HANYA BAYANG BAYANG 34
(Tien Kumalasari)
Srikanti menutup ponselnya dengan sepenuh kesal yang dia miliki. Sebenarnya dia bukan kesakitan sehingga minta Priyadi agar mengantarkannya ke rumah sakit. Dia hanya ingin ketemu Priyadi. Dua hari tidak ketemu rasanya sudah dua tahun lamanya.
“Mengapa Nyonya turun, nanti kakinya kenapa-kenapa lagi, bagaimana?”
“Menurutmu enak, tiduran terus di dalam kamar?” sentaknya, membuat bik Supi terkejut. Dia kan bermaksud baik. Bukannya mendapat pujian malah mendapat dampratan. Karenanya ia segera mengundurkan diri dan kembali ke dapur.
“Ternyata Priyadi benar-benar belum masuk kerja, tapi kenapa telponku tidak diterima?” gumamnya sambil bersandar di sofa.
Srikanti tidak pernah segelisah ini. Bukan hanya karena sakit yang dideritanya, tapi banyak yang harus dipikirkannya. Tentang Priyadi yang tidak bisa dihubungi, tentang uangnya yang semakin menipis, tentang uang sumbangan yang belum juga diberikan oleh suaminya. Diraihnya lagi ponselnya dan dia terus menerus menelpon Priyadi. Barangkali sudah puluhan kali ia terus menerus menelponnya, yang akhirnya diangkat juga oleh Priyadi.
“Ya Sri, ini aku masih sibuk di kampung, sehingga ijinku mundur sehari lagi.”
“Ya ampun, mengapa ponsel kamu matiin? Nilam juga tidak bisa dihubungi.”
“Iya, maaf, soalnya lagi kumpul sama saudara-saudara, dan ternyata berlanjut sampai hari ini. Mudah-mudahan sore nanti aku sudah ada di rumah lagi, bersama Nilam.”
“Acara apa sih?”
“Hanya acara kumpul-kumpul keluarga. Maklum, kalau di kampung itu, acara sederhana nggak bisa. Tetap saja berlanjut sampai dua atau tiga hari baru pada bubaran.”
“Ada yang nikah, saudara kamu?”
“Tidak, tidak ada. Hanya pertemuan biasa, maklum sudah bertahun-tahun tidak ketemu, jadi ya berat kalau hanya ketemu sehari. Mereka pasti tidak pada mau.”
“Tapi hari ini kamu bisa pulang kan?”
“Iya, aku usahakan pulang. Sore nanti pasti sudah ada di rumah. Kamu bisa menunggu aku di rumah, nanti.”
“Kamu lupa ya? Kan aku belum bisa jalan?”
“O iya, aku lupa. Padahal untuk selanjutnya nanti susah bagi kita untuk bertemu.”
“Aku sudah tahu, kamu dipindahkan menjadi sopir di bagian ekspedisi bukan? Yang mengantar dan menjemput tuan diganti Parto.”
“Iya, aku sudah menelpon tuan dan tuan juga mengatakan itu.”
“Kamu sepertinya tenang-tenang saja begitu, bagaimana kita bertemu? Kalau masih seperti dulu kan kamu bisa setiap kali datang lalu kita pergi berdua?”
“Sabar, nanti pasti ada jalan.”
”Kakiku sakit, wajahku lebam dan baru berkurang sedikit, aku tidak bisa tidur. Seandainya kamu ada, pasti rasa sakit ini akan berkurang.”
”Sabar, kan tinggal nanti kita bisa ketemu.”
“Mana mungkin Pri, aku belum bisa berjalan.”
“Kalau begitu aku akan mencari jalan agar bisa ketemu kamu.”
“Benar ya?”
“Tentu saja benar, aku tidak pernah bohong sama kamu kan?”
“Kecuali itu aku juga memikirkan masalah uang. Uangku sudah menipis.”
“Kamu kan punya gaji bulanan?”
“Kalau gaji bulanan itu kan arahnya lain. Untuk belanja kebutuhan rumah, membayar pembantu, dan lain-lain. Kita kan juga butuh untuk kita berdua. Perabotan di rumah masih ada yang kurang, aku ingin melengkapinya supaya benar-benar seperti orang berumah tangga. Tapi aku kesulitan minta uang sumbangan untuk panti. Dengan alasan kakiku sakit, tuan Sanjoyo seperti tidak mengijinkan kalau kamu yang memberikan sumbangan itu. Aku khawatir kalau nanti Puspa yang disuruh, jadi ketahuan semuanya.”
“Kamu bicara saja terus terang kepada Puspa tentang siapa sebenarnya dia, jadi kalau dia sudah tahu, pasti akan membantu kita.”
“Hal itu tidak mudah Pri, bisa-bisa malah dia membenci aku.”
“Masa seorang anak akan benci pada ibunya.”
“Sikapnya sama aku itu ... sudah agak lama, sangat dingin. Lain dari biasanya. Dia tidak ramah dan tidak pernah mengajak aku bicara. Sekarang dia malah tinggal bersama Sekar, dengan alasan di sana lebih tenang dalam mengerjakan tugas.”
“Ya sudah, nanti kalau ketemu kita bicara lagi, aku sedang ditunggu saudara-saudara sebelum pulang kemari.”
Ketika meletakkan ponselnya, Srikanti berpikir bahwa pertemuannya dengan Priyadi akan lebih sulit. Terlintas dalam pikirannya untuk meminta cerai dari suaminya dan menikah dengan Priyadi agar dia selalu dekat dengan orang yang dicintainya. Tapi mengingat dia masih butuh uang, rasanya tidak mungkin bercerai saat ini.
Ketika itu tiba-tiba mobil suaminya masuk. Pasti suaminya menyuruh Parto yang mengantarkan dia ke rumah sakit.
“Nyonya, itu mas Parto datang. Nyonya mau ke mana?”
“Tidak jadi. Suruh dia kembali ke kantor saja.”
“Sebetulnya Nyonya mau ke mana?”
“Nggak mau ke mana-mana.”
Ketika bik Supi beranjak ke belakang, Parto sudah masuk ke dalam, menghampiri sang nyonya majikan.
“Nyonya, Tuan Sanjoyo meminta agar saya menjemput Nyonya.”
“Tidak jadi,” katanya ketus.
“Tuan bilang, Nyonya mau ke rumah sakit?”
“Tidak jadi ya tidak jadi. Sekarang sudah tidak sakit lagi, aku sudah sembuh.”
“Jadi bagaimana Nyonya.”
“Kembali saja ke kantor, namanya tidak jadi ya tidak jadi. Nanti bilang pada tuan kalau aku sudah sembuh. Tidak jadi ke rumah sakit.”
“Baiklah Nyonya, saya permisi.”
Parto kembali ke mobilnya sambil bergumam.
“Orang sedang sakit, wajahnya jadi tembem begitu, masih bicara tidak enak didengar telinga. Beda sekali dengan tuan Sanjoyo yang baik kepada siapapun juga. Walau kepada pegawai kecil seperti aku, sikapnya juga selalu baik.”
***
Parto kembali ke kantor dan melapor kepada tuan majikan bahwa sang nyonya tidak jadi ke rumah sakit.
Tuan Sanjoyo mencibir dalam hati. Bukankah yang dimaksud adalah memang pertemuannya dengan Priyadi?
"Nyonya bilang kalau sudah tidak sakit lagi, jadi tidak perlu ke rumah sakit, lalu saya disuruh kembali ke kantor.”
“Baiklah Parto, terima kasih. Sekarang kamu boleh beristirahat sebentar, mungkin akan ada tugas lain untuk kamu.”
“Saya permisi Tuan.”
Parto mengundurkan diri, tanpa tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh sang majikan.
Tuan Sanjoyo bersyukur, ketika tiba-tiba Sekar menjemputnya untuk makan siang. Saat ini tuan Sanjoyo sedang ingin dekat dengan anak-anaknya, walau belum ingin mengatakan apa sebenarnya yang terjadi. Tuan Sanjoyo sama sekali tidak menduga, bahwa sudah banyak yang diketahui anak-anaknya, tapi belum berani juga mengatakan yang sebenarnya.
“Senang sekali kamu menjemput bapak. Bapak sedang ingin makan bersama kamu. Kalau saja Puspa ada, pasti lebih ramai,” kata tuan Sanjoyo ketika dalam perjalanan ke rumah makan langganan mereka.
“Kalau saya menelpon Puspa, barangkali Puspa akan datang menyusul.”
“Benarkah? Dia tidak akan terganggu?”
“Biar dia sibuk, tapi kan juga butuh istirahat dan makan.”
“Kalau begitu bapak saja yang menelpon, kamu kan sedang nyetir,” kata tuan Sanjoyo yang kemudian menelpon Puspa.
“Dia akan menyusul, tampaknya senang sekali,” kata tuan Sanjoyo setelahnya.
“Pasti dia juga kelaparan,” kata Sekar sambil tertawa.
***
Puspa datang tak lama setelah ayah dan kakaknya duduk di sebuah bangku di ruangan itu, agak di sudut.
“Ternyata kamu lapar juga,” ledek sang kakak.
Puspa tertawa, sambil mencium tangan ayahnya.
“Aku tidak berhenti dari pagi, besok aku sudah bisa menyelesaikannya.”
“Syukurlah, bapak senang mendengarnya.”
Sekar menuliskan pesanan mereka bertiga.
“Aku pengin minum es beras kencur, makannya terserah mbak Sekar,” kata Puspa.
“Aku juga mau es beras kencur, tapi esnya sedikit saja.”
“Bapak kelihatan agak pucat, kelihatan lelah,” kata Puspa.
“Masa sih? Padahal bapak tidak merasakan apa-apa. Bapak senang perusahaan semakin maju. Dan jangan lupa, kamu sudah janji akan menemani bapak di kantor, ya kan?” kata pak Sanjoyo sambil tersenyum.
“InsyaaAllah, doakan Puspa segera bisa selesai.”
“Selalu bapak doakan untuk semua anak-anak bapak.”
“Terima kasih Pak,” kata Sekar yang sudah selesai memesankan makan dan minum untuk mereka.
“Pak, besok kalau Puspa sudah siap membantu Bapak, bolehkah Puspa minta agar bapak mau menerima teman Puspa?”
“Menerima sebagai apa? Menantu?” goda ayahnya.
“Bapak tuh. Kan tunggu kalau dia sudah melamar? Ini beneran lho Pak, dia itu pintar, dan baik. Mau kan Bapak menolongnya? Dia juga anak orang tak punya.”
“Nanti kalau bapak sudah ketemu dia, akan bapak pikirkan.”
Puspa tersenyum, dan Sekar melirik adiknya penuh arti. Pasti dia yang dimaksudkan Puspa. Puspa kan sudah pernah curhat tentang laki-laki yang disukainya. Tapi Sekar tak mengatakan apa-apa.
Mereka mulai menyantap pesanan mereka, ketika pelayan sudah menyajikannya.
“Puspa, maukah setelah kamu menyelesaikan tugas kamu, lalu segera pulang?”
“Ya, tentu saja Pak, nanti Puspa akan segera pulang.”
“Bapak tiba-tiba ingin dekat dengan anak-anak bapak. Bapak sering merasa kesepian.”
Puspa dan Sekar saling pandang.
“Bukankah ada ibu di rumah?” kata Sekar.
“Entah mengapa, bapak ingin ada anak bapak di dekat bapak. Satu-satunya yang ada hanyalah Puspa, karena yang lain sudah berkeluarga.”
Kembali Sekar dan Puspa saling pandang, ada sesuatu yang mereka rasakan, ketika bapaknya mengatakan bahwa sang bapak kesepian. Apakah ayah mereka sudah merasakan sesuatu yang berbeda dari istri yang tadinya dianggap sangat mencintainya? Rasa iba menyeruak. Wajah pucat yang mereka lihat, bukan sekedar lelah bekerja. Pasti ada yang lain. Tapi mereka tak berani mengatakannya.
“Setelah pulang kerja, Sekar juga mau tidur di rumah Bapak.”
Wajah tuan Sanjoyo tiba-tiba kelihatan berseri. Senyumnya merekah ketika menanggapi perkataan sang anak.
“Benarkah Sekar?”
“Tentu saja benar. Bukankah Bapak ingin agar dekat dengan kami? Tapi hari Sabtu sama Minggu Sekar harus pulang.”
"Iya, bapak tahu hari Sabtu suami kamu pulang kan?"
"Bapak tidak usah khawatir. Rumah tidak akan sepi kalau ada kami," kata Puspa yang juga merasa senang sang kakak mau ikut pulang menemani sang ayah.
“Ya, apakah karena usia bapak yang semakin tua maka tiba-tiba bapak merasa kesepian saat di rumah?”
“Nanti bapak tidak akan kesepian. Kami akan selalu bersama Bapak,” sambung Puspa.
Ketika makan itu, tiba-tiba mereka melihat sepasang laki-laki dan perempuan memasuki rumah makan.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun Yangtie
DeleteAlhamdulillah.... HaBeBe_34 sdh tayang.....
ReplyDeleteYukkk kita baca apa yang terjadi????
Matur nuwun Budhe....
DeleteHayo sapa kuwi sepasang pria dan wanita yang masuk kerumah makan dengan mesranya?
Semoga dugaanku benar.
Siapa lg kl ga priyadi sm nilam pak Kakek 😁😁
DeleteNuwun mas Kakek
DeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 34 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Sri
Aduhai aduhai
Alhandulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Sehat sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun bapak Endang
🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung HaBeBe_34
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun jeng Sari
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 34" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu🙏
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteMatur nuwun sanget. Sugeng enjing
Alhamdulillah...yang ditunggu2 sudah muncul. Seru nih kisahnya. Itu yang datang mungkin Priyadi dan Nilam...ketahuan kslau bukan bapak dsn anak...
ReplyDeleteHehee... iya kah?
DeleteNuwun jeng Iyeng
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Sami2 jeng Susi
DeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~34 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Djodhi
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Endah
Aduhai hai hai
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 34 " 👍🌹
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Herry
Mks bun HBB 34nya,....selamat malam...smg bunda seklrg sll sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Supriyati
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 34 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Uchu
Matur nuwun Bu Tien, tambah aduhai ceritanya. Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Reni
Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien, 🙏🙏HBB tayang dng manis, dan liku2 cerita yg menarik, semoga ibu sehat walafiat,semngat,dan bahagia bersama Kel tercinta .
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Tatik
Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah mtrnwn Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Ida
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 34* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Wedeye
Alhamdulillah.... terima kàsih Bu Tien, semoga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Yati
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah, nwn bu Tien
ReplyDeleteSami2 pak Bam's
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 34 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Yadi dan Nilam..ketangkap basah makan di resto. Tuan Sanjoyo mungkin tahu..dari penampilan mereka, menandakan seperti pasangan suami isteri yang baru Nikah.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Munthoni
Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
ReplyDeleteAlhamdulillaah, bisa membaca cerbung lg
Sehat wal'afiat semua ya Bu Tien, 🤗🥰🌿🌹
Syafaahullaah, teruntuk pak Tom Widayat, segera sembuh dan kembali beraktivitas, Aamiin Ya Rabbal 'aalamiin 🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Ika
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Anik
DeleteMatur nuwun Bunda Tien.. semoga selalu sehat, barokalloh
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Yulian
Priyadi sama Nilam masuk rumah makan...
ReplyDeletePermisi lihat Merry dulu...
Terimkasih Mbak Tien...
Hati2 dijalan ya prof.. hihii
DeleteKok tumben ini Priyadi dan Nilam tidak nongol2,akan segera ketemu pak Senjoyo dng Sekar dan Puspa.Salam seroja mbak Tien.
ReplyDeleteHalllo Puspa,dah ditunggu pembaca setia...salam sehat Bu Tien..
ReplyDeleteIya nih...penasaran banget....
ReplyDelete