HANYA BAYANG BAYANG 29
(Tien Kumalasari)
Puspa menghela napas panjang, kesedihan semakin memuncak. Rasa iba terhadap sang ayah membuat dadanya terasa nyeri. Laki-laki setengah tua yang seharusnya mendapat pelayanan dan kasih sayang yang tulus, ternyata hanya menjadi korban tak berdaya, bahkan tak merasa bahwa dirinya diperdaya sang istri selama bertahun-tahun.
“Kasihan bapak,” lirihnya ketika meletakkan ponselnya pelan, dan air mata kembali merebak.
“Apa kata bapak?” tanya Sekar.
“Aku kasihan pada bapak. Dia dibohongi tapi sikapnya selalu baik. Penuh perhatian dan kasih sayang kepada siapapun juga.”
“Apa yang dikatakan bapak?”
“Sudah jelas bahwa nama panti-panti yang disebutkan ibu dan dimintakan sumbangan kepada bapak adalah panti-panti bayangan. Tak ada kenyataannya.Tapi ibu masih sempat bohong lagi, agar sumbangan jangan diberikan karena pimpinan kelima panti sedang umroh. Pintar sekali ibu mengarang cerita.”
“Itu karena dia takut ketahuan tentang panti-panti khayalan itu, padahal sudah ketahuan.”
“Kasihan bapak ya Mbak, apa yang harus kita perbuat?”
“Bagaimana kalau kita diamkan saja dulu, yang penting kita sudah tahu jawaban tentang dari mana ibu mendapatkan uang untuk membuat atau membeli rumah untuk Priyadi, dan mungkin juga untuk bersenang-senang atau membelikan sesuatu juga untuk Priyadi.”
“Aku jadi ingat ketika Mbak bilang pernah melihat Priyadi di sebuah toko perabot rumah tangga.”
“Aaaa, iya benar. Waktu itu dia bilang akan membelikan tempat tidur untuk ibunya bukan?”
“Sampai-sampai bapak menawarkan tempat tidur lama kita yang ada di gudang, dan tampaknya sampai sekarang tidak diambil-ambil juga.”
“Rupanya memamg dia beli perabot-perabot untuk rumah baru itu.”
“Benar-benar kurangajar.”
Puspa menundukkan wajahnya. Membenci ibu kandung itu apakah dosa? Bagaimana dengan seorang ibu yang seperti ibu kandungnya? Apakah salah kalau dia membencinya? Tetapkah dosa? Puspa menghapus air matanya yang masih saja mengucur apabila dia mengingat semuanya. Ada sesal ketika ia menyadari bahwa dirinya terlahir dari seorang ibu yang sangat jahat.
“Mbak, dosakah aku kalau aku membenci ibuku sendiri?” tangisnya lagi.
Sekar mengelus kepala sang adik.
“Tidak, tapi kamu harus mendoakan agar dia sadar akan kesalahannya, dan bisa memperbaiki semua perbuatan jahatnya.”
“Tapi aku sangat benci Mbak, benci sekali. Bagaimana mungkin dia tega melakukannya kepada bapak yang begitu baik dan penuh kasih sayang?”
“Manusia tak luput dari dosa, mohonkan ampun untuknya juga. Tapi kamu harus tenang, ingat bahwa kamu sedang menghadapi ujian akhir kamu. Jangan sampai karena hal ini maka kamu akan gagal. Hal itu nanti akan lebih membuat kamu sakit. Percayalah dan selalulah berdoa agar semuanya akan baik-baik saja.”
“Apakah akan kita biarkan semuanya begitu saja, dan ibu akan semakin merajalela dengan semua perbuatan buruknya, apalagi dengan membohongi bapak demi mendapatkan uang untuk bersenang-senang?”
”Perlahan akan kita ingatkan bapak, agar menghentikan pemberian sumbangan kepada panti-panti yang sudah berjalan. Yang belakangan kan sudah dihentikan olehnya sendiri kan? Yang sudah berjalan pasti setiap bulan dia masih akan meminta uangnya, buatlah agar bapak menghentikannya.”
“Pasti bapak menanyakan alasannya. Tidak mungkin kita mengatakan pimpinan panti sedang umroh juga.”
Sekar tampak berpikir.
“Biasanya tanggal berapa bapak memberikan sumbangannya?”
“Biasanya ya awal-awal bulan mbak, berarti semingguan lagi nanti pasti ibu memintanya.”
“Bilang pada bapak agar kamu yang akan mengantarkannya.”
“Sudah pernah aku ingin melakukannya Mbak, ibu marah-marah. Pokoknya urusan uang adalah urusannya. Tidak boleh walaupun aku adalah anaknya.”
“Aneh ….”
“Tapi nyata kan? Mungkin keluarga Sanjoyo tidak pernah memberi sumbangan kepada panti manapun, atau jumlah sumbangannya yang disunat.”
“Baiklah Puspa, sekarang kamu tidak usah memikirkannya dulu masalah ini. Fokus ujian kamu. Bagitu kamu selesai, kita akan buka semuanya. Bagaimana? Nanti aku akan bicara pada Suroto dan juga mas Wondo.”
Puspa mengangguk. Ketika sang ayah mengingatkannya melalui pesan singkat agar dirinya menjenguk ibunya di rumah sakit, Puspa mengabaikannya.
***
Pagi hari itu Puspa menemui ayahnya seperti biasa, untuk mengajaknya jalan-jalan. Tapi kali itu sang ayah menolak. Ia malah menegur Puspa karena tidak segera menjenguk ibunya.
“Mengapa kamu tidak peduli pada ibumu? Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana asal mulanya ibumu akan dioperasi.”
“Maaf Pak, kemarin Puspa sedang mengerjakan tugas dan tidak bisa meninggalkannya.”
“Biarpun mendengar ibumu sakit?”
“Puspa juga baru kembali dari mencari alamat-alamat panti. Jadi pekerjaan Puspa terbengkalai.”
“Bukankah bapak sudah mengingatkan kalau tidak usah memaksa karena kamu sedang sibuk dengan tugas akhir kamu?”
“Iya, maksud Puspa hanya sebentar, ternyata tempat satu dan lainnya sangat berjauhan.”
“Bapak merasa kamu sedang kesal pada ibu kamu akhir-akhir ini.”
Puspa menundukkan wajahnya. Ia belum ingin berterus terang tentang semuanya.
“Tidak baik seorang anak memusuhi orang tua. Betapa salahnya seorang ibu, si anak harus bisa memahaminya.”
“Ya.” jawab Puspa singkat. Tapi kemudian ia tidak melihat gelas minuman di meja ruang tengah.
“Bapak belum dibuatkan minum?”
“Nanti gampang. Bik Supi menemani ibumu di rumah sakit.”
Puspa bergegas ke dapur. Ia membuatkan minum untuk sang ayah, seperti bik Supi selalu melakukannya. Sang ayah yang tidak tahu permasalahannya, menganggap bahwa dirinya tidak peduli pada ibunya. Tapi kan itu benar? Hanya saja ia tak ingin mengatakan apapun kepada sang ayah. Tidak untuk sekarang.
“Nanti pergilah ke rumah sakit. Ibumu dioperasi jam sembilan pagi,” kata sang ayah ketika ia menyajikan minuman.
“Kamu tidak bertanya tentang sakitnya ibumu? Pagi kemarin dia tersandung batu atau entah apa, sehingga terjatuh, dan membuat tulang telapak kakinya patah. Karenanya harus dioperasi hari ini,” kata sang ayah tanpa ditanya.
“Nanti Puspa akan ke sana.”
“Baiklah. Bapak tidak bisa menunggui karena nanti ada pertemuan dengan klien di kantor. Aku kira keadaan ibumu tidak mengkhawatirkan. Kemarin aku sudah bicara dengan dokternya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Lagi-lagi Puspa hanya mengangguk.
“Bapak mau sarapan apa?”
“Nanti bapak sarapan di kantor saja. Bapak akan datang lebih pagi, untuk melihat apakah sekretaris sudah mempersiapkan semuanya.”
“Kalau begitu Puspa mau kembali ke rumah mbak Sekar sekarang.”
“Mengapa ke sana lagi, katanya kamu mau ke rumah sakit, nanti bareng bapak saja, lalu biar Priyadi mengantarkan kamu menemui ibumu.”
“Tidak … tidak. Puspa akan berangkat sendiri, tidak usah diantar,” jawabnya secepat kilat. Diantar Priyadi? Jangan mimpi. Pikirnya.
***
Mau tak mau Puspa pergi juga ke rumah sakit, ditemani Sekar. Tampak aneh kalau Sekar tidak mau ikut menjenguk ibu tirinya yang akan dioperasi.
Ketika mereka datang, sang ibu sudah dipersiapkan untuk masuk ruang operasi.
Melihat Sekar dan Puspa, Srikanti melambaikan tangannya, meminta agar mereka mendekat.
“Syukurlah kalian datang menunggui. Walaupun ini bukan operasi besar, tapi senang kalau ada yang menunggui.”
“Bagaimana sampai kaki ibu patah?” tanya Sekar, sekedar berbasa basi.
“Tulang di telapak kaki dan jempol, patah. Entah mengapa, ibu kira hanya jatuh biasa, tapi ternyata nggak bisa jalan dan rasanya sakit sekali.”
“Semoga operasinya berjalan lancar,” kata Sekar sambil mencium pipi ibu tirinya, yang mau tak mau Puspa mengikutinya. Mereka hanya berbasa basi, untuk menutupi rasa benci.
“Ayahmu tidak jadi menyuruh memberikan untuk lima panti terakhir yang ibu tulis kan?” kata Srikanti sambil menatap Puspa.
“Tidak Bu, mereka pergi umroh rame-rame,” kata Puspa sambil tersenyum aneh. Srikanti merasakannya, tapi tak peduli, yang penting suaminya tidak jadi memberikan sumbangan, sehingga tidak akan ketahuan kalau panti yang diajukan adalah karangannya sendiri. Padahal Puspa sudah menemukan kebohongan itu.
Mereka menyingkir ketika Srikanti sudah didorong memasuki ruang operasi.
***
“Puspa, jangan kelihatan kalau kamu membenci ibumu.”
“Puspa sudah mendoakannya semalam dan memohonkan ampun atas semua dosa ibu. Tapi untuk bersikap manis pada ibu, masih terasa berat. Aku harap mbak Sekar mengerti.”
“Baiklah, aku mengerti.”
Mereka duduk di ruang tunggu, menunggui yang sedang dioperasi, tanpa mengucapkan apapun. Ada doa dipanjatkan, tapi ada rasa tak suka yang belum juga sirna.
“Non, kok duduk di sini?” tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya. Wajah keduanya langsung gelap. Mereka mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Non, mau saya belikan minuman?”
“Tidak, tidak usah, kami sudah minum,” yang menjawab adalah Sekar, sedangkan Puspa kemudian pura-pura sibuk dengan ponselnya.
“Non jangan khawatir, nyonya tidak apa-apa,” katanya lagi.
Penyapa itu adalah Priyadi, yang kemudian duduk agak jauh dari mereka karena tak diacuhkannya.
“Mbak, kita pulang saja?”
“Jangan, nanti dibilang keterlaluan. Tunggu sampai operasinya selesai,” kata Sekar yang lebih mengutamakan basa basi.
***
Srikanti hanya sehari menginap di rumah sakit, karena keadaannya baik-baik saja. Hanya saja karena telapak kakinya dibebat, dia tak bisa pergi ke mana-mana. Jalan saja harus dibantu dengan dipapah.
“Pakailah walker, agar bisa menyangga tubuh kamu,” kata tuan Sanjoyo.
“Bukankah walker akan Mas bawa ke kantor juga?”
“Aku sudah bisa berjalan lebih baik. Aku bisa berjalan memakai tongkat.”
“Nanti gampang. Sekarang aku mau bilang tentang sumbangan ke panti.”
“Kamu masih sakit, masih memikirkan sumbangan ke panti?” tanya tuan Sanjoyo heran.
“Ini panti yang sebelumnya kita sumbang. Minggu depan waktunya memberikan sumbangan itu, jangan sampai lewat, kasihan mereka membutuhkannya.”
“Kamu akan mengantarkannya sendiri? Kamu kan belum bisa berjalan?”
“Bukan aku, biar Priyadi saja, dia sudah sering mengantar aku, jadi sudah tahu.”
Tuan Sanjoyo heran. Dikirimkan Puspa anaknya tidak boleh, sekarang Priyadi diijinkan mengantarkannya?”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwin jeng Ning
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun Yangtie
DeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteEpisode _29 sdh tayang.
Matur nuwun mBak Tien.
Salam SEROJA
Sami2 mas Kakek
Delete๐ชผ๐ ๐ชผ๐ ๐ชผ๐ ๐ชผ๐
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐ฆ
Cerbung HaBeBe_29
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin๐คฒ.Salam seroja ๐
๐ชผ๐ ๐ชผ๐ ๐ชผ๐ ๐ชผ๐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih jeng Sari
Alhamdullilah terima ksih cerbungnya bunda..slmt mpm dan slm sht sll uno bunda sekeluarga๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida
DeleteSalam sehat juga
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteTrimakasih bunda
ReplyDeleteSudah tayang. Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih bapak Endang
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Endah
Aduhai hai hai
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 29" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu ๐
ReplyDeleteSami2 pak Sis
DeleteSugeng dalu
Alhamdulilah Cerbung HBB 29 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐๐ฉท๐น๐น
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Sri
Aduhai aduhai
Gregetan ya sama Srinthil...uuugghh
ReplyDeleteHihiiii....jeng Iyeng.. sabar nggih
DeleteMatur suwun bu Tien semoga ibu selalu dlm keadaan sehat ...๐
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih pak Indriyanto
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Reni
Alhamdulillah, matur nuwun bunda Tien.
ReplyDeleteSemoga Bunda dan keluarga selalu sehat wal'afiat dan bahagia, aamiin.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Ermi
Alhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Ida
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 29 " ๐๐น
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih pak Herry
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 29 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Uchu
Terima kasih bu Tien ,, semoga selalu dalam keadaan sehat
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Anik
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️๐น๐น๐น๐น๐น
Sami2 jeng Susi
DeleteMatur nuwun Bu Tien๐๐,ditunggu jilid berikutnya....
ReplyDeleteSami2 ibu. Besok lagi ya
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 29 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Puspa, Sekar...jemput lagi ya Ayahmu, bicara di luar kantor. Beri penjelasan hal alamat yang fiktif, Nugi di ajak untuk meyakinkan penjelasan mu, agar uang sumbangan buat panti, tidak di antar oleh Yadi, maupun Kanti sendiri.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih pak Munthoni
Alhamdulillah HANYA BAYANG-BAYANG ~29 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..๐คฒ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih pak Djodhi
Terima kasih bunda Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Komariyah
DeleteTerima kasih Bunda Tien , barokalloh, aamiin YR'A. Puspa dan Sekar ajak dong Bpk jalan2 sambil lewat alamat panti yang fiktif
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Yulian
Alhamdulillaah " Hanya Bayang bayang - 29 sdh hadir"
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, semoga sehat dan bahagia selalu.
Aamiin Yaa Robbal' Aalaamiin๐คฒ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Ting
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteTerima kasih ibu Ting