil Puspa, Puspa ada diluar,” kata Puspa sambil keluar dari kamar. Bagaimanapun ada rasa kasihan kepada sang ibu, mengapa ibunya tidak mau menyadari kesalahannya. Seandainya sedikit saja ibu menyesali yang sudah dilakukannya, barangkali hatinya akan luluh.
Sepeninggal Puspa, Srikanti malah menelpon Priyadi, yang diyakininya pasti sudah berada di rumah mesum mereka.
***
Malam itu tuan Sanjoyo makan malam bersama kedua anaknya, sedangkan untuk Srikanti, bik Supi membawakannya ke dalam kamarnya.
“Ini Nyonya, Tuan sudah makan bersama non Sekar dan non Puspa.”
“Taruh saja di situ, bantu aku duduk,” titahnya.
Bik Supi segera membantu sang nyonya majikan untuk duduk, dan mengambilkan makan yang sudah disediakannya.
“Sejak datang, tuanmu tidak menjenguk aku.”
“Barangkali tuan tidak ingin mengganggu Nyonya yang sedang sakit. Tidurpun tuan di ruang kerjanya.”
Srikanti diam. Hanya sedikit rasa sakit, soalnya masih banyak yang diharapkan dari suaminya. Jadi lebih baik dia mengalah. Kalau dia sudah bisa berjalan nanti dia harus meminta maaf, menunjukkan baktinya sebagai seorang istri kepada suaminya. Kalau tidak, habislah semuanya. Masih banyak yang dibutuhkan, sebelum dia benar-benar meminta cerai kemudian menikah dengan Priyadi. Luar biasa mimpi sang nyonya ini.
***
Ketika hari itu Srikanti sudah bisa berjalan walau tertatih, ia mendekati tuan Sanjoyo yang berada di dalam ruang kerjanya. Ia sedang menghadapi laptop dan tampak sangat sibuk.
“Mas …” tertatih ia mendekat.
Tuan Sanjoyo mengangkat wajahnya.
“Mengapa kamu jalan?”
“Aku berhari-hari tidak melihat Mas. Mas tidak pernah menjenguk aku. Apa Mas masih marah? Sesungguhnya Priyadi tidak bermaksud apa-apa, aku yang menyuruhnya masuk, karena_”
“Mengapa kamu bicara soal itu?”
“Mas marah karena itu kan?”
Tuan Sanjoyo terdiam. Karena itu? Ada yang lebih buruk dari itu. Tapi ia tak mengatakan apapun. Ia belum ingin situasi itu meledak sekarang. Nanti akan tiba saatnya, kalau sudah cukup bukti untuk melemparkan dari kehidupannya.
“Tidak, sudahlah, kembalilah ke kamarmu.”
“Mas berusaha menjauhi aku, mengapa tidak tidur di kamar seperti biasanya?”
“Kakimu terluka, takut menyentuh lalu menyakiti kamu, jadi aku memilih tidur di kamar ini. Lagipula pekerjaanku banyak, kalau lelah aku tinggal tidur di sini,” katanya sambil kembali menghadapi laptopnya.
“Mas, walaupun begitu, aku masih memikirkan para panti yang selalu Mas beri sumbangan.”
Tuan Sanjoyo mengangkat wajahnya, menatap tajam istrinya.
“Bukan apa-apa Mas, mereka itu membutuhkan bantuan kita. Sudah dua hari tertunda, nanti kita dikira lupa atau mengabaikan mereka,” kata Srikanti hati-hati. Ia agak khawatir melihat cara sang suami memandangnya. Sepertinya agak marah.
“Maaf Mas, ini demi nama baik Mas juga.”
“Kembalilah ke kamarmu. Masalah itu sudah aku pikirkan.”
“Terima kasih kalau begitu. Kalau sudah siap, Mas panggil saja Priyadi. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.”
Tuan Sanjoyo kembali menatap ke arah layar laptop, tangannya menyentuh-nyentuh keyboard di depannya.
Srikanti kehabisan kata-kata. Tapi ada sedikit rasa lega ketika sang suami tidak mengatakan bahwa dia menolak memberikan sumbangan itu.
Tertatih pula ketika kemudian dia keluar dari ruangan kerja suaminya. Sebelum kembali memasuki kamarnya, Srikanti mendengar Puspa dan Sekar tertawa-tawa senang, entah sedang bercanda tentang apa.
Tapi tuan Sanjoyo segera meninggalkan pekerjaannya, mendengar tawa dua orang anaknya di ruang tengah.
Ia bangkit lalu perlahan keluar dari kamar, menghampiri mereka.
“Lhoh, Bapak kok keluar? Kami kira sudah tidur.”
“Siapa yang tidur, masih ada yang bapak kerjakan.”
“Sekarang belum selesai?”
“Istirahat dulu sebelum benar-benar mengantuk. Mendengar kalian tertawa-tawa, bapak terusik untuk menghampiri kalian.”
Puspa berdiri mendekati sang ayah, lalu menuntunnya duduk di antara mereka.
“Kalau capek sebaiknya istirahat dulu.”
“Pengin ikut bercanda dulu bersama kalian.”
“Kami kira Bapak terganggu. Puspa tuh, tertawa keras sekali.”
“Mbak cerita yang lucu-lucu, jadi aku tertawa.”
“Memangnya Sekar cerita tentang apa?”
“Kata mbak Sekar, ada temannya yang sangat rajin shalat ke masjid. Begitu mendengar adzan, langsung dia mengambil peralatan shalat dan bergegas ke masjid. Pada suatu hari, ketika dia mendengar suara adzan saat dhuhur, ia seperti biasanya mengambil rukuh dan bergegas ke masjid. Tapi dia heran, sesampai di masjid tidak melihat seorang wanitapun di sana."
“Di mana ibu-ibu bershalat?” tanyanya dengan heran.
“Bu, ini kan hari Jum’at.”
Karena malu dia berbalik badan lalu lari terbirit-birit, diiringi tawa beberapa jamaah laki-laki.
Tuan Sanjoyo tersenyum.
“Ada lhoh, masjid yang memperbolehkan wanita ikut Jum’atan.”
“Iya, kebetulan di situ tidak biasa.”
“Kasihan.”
“Bapak mau dibuatkan kopi? Bik Supi masih terjaga lhoh. Dia melihat televisi di ruang keluarga.”
“Tidak, aku sudah dibuatkan tadi di kamar. Lagian kasihan bik Supi, saatnya dia istirahat.”
Lalu beberapa saatnya mereka masih berbincang, sampai kemudian tuan Sanjoyo merasa mengantuk. Tapi sangat dirasakan oleh tuan Sanjoyo bahwa saat hatinya rapuh, ia benar-benar memerlukan kedekatan dengan anak-anaknya.
***
Srikanti kembali berbaring. Ia menghibur dirinya sendiri, bahwa tentang sumbangan itu pasti karena dirinya masih sakit, sehingga tuan Sanjoyo enggan membicarakannya. Padahal Srikanti sudah sangat khawatir kalau sampai sumbangan tidak turun, maka dia tak memiliki uang sebanyak yang dia inginkan.
***
Di kantor pada siang hari itu tuan Sanjoyo memanggil Priyadi. Tuan Sanjoyo merasa, bahwa tidak seharusnya dia mendiamkan permintaan sang istri. Ia justru akan memancing kesungguhan Priyadi yang tentunya dipercaya oleh Srikanti. Bukankah Puspa sudah menyumbangkan dana untuk panti-panti itu? Ia akan menyuruh Priyadi untuk menjalankan anjuran istrinya tentang sumbangan ke panti. Seperti apa nanti kalau dia tahu bahwa Puspa sudah melakukannya.
Priyadi sudah duduk di depan tuan Sanjoyo.
“Kamu tahu, mengapa aku memanggil kamu?”
“Tidak tahu Tuan, apakah Tuan akan memarahi saya karena sebuah kesalahan?”
“Tidak. Ini adalah pesan dari nyonya majikan kamu.”
Priyadi berdebar, bayangan uang melintas di benaknya. Srikanti sudah mengatakan kalau sumbangan sebaiknya diberikan oleh Priyadi saja. Dan barangkali sekaranglah saatnya.
“Ya Tuan, pesan tentang apa?”
“Ini uang,” kata tuan Sanjoyo sambil mengeluarkan setumpuk uang dari dalam lacinya. Mata Priyadi langsung berbinar. Benar kan, pikirnya.
“Nyonyamu meminta agar kamu menyerahkannya ke panti-panti seperti biasa, katanya sudah terlambat, jadi kamu saja yang sudah tahu, sebaiknya mengantarkannya. Apa kamu mengerti?”
“Tentu saja saya mengerti, Tuan. Nyonya sudah sering meminta saya agar mengantarkannya ke panti-panti setiap bulan.”
“Bagus. Sudah tahu juga jumlahnya? Ini sudah aku pilah-pilah untuk setiap panti. Kamu tinggal menyerahkannya."
“Baik Tuan, saya mengerti. Saya akan berangkat sekarang juga,” kata Priyadi bersemangat.
“Tanyakan dulu pada manager kamu, apakah ada tugas untuk kamu atau tidak. Kalau tidak ada ya lakukan saja sekarang.”
“Baik Tuan, baiklah.”
Priyadi meraup uang itu, tapi bingung karena sakunya pasti tidak muat. Tuan Sanjoyo meraih sebuah keresek yang entah kapan sang tuan menyiapkannya.
“Masukkan di keresek ini.”
“Terima kasih Tuan, terima kasih.”
Priyadi keluar dari pintu dengan langkah segagah Raden Gatutkaca, sementara tuan Sanjoyo menatap punggungnya dengan senyum penuh makna.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteTrmksh mb Tien
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun bunda
Aduuh tuan Sanjoyo menyerahkan uang untuk panti".
Sami2 bapak Endang.
DeleteKan hanya jebakan?
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 36* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Wedeye
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteNuwun pak Munthoni
DeleteAssalamualaikum selamat malam bu Tien, maturnuwun HBB 36 sampun tsyang
ReplyDeleteSemoga ibu Tien dan pak Tom selalu sehat, selalu dalam lindungan Allah SWT . Selamat beristirahat ...salam hangat dan aduhai aduhai bun ππππ❤️❤️
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Sri
Aduhai aduhai
πͺ΄π΅πͺ΄π΅πͺ΄π΅πͺ΄π΅
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung HaBeBe_36
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
πͺ΄π΅πͺ΄π΅πͺ΄π΅πͺ΄π΅
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun jeng Sari
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 36" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteSegeng dalu
Lha iya ta, aneh.
ReplyDeleteDidungakba anake apik kok malah tersinggung. Dasar Srinthil sdh tidak bisa berfikir normal.... Otaknya sdh dipenuhi dengan serangkaian kebohongan...
Jadi orang baik dimatanya gak ada yang baik dan benar....
Ini cara Allah menguji umatnya....sadarkah dia??? Jika selama ini sdh banyak tumpukan dosa yang diperbuatnya???
Matur nuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 ibu
DeleteAlhamdulillah... terima kasih Bu Tien, semoga sehatvselalu.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Yati
Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~36 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Djodhi
Memberi uang kok senyum2 ,ada apa dibalik senyum, semoga pak Sanjoyo gak bisa ditipu lagi oleh mereka berdua,... Maturnuwun Bu Tien, tetap sehat ,bahagia dan semangat menulis cerbung,...ππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Tatik
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Endah
Aduhai hai haif
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 36 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Herry
Terima kasoh Bunda Tien, semoga selalu sehat bersama Pak Tom
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Yulian
Mks bunda......selamat malam....jaga kesehatan ya bun
ReplyDeleteSami2 ibu Sriyati.
DeleteTerima kasih perhatiannya
Sebuah jebakan dari Tuan Sanjoyo untuk Priyadi...
ReplyDeletePermisi mau melihat Mery karena semalam tak ketemu...
Terimakasih Mbak Tien...
Sami2 prof
DeleteHati2 di jalan
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 36 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Uchu
Matur nuwun Bu Tien....jd penasaran apa rencana Pak Sanjoyo....
ReplyDeleteSemoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Reni
Terima kasih Bunda Tien ..sudah hadir HBB ke 36 ...
ReplyDeleteSemoga sehat dan semangat bunda n Bapak Tom
Aamiin ibu Sriyati atas doanya.
DeleteApa kabar Surabaya
Hatur nuhun bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda dan bpk ππ₯°πΉ
ReplyDeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat ya, π€π₯°πΏπΉ
ReplyDeleteIn syaa Allaah Pak Tom Widayat semakin membaik n sehat wal'afiat serta dapat beraktivitas kembali, Aamiin Ya Rabbal 'aalamiin