Saturday, January 31, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 50

 HANYA BAYANG BAYANG  50

(Tien Kumalasari)

 

Puspa berdebar oleh perasaan yang tidak menentu. Jadi yang menelpon Nugi kemarin itu adalah Wuri? Itu kan adik kelas mereka yang dulu sering bertanya-tanya pada Nugi tentang pelajaran kuliahnya. Sekarang mereka menjadi dekat? Nugi menyukainya karena mereka hampir sederajat? Yang Puspa tahu adalah bahwa Wuri adalah anak orang yang kurang berada. Dan itu sebabnya maka Nugi mau dekat dengannya? Sejak kapan mereka berhubungan? Jangan-jangan karena ada Wuri maka Nugi berusaha menjauhinya dengan alasan perbedaan derajat seperti antara bumi dan langit? Alangkah sakit hati Puspa. Aduh, mengapa sakit? Diantara mereka belum pernah ada hubungan apapun kecuali hanya berteman dekat. Dan itu bukan berarti Puspa harus sakit hati bukan?

“Ya Tuhan, tapi kenapa hati hamba merasa sakit?” keluh Puspa yang menjalankan mobilnya begitu pelan sehingga terdengar klakson bertubi-tubi mengingatkannya bahwa bukan hanya dia pemakai jalanan itu. Puspa segera sadar kemudian mempercpat laju mobilnya.

Tapi bayangan motor Nugi masih tampak. Rupanya Nugi ingin menikmati kebersamaan itu dengan menjalankan motornya pelan-pelan. Puspa ingin berbelok saja daripada melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa nyeri. Tapi tak ada belokan. Ingin berhenti dan memarkir mobilnya di suatu tempat, tapi parkiran penuh. Di hari liburan begini banyak orang belanja dan jalan-jalan hanya sekedar membeli sesuatu atau menikmati keramaian. Puspa ingin memejamkan matanya, tapi bagaimana kalau mobilnya menabrak kendaraan di depannya?

Karena pikiran tiba-tiba kacau, akal warasnya kurang bisa bekerja.

“Ya Tuhan, begitu besarnya pengaruh Nugi untuk perasaan hamba ini,” lagi-lagi Puspa berkeluh kepada Yang Maha Kuasa.

Tapi tiba-tiba motor Nugi berbelok ke arah jalan kecil yang ada di depannya. Mau ke mana mereka? Puspa sedang mengingat-ingat, sepertinya dia pernah masuk ke jalan kecil itu. Itu kan jalan menuju rumah dosen pembimbing skripsinya? Apakah Wuri dan Nugi mau ke sana? Untuk apa? Bertahun silam, Wuri belum lulus juga? Sedang mengerjakan tugas akhirnya? Entahlah, Puspa terus menjalankan mobilnya lalu berhenti di depan sebuah toko. Kelamaan kalau ia harus ke supermarket, lalu memilih-milih barang, lalu antrinya lama, sementara dia ingin segera pulang untuk menenangkan diri.

***

Ketika bik Supi sampai rumah di kampungnya, ia hanya bertemu ibunya.

“Ke mana Nugi, Mbok?”

“Nggak tahu aku Pi, tadi hanya pamit mau mengantar temannya, begitu.”

“Mengantar ke mana? Siapa temannya?”

“Entahlah, aku tidak bertanya terlalu jelas, yang penting dia pamit, begitu saja.”

"Sudah lama perginya Mbok?”

“Agak lama, setelah sarapan dia pergi. Mungkin sebentar lagi pulang, tapi ya nggak tahu aku. Sebaiknya kamu tunggu saja dulu, simbok buatkan minum ya?”

“Tidak usah Mbok, aku buat sendiri saja. Simbok duduk saja, ini aku bawakan oleh-oleh roti isi pisang kesukaan Simbok.”

“Wah, sudah lama aku tidak makan roti pisang.”

“Simbok makan dulu rotinya, aku mau buat minum ke dapur.”

"Di termos selalu ada air panas."

“Iya, aku tahu.”

Ketika kembali dari dapur, bik Supi sudah membawa dua gelas teh panas manis, yang kemudian diletakkan di bangku depan simboknya duduk.

“Kamu membuat minum untuk aku juga?”

“Ya tidak apa-apa Mbok, kita duduk berdua, masa cuma aku sendiri yang minum.”

“Ya sudah, terima kasih ya Nduk.”

"Dapurnya sekarang bersih, temboknya sudah dicat bagus, Mbok.”

“Akhir-akhir ini Nugi sering bebenah rumah. Mana yang sudah usang diganti. Kamar simbok juga sudah tidak bocor lagi.”

“Syukurlah Mbok, dulu simbok merawat Nugi, sekarang saatnya Nugi menyenangkan hati simbok.”

“Benar Pi. Hanya sayangnya, bocah itu kenapa belum ingin punya istri?”

“Tidak apa-apa Mbok, nanti juga dia bakalan punya.”

“Aku prihatin Pi, dulu kan dia pernah bilang kalau menyukai anak majikanmu?”

“Iya. Tapi Simbok jangan khawatir, tampaknya tuan majikan Supi itu suka sama Nugi.”

“Kok yang suka tuanmu, kan yang disukai Nugi itu anaknya?”

Bik Supi tertawa mendengar simbok salah terima.

“Maksud Supi, tuan majikan Supi itu bisa menerima seandainya Nugi menyukai anaknya.”

“Masa iya? Majikan mau berbesan sama pembantunya?”

“Sepertinya ya tidak mungkin Mbok, tapi semalam tuan Sanjoyo bilang begitu sama Supi. Ya simbok doakan saja supaya bisa terlaksana, terus Nugi hatinya senang, tidak suka melamun terus-terusan.”

“Aamiin, simbok selalu mendoakan kok.”

***

Tengah hari, barulah Nugi sampai di rumah. Senang sekali Nugi melihat ibunya ada di rumah, sedang berbincang dengan simbahnya.

“Kamu dari mana Le?

“Dari mengantarkan teman.”

“Teman laki-laki atau perempuan?” tanya sang ibu.

Nugi hanya tertawa. Memangnya kenapa kalau temannya laki-laki? Dan kenapa pula kalau temannya perempuan?

“Ditanya kok tertawa.”

“Biyungmu ini, merasa senang kalau kamu bepergian dengan anak perempuan, karena kamu itu sudah lebih cukup umur untuk punya teman perempuan, lalu menikah. Jangan sampai simbahmu ini meninggal tanpa sempat melihat cucu buyut simbah.”

“Walau perempuan kan juga belum tentu kalau akan menjadi istri. Simbah malah bicara tentang cucu buyut,” kata Nugi sambil mencomot roti di meja.

“Sebenarnya kamu itu bagaimana sih Nug, ini aku bicara beneran nih, dan keinginan simbahmu itu kan juga keinginan ibumu ini?”

“Iya Bu, sabarlah. Jangan sampai Ibu itu membuat  Nugi jadi takut bertemu Ibu. Habis pertanyaannya hanya itu ... itu ... terus.”

“Takut kenapa? Memangnya ibu tuh hantu?”

“Bukan, habis Ibu selalu bicara tentang hal itu terus. Yang lainnya kenapa?”

“Soalnya yang terpikirkan oleh ibu hanya itu. Pengin punya mantu, pengin punya cucu.”

“Sabar lah Bu, nanti pasti juga Nugi bisa memenuhi keinginan Ibu dan simbah.”

“Sekarang ibu mau tanya. Apakah kamu masih menyukai nona majikan ibu itu?”

“Apa maksud Ibu?”

“Kamu kan pernah bilang kalau kamu suka sama dia?”

“Dia siapa sih Bu?”

“Non Puspa, pakai pura-pura nggak ngerti. Bukankah dia yang kamu suka?”

“Bagaimana mungkin Ibu masih berpikiran begitu? Non Puspa itu langit, dan Nugi ini bumi. Mana mungkin bumi dan langit bisa bertemu?”

“Bukan. Non Puspa itu bulan, kamu itu bintang, jadi kalian bisa saja bersatu dan menari-nari bersama di langit sana.”

Nugi terbahak-bahak.

“Perumpamaan ibu itu nggak lucu. Kalau non Puspa itu bulan, Nugi itu pungguk, mana mungkin pungguk merindukan bulan?”

“Tapi mengapa tiba-tiba bicara Ibu seperti itu? Bukankah sejak dulu Ibu selalu memarahi Nugi ketika Nugi mengutarakan apa yang ada di hati Nugi? Nugi akan mencari istri gadis yang sederajat saja. Paling tidak ya yang tidak terlalu tinggi sehingga Nugi bisa menjangkaunya," sambung Nugi lagi.

“Kamu sudah menemukan gadis itu?”

“Hampir sih Bu, sudah lama dia suka sama Nugi. Sejak kami masih kuliah bersama-sama.”

“Gadis itu teman kuliah kamu juga?”

“Bukan sekelas, dia dua tingkat di bawah Nugi, tapi karena orang tuanya tak mampu, dia sempat berhenti selama hampir dua tahun. Mungkin sekarang sudah hampir selesai.”

”Jadi kecintaan kamu pada non Puspa itu sudah hilang begitu saja? Sudah tak suka? Sudah tak sayang?”

“Mengapa ibu bicara begitu? Seakan Ibu marah kalau aku tak suka lagi sama non Puspa.”

“Cinta sejati itu tak bisa hilang begitu saja. Bagaimana bisa kamu sekarang mengatakan sudah menemukan yang lain?” tegur bik Supi tak senang.

"Begitu dangkalkah rasa cinta itu?” sambungnya.

“Mengapa Ibu marah-marah? Bukankah Nugi hanya ingin memenuhi keinginan Ibu dan simbah? Dan dia gadis yang tepat untuk Nugi.”

“Jadi kamu sekarang menyukai gadis itu? Gadis yang entah siapa, aku tak ingin menanyakannya?” bik Supi menatap anaknya tak senang.

Nugi heran melihat sikap ibunya. Katanya ingin segera punya cucu, setelah mengetahui dia dekat dengan seorang gadis, kok seperti marah-marah begitu?

“Nugi, cinta itu harus diperjuangkan. Lalu apakah kamu sudah mengatakan kepada gadis itu bahwa kamu menyukainya? Apakah kamu dan dia sudah mengatakan kalau kalian saling mencintai?”

Nugi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Ia merasa sikap ibunya sangat aneh. Ia bingung kemana maksud pembicaraan itu.

“Nugi, ibumu ini berharap agar non Puspa menjadi jodohmu,” tiba-tiba kata sang nenek.

“Apa?”

“Ngomong berbelit-belit tidak karuan ibumu itu. Tujuannya hanya satu, kok ngomongnya ke mana-mana,” omel sang nenek lagi.

“Tapi kalau Nugi sudah terlanjur ngomong suka pada gadis itu ya percuma. Orang bicara kan tidak boleh mencla-mencle. Nugi itu seorang laki-laki, kalau sudah menentukan pilihan ya sudah," sambung bik Supi.

Nugi masih bingung mendengar semuanya. Ia menoleh ke arah sang ibu dan sang nenek berganti-ganti, lalu tiba-tiba ponselnya berdering. Nugi mengangkatnya.

"Ya ... o.. iya aku juga lupa ... jangan ... rumahku jauh ... kapan- kapan saja. Tidak apa-apa ... aku yang akan ke rumah kamu... iya ... nggak apa-apa... aku suka kok. "

***

Besok lagi ya.

Friday, January 30, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 49

 HANYA BAYANG BAYANG  49

(Tien Kumalasari)

 

Nugi menoleh ke sana kemari, bayangan Puspa benar-benar tak tampak. Ketika ia berjalan ke arah kasir untuk membayar makanannya, kasir itu mengatakan bahwa Puspa sudah membayar semuanya.

Nugi keluar dari kantin dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Ia ingin menjauh dari Puspa karena menyadari siapa dirinya. Tapi ketika Puspa benar-benar pergi, hatinya merasa kacau tidak karuan.

Ketika keluar, ia sengaja melewati ruang kerja Puspa, tapi tak ada bayangan gadis itu. Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba pergi tanpa pesan apa-apa?

Nugi kembali ke ruangannya dengan perasaan terganggu oleh bayangan-bayangan yang sangat tidak mengenakkan. Tak biasanya Puspa bersikap seperti itu.

Yang membuat Nugi heran, mengapa hal itu membuat perasaannya terguncang? Baru  ditinggalkan saat makan saja perasaannya seperti itu, bagaimana kalau Puspa benar-benar meninggalkannya, atau kemudian tak lagi peduli pada dirinya? Nugi memarahi dirinya sendiri. Katanya ingin menjauh, katanya merasa tak pantas, katanya dirinya dan Puspa adalah bumi dan langit, bagaimana hatiku ini? Kata batinnya sambil memegangi kepalanya.

“Pak Nugi sakit?” salah seorang rekan seruangannya menegur, membuat Nugi terkejut, lalu melepaskan pegangan pada kepalanya.

“Oh, tidak … tidak apa-apa kok,” katanya tersipu.

“Atau pusing? Saya ambilkan obat di poli?”

“Tidak, terima kasih, hanya … sedikit mengantuk.”

Rekan kerjanya tersenyum, dan merasa lega. Nugi adalah karyawan kesayangan tuan Sanjoyo, karena dia baik dan tidak sombong. Kalau sampai Nugi sakit, mereka pasti merasa khawatir.

“Ya sudah, istirahat dulu sebentar Pak.”

“Terima kasih.”

***

Ke mana perginya Puspa? Ia ada di ruangan sang ayah, sedang membantu memeriksa laporan yang dibuat sekretarisnya. Tapi entah mengapa, Puspa juga tidak fokus pada pekerjaannya. Ia mengulang dan mengulang lagi laporan itu dan merasa selalu tidak ada yang benar. Tadi ia meninggalkan Nugi di kantin, karena ada perasaan aneh yang dia rasakan, ketika Nugi bertelpon dengan seseorang, dan janjian mau ketemu besok. Padahal tidak jelas dengan siapa Nugi bertelpon. Puspa cemburu? Sepertinya iya. Cemburu buta, karena tidak tahu kepada siapa dia cemburu. Puspapun memarahi dirinya sendiri, karena tiba-tiba saja dia pergi dengan perasaan kesal. Pasti Nugi akan bertanya-tanya atas sikapnya yang menurut Nugi pastilah aneh.

Tuan Sanjoyo belum kembali. Tamunya, kecuali rekan bisnis, juga bekas teman kuliahnya. Barangkali agak lama barulah kembali. Kalau ia belum selesai mengerjakan tugasnya, pasti sang ayah akan menegurnya. Bagaimana menghentikan perasaan aneh ini? Ia harus bertemu Nugi dan meminta maaf, tapi dengan alasan apa dia meminta maaf? Apakah Nugi menganggapnya bersalah?

Lalu diraihnya ponselnya.

“Assalamu’alaikum ….," sapa Nugi dari seberang. Mendadak Puspa berdebar-debar. Apa yang harus dia katakan?

“Wa’alaikumussalam.”

“Ada apa?”

Tuh kan, ada apa? Oh iya, ia harus meminta maaf karena tiba-tiba meninggalkannya di kantin. Hal mudah, mengapa Puspa seperti kebingungan?

“Puspa?”

“Eh, iya Nug, maaf sambil bekerja nih.”

“Ya, bekerja saja dulu, ada apa?”

Walau menyuruhnya bekerja, tapi Nugi juga ingin tahu mengapa Puspa menelponnya.

“Itu, eh … kamu masih di kantin?”

“Tidak, sudah di ruangan. Ada apa?”

“Aku mau minta maaf.”

“Maaf untuk apa?”

“Tadi meninggalkan kamu ketika kamu sedang bertelpon dengan seseorang.”

“Ooh.”

“Maaf ya, tidak pamit dulu, aku … sebenarnya lupa, ada tugas dari bapak yang belum aku selesaikan.”

“Ohh …”

Lalu tiba-tiba Nugi merasa lega. Dan kelegaan itu juga dirasakan oleh Puspa ketika dia sudah mengucapkan kata maaf, dan tampaknya Nugi juga tidak marah, dari nada suaranya.

“Tidak apa-apa, mengapa harus meminta maaf?”

“Merasa tidak enak sendiri, karena tiba-tiba pergi, habis kamu sedang asyik bertelpon,” perkataan Puspa ini sebenarnya memancing, dengan siapa Nugi bertelpon.

“Oh, dengan teman … janjian ketemu besok.”

Puspa ingin menanyakan, temannya itu cewek atau cowok, tapi ia malu menanyakannya. Jadi pertanyaan itu masih menggantung karena sampai dia meletakkan ponselnya belum ada jawaban pasti, siapa teman Nugi. Yang penting cewek, atau cowok.

“Kenapa aku harus peduli tentang siapa teman Nugi? Cewek atau cowok? Memangnya kenapa kalau cewek, dan kenapa pula kalau cowok?” gumamnya.

Dan nyatanya Puspa belum bisa merasa tenang, berbeda dengan Nugi yang merasa lega setelah Puspa meminta maaf. Ia buru-buru meninggalkannya karena lupa ada tugas dari ayahnya. Baiklah.

Nugi melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan lebih tenang.


***

Ketika tuan Sanjoyo kembali ke kantor, Puspa bersyukur karena sudah menyelesaikan tugasnya.

“Tahu begitu tadi kamu ikut bapak, Puspa. Pak Cokro, teman bapak itu menanyakan kamu. Ketika kami bertemu, kamu masih kecil, pasti kamu tidak ingat.”

“Saya kan punya tugas Pak, kalau ikut Bapak, mana mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan saya.”

“Iya, bapak tadi juga mengatakan begitu sama pak Cokro. Kamu tahu, pak Cokro tadi melihat foto kamu di ponsel bapak, lalu dia ingin menjadikanmu menantu.”

“Apa?” Puspa membelalakkan matanya.

Tuan Sanjoyo tertawa. Ia tahu Puspa tak akan mau, karena hatinya sudah terpaut pada seseorang.

“Putra pak Sanjoyo itu sudah memegang usaha ayahnya yang ada di luar Jawa. Dia ganteng juga lhoh.”

Puspa tersenyum.

“Bapak setuju menjadi besan pak Cokro?”

“Tidak, kamu kok kelihatan khawatir sekali?” kata Tuan Sanjoyo sambil tertawa.

“Orang tua sering menjodoh-jodohkan anaknya,” jawab Puspa sambil tersenyum.

“Bapak lebih mengutamakan kemauan anak-anak, tidak akan memaksakan kehendak.”

“Terima kasih Pak.”

“Bagaimana hubungan kamu dengan Nugi?”

Puspa mengangkat wajahnya. Kok bapaknya bertanya lagi, sudah tahu kalau Nugi tidak berani menyatakan suka, apalagi cinta. Malahan tadi dia kencan dengan seseorang, jangan-jangan Nugi punya pacar yang menurut Nugi lebih pas dengan statusnya? Entahlah, Puspa mengambil map laporan lalu diberikannya kepada sang ayah.

“Kamu tidak menjawabnya ….”

“Kan Bapak sudah tahu jawabannya?”

***

Sore hari itu bik Supi menghadap tuan Sanjoyo, ingin pamit sehari saja untuk pulang kampung.

“Tidak apa-apa Bik, pulanglah saat kamu ingin pulang. Aku dan Puspa kan tidak perlu harus dilayani dengan begitu rumit. Makan minum seadanya, Puspa sudah belajar banyak dari kamu.”

“Non Puspa sudah sangat pintar melakukan pekerjaan rumah tangga. Membuat minuman, memasak dan semuanya. Walau begitu saya tidak tega meninggalkannya terlalu lama.”

“Kamu kan juga butuh ketemu anakmu, orang tuamu. Temui mereka, agar mereka tidak mengira kamu bekerja terlalu keras. Kita sudah seperti keluarga kan Bik?”

“Terima kasih banyak atas kebaikan Tuan. Sedianya setelah Nugi bekerja, saya akan berhenti bekerja, tapi ternyata saya tidak tega meninggalkan keluarga ini.”

“Terima kasih atas kebaikan kamu, Bik. Kamu benar-benar sudah seperti keluarga sendiri.”

“Iya Tuan.”

“Sekarang aku ingin bicara tentang Nugi.”

“Kenapa Tuan? Apa Nugi mengecewakan Tuan dalam menjalankan pekerjaannya?”

“Tidak, bukan masalah pekerjaan. Nugi kan sudah dewasa. Kamu sudah siap punya menantu kan?”

“Sebetulnya sih, iya. Tapi Nugi itu orangnya sulit. Dari beberapa gadis yang saya ‘tawarkan’ … tidak satupun yang menarik baginya, saya sampai bingung. Apa ya kesampaian, Nugi jadi perjaka tua?”

Tuan Sanjoyo tertawa.

“Nugi anaknya pintar, dan baik. Pasti banyak yang mau menjadikannya menantu.”

“Nuginya itu yang sulit, Tuan.”

“Barangkali dia sudah punya pilihan, tapi tidak berani mengatakannya sama orang tuanya.”

Bik Supi terdiam. Apa iya dirinya berani mengatakan bahwa yang dicintai Nugi adalah non Puspa? Iya kalau sang tuan berkenan, kalau ditolak, bahkan dengan perasaan tersinggung, bagaimana? Siapalah dirinya maka berani menjadikan non majikan menjadi menantu?

“Apa dia pernah mengatakan sesuatu? Maksudku … tentang seseorang yang disukainya?”

“Ya pernah … eh … tidak Tuan … entahlah anak itu,” bik Supi tiba-tiba hampir kelepasan bicara.

“Kalau pernah ya katakan pernah, Nugi sudah dewasa, wajar kalau dia jatuh cinta. Katakan saja, siapa gadis itu, nanti aku bantu melamar untuk dia.”

Bik Supi menundukkan wajahnya. Kalau sang tuan majikan mendengar siapa yang diinginkan Nugi, bisa habis dia.

“Tidak Tuan, Nugi itu kan hanya suka bicara seenaknya. Saya tidak tahu apa maksudnya dia.”

“Bik, aku kan hanya ingin membantu. Gadis mana dia, rumahnya di mana, nanti aku bantu melamarnya.”

“Tuan, yang diinginkan Nugi itu tidak mungkin terjadi. Nugi hanya anak pembantu, apa ada yang mau menjadikannya suami? Nugi hanya bermimpi.”

“Tidak apa-apa bermimpi, bukankah mimpi juga bisa menjadi kenyataan?”

“Ya sudah Tuan, saya akan membersihkan dapur dulu.”

“Kamu kan belum menjawab pertanyaanku, Bik?”

Bik Supi kebingungan.

“Tidak ada gunanya Tuan, keinginan Nugi hanya khayalan. Nanti akan saya carikan gadis kampung saya saja.”

“Kan tadi kamu bilang kalau semua pilihan kamu tidak ada yang mengena di hati Nugi?”

“Memang iya sih Tuan.”

“Aku kan sudah bilang kalau ingin membantu, katakan saja. Bahkan kalau Nugi menginginkan anakku, aku akan memberikannya,” kata tuan Sanjoyo karena sudah lama berbelit-belit menunggu jawaban, dan sementara itu tuan Sanjoyo sudah tahu maksudnya.

Bik Supi terbelalak menatap sang tuan majikan. Apakah dia salah dengar? Sang tuan akan memberikannya seandainya Nugi menyukai anaknya yang adalah non Puspa?

“Itu benar, Bik. Aku suka anakmu. Dia cerdas, pintas dan baik, serta bertanggung jawab. Apakah kamu tidak percaya?”

“Tuan … tu .. tuan … mau bermenantukan Nugi?”

“Tapi entah juga Bik, barangkali Nugi juga tidak suka pada anakku.”

Bik Supi mendekat dan mencium tangan sang tuan majikan. Tanpa mengucapkan apa-apa, karena air matanya sudah berjatuhan membasahi lantai.

***

Pagi hari itu bik Supi pulang kampung. Tuan Sanjoyo tidak mengatakan apapun pada Puspa tentang pembicaraannya dengan bik Supi. Ia masih menunggu reaksi Nugi setelah pastinya ibunya mengatakannya.

Puspa pamit pada sang ayah untuk belanja.

“Kamu berangkat sendiri?”

“Iya, hanya belanja. Bapak di rumah saja ya, Puspa juga akan beli sesuatu untuk kebutuhan Puspa sendiri.”

“Baiklah, hati-hati di jalan.”

***

Puspa mengendarai mobilnya pelan, menyusuri daerah pertokoan, mencari toko yang dia sukai untuk belanja keperluannya.

Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia melihat Nugi, sedang berboncengan dengan seorang gadis. Puspa mengenal gadis itu. Bukankah dia Wuri, adik kelas mereka?

***

Besok lagi ya. 

Thursday, January 29, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 48

 HANYA BAYANG BAYANG  48

(Tien Kumalasari)

 

Tuan Sanjoyo duduk di ruang tengah.

Dengan mata sembab sehabis tidur serta rambut awut-awutan, Nilam datang mendekat.

“Duduklah.”

“Maaf, Tuan. Langsung saja saya mengatakan maksud kedatangan saya.”

“Ya, memang sebaiknya langsung, aku tidak punya banyak waktu.”

“Saya ingin menanyakan, mengapa rumah saya tiba-tiba menjadi musala?”

“Rumah kamu?”

“Tentu saja rumah saya. Sertipikat rumah atas nama Priyadi, suami saya.”

Tuan Sanjoyo sudah tahu kalau sebenarnya Nilam bukan anak Priyadi. Keluarga pembohong dan penipu ini masih akan menuntut sesuatu.

“Apa Priyadi tidak mengatakan bahwa rumah itu dikembalikan kepada saya karena merasa bahwa rumah itu dibeli dan dibangun dengan cara menipu aku selama bertahun-tahun?”

“Masa iya? Tuan sudah kaya, jangan mengakali saya dengan pernyataan yang tidak mungkin itu.”

“Puspa, tolong ambilkan map hijau di dalam ruang kerja bapak,” perintahnya kepada Puspa.

Puspa yang ikut duduk diantara mereka segera berdiri dan beranjak ke kamar.

Tuan Sanjoyo menatap perempuan kumuh itu dan merasa kesal karena dia dan Priyadi menipu dengan mengatakan bahwa Nilam adalah anaknya. Barangkali juga Srikanti juga merasa dibohongi dengan kenyataan itu. Pikir tuan Sanjoyo.

Puspa kembali dengan membawa map yang diminta ayahnya.

Tuan Sanjoyo membukanya sesaat, kemudian menyerahkannya kepada Nilam.

“Itu surat-surat yang ditulis suami kamu sebelum meninggal, disaksikan beberapa penegak hukum yang ikut tanda tangan di situ.”

“Jadi ….," sepatah kata Nilam setelah membaca surat-surat yang disodorkan tuan Sanjoyo.

“Jadi … saya … tidak punya apa-apa?”

“Barang-barang yang ada di dalam rumah termasuk baju-baju dan lain-lain, aku titipkan di sebuah gudang yang aku sewa. Kamu bisa mengambil semuanya dan menjualnya untuk kelanjutan hidup kamu. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan dengan kamu.”

Nilam masih menatap tulisan yang ada di dalam map itu.

“Rumah itu juga tidak aku pergunakan untuk diriku sendiri, tapi aku jadikan tempat ibadah yang bisa dipergunakan oleh siapa saja, kecuali barang-barang yang ada di dalamnya.”

“Barang-barang itu masih ada?”

“Barang-barang yang tersisa dan semua perabot. Alamatnya ada di situ. Selembar kertas yang tersendiri, ambil dan uruslah sendiri oleh kamu.”

Gemetar tangan Nilam ketika mengambil selembar kertas bertuliskan sebuah alamat. 

"Ambil kuncinya pada orang yang memiliki gudang itu. Rumahnya jadi satu halaman. Sekarang kamu boleh pergi,” tandas tuan Sanjoyo

Nilam pergi, ada uang yang tak seberapa dari bik Supi yang tadi merasa kasihan, yang bisa dipergunakan untuk mencapai alamat yang diberikan tuan Sanjoyo.

Tuan Sanjoyo dan Puspa membiarkannya pergi, tanpa ucapan pamit, apalagi terima kasih. Mereka menatap punggung Nilam dengan berbagai perasaan yang tak bisa mereka lukiskan. Bertahun-tahun Srikanti dan kelompoknya melakukan kebohongan dan penipuan, sedangkan tuan Sanjoyo masih menganggapnya sebagai orang yang mengasihinya. Bukan main tuan Sanjoyo ini. Tak tampak luka membayang pada wajahnya yang teduh, walau bertubi-tubi duka dan kekecewaan menghantamnya.

Tuan Sanjoyo menghela napas panjang. Puspa mendekatinya lalu memeluknya.

“Semoga semuanya benar-benar berakhir,” bisik Puspa.

“Aamiin. Sekarang aku mau mandi. Bapak bau acem, kamu malah memeluk bapak,” kata tuan Sanjoyo.

“Tidak, Bapak selalu berbau wangi.”

Keduanya urung masuk ke kamar masing-masing, karena bik Supi telah menghidangkan dua gelas coklat susu panas di meja.

“Minum dulu saja Pak, keburu dingin, baru kita mandi,” kata Puspa sambil tersenyum.

***

Termangu Nilam ketika memasuki gudang yang disewa tuan Sanjoyo. Bagaimanapun tuan Sanjoyo tidak sekejam yang dibayangkan. Dia tidak pernah mengeluh karena ditipu, dia tak sampai hati mengambil semua yang ada di rumah itu. Dia hanya mengambil rumahnya yang kemudian dijadikannya musala, tapi barang-barang yang ada di dalamnya dia tak mau mengambilnya. Dibela-belain menyewa gudang untuk tempat barang-barang itu, agar kalau kerabat Priyadi menanyakannya, masih bisa memiliki barang-barangnya.

Tak terasa air mata Nilam menitik. Betapapun busuk hatinya, mengetahui sikap tuan Sanjoyo yang masih tak tega merampas semua barang-barang yang ada di dalamnya, membuat Nilam merasa sangat tersentuh, kemudian menyadari betapa jahat Srikanti, bahkan suaminya, yang begitu tega menyakiti orang sebaik tuan Sanjoyo.

Ada almari, tempat tidur, peralatan dapur, barang-barang pecah belah, baju-bajunya, baju Priyadi, bahkan ada baju Srikanti beberapa potong juga ada.

Tak ada yang bisa Nilam lakukan. Ia butuh melanjutkan hidupnya, dan dengan menjual barang-barang itu barangkali ia bisa mempergunakannya untuk berusaha sesuatu. Berdagang, atau berjualan, siapa tahu dia bisa melakukannya. Pemikiran serakah yang semula memenuhi jiwanya karena merasa memiliki rumah seisinya warisan Priyadi, buyar sudah. Ia bahkan sadar, ketika orang yang diperlakukan kejam dan jahat, justru berbuat baik.

“Aku harus melakukan sesuatu untuk hidupku, sesuatu yang baik. Semoga barang-barang ini bisa aku jadikan modal,” pikir Nilam dengan hati mantap.

“Terima kasih tuan Sanjoyo, telah membekali hidupku walau tidak sebanyak yang aku bayangkan. Semoga aku bisa menjalani hidup lebih baik,” bisiknya sambil menitikkan air mata.

Ternyata sikap tuan Sanjoyo yang memperhatikan kehidupan seseorang, bisa mengubah perilaku seseorang tersebut.

***

Puspa bersiap pulang dari kantor. Setelah bekerja mendampingi sang ayah, Puspa selalu berangkat dan pulang bareng ayahnya. Nugi yang sebenarnya diminta untuk datang ke rumah keluarga  Sanjoyo, lalu berangkat dan pulang bersama-sama, menolaknya. Dia memilih naik sepeda motor bututnya, walau dia sudah dilantik menjadi wakil manager.

Pada awalnya Nugi masih bersikap biasa saja terhadap Puspa, walau tidak begitu apa yang dirasakannya di dalam hati. Tapi perbedaan status, lalu ingatan tentang perkataan Srikanti saat beberapa waktu lalu berucap, masih terngiang di telinganya. Memang sih Puspa sudah minta maaf, dan dia mengatakan kalau tidak apa-apa, tapi semakin dipikirkan, semakin dia ingin menjauh dari kehidupan Puspa. Hanya saja sayangnya setiap hari dia harus bertemu karena berada dalam satu kantor, sehingga sulit baginya untuk melupakannya.

Siang hari itu Nugi makan di kantin.

Dan karena sang ayah sedang makan bersama tamu bisnisnya, Puspa memilih makan di kantin. Ia melihat Nugi, lalu duduk di depannya.

“Kok makan sendiri Nug?”

“Iya, aku makan belakangan, karena ada yang belum aku selesaikan.”

“Pesan apa tuh?”

“Biasa, nasi soto. Kamu sudah pesan?”

“Aku mau pesan sama seperti kamu saja.”

Lalu Puspa memesan nasi soto dan segelas teh manis, seperti yang dipesan Nugi.

Agak lama mereka berdiam diri, masing-masing bingung apa yang sebaiknya dikatakan untuk membuka percakapan.

“Kamu tidak menengok ibumu?” akhirnya itulah yang dikatakan Puspa.

“Tidak untuk sekarang ini. Bukankah Minggu kemarin ibuku baru pulang ke kampung?”

“Iya, itu benar. Tapi ketemu setiap hari kan tidak ada salahnya.”

“Tidak apa-apa, kalau aku mampir ke sana, nenekku pasti bingung menunggu. Dia sudah tua, dan temannya cuma aku.”

“Nanti akan aku minta agar bik Supi sering-sering pulang kampung.”

Nugi hanya tersenyum.

“Nugi, mengapa akhir-akhir ini kamu kelihatan aneh?”

“Aneh? Apa aku punya tanduk?” canda Nugi yang tidak membuat Puspa tidak tertawa seperti biasanya.

“Kelihatan sekali kalau kamu menjauhi aku.”

“Aku hanya takut mengganggu.”

“Masa? Biasanya kamu melihat aku selalu terganggu ya?”

“Entahlah. Sebenarnya aku biasa-biasa saja. Mengapa kamu berpikiran lain? Puspa, aku dan kamu itu bagai bumi dan langit, kalau kita terlalu dekat, apa kata orang nanti,” akhirnya Nugi mengucapkan kata-kata yang sudah lama dipendamnya.

“Apa maksudmu bumi dan langit? Aku adalah teman kamu, kamu lupa?”

“Tidak lupa, tapi aku mohon kamu bisa mengerti. Aku hanya menjaga martabat kamu.”

“Kamu bicara tidak karuan. Menjaga martabat apa? Aku tidak malu atau tidak berasa menjadi rendah kalau bergaul dengan siapapun yang ada di bawah aku.”

“Aku tahu, tapi tidak semua orang bisa menerima itu.”

Tiba-tiba ponsel Nugi berdering, Nugi mengangkatnya, tanpa menyebutkan nama penelpon, tapi itu adalah sebuah perjanjian pertemuan.

“Iya, aku ingat, aku samperin kamu sekitar jam sepuluh. Tidak, tidak repot. Kan besok hari Minggu, jadi aku tidak punya pekerjaan.”

Ketika Nugi selesai menelpon, dia melihat Puspa sudah tidak lagi duduk di kursi sebelumnya.

***

Besok lagi ya.

 

 

 

Wednesday, January 28, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 47

 HANYA BAYANG BAYANG 47

(Tien Kumalasari)

 

Salah seorang laki-laki yang sedang menyiram tanaman menoleh ketika mendengar teriakan Nilam.

“Hei, apa kamu tuli? Ini apa-apaan?”

“Apa maksudnya Bu?”

“Ini rumahku, mengapa dijadikan seperti ini?” Nilam masih berteriak.

“Lha saya tidak tahu Bu, saya hanya mendapat tugas merawat tanaman di sekitar musala ini.”

“Ini rumahku, siapa yang menyuruh merubahnya menjadi musala?”

Seorang laki-laki setengah tua muncul dari dalam, mendekat karena mendengar teriakan Nilam.

“Ada apa ya?”

“Ini pak Haji, ibu ini marah-marah, katanya rumah ini miliknya, mengapa dijadikan musala.”

“Ibu siapa ya?” laki-laki setengah tua itu bertanya kepada Nilam yang sekarang berkacak pinggang tanpa rasa hormat.

“Apa Bapak tidak mendengar? Tukang bersih-bersih itu kan sudah mengatakannya. Saya pemilik rumah ini, mengapa tiba-tiba bisa jadi musala?”

“Bagaimana mungkin Ibu bisa mengatakan bahwa ini rumah Ibu? Musala ini dibangun dua tahunan yang lalu. Ini rumah tuan Sanjoyo yang dihibahkan untuk menjadi musala.”

“Apa maksudnya? Ini rumah Priyadi, suami saya. Kok bisa-bisanya menjadi milik tuan Sanjoyo. Ada sertipikatnya di dalam rumah ini tadinya. Lha sekarang mana barang-barang saya, berikut surat tanah itu? Tuan Sanjoyo itu orang kaya. Bisa-bisanya merampas hak orang lain? Saya akan melaporkannya pada polisi,” teriakan itu tak kunjung reda.

“Ibu jangan berteriak di sini. Sepertinya ibu juga mengenal tuan Sanjoyo, jadi bicaralah dengan tuan Sanjoyo. Saya, kami ini hanya mendapat tugas mengelola tempat ibadah ini, saya tidak tahu menahu tentang sertipikat atau apa-apa yang kata Ibu menjadi milik suami Ibu.”

“Kurangajar benar. Baik, saya akan melaporkan ini kepada polisi.”

“Sebelum Ibu melapor, lebih baik Ibu menemui tuan Sanjoyo dulu, siapa tahu ada yang bisa Ibu dengar dari beliau tentang musala ini.”

Tanpa menjawab lagi, Nilam segera membalikkan tubuhnya. Ia harus menemui tuan Sanjoyo karena ia merasa bahwa rumah ini milik suaminya yang bernama Priyadi.

Sepeninggal Nilam, pak tua yang disebut pak Haji itu geleng-geleng kepala.

“Orang cantik tapi nggak punya adab. Ngomong sambil berkacak pinggang. Pejabatpun nggak akan melakukan hal seperti itu,” omel si tukang kebun.

“Dunia ini kan macam-macam. Lanjutkan pekerjaan kamu, biar dia mengurus hak kepemilikan itu sendiri. Sepertinya dia bukan orang baik-baik. Semoga Allah mengampuni dosanya,” kata pak Kyai sambil kembali masuk ke dalam musala.

***

Siang hari itu bik Supi sedang memasak di dapur. Ia sedang memikirkan apa yang dikatakan anaknya kemarin malam.

Saat itu bik Supi sedang pulang kampung bertemu dengan ibunya, dan tentu saja Nugi. Ia melihat wajah Nugi yang muram, tidak seperti biasanya. Bik Supi mendekat dan menepuk bahunya.

“Ada apa le? Kamu memikirkan apa?”

Nugi menatap sang ibu .

“Bu, apakah jatuh cinta itu salah?”

“Apa maksudmu Nugi? Jatuh cinta tak ada yang salah. Siapa menyalahkannya?”

Nugi tersenyum.

“Kamu sedang jatuh cinta? Kamu sudah dewasa, sudah saatnya memiliki istri. Kamu juga sudah bekerja dan mapan. Bisa memperbaiki rumah simbahmu yang sudah lapuk, dan bisa menyenangkan dia.”

“Sayangnya perasaan Nugi ini jatuh di tempat yang salah.”

“Bagaimana sih kamu ini? Jatuh di tempat yang salah itu bagaimana?”

“Nugi mencintai non Puspa.”

Bik Supi terbelalak. Ia mengira Nugi dan Puspa hanyalah teman biasa yang sangat dekat karena kuliah di tempat yang sama. Bik Supi tak pernah mimpi sang anak bisa berdampingan dengan Puspa. Siapa dirinya dan siapa tuan Sanjoyo. Bik Supi benar-benar tak pernah membayangkannya.

“Nugi, apa kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu itu hanya anakku, non Puspa itu nona majikanku.”

“Itulah yang membuat Nugi sedih.”

“Sadarilah siapa dirimu, dan endapkan perasaan kamu. Di kampung ini banyak gadis-gadis cantik yang pasti tak akan menolak dipersunting olehmu. Jangan meraih bintang Nugi, itu kan hal yang tak mungkin.”

“Iya Bu.”

“Ada anak pak Wiro yang baru saja lulus sekolah guru. Dia cantik dan lembut, kamu pasti sudah mengenalnya. Mirah, kamu ingat Mirah kan?”

“Ingat Bu, tapi Nugi tidak tertarik pada dia.”

“Cinta itu bisa tumbuh perlahan. Sekarang kamu tidak perhatian, besok kamu pasti bisa mencintainya.”

Nugi menghela napas panjang.

“Nugi belum memikirkan istri Bu. Biarkan saja begini.”

Bik Supi sadar dari lamunan, ia sampai lupa memasukkan sayur sementara air di panci sudah mendidih. Apa yang diutarakan anak laki-lakinya membuatnya terus memikirkannya. Nugi juga menolak gadis yang diusulkannya, padahal dia cantik dan baik.

“Masa mencintai majikan? Seperti pungguk merindukan bulan, kan? Ah, Nugi … Nugi. Kamu ini membuat ibumu ini bingung saja. Habis wajahmu jadi murung begitu." katanya sambil memasukkan sayur ke dalam panci.

Tiba-tiba seseorang muncul di dapur, membuatnya sangat terkejut.

“Nilam?”

“Bagus bik Supi masih mengingat aku.”

“Tentu saja ingat, tapi bukankah kamu …. “

“Aku dipenjara? Iya. Ini gara-gara bekas majikan perempuan kamu yang jahat itu.”

Bik Supi terperangah. Nilam dulu sangat pendiam, kalau di rumah itu tak pernah banyak bicara. Ia datang bersama Priyadi, sarapan, lalu berangkat ke kantor bersama tuan Sanjoyo, karena Priyadi memang sopir tuan Sanjoyo. Sekarang dia bisa berkata sekasar itu?

”Sekarang aku sudah bebas. Mana tuan Sanjoyo?”

“Lho, siang-siang begini mencari tuan Sanjoyo? Pastinya tuan ada di kantor. Kalau mau ketemu nanti sore saja.”

“Kelamaan menunggu, aku butuh bicara sama dia, segera.”

“Ya tidak bisa, nanti sore tuan baru pulang. Apa kamu mau menunggu, atau menyusul ke kantor?”

“Ke sana naik apa? Aku tidak punya uang.”

“Kalau begitu tunggu saja di sini sampai tuan datang.”

“Tapi aku lapar, ada makanan tidak?”

“Aku sedang masak, tapi ada sisa makanan tadi pagi, sisa sarapan. Bukan makanan sisa sih, masih aku simpan, tadinya mau aku makan setelah memasak. Kalau kamu mau, aku keluarkan dari almari.”

“Ya sudah, aku mau. Aku lapar dan tidak punya uang. Kalau bibik punya, bolehkah aku minta uang? Aku tidak punya apa-apa,” kali ini ia tampak memelas.

“Baiklah, makanlah dulu, akan aku siapkan. Aku punya uang, meskipun tidak banyak, nanti aku berikan sama kamu.”

Nilam mengangguk, lalu duduk begitu saja di kursi dapur, sementara bik Supi mengambilkan makanan untuknya.

***

Siang hari itu tuan Sanjoyo makan bersama Puspa di luar, sementara Nugi menolak makan bersama mereka. Ia memilih makan di kantin dengan berbagai alasan.

Puspa tampak tak berselera, dan wajah muram itu tertangkap oleh tuan Sanjoyo.

“Ada apa denganmu? Apa karena Nugi tak mau makan bersama kita, siang hari ini?”

“Akhir-akhir ini Nugi tampak selalu berusaha menjauh dari Puspa, entah mengapa.”

“Mungkin dia sedang sibuk, atau sedang banyak pikiran.”

“Biasanya tidak begitu.”

“Mengapa kamu risau seandainya benar dia menjauh dari kamu?”

“Hanya merasa tidak enak saja.”

“Bapak sudah tahu apa yang kamu rasakan.”

Puspa mengangkat wajahnya. Apakah sang ayah masih ingat olok-olok kakak-kakaknya tentang dirinya dan Nugi? Padahal sekalipun Nugi tidak pernah mengatakan perasaannya terhadap dirinya.

“Kamu menyukai Nugi kan?”

Puspa menghela napas.

“Dulu, ketika Puspa menengok ibu di penjara, ibu marah-marah dan mengatai hal yang menyakitkan. Padahal Nugi dan Puspa merasa hanya berteman. Ibu tiba-tiba mengatakan kalau tidak sudi berbesan dengan pembantu. Pastilah sakit hati Nugi.”

“Ibumu selalu kasar dan tidak pernah menghargai orang. Dulu kalau marah pada bik Supi juga pasti mengeluarkan kata-kata yang tidak enak, untunglah bik Supi sabar. Kalau tidak pasti dia sudah kabur sejak lama.”

“Puspa sudah minta maaf pada Nugi. Pada awalnya, Nugi masih bersikap baik setelahnya. Tapi akhir-akhir ini tampak sekali dia berusaha menjauhi Puspa.”

“Kamu mencintainya?”

Puspa tersipu, dia tak menjawab apapun kecuali melanjutkan makan siangnya.

“Cinta itu kan tidak salah. Mengapa kalian saling mengingkari perasaan?”

“Masa Puspa harus mengatakan cinta lebih dulu? Nugi tidak pernah mengatakan apapun, walau sikapnya menunjukkan itu. Tapi dulu, sekarang sikapnya berbeda. Barang kali lama kelamaan dia semakin berpikir bahwa Puspa tidak seharusnya disukai, apalagi dicintai.”

“Gara-gara dia merasa bahwa dia anaknya bik Supi?”

“Pastilah Pak.”

“Nanti bapak akan bicara sama dia.”

“Jangan Pak.”

“Kok jangan? Bapak hanya ingin menilai seberapa besar perasaan cinta Nugi terhadapmu, seandainya benar dia juga mencintaimu. Kamu jangan khawatir, bapak tidak akan merendahkan kamu di hadapannya.”

***

Puspa terkejut, ketika dia mengambil air minum di dapur, melihat seseorang tidur terbujur di bangku dapur yang panjang.

“Bik … dia …”

“Dia Nilam.”

“Nilam?”

“Baru keluar dari penjara, ingin menemui tuan. Tadi dia kelaparan dan bilang tak punya uang. Sejak siang dia ada di sini.”

Puspa membalikkan tubuhnya, menemui sang ayah yang baru saja masuk ke kamarnya.

“Pak, di dapur ada Nilam.”

“Nilam? Sudah keluar dari penjara?”

“Sudah sejak siang, kata bik Supi.”

“Suruh bibik membangunkan, aku tunggu di sini, dia mau bilang apa.”

***

Besok lagi ya.

Tuesday, January 27, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 46

 HANYA BAYANG BAYANG  46

(Tien Kumalasari)

 

Gemetar tangan Puspa ketika membuka amplop hasil pemeriksaan DNA. Ada harapan yang selalu menjadi dambaannya setiap saat, yaitu bahwa seyogyanya ia adalah putri tuan Sanjoyo.

Melihat kegelisahan Puspa, tuan Sanjoyo merangkul pundak Puspa.

"Tak ada yang harus kamu takutkan. Kamu adalah Puspawati Sanjoyo. Tak ada yang bisa merubahnya."

Puspa menatap sang ayah dengan genangan air mata di pelupuknya. Lalu dengan masih gemetar ia membuka amplopnya dan menarik kertas hasil lab itu.

Tiba2 air matanya turun semakin deras. Kertas yang dibacanya meluncur begitu saja ke lantai.

Tuan Sanjoyo tak berniat mengambil surat laporan itu. Apapun hasilnya tak akan mempengaruhi isi hatinya. Puspa adalah anak Sanjoyo, apapun yang terjadi.

Puspa menatap sang ayah dengan cucuran air mata yang semakin deras.

"Puspa, apa yang kamu takutkan? Kamu tetap putri Sanjoyo. Apapun hasilnya."

Tiba-tiba Puspa menghambur ke pelukan sang ayah. Tangisnya tak terbendung.

"Kamu anak Sanjoyo, kamu anakku, tak ada yang harus kamu takutkan."

"Bapak ... Puspa memang putri Bapak ... Puspa putri Sanjoyo."

"Bapak tak akan pernah ingkar. Kamu tetap anakku. Apapun hasil tes itu."

"Apa Bapak tahu? Hasil lab itu mengatakan bahwa Puspa memang anak Bapak. Putri Bapak. Bukan anak Priyadi."

Tuan Sanjoyo membelalakkan matanya yang berbinar. Puspa mengangguk sambil tersenyum walau matanya masih basah.

Perlahan tuan Sanjoyo membungkuk, mengambil hasil lab yang tadi terjatuh. Tak urung ingin sekali dia melihat hasil itu. Lalu ia merengkuh Puspa dan memeluknya erat.

“Kamu adalah anakku, darah yang mengalir di tubuhmu adalah darahku,” kata tuan Sanjoyo dengan gemetar.

***

Berita yang kemudian dikirimkan tuan Sanjoyo kepada Sekar segera sampai juga ke telinga Suroto dan Suwondo, suaminya. Mereka sangat gembira, dan bermaksud merayakannya dengan jalan-jalan ke sebuah tempat yang indah dan menyejukkan.

Mereka sudah merancang kepergian itu  walau masih dengan saling menelpon.

“Bolehkah aku mengajak Nugi?” kata Puspa setelah bertemu dengan kakak-kakaknya.

Sekar menatap sang adik dengan senyum penuh arti, membuat Puspa tertunduk malu.

“Memangnya ada apa?” tanya sang ayah.

" Ajak saja Nugi, karena dia juga keluarga kita, dan bik Supi juga akan kita ajak serta bukan?”

“Bapak belum tahu ya? Puspa itu_”

Tiba-tiba Puspa menutup mulut sang kakak dengan telapak tangannya.

“Mmmmh … mmmh.”

“Baiklah aku saja yang mengatakannya, karena Puspa menutup mulut Sekar. Bapak, Puspa dan Nugi itu ada cinta,” kata Suroto sambil terkekeh.

“Kalimat kamu nggak jelas, Roto, harusnya begini, Puspa dan Nugi saling merasa cinta, begitu,” sambung Suwondo.

“Bohong.” kata Puspa sambil menjerit.

“Bapak jangan percaya, kami baru berteman.”

Tuan Sanjoyo tersenyum.

 “Baiklah, biarkan kakak-kakak kamu berkata sapa saja, bukankah perkataan adalah doa? Siapa tahu ada malaikat lewat yang mengamininya.”

Semuanya tertawa senang, tapi Puspa cemberut sambil mencubit lengan sang ayah.

“Bapak kok nggak bantuin Puspa sih?”

“Tidak apa-apa, mereka bercanda, canda yang menyenangkan.”

“Tapi sungguh, kami hanya berteman," kata Puspa yang begitu senang karena tak tampak penolakan pada ayahnya.

“Teman dekat kan?” ledek Sekar lagi. Ia tentu saja tahu apa sebenarnya isi hati adiknya, karena jauh hari sebelumnya Puspa sudah mengeluh kepada sang kakak tentang isi hatinya yang dipendamnya, yaitu bahwa dia menyukai seseorang, dan seseorang itu adalah Nugi.

“Ya sudah, jangan bercanda saja, segera siapkan semuanya, Minggu depan nanti kita jalan-jalan, jangan lupa ajak bik Supi, dan tentu saja Nugi,” kata tuan Sanjoyo.

“Siaaap, Bapak,” teriak mereka serempak.

***

Tapi ketika Puspa mengatakan rencana itu kepada Nugi, bukannya Nugi menanggapi ajakan Puspa, tapi malah menegur Puspa yang tidak peduli kepada ibunya yang berada di dalam penjara.

“Bagaimanapun dia adalah ibumu, wanita yang telah melahirkanmu dengan taruhan nyawa. Betapapun buruknya dia, tapi ikatan antara ibu dan anak tidak bisa terhapus begitu saja.”

Puspa menatap Nugi tanpa berkedip. Sudah banyak Nugi mengatakan sesuatu kalau dirinya berbuat salah, dan sekarang dia menegurnya yang seperti tak peduli kepada Ibunya.

“Kamu jangan salah, disetiap doaku, aku selalu memohonkan ampun bagi ibuku, tak pernah lupa,” kata Puspa membela diri.

“Tunjukkan padanya bahwa kamu peduli.”

“Apa yang harus aku lakukan lagi?”

“Temui dia, dan ungkapkan isi hati kamu, dan katakan bahwa kamu sebenarnya menyayangi dia.”

Puspa menghela napas. Diakuinya, sejak dia mengetahui tentang hubungan sang ibu dengan Priyadi, dia sangat membenci ibunya. Ibu yang mencintai suaminya dengan cinta palsu. Yang hanya pura-pura sayang karena ingin menghisap hartanya dengan segala tipu daya. Dan sang ayah yang begitu tulus mencintainya, tak sadar akan kebohongan yang dilakukannya. Pasti sang ayah merasa, betapa bodoh dirinya. Pasti sang ayah juga terluka, walau dengan bijak menutupinya dengan senyuman tulus terhadap anak-anaknya. Benarkah hati ayahnya sekokoh batu karang yang tak goyah walau ombak menerjangnya.

“Puspa, kenapa diam? Apa perkataanku salah?”

“Tidak, Nugi. Kamu adalah laki-laki terbaik yang banyak petuah untuk hidupku. Aku berubah karena kamu.”

“Lalu apa pendapat kamu tentang apa yang baru saja aku katakan? Kalau aku salah, abaikan saja, aku tidak mungkin memaksa kamu melakukannya.”

“Tidak Nugi, kamu benar. Kamu selalu benar.”

“Jangan begitu, katakan dengan nurani kamu.”

“Seluruh nuraniku mengatakan itu. Tapi aku mohon, temani aku menemui ibuku di penjara.”

“Baiklah. Kapan?”

“Nanti waktu istirahat siang ya, aku mau pamit bapak dulu.”

“Baik. Aku selesaikan dulu pekerjaan aku."

***

Sang ayah setuju saja, dan memuji sifat baik Nugi yang memberi saran yang sangat bagus untuk Puspa. Memang sesungguhnya bekas suami itu ada, tapi bekas anak tidak ada, karenanya ia mendukung keinginan Puspa yang ingin menemui ibunya di penjara.

“Itu bagus, bagaimanapun dia adalah ibumu. Perempuan yang melahirkan kamu. Betapapun buruknya dia, dia tetap ibumu.”

“Nanti saya akan mengajak Nugi ya Pak.”

“Terserah saja kalau Nugi mau. Dia kan dengan sendirinya sudah tahu apa yang terjadi di keluarga kita, karena dia anak bik Supi yang sudah mengetahui masalah itu, malah sudah bertahun-tahun lalu.”

“Nugi sudah mengatakan kalau dia bersedia, jadi mohon ijin kalau nanti kami kembali ke kantor agak terlambat.”

Tuan Sanjoyo mengangguk. Ia merasa iba menatap Puspa, yang pasti batinnya sakit menyadari bahwa dia terlahir dari rahim seorang ibu yang penuh dosa.

“Semoga Allah mengampuninya,” bisik tuan Sanjoyo pelan.

***

Sementara itu Srikanti yang melihat Puspa menemuinya, begitu senang sekaligus terharu. Selama ini tak ada yang menjenguknya atau melihat keadaannya, karena dia memang tidak punya siapa-siapa. Dia juga tak mungkin mengharapkan tuan Sanjoyo datang melihatnya, karena dia sudah diusir dan diceraikannya. Karena itu kedatangan Puspa sangat membuatnya senang dan bahagia.

“Syukurlah kamu masih mengingat ibumu, Puspa. Ibu yang penuh dosa ini tidak pantas diperhatikan oleh siapapun.”

“Kalau ibu menyadari bahwa Ibu penuh dosa, selalulah bersujud kepadaNya, dan mohon ampun atas semua kesalahan yang pernah Ibu perbuat.”

“Iya, ibu akan melakukannya. Terima kasih kamu bersedia menemui ibumu ini.”

“Puspa selalu berdoa untuk Ibu.”

“Apa kamu juga mendengar kalau Priyadi sudah meninggal?”

“Iya.”

“Apa kamu tahu bahwa sesungguhnya dia adalah ayah kamu?” tiba-tiba kata Srikanti.

“Tidak Bu, dia juga mengatakannya, tapi dia bohong.”

“Mengapa kamu mengira bahwa dia bohong?”

“Puspa sudah tes DNA, dan hasilnya adalah bahwa Puspa anaknya bapak Sanjoyo. Mengapa ibu juga mengatakan itu?”

Srikanti menundukkan muka.

“Ibu sudah banyak dosa, jangan menambah lagi dengan dosa yang lain. Mengapa Ibu masih ingin berbohong lagi?”

“Puspa, sesungguhnya ketika ibu dinikahi tuan Sanjoyo, ibu memang sedang mengandung anak Priyadi. Tapi kemudian ibu keguguran.”

“Mengapa Priyadi bersikeras bahwa Puspa adalah anaknya?”

“Ibu tidak berterus terang pada Priyadi bahwa ibu keguguran. Ibu takut dia marah dan meninggalkan ibu.”

“Mengapa?”

“Kami adalah orang-orang jahat Puspa, ketika ibu hamil, Priyadi berharap bayi yang ibu lahirkan akan bisa mewarisi kekayaan tuan Sanjoyo, dan tentu saja akan membuat hidup Priyadi lebih bergelimang harta. Lalu kami akan menikah setelah aku minta cerai dari ayahmu. Kalau ibu mengatakan telah keguguran, ibu takut Priyadi marah, lalu meninggalkan ibu. Ibu begitu mencintainya. Jadi ketika ibu hamil lagi, dia mengira bahwa bayi itu adalah benih yang ditanamnya.”

Puspa menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar sebuah kejahatan yang telah ditata rapi. Tapi Allah tidak mengijinkan sehingga semua impian mereka hanyalah bayang-bayang.

Lalu tiba-tiba Srikanti melihat laki-laki yang duduk di kursi agak jauh dari mereka.

“Kamu datang bersama dia?”

“Iya Bu, namanya Nugi,” kata Puspa sambil melambaikan tangan ke arah Nugi, meminta agar Nugi mendekat.

Nugipun mendekat, meraih tangan Srikanti dan menciumnya.

“Apa dia pacar kamu?” tanya Srikanti sambil menatap tajam anaknya.

Puspa menatap Nugi yang menundukkan kepalanya, tersipu. Sesungguhnya Nugi juga mencintai Puspa, namun merasa bahwa dirinya sangat tidak pantas, karena dia hanyalah anak bik Supi.

“Mengapa kalian diam? Pacaran tidak? Anak ini begitu ganteng, ibu suka.”

“Tapi saya tidak berani Bu, saya hanya anak pembantu.”

“Kamu anak pembantu?”

“Saya anak bik Supi,” lirih ketika Nugi mengatakannya dengan terus terang.

“Apa? Kamu anak Supi pembantu aku? Tidak boleh, Puspa, aku tidak mau berbesan dengan pembantu,” teriak Srikanti, yang kemudian membuat beberapa polisi penjaga menoleh kearah mereka.

“Bu, mengapa Ibu berkata begitu?”

Sementara itu polisi meminta agar pertemuan diakhiri, dan Srikanti yang masih mengomel panjang pendek dibawa masuk kembali.

Puspa menarik tangan Nugi, dan menatapnya dengan penuh perasaan bersalah.

***

Nilam memang tidak mendapat hukuman seberat Srikanti. Ia tidak banyak tahu tentang kejahatan Srikanti, kecuali hanya dimanjakan oleh Priyadi dengan memenuhi semua permintaannya. Ia bersalah karena tahu bahwa itu uang yang berasal dari kebohongan, karena itu ia juga ikut dipenjara, walau vonisnya lebih ringan.

Tiga tahun yang dijalaninya sudah selesai, lalu dia keluar dengan perasaan penuh suka cita. Bayangan tentang memiliki rumah dan semua isinya, membuatnya ingin menari-nari di setiap langkahnya.

Tapi ketika dia sampai di tempat tujuan, ia tidak mendapatkan rumah itu lagi. Rumah itu sudah menjadi masjid kecil yang megah, dan beberapa orang tampak orang sedang membersihkan tempat itu.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak Nilam.

***

Besok lagi ya.

BIARKAN AKU MEMILIH 28

  BIARKAN AKU MEMILIH  28 (Tien Kumalasari)   Bibik pembantu justru berteriak lebih dulu. “Nyonya, itu kan tuan?” Dwi menatap kedatangan sua...