HANYA BAYANG BAYANG 33
(Tien Kumalasari)
Tuan Sanjoyo meletakkan ponsel itu kembali, lalu meraih gelas kopinya, meneguknya perlahan. Ada ribuan pertanyaan barangkali yang melingkar-lingkar di benaknya. Apa arti semua ini?
Bukankah aneh, ketika di layar depan ponsel terpampang wajah orang lain yang menurut semua orang adalah sopirnya, dan juga anak sopir itu, bukannya fotonya sendiri, foto suami istri, atau keluarganya?
Tuan Sanjoyo meneguk kopinya lagi, ketika bik Supi siap untuk pergi.
“Benarkah Tuan tidak akan ke rumah sakit?”
“Aku sudah mengatakannya, apakah kamu lupa?”
“Maaf Tuan, hanya untuk meyakinkan saja.”
“Pergi dan urus pembayarannya. Kalau kurang hubungi aku.”
“Baik Tuan, kalau sisa akan saya kembalikan kepada Tuan.”
“Pergilah.”
Tapi baru beberapa langkah ke depan, bik Supi kembali lagi.
“Ada apa?”
“Maaf Tuan, saya lupa membawa ponsel nyonya lagi.”
“Ambillah,” kata tuan Sanjoyo yang segan memegang ponsel itu lagi.
Bik Supi mengambilnya, kemudian berpamit pergi.
Tuan Sanjoyo menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia belum berganti baju rumahan sejak pulang dari kantor. Dipejamkannya matanya, berusaha mengendapkan perasaan yang entah bagaimana rasanya.
Ia hampir yakin bahwa diantara Srikanti dan Priyadi pasti ada apa-apanya. Ada hubungan yang tidak semestinya. Tentu saja. Banyak kesempatan bagi keduanya untuk selalu berdua, lalu terjalin sebuah ikatan yang tidak semestinya. Kemudian masalah sumbangan itu, tuan Sanjoyo mengira bahwa uangnya telah diambil sebagian untuk bersenang-senang. Kalau saja Puspa sampai hati mengatakan hal yang sebenarnya, pasti sang ayah akan lebih terkejut lagi. Tak pernah ada dana untuk panti-panti yang disebutkan Srikanti. Bertahun-tahun setiap bulan Srikanti meminta uangnya, dan harus dirinya sendiri yang mengurusnya. Uang itu untuk Srikanti dan kekasihnya.
Tuan Sanjoyo memang tidak begitu sehat dalam menjalani usia tuanya, tapi ia masih punya semangat untuk menjalankan usahanya, dan dia selalu berhasil. Dia kuat, dan begitu kuatnya pula ketika menyadari ada penyelewengan pada rumah tangganya.
Tuan Sanjoyo menghabiskan kopinya, kemudian bangkit lalu masuk ke kamarnya. Kamarnya sendiri, di dekat ruang kerjanya, bukan kamar tidurnya bersama Srikanti. Ia mandi dan berganti baju rumahan, lalu membaringkan tubuhnya. Ada perasaan tak enak, tapi tuan Sanjoyo tak mau terjatuh dan terpuruk. Ia bukan laki-laki lemah, dan tak lama kemudian ia terlelap.
***
Srikanti menerima kembali ponselnya, dan dia diijinkan pulang setelah urusan administrasi diselesaikan. Ada kesal ketika suaminya tak tampak memperhatikannya. Tapi Srikanti tak peduli. Ia tidak benar-benar mencintai suaminya, kecuali ingin mendapatkan hartanya.
Sambil menunggu taksi yang dipanggilnya, Srikanti menelpon Priyadi. Apakah acaranya begitu heboh sehingga Priyadi sama sekali tak pernah mengabarinya seharian itu.
Tapi ponsel Priyadi mati. Ia memencet nomor kontak Nilam, sama saja, ponselnya mati. Srikanti mengira mereka sedang sibuk di kampungnya.
“Sebenarnya ada acara apa sih. Tadi aku juga mengirim WA tapi tidak dijawab." Lalu Srikanti heran, tadi ia mengirim WA kepada Priyadi, tapi kok tidak ada jejaknya? Apa terhapus?
Srikanti belum bisa memikirkan yang lain kecuali pesan itu pasti terhapus, atau dia lupa mengirimkannya setelah menulis pesan, ketika bik Supi mengatakan kalau taksi yang dipesannya sudah datang.
“Taksinya sudah menunggu, Nyonya.”
Dan masih tertatih dengan tongkat penyangga yang diberikan rumah sakit, ditambah bik Supi yang tetap menuntunnya, akhirnya Srikanti masuk ke dalam taksi.
***
Begitu memasuki kamar, ia tak melihat suaminya. Srikanti masih merasa tak nyaman dikakinya, ditambah wajahnya yang matang biru, sehingga ia langsung berbaring di ranjang.
“Akan saya buatkan minum, Nyonya.”
“Mana tuan? Kamu bilang tuan sudah pulang.”
“Saya tidak tahu Nyonya, mungkin tidur di ruang kerjanya.”
“Dia tidak mendengar kalau aku datang ya?”
“Mungkin tidak Nyonya, tadi bilang sangat lelah. Tapi kalau disuruh membangunkan, saya tidak berani.”
“Ya sudah, biarkan saja. Aku juga ingin istirahat.”
“Saya bawakan minum, juga makan malam ke dalam kamar, Nyonya.”
‘Ya, sedikit saja. Sebenarnya aku tidak lapar, tapi aku kan harus minum obat sesudah makan.”
“Baiklah, akan saya ambilkan.”
“Kalau nanti Tuan keluar untuk makan, katakan kalau aku sudah pulang. Aku belum berani berjalan, takut kalau terjadi seperti tadi.”
“Baik, Nyonya.”
Tapi sampai malam hari ternyata tuan Sanjoyo tidak keluar dari kamar. Karena itu bik Supi juga belum bisa mengatakan pesan sang nyonya majikan.
***
Pagi hari itu, karena penasaran atas sikap suaminya yang diam, Srikanti mencoba untuk turun dari tempat tidur, dan berjalan dengan dipapah bik Supi. Ketika itu tuan Sanjoyo sedang minum kopi kesukaannya di ruang tengah. Ia sudah rapi dan tampak bersiap pergi ke kantor.
“Mas kok tidak pedulikan aku? Aku pulang sejak kemarin malam, dan Mas tidak menjengukku sama sekali.”
“Aku lelah, tidur sampai pagi,” kata tuan Sanjoyo pelan. Ia sangat marah, tapi kemarahannya tidak meledak-ledak. Ia bersikap tenang, seakan tidak mengetahui kebusukan apa yang disembunyikan sang istri.
“Aku terjatuh, wajahku beradu dengan lantai. Lihat Mas, buruk sekali bukan? Matang biru seperti ini.”
“Kan sudah ditangani dokter?”
“Benar, tapi aku sedih Mas tidak datang menjengukku.”
Tuan Sanjoyo meraih gelas kopinya, meneguknya pelan.
“Aku tidak ingin mengganggu tidurmu. Kamu sakit, dan perlu istirahat. Jadi istirahatlah,” katanya sambil berdiri.
“Mas … berapa hari Priyadi minta ijin?”
“Aku lupa, coba kamu tanya sendiri saja pada dia.”
Tuan Sanjoyo meraih tongkat penyangganya, lalu berjalan ke arah depan. Sopir kantor sudah menunggu. Sang sopir yang bernama Parto mendekat dan membantu majikannya memasuki mobil. Tak lama kemudian mobil itu berlalu.
Srikanti menatapnya dari ruang tengah, sampai mobil suaminya menghilang dibalik gerbang.
“Ternyata tuan Sanjoyo masih marah. Pasti gara-gara melihat Priyadi di kamar waktu itu. Bodohnya aku, mengapa menyuruhnya masuk, padahal tuan Sanjoyo ada di kamar mandi? Aku harus minta maaf dan memberi alasan yang bisa membuat kemarahannya reda. Gara-gara marah aku jadi tidak berani menanyakan soal sumbangan untuk panti-panti. Nanti kalau Priyadi minta uang, uangku sudah menipis,” gumamnya sendiri.
Srikanti duduk di sofa ruang tengah. Ia menyuruh bik Supi mengambil ponselnya, lalu ia menelpon Priyadi lagi. Tapi lagi-lagi tidak diangkat.
“Seingatku … kemarin itu Priyadi hanya ijin sehari. Tapi kok sekarang belum kelihatan masuk ya? Dan kenapa juga setiap aku telpon tidak pernah diangkat. Dua-duanya begitu. Acara apa sebenarnya?”
“Nyonya mau makan sekarang?”
“Aku mau mandi, tapi kakiku ini bagaimana? Kan tidak boleh diguyur air.”
“Begini saja, Nyonya mandinya duduk di kursi, dan kaki Nyonya yang habis dioperasi itu diangkat, diletakkan di kursi yang lain. Barulah Nyonya mandi. Nanti biar saya bantu.”
“Terserah kamu saja. Aku sedang tidak bisa apa-apa.”
Bik Supi walaupun tidak suka pada kelakuan nyonya majikannya, tapi ia adalah seorang pembantu yang wajib melayani, dan dia harus melakukan semuanya dengan sebaik-baiknya supaya tidak mengecewakan majikan. Sukur-sukur mendapat insentip karena pelayanannya bagus. Batin si bibik sambil berjalan ke arah kamar mandi, lalu tersenyum-senyum sendiri.
“Bik, tunggu dulu. Tadi malam di rumah sakit kamu bilang kalau uang yang diberi tuan masih tersisa. Mana sisanya?”
“Oh, ada limaratus empatpuluh ribu Nyonya.”
“Mana, kenapa kamu diam saja?”
“Tadi pagi sudah saya serahkan kembali pada tuan.”
“Bagaimana kamu ini, mengapa tidak kamu berikan padaku? Biasanya bagaimana? Kalau tuan sudah memberikan, berarti tuan tidak minta kembalian. Kamu lupa?”
“Maaf Nyonya, soalnya ketika saya mau berangkat ke rumah sakit, tuan sudah berpesan, bayar dengan uang ini. Kalau kurang hubungi aku, kalau sisa kembalikan ke aku. Gitu Nyonya, jadi pagi tadi ketika bertemu Tuan, lalu saya kembalikan sisanya berikut kwitansi-kwitansi yang diberikan rumah sakit itu.”
“Dasar bodoh.”
Baru bersikap baik sebentar saja sudah memaki-maki lagi. Batin bibik sambil berjalan ke kamar mandi, untuk menyiapkan segala keperluan mandi sang nyonya majikan.
Srikanti mengomel panjang pendek.
"Sejak kapan suamiku pelit? Cuma kembalian limaratus ribuan saja diterima juga? Tidak biasanya dia begitu,” gumamnya kesal.
***
Pagi hari itu tuan Sanjoyo mendapat telpon dari Priyadi, yang intinya minta maaf karena belum bisa meninggalkan acara di kampung, jadi dia baru akan mulai masuk kerja besok pagi.
“Tidak apa-apa, selesaikan saja urusanmu. Nanti kalau kamu masuk, langsung dibawah bagian ekspedisi, karena sekarang kamu sudah digantikan oleh sopir yang lain,” kata tuan Sanjoyo.
“Oh, baiklah Tuan,” kata Priyadi setelah diam sejenak. Perpindahan itu oleh Priyadi dianggap suatu kebetulann yang lebih menyenangkan, karena di bagian ekspedisi dia bisa sering berinteraksi dengan Nilam, yang lebih menyenangkan daripada Srikanti.
“Saya siap melakukan apa saja asal Tuan yang memerintahkan.”
Tuan Sanjoyo menutup pembicaraan itu, lalu melanjutkan pekerjaannya, meneliti laporan-laporan yang masuk.
Belum lama dia membuka-buka file, ponselnya berdering. Ia tak ingin mengangkatnya karena memang ini saatnya ia bekerja. Tapi karena terus menerus berdering, kemudian ia mengangkatnya juga. Bukankah kalau penting baru dia boleh menelpon? Sepenting apakah? Batin tuan Sanjoyo.
“Ada apa? Aku sedang sibuk,” jawabnya dingin.
“Apa benar Priyadi belum masuk hari ini?”
“Bukankah aku minta agar kamu menelponnya sendiri?”
“Aku tidak bisa menghubungi. Aku butuh dia, untuk mengantarkan ke rumah sakit. Kepalaku terasa berat, dan lebam-lebam di wajahku terasa sangat nyeri.”
“Sekarang sopir pribadi aku adalah Parto, kalau begitu biar Parto mengantarkan kamu.”
”Apa? Kenapa begitu? Mas marah padanya?”
“Mengapa kamu kelihatan terkejut? Kamu butuh diantar, yang penting kamu diantar bukan? Akan aku perintahkan Parto agar pulang untuk mengantarkan kamu.”
Srikanti ingin berteriak, tapi diurungkannya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah yang ditunggu sdh tayang....
ReplyDeleteAlhamdulillah,suwun mb Tienπ
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien, sehat dan bahagia selalu
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 33 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulilah. Yg ditunggu udah tayang. Terimakasih bunda
ReplyDeleteSemoga sehat slalu. Salam seroja
Matur nuwun Bu Tien,, sugeng dalu π
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta...
ReplyDeleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_33
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππππππππ
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Selamat Malam Bunda ....terima kasih cerbung sudah hadir ..
ReplyDeleteSalam.sehat selalu
Bunda Tien, sehat2 ya agar kami masih bisa menikmati cerbungnya , juga Pak Tom semoga bertambah sehat .. aamiin
ReplyDeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 33 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteMks bun HBB 33 nya.....selamat malam ..
ReplyDeleteSmg bunda seklrg sll sehat sll dlm lindungan Allah Ta'ala...aamiin yra
Alhamdulillah HBB dah tayang, maturnuwun Bu Tien, tetap sehat,bahagia bersama Kel tercinta,dan semangat berkarya cerbungπ
ReplyDeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 33 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Matur suwun Bu Tien... Priyadi sampun digantos Parto..π. Tidak ada alasan utk ketemu Srikanti..
ReplyDeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~33 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 33 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Kanti sdh ketahuan belangnya. Tuan Sanjoyo msh berfikir bagaimana cara nya...ngrangket isteri nya..π
Sanjoyo betul-betul sudah move on...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...