HANYA BAYANG BAYANG 42
(Tien Kumalasari)
Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu membawanya sebelum Priyadi suaminya datang. Tapi tentu saja petugas itu tak mau menuruti kemauan Nilam.
“Ibu saya bawa dulu saja, suami ibu akan ada yang menunggunya di sini, agar nanti menyusul.”
“Jangan, tolonglah, saya sedang hamil, saya tak bisa pergi tanpa suami saya.”
“Mohon maaf, kalaupun Ibu tidak bersedia, kami harus memaksanya.”
“Suami saya pasti mencari saya.”
“Tidak Bu, nanti akan ada yang menunggu di sini, Ibu jangan khawatir. Kami sudah menunggu terlalu lama.”
Walaupun Nilam menolak, petugas tetap membawanya pergi. Teriakan dan tangis Nilam tak sedikitpun menggoyahkan hati para petugas.
Sementara itu Priyadi sangat menyesal telah melapor ke polisi bahwa dia mencurigai Srikanti. Dugaannya benar, bahwa Srikanti pasti akan membawanya berurusan dengan yang berwajib. Perkara pencurian itu akhirnya akan membuka tabir hitam tempat mereka bersenang-senang. Buktinya Srikanti tidak tinggal diam. Dia menyebut namanya dan juga Nilam, sehingga mereka juga akan menangkapnya. Tanpa memikirkan Nilam yang sudah pasti dibawa para polisi, Priyadi justru tidak mau pulang. Ia bersembunyi dari kejaran, mencari jalan agar lolos dari jeratan hukum, lalu harus meringkuk di balik jeruji besi.
Priyadi menyesal, uang di kantongnya tak banyak. Yang banyak sudah lenyap dan pasti sudah dibawa Srikanti. Ia bingung mau lari ke mana. Bungkusan nasi pesanan Nilam masih dibawanya, tapi dia bingung, apa yang akan dilakukannya.
***
Berita tentang ditangkapnya Nilam segera terdengar oleh tuan Sanjoyo, karena Nilam mengaku bekerja di perusahaan milik tuan Sanjoyo. Tapi Priyadi masih buron hingga saat itu. Tuan Sanjoyo sudah tahu juga bahwa Srikanti ditangkap sebelumnya.
Ketika Puspa datang ke kantor bersama Nugi, tuan Sanjoyo mengatakan semuanya.
“Bapak tidak bermaksud melaporkan mereka kepada polisi, dan mengikhlaskan semua pengkhianatan dan penipuan yang mereka lakukan selama bertahun-tahun. Tapi Allah menunjukkan jalan lain, agar mereka yang melakukan kejahatan segera menerima hukumannya.”
Puspa menundukkan mukanya. Ada sedih yang tersirat. Bagaimanapun Srikanti adalah ibu kandungnya.
“Doakan saja ibumu, agar segera menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya adalah salah.”
Puspa mengangguk.
“Baiklah, aku sampai lupa ada orang lain di sini. Tapi aku yakin bik Supi yang sudah mengetahui semuanya sudah mengatakannya kepadamu, bukan begitu, Nugi?” kata tuan Sanjoyo kepada Nugi yang pastinya mendengar apa yang dikatakan tuan Sanjoyo. Ia menatap Puspa yang menundukkan wajahnya, dan merasa iba. Ini adalah cobaan terberat yang harus diterimanya.
“Saya hanya mendengar sekilas, Tuan. Dalam hidup, terkadang memang harus ada sandungan. Saya berharap semuanya akan baik-baik saja, terutama bagi non Puspa.”
Puspa menatap Nugi dengan pandangan penuh rasa terima kasih.
“Aku senang mendengar jawaban kamu. Hal itu menunjukkan bahwa kamu lebih dewasa dalam berpikir.”
“Terima kasih, Tuan.”
“Jangan memanggil aku tuan, kamu akan menjadi karyawan aku bukan?”
Nugi menatap tuan Sanjoyo. Benarkah dirinya akan menjadi karyawan di kantor tuan Sanjoyo?
“Sesuai dengan kelulusan kamu, kamu akan aku tempatkan di bagian keuangan. Untuk beberapa bulan kedepan, kamu harus mempelajari semuanya, sebelum aku menentukan posisi yang tepat.”
“Jadi … “
“Untuk formalitas, besok datang kemari membawa berkas lamaran.”
Puspa menatap sang ayah, sambil mengucapkan terima kasih.
“Aku yang harus berterima kasih, non Puspa. Bukan hanya kepada tuan Sanjoyo, tapi juga kepadamu, yang membawaku kemari.”
“Sudah selayaknya aku melakukannya, karena kita sahabat, bukan?”
“Pokoknya aku harus mengucapkan terima kasih, ini sangat luar biasa untuk aku dan kehidupanku.”
“Baiklah, tadi bapak melarang memanggilnya tuan, sekarang aku melarangmu memanggil aku non. Panggil aku seperti biasanya. Okey.”
Tuan Sanjoyo senang, melihat Puspa tersenyum. Ia menangkap sesuatu yang ada diantara keduanya. Mengapa tidak? Kalau memang Nugi adalah laki-laki baik dan bisa menjadi pelindung Puspa, mencintainya dengan sepenuh jiwa, tuan Sanjoyo akan mengijinkannya seandainya benar mereka saling menyukai. Tapi semua kan belum jelas? Tidak masalah, biarlah mereka bekerja dulu dan saling mengerti satu sama lain.
"Puspa, ayo kita ajak Nugi melihat-lihat kantor kita,” ajak tuan Sanjoyo.
Puspa mengangguk, lalu memberi isyarat Nugi agar mengikuti sang ayah berkeliling kantor.
***
Sekar sedang menelpon Suroto adiknya. Ia mendengar dari sang ayah bahwa Srikanti ditangkap polisi, demikian juga Nilam. Tapi Priyadi masih buron.
“Apakah bapak melaporkannya?”
“Tidak, kamu seperti tidak tahu bagaimana bapak, mana mungkin bapak tega melaporkan mereka. Bapak selalu bilang ikhlas .. ikhlas … terus.”
“Bagaimana mereka bisa ditangkap polisi?”
“Entahlah, sepertinya Srikanti pada awalnya ditahan akibat pencurian yang dilakukannya, lalu tiba-tiba Nilam juga ditangkap. Tapi entah ke mana perginya Priyadi.”
“Mungkin setelah diusir dari rumah oleh bapak, Srikanti pulang ke rumah itu, dan mengambil semua barang berharga, lalu Priyadi melaporkannya ke polisi. Dan Srikanti yang sudah ter sudut, mau tidak mau membeberkan semuanya, sehingga polisipun menangkap Priyadi dan Nilam. Sayangnya Priyadi berhasil kabur.”
“Agak rumit juga, entah bagaimana cerita sesungguhnya, tapi tampaknya sudah saatnya mereka menuai buah dari pohon yang ditanamnya.”
“Bagaimana kabar Puspa?”
“Dia belum menelpon kamu? Dia lulus, dan sekarang dia membawa Nugi, anak bik Supi yang lulus bersama Puspa, untuk bertemu bapak.”
“Maksudnya mencarikan pekerjaan untuk Nugi di kantor bapak?”
“Begitulah, dan aku sudah tahu sejak lama kalau Puspa suka pada anak itu.”
“Pada anak bik Supi? Apa ibunya akan mengijinkan?”
“Ibunya sudah ditahan, aku kira dia tak akan bisa berbuat banyak, apalagi untuk melarang hubungan Puspa dengan Nugi.”
“Anak itu baik. Wajahnya juga tampan bersih, ketika aku mengamatinya waktu bertemu malam itu, ada miripnya sama bik Supi.”
“Kamu benar. Bik Supi pasti bangga anaknya bisa jadi sarjana. Apalagi nanti kalau Nugi sudah bekerja.”
“Perjuangan seorang ibu, demi menjadikan anaknya menjadi orang.”
“Benar Roto. Ya sudah, kamu pasti sedang sibuk, kalau aku sedang istirahat makan siang Nih.”
“Sama, aku juga sedang makan, memang ini saatnya makan. Kalau ketemu PUspa, suruh dia menelpon aku ya Mbak.”
“Baik, nanti aku beri tahu dia. Sekarang sepertinya masih ada di kantor bapak.”
“Bersama Nugi juga?”
“Kemungkinannya iya. Kemarin dia bilang begitu.”
***
Bik Supi sedang memasak di dapur. Tadi Puspa mengatakan bahwa dia akan mengajak Nugi makan siang di rumah. Bik Supi sangat bersemangat, lalu memasak semua makanan kesukaan Puspa, sekaligus kesukaan Nugi.
Tiba-tiba ia merasa nyaman bekerja di rumah tuan Sanjoyo. Tak ada kata-kata kasar, tak ada banyak perintah yang terkadang membuatnya lelah. Hanya saja Nugi sudah mengatakan, kalau dia sudah bekerja, maka sang ibu harus berhenti bekerja, karena dialah yang akan memberi nafkah untuk ibu dan neneknya di kampung.
“Iya juga sih, sepertinya memang aku harus berhenti bekerja kalau Nugi sudah mendapat pekerjaan. Berat rasanya meninggalkan keluarga yang sangat baik ini,” gumam bik Supi sambil memasukkan ayam ungkep ke dalam minyak yang sudah cukup panas. Ini ayam goreng kesukaan Nugi, tapi sekaligus juga kesukaan Puspa.
Tiba-tiba dari arah samping dapur terdengar langkah kaki. Bik Supi terkejut. Kalau tamu, mengapa tidak memencet bel tamu atau mengetuk pintu.
Bik Supi melihat ke arah pintu, lalu melihat Priyadi berdiri di tengah pintu. Pakaiannya lusuh, seperti orang baru datang dari bepergian jauh selama berhari-hari.
“Pri?” sapa bik Supi seperti biasanya.
“Kok sepi Bik, siapa di rumah?”
“Tidak ada, hanya aku.”
Priyadi melongok ke dalam.
“Tidak ada siapa-siapa, non Puspa pergi ke kantor ayahnya. Kamu dari mana, pakaianmu lusuh begitu?”
Priyadi langsung masuk.
“Aku lapar Bik, boleh minta makan?” katanya tanpa menjawab pertanyaan bik Supi.
“Tentu saja boleh, duduklah, aku sedang menggoreng ayam, sayurnya cuma sup, tapi belum mateng.”
“Seadanya saja Bik, dua hari aku tidak makan.”
Bik Supi tidak mendengar kalau Priyadi sudah dipecat. Ia mengira Priyadi masih bekerja tapi bukan lagi menjadi sopir pribadi tuan Sanjoyo. Ia heran mendengar Priyadi tidak makan selama dua hari.
“Tidak makan dua hari? Memangnya anakmu tidak memasak untuk ayahnya? Atau kamu tidak bisa membeli makanan di warung?”
“Aku mau makan dulu ya Bik, ceritanya nanti.”
Bik Supi mengambilkan nasi dan sepotong ayam, juga sambal, karena sayurnya belum matang. Ia juga memberikan segelas air minum yang diletakkan di dekatnya, lalu ia melanjutkan memasak sayur.
Bik Supi geleng-geleng kepala, melihat Priyadi makan dengan lahap.
Setelah dua piring nasi disikatnya habis, Priyadi mencuci tangannya di tempat cucian, sekaligus mencuci wajahnya yang kumal.
Saat itu ia mendengar mobil memasuki halaman. Ia tahu itu mobil Puspa.
Ia mengelap wajahnya dengan tissue lalu beranjak ke depan.
Puspa terkejut melihat Priyadi. Bukankah Priyadi sedang dicari-cari polisi?
“Mengapa kamu ada di sini?” kata Puspa dengan nada tak suka.
“Puspa, jangan begitu. Aku kemari untuk mencari perlindungan.”
“Perlindungan apa? Kamu adalah penjahat yang dicari-cari polisi, jangan membuat kami jadi terlibat. Pergilah atau aku laporkan kamu?” ancam Puspa yang sedikit kesal karena Priyadi memanggil namanya begitu saja, tanpa non seperti biasanya.
“Puspa, tolong aku, biarlah aku bersembunyi di sini.”
“Tidak bisa, lebih baik kamu pergi.”
“Puspa, kamu tidak bisa berlaku kejam terhadapku, karena kamu adalah anakku, darah dagingku.”
Kalau ada guntur menggelegar saat itu, tak akan bisa mengalahkan rasa kaget Puspa mendengar ucapan Priyadi.
***
Besok lagi ya.