Tuesday, January 13, 2026

HANYA BAYANG-BAYANG 35

 HANYA BAYANG BAYANG  35

(Tien Kumalasari)

 

Sekar ingin berteriak, tapi Puspa menekan tangannya, lalu menutupkan jari telunjuk ke mulutnya. Tuan Sanjoyo juga menatapnya saja, tanpa mengucapkan sesuatu. Mereka masuk bergandengan tangan, lalu duduk agak ke belakang, jauh dari tempat duduk tuan Sanjoyo dan anak-anaknya. Tapi mereka kemudian bicara pelan, supaya tidak menarik perhatian.

“Mereka tidak bekerja?” tanya Sekar kepada ayahnya.

“Ijin sehari, diperpanjang sampai hari ini. Mungkin mereka baru pulang dari kampung, baru besok mau masuk kerja,” terang tuan Sanjoyo.

“Itu anaknya?” tanya Sekar.

“Iya.”

“Begitu mesra, seperti suami istri, atau sepasang kekasih.”

Tuan Sanjoyo mengangkat bahu. Tampaknya dia enggan berbicara tentang Priyadi.

“Dia sopir khusus melayani Bapak kan?”

“Sekarang tidak lagi. Mulai dua hari yang lalu, sopirku bukan dia, tapi Parto. Dia baik, aku suka.”

“Lalu Priyadi dipindah ke mana?”

“Sopir yang khusus melayani ekspedisi. Tapi baru akan mulai besok kalau dia masuk.”

“Aku melihat hubungan ayah dan anak yang agak aneh. Semanja-manjanya anak kepada ayahnya, tidak akan sampai seperti itu, berangkulan, tertawa-tawa,” kata Sekar.

“Kabarnya mereka belum lama bertemu. Tadinya ikut ibunya, tapi kemudian ikut ayahnya karena ibunya meninggal,” terang Puspa.

Mereka melanjutkan makan dan minum dalam diam, dengan pikiran mereka masing-masing yang entah apa.

“Nanti kalau Puspa lulus, aku akan mengadakan syukuran kecil-kecilan,” kata tuan Sanjoyo mengalihkan pembicaraan tentang Priyadi.

“Asyiiik, diadakan di rumah pak?” kata Puspa senang.

“Iya, di rumah saja, hanya kalangan kantor dan kamu juga boleh mengundang teman-teman kamu.”

“Benarkah?” tanya Puspa gembira. Disaat itu nanti Puspa akan membuka rahasia pertemanannya dengan Nugi, yang ternyata adalah anak bik Supi.

Tuan Sanjoyo mengangguk.

“Kamu senang?”

“Tentu saja Puspa senang. Rupanya Bapak juga sedang ingin mengadakan perayaan, biar rame ya Pak.”

“Kecil-kecilan saja, yang penting kita bersykur. Kalau perlu undang juga panti-panti yang kemarin kamu kirim sumbangan.”

“Iya, nanti Puspa yang akan mengirimkan undangannya.”

Sekar dan Puspa saling pandang. Apakah saat itu nanti hubungan antara keluarga Sanjoyo dan panti-panti itu akan terbuka? Banyak rahasia, tapi banyak yang saling menutupi rahasia yang diketahui dari masing-masing yang hadir, dan semuanya belum ingin membukanya sekarang.

Mereka lebih menikmati hidangan makan siang yang mereka pesan tanpa bicara tentang masalah-masalah yang memberatkan kepala.

“Mulai kapan kamu mau tidur di rumah?”

“Nanti, sepulang kerja,” jawab Sekar yang ingin menyenangkan hati sang ayah.

“Kalau begitu aku nanti juga pulang ke rumah, bareng mbak Sekar.”

“Senang mendengarnya.”

“Semoga Bapak tidak akan kesepian lagi.”

“Dengan adanya kalian, bapak pasti tidak akan kesepian.”

Puspa menatap wajah sang ayah dengan perasaan iba. Seorang laki-laki yang begitu baik, dibohongi, dikhianati dengan semena-mena. Ya Tuhan, tega sekali orang yang melakukannya. Terbayang wajah ibunya yang masih cantik di usia setengah tua, yang kelihatan sangat menghormati dan mencintai suaminya, tapi apa yang dilakukannya dibalik itu? Mengkhianati keutuhan rumah tangganya, menerjang  dosa demi nikmat dan kesenangan duniawi. Dan perempuan itu adalah ibu kandungnya. Tanpa terasa air mata Puspa menggenang di pelupuknya.

“Puspa, kamu menangis?” tiba-tiba  kata sang ayah, yang ternyata memperhatikannya. Sapaan itu membuat Puspa terkejut.

“Ya ampun … ini Pak … sambal gorengnya pedas sekali, sampai nangis aku dibuatnya,” jawab Puspa sekenanya.

“Masa sih, menurutku biasa saja tuh,” kata Sekar yang tak tahu bahwa Puspa hanya menjawab sekenanya.

“Kok bisa, aku kepedasan nih,” katanya sambil mengusap air matanya.

“Biasanya kamu kan suka pedas sih Puspa? Sering kali kamu minta bibik menambah cabe pada sambal yang dibuat bibik.”

“Iya nih, nggak tahu kenapa kok bisa kepedasan,” jawabnya sambil meneguk minumannya.

“Kalau nggak tahan pedasnya ya jangan dihabiskan, nanti perut kamu sakit.”

“Sudah terlanjur habis Pak,” kata Puspa sambil tertawa.

“Kalau sudah selesai ayo kita pulang, panggil pelayan, minta bilnya.”

“Biar saya yang bayar,” kata Sekar.

“Oh ya, kamu sudah kaya sekarang, bapak ditraktir terus.”

“Iya dong, ini semua kan karena ajaran Bapak.”

Tuan Sanjoyo berdiri lebih dulu, lalu mereka keluar setelah membayar makan minum mereka.

Tapi tanpa diduga, Nilam melihat mereka saat sudah keluar dari ruangan.

“Mas, itu kan tuan Sanjoyo dengan anak-anaknya?”

Priyadi terkejut, ia menatap ke arah tuan majikan dan anak-anaknya.

“Di mana mereka duduk? Aku tidak melihat mereka tadi.”

“Aku juga tidak tahu. Tahu-tahu ketika mereka sudah berjalan keluar.”

“Besok kita harus membuat laporan yang sama.”

“Mengapa repot, bukankah Mas sudah minta ijin bahwa baru akan masuk besok pagi? Jadi walau kita berkeliaran hari ini, tidak masalah kan?”

“Iya juga sih.”

Akhirnya mereka merasa tenang, dan melanjutkan kemesraan mereka sambil makan minum sepuasnya.

***

Puspalah yang mengantarkan sang ayah kembali ke kantor, sementara Sekar sudah mendahuluinya tadi.

“Bapak nanti pulang jam berapa?” tanya Puspa sebelum meninggalkan sang ayah.

“Biasa, agak sorean, tidak usah memikirkan bapak, sudah ada yang mengantarkan bapak nanti.”

“Iya. Syukurlah. Kalau begitu Puspa langsung ke rumah mbak Sekar ya,” kata Puspa sambil mencium tangan sang ayah.

“Nanti kerumah bersama mbakmu kan?”

“Iya, Bapak jangan khawatir.”

***

Srikanti marah-marah karena berteriak memanggil bik Supi tidak segera datang. Ia masih berbaring di kamar karena kakinya terasa tidak nyaman kalau digantung.

Hampir setengah jam kemudian panggilan yang kesekian kalinya baru mendapat respon. Bik Supi tergopoh masuk ke kamar sang nyonya majikan.

“Ya Nyonya.”

“Apa kamu tuli? Berkali-kali aku berteriak memanggil kamu, tapi kamu tidak segera datang.”

“Maaf Nyonya, saya sedang membersihkan kamar non Puspa,”

“Apa setiap hari kamu tidak membersihkannya, biarpun tidak tidur di kamarnya?”

“Tadi tuan telpon, menyuruh saya menyiapkan kamarnya, karena non Sekar juga akan tidur di sini nanti.”

“Sekar? Maksudmu Sekar, atau Puspa?”

"Non Sekar dan non Puspa, Nyonya.”

“Mengapa Sekar mau tidur di sini, apa rumahnya dijual? Di mana suaminya?”

“Seingat saya suami non Sekar bekerja di luar kota, bukan?”

“Tapi Sekar kan punya rumah sendiri?”

“Mungkin karena Nyonya sakit, jadi non Sekar dan non Puspa memerlukan tidur di sini, supaya Nyonya merasa nyaman dan senang.”

“Kata siapa?”

“Bukankah senang ketika sakit anak-anak pada nungguin?”

Srikanti diam, walaupun tidak yakin alasan yang membuat Sekar juga mau tidur di rumah ini adalah karena ingin menungguinya. Srikanti sedang tidak suka apapun dan siapapun, dia hanya ingin Priyadi, tapi bingung bagaimana caranya bisa ketemu.

“Nyonya memanggil saya, mau menyuruh apa? Makan sekarang?”

“Tidak, ambilkan minum, juga ponselku di ruang tengah, aku lupa membawanya.”

“Baik.”

Bibik keluar dari kamar, dan kembali masuk ketika sudah membawakan ponsel dan minum untuk Srikanti.

“Ya sudah, kamu boleh pergi.”

Bik Supi keluar dan melanjutkan pekerjaannya.

Srikanti meraba ponselnya dan dengan kesal menelpon Priyadi lagi. Tapi Priyadi tidak mengangkatnya.

“Keterlaluan Priyadi. Sibuk dengan saudara-saudaranya, jadi melupakan aku,” kesalnya.

***

Padahal Priyadi sedang bersenang senang bersama Nilam di rumahnya. Rumah yang disiapkan Srikanti demi hubungan gelapnya.

“Mas, apakah kita akan terus begini? Berbagi dengan nyonya besarmu itu setiap saat? Lihat, dalam sehari ini sudah berapa kali dia menelpon kamu. Pasti dia sudah sangat merindukan kamu.”

“Kamu harus sabar Nilam, saat ini kita masih sangat membutuhkan Srikanti, karena uangnya. Kalau uang yang kita kumpulkan sudah cukup, kita tinggalkan dia. Kamu bekerja karena ada dia juga, nanti kalau aku sudah meninggalkan dia, pasti kamu juga harus keluar dari pekerjaan kamu. Ya kan?”

“Iya Mas, apalagi kalau aku sudah punya anak nanti, tidak mungkin aku masih berada di lingkungan keluarga Sanjoyo.”

“Yang penting kandunganmu sehat.”

“Dan untungnya aku tidak merasa ngidam seperti perempuan-perempuan lain yang suka mual dan muntah. Aku justru sangat doyan makan.”

“Berarti kandungan kamu sehat. Hanya saja kamu harus pintar menyembunyikan kehamilan kamu diantara orang-orang kantor. Sekarang belum kelihatan, tapi lama-lama kalau sudah besar pasti harus pintar-pintar menyembunyikan perutmu nanti.”

“Iya, aku tahu.”

“Kita masih harus prihatin, sampai kita mendapatkan uang yang cukup untuk bekal hidup kita.”

“Iya, aku mengerti Mas. Sekarang aku pengin istirahat, besok harus mulai bekerja lagi.”

“Hati-hati juga kalau bekerja, jangan mengangkat barang-barang berat. Kandunganmu masih kecil, kata dokter harus hati-hati.”

Ternyata Nilam hamil, dan karena hamil itulah maka mereka harus menikah. Memang benar mereka pulang kampung, tapi bukan untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya, tapi untuk menikah di kampungnya. Srikanti yang mengkhianati rumah tangganya, ternyata juga dikhianati oleh selingkuhannya. Mana dia tahu?

Ketika kemudian ponsel Priyadi berbunyi lagi, barulah Priyadi mengangkatnya. Kasihan juga Srikanti yang sedang tak bisa jalan, diacuhkannya sejak kemarin.

***

Besok lagi ya,

 

22 comments:


  1. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 35* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  2. 🪻☘️🪻☘️🪻☘️🪻☘️
    Alhamdulillah 🙏🦋
    Cerbung HaBeBe_35
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🤲.Salam seroja 😍
    🪻☘️🪻☘️🪻☘️🪻☘️

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  4. Matur suwun bu Tien semoga ibu selalu dalam keadaan srhat...Aamiin

    ReplyDelete
  5. Alhamdulilah Cerbung HBB 35 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah HaBeBe_35 sudah hadir.
    Matur nuwun Dhe.
    Isih sempat nyerat lho ya, kamangka lagi riweuh.....
    Semoga lancar sekabehane.
    Lan cepat recoveryne. Aamiin Yaa Robbal'alamiin 🤲

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah
    Matur nuwun bunda
    Benar juga Priyadi ma Nilam nikah
    Srikanti... Srikanti....

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 35 " 👍🌹
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 35 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 35" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~35 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien 🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🤲

    ReplyDelete
  13. Mks bun HBB 35 sdh tayang.....selamat malam bun smg sehat selalu

    ReplyDelete
  14. Malam Bunda.. HBB makin seru aja..

    Terima kasih Bunda ..salam sehat

    ReplyDelete
  15. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk...

    ReplyDelete
  16. Manusia ditipu jin, kemudian jin ditipu iblis.
    Permisi mau melihat Mery...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  17. Bunda Tien sehal selalu ya ... HBBnya selalu ditunggu

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...