Wednesday, January 21, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 42

 HANYA BAYANG BAYANG  42

(Tien Kumalasari)

 

Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu membawanya sebelum Priyadi suaminya datang. Tapi tentu saja petugas itu tak mau menuruti kemauan Nilam.

“Ibu saya bawa dulu saja, suami ibu akan ada yang menunggunya di sini, agar nanti menyusul.”

“Jangan, tolonglah, saya sedang hamil, saya tak bisa pergi tanpa suami saya.”

“Mohon maaf, kalaupun Ibu tidak bersedia, kami harus memaksanya.”

“Suami saya pasti mencari saya.”

“Tidak Bu, nanti akan ada yang menunggu di sini, Ibu jangan khawatir. Kami sudah menunggu terlalu lama.”

Walaupun Nilam menolak, petugas tetap membawanya pergi. Teriakan dan tangis Nilam tak sedikitpun menggoyahkan hati para petugas.

Sementara itu Priyadi sangat menyesal telah melapor ke polisi bahwa dia mencurigai Srikanti. Dugaannya benar, bahwa Srikanti pasti akan membawanya berurusan dengan yang berwajib. Perkara pencurian itu akhirnya akan membuka tabir hitam tempat mereka bersenang-senang. Buktinya Srikanti tidak tinggal diam. Dia menyebut namanya dan juga Nilam, sehingga mereka juga akan menangkapnya. Tanpa memikirkan Nilam yang sudah pasti dibawa para polisi, Priyadi justru tidak mau pulang. Ia bersembunyi dari kejaran, mencari jalan agar lolos dari jeratan hukum, lalu harus meringkuk di balik jeruji besi.

Priyadi menyesal, uang di kantongnya tak banyak. Yang banyak sudah lenyap dan pasti sudah dibawa Srikanti. Ia bingung mau lari ke mana. Bungkusan nasi pesanan Nilam masih dibawanya, tapi dia bingung, apa yang akan dilakukannya.

***

Berita tentang ditangkapnya Nilam segera terdengar oleh tuan Sanjoyo, karena Nilam mengaku bekerja di perusahaan milik tuan Sanjoyo. Tapi Priyadi masih buron hingga saat itu. Tuan Sanjoyo sudah tahu juga bahwa Srikanti ditangkap sebelumnya.

Ketika Puspa datang ke kantor bersama Nugi, tuan Sanjoyo mengatakan semuanya.

“Bapak tidak bermaksud melaporkan mereka kepada polisi, dan mengikhlaskan semua pengkhianatan dan penipuan yang mereka lakukan selama bertahun-tahun. Tapi Allah menunjukkan jalan lain, agar mereka yang melakukan kejahatan segera menerima hukumannya.”

Puspa menundukkan mukanya. Ada sedih yang tersirat. Bagaimanapun Srikanti adalah ibu kandungnya.

“Doakan saja ibumu, agar segera menyadari bahwa jalan yang ditempuhnya adalah salah.”

Puspa mengangguk.

“Baiklah, aku sampai lupa ada orang lain di sini. Tapi aku yakin bik Supi yang sudah mengetahui semuanya sudah mengatakannya kepadamu, bukan begitu, Nugi?” kata tuan Sanjoyo kepada Nugi yang pastinya mendengar apa yang dikatakan tuan Sanjoyo. Ia menatap Puspa yang menundukkan wajahnya, dan merasa iba. Ini adalah cobaan terberat yang harus diterimanya.

“Saya hanya mendengar sekilas, Tuan. Dalam hidup, terkadang memang harus ada sandungan. Saya berharap semuanya akan baik-baik saja, terutama bagi non Puspa.”

Puspa menatap Nugi dengan pandangan penuh rasa terima kasih.

“Aku senang mendengar jawaban kamu. Hal itu menunjukkan bahwa kamu lebih dewasa dalam berpikir.”

“Terima kasih, Tuan.”

“Jangan memanggil aku tuan, kamu akan menjadi karyawan aku bukan?”

Nugi menatap tuan Sanjoyo. Benarkah dirinya akan menjadi karyawan di kantor tuan Sanjoyo?

“Sesuai dengan kelulusan kamu, kamu akan aku tempatkan di bagian keuangan. Untuk beberapa bulan kedepan, kamu harus mempelajari semuanya, sebelum aku menentukan posisi yang tepat.”

“Jadi … “

“Untuk formalitas, besok datang kemari membawa berkas lamaran.”

Puspa menatap sang ayah, sambil mengucapkan terima kasih.

“Aku yang harus berterima kasih, non Puspa. Bukan hanya kepada tuan Sanjoyo, tapi juga kepadamu, yang membawaku kemari.”

“Sudah selayaknya aku melakukannya, karena kita sahabat, bukan?”

“Pokoknya aku harus mengucapkan terima kasih, ini sangat luar biasa untuk aku dan kehidupanku.”

“Baiklah, tadi bapak melarang memanggilnya tuan, sekarang aku melarangmu memanggil aku non. Panggil aku seperti biasanya. Okey.”

Tuan Sanjoyo senang, melihat Puspa tersenyum. Ia menangkap sesuatu yang ada diantara keduanya. Mengapa tidak? Kalau memang Nugi adalah laki-laki baik dan bisa menjadi pelindung Puspa, mencintainya dengan sepenuh jiwa, tuan Sanjoyo akan mengijinkannya seandainya benar mereka saling menyukai. Tapi semua kan belum jelas? Tidak masalah, biarlah mereka bekerja dulu dan saling mengerti satu sama lain.

"Puspa, ayo kita ajak Nugi melihat-lihat kantor kita,” ajak tuan Sanjoyo.

Puspa mengangguk, lalu memberi isyarat Nugi agar mengikuti sang ayah berkeliling kantor.

***

Sekar sedang menelpon Suroto adiknya. Ia mendengar dari sang ayah bahwa Srikanti ditangkap polisi, demikian juga Nilam. Tapi Priyadi masih buron.

“Apakah bapak melaporkannya?”

“Tidak, kamu seperti tidak tahu bagaimana bapak, mana mungkin bapak tega melaporkan mereka. Bapak selalu bilang ikhlas .. ikhlas … terus.”

“Bagaimana mereka bisa ditangkap polisi?”

“Entahlah, sepertinya Srikanti pada awalnya ditahan akibat pencurian yang dilakukannya, lalu tiba-tiba Nilam juga ditangkap. Tapi entah ke mana perginya Priyadi.”

“Mungkin setelah diusir dari rumah oleh bapak, Srikanti pulang ke rumah itu, dan mengambil semua barang berharga, lalu Priyadi melaporkannya ke polisi. Dan Srikanti yang sudah ter sudut, mau tidak mau membeberkan semuanya, sehingga polisipun menangkap Priyadi dan Nilam. Sayangnya Priyadi berhasil kabur.”

“Agak rumit juga, entah bagaimana cerita sesungguhnya, tapi tampaknya sudah saatnya mereka menuai buah dari pohon yang ditanamnya.”

“Bagaimana kabar Puspa?”

“Dia belum menelpon kamu? Dia lulus, dan sekarang dia membawa Nugi, anak bik Supi yang lulus bersama Puspa, untuk bertemu bapak.”

“Maksudnya mencarikan pekerjaan untuk Nugi di kantor bapak?”

“Begitulah, dan aku sudah tahu sejak lama kalau Puspa suka pada anak itu.”

“Pada anak bik Supi? Apa ibunya akan mengijinkan?”

“Ibunya sudah ditahan, aku kira dia tak akan bisa berbuat banyak, apalagi untuk melarang hubungan Puspa dengan Nugi.”

“Anak itu baik. Wajahnya juga tampan bersih, ketika aku mengamatinya waktu bertemu malam itu, ada miripnya sama bik Supi.”

“Kamu benar. Bik Supi pasti bangga anaknya bisa jadi sarjana. Apalagi nanti kalau Nugi sudah bekerja.”

“Perjuangan seorang ibu, demi menjadikan anaknya menjadi orang.”

 “Benar Roto. Ya sudah, kamu pasti sedang sibuk, kalau aku sedang istirahat makan siang Nih.”

“Sama, aku juga sedang makan, memang ini saatnya makan. Kalau ketemu PUspa, suruh dia menelpon aku ya Mbak.”

“Baik, nanti aku beri tahu dia. Sekarang sepertinya masih ada di kantor bapak.”

“Bersama Nugi juga?”

“Kemungkinannya iya. Kemarin dia bilang begitu.”

***

Bik Supi sedang memasak di dapur. Tadi Puspa mengatakan bahwa dia akan mengajak Nugi makan siang di rumah. Bik Supi sangat bersemangat, lalu memasak semua makanan kesukaan Puspa, sekaligus kesukaan Nugi.

Tiba-tiba ia merasa nyaman bekerja di rumah tuan Sanjoyo. Tak ada kata-kata kasar, tak ada banyak perintah yang terkadang membuatnya lelah. Hanya saja Nugi sudah mengatakan, kalau dia sudah bekerja, maka sang ibu harus berhenti bekerja, karena dialah yang akan memberi nafkah untuk ibu dan neneknya di kampung.

“Iya juga sih, sepertinya memang aku harus berhenti bekerja kalau Nugi sudah mendapat pekerjaan. Berat rasanya meninggalkan keluarga yang sangat baik ini,” gumam bik Supi sambil memasukkan ayam ungkep ke dalam minyak yang sudah cukup panas. Ini ayam goreng kesukaan Nugi, tapi sekaligus juga kesukaan Puspa.

Tiba-tiba dari arah samping dapur terdengar langkah kaki. Bik Supi terkejut. Kalau tamu, mengapa tidak memencet bel tamu atau mengetuk pintu.

Bik Supi melihat ke arah pintu, lalu melihat Priyadi berdiri di tengah pintu. Pakaiannya lusuh, seperti orang baru datang dari bepergian jauh selama berhari-hari.

“Pri?” sapa bik Supi seperti biasanya.

“Kok sepi Bik, siapa di rumah?”

“Tidak ada, hanya aku.”

Priyadi melongok ke dalam.

“Tidak ada siapa-siapa, non Puspa pergi ke kantor ayahnya. Kamu dari mana, pakaianmu lusuh begitu?”

Priyadi langsung masuk.

“Aku lapar Bik, boleh minta makan?” katanya tanpa menjawab pertanyaan bik Supi.

“Tentu saja boleh, duduklah, aku sedang menggoreng ayam, sayurnya cuma sup, tapi belum mateng.”

“Seadanya saja Bik, dua hari aku tidak makan.”

Bik Supi tidak mendengar kalau Priyadi sudah dipecat. Ia mengira Priyadi masih bekerja tapi bukan lagi menjadi sopir pribadi tuan Sanjoyo. Ia heran mendengar Priyadi tidak makan selama dua hari.

“Tidak makan dua hari? Memangnya anakmu tidak memasak untuk ayahnya? Atau kamu tidak bisa membeli makanan di warung?”

“Aku mau makan dulu ya Bik, ceritanya nanti.”

Bik Supi mengambilkan nasi dan sepotong ayam, juga sambal, karena sayurnya belum matang. Ia juga memberikan segelas air minum yang diletakkan di dekatnya, lalu ia melanjutkan memasak sayur.

Bik Supi geleng-geleng kepala, melihat Priyadi makan dengan lahap.

Setelah dua piring nasi disikatnya habis, Priyadi mencuci tangannya di tempat cucian, sekaligus mencuci wajahnya yang kumal.

Saat itu ia mendengar mobil memasuki halaman. Ia tahu itu mobil Puspa.

Ia mengelap wajahnya dengan tissue lalu beranjak ke depan.

Puspa terkejut melihat Priyadi. Bukankah Priyadi sedang dicari-cari polisi?

“Mengapa kamu ada di sini?” kata Puspa dengan nada tak suka.

“Puspa, jangan begitu. Aku kemari untuk mencari perlindungan.”

“Perlindungan apa? Kamu adalah penjahat yang dicari-cari polisi, jangan membuat kami jadi terlibat. Pergilah atau aku laporkan kamu?” ancam Puspa yang sedikit kesal karena Priyadi memanggil namanya begitu saja, tanpa non seperti biasanya.

“Puspa, tolong aku, biarlah aku bersembunyi di sini.”

“Tidak bisa, lebih baik kamu pergi.”

“Puspa, kamu tidak bisa berlaku kejam terhadapku, karena kamu adalah anakku, darah dagingku.”

Kalau ada guntur menggelegar saat itu, tak akan bisa mengalahkan rasa kaget Puspa mendengar ucapan Priyadi.

***

Besok lagi ya.

Tuesday, January 20, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 41

 HANYA BAYANG BAYANG 41

(Tien Kumalasari)

 

Priyadi sudah duduk di depan tuan Sanjoyo. Ia menundukkan kepalanya ketika pandangan matanya beradu dengan tuan majikannya. Ia merasa tatapan tajam itu menusuk jantungnya, menghunjam dalam-dalam dan membuatnya gemetar.

Beberapa saat lamanya tuan Sanjoyo tidak mengatakan apa-apa. Ia masih terus menatap Priyadi yang semakin menundukkan wajahnya.

“Angkat wajahmu,” tiba-tiba kata tuan Sanjoyo. Priyadi mengangkat wajahnya tapi tetap tak berani menatap wajah tuan majikannya.

“Selama ini aku mempercayai kamu, bertahun-tahun, sepuluhan tahun, bahkan lebih. Benarkah?”

“Ya Tuan.”

“Aku sama sekali tidak mengira bahwa ternyata kamu mampu membohongi aku.”

“Tu … tuan … sebenarnya … sebenarnya saya … menjalankan perintah nyonya. Bukan saya yang … yang … itu Tuan, tentang … tentang panti-panti itu, bukan … bukan keinginan saya. Saya hanya … di … disuruh oleh nyonya …”

“Benarkah? Begitu patuhnya kamu kepada nyonyamu, sehingga menuruti semua kemauannya. Pasti itu tidak gratis bukan?”

“Tt.. tapi … eh … iya, tidak gratis … maksud saya … saya juga mendapatkan upah, Tu …tuan.”

“Upah berupa uang, dan apa lagi?”

“Tuan … mohon Tuan memaafkan saya.”

“Memaafkan untuk kesalahan yang mana?”

“Semua … kesalahan  ss..saya. Ssaya tahu … Tuan sangat baik hati dan .. dan dermawan, mohon maafkanlah … saya, Tuan.”

“Saya baik hati dan dermawan? Benarkah? Barangkali ya, tapi untuk seseorang yang berkhianat kepadaku selama bertahun-tahun, menipu selama bertahun-tahun juga, barangkali kamu akan menganggap aku ini kejam.”

“Tt … tuan, sess sesungguhnya … saya hanya dipaksa oleh nyonya.”

“Dipaksa atau tidak, kamu tetap aku anggap berkhianat.”

“Tuan, maafkanlah sayy … sayya.”

“Mulai besok kamu sudah tidak bisa masuk kerja lagi.”

“Tuan … mohon … Tuan memaafkan saya.”

“Baiklah, aku maafkan, tapi tetap hari ini hari terakhir kamu bekerja di sini. Srikanti sudah aku usir dari rumah, kemarin pagi dia sudah tidak ada lagi di rumahku.”

“Aap … appa?”

“Hari ini aku sudah mengurus surat gugatan cerai.”

“Tt … tapi …”

“Aku belum menemukan keterlibatan Nilam dalam kasus ini, tapi nanti begitu ketahuan, dia akan menyusul kalian … pergi dari sini.”

Priyadi merasa lemas. Jadi Srikanti sudah diusir sejak kemarin? Mengapa tidak pulang ke rumah? Apa? Srikanti pasti pulang ke rumah. Jangan-jangan Srikanti yang mengobrak abrik rumah dan mengambil barang-barang berharga serta uang. Mengapa dia melakukannya? Pikir Priyadi dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya.

“Aku sudah cukup bicara, kalau kamu butuh surat pengalaman kerja, bagian kepegawaian akan mengurusnya, tapi kamu tidak akan mendapat pesangon, sepeserpun.”

“Tu … tuan.”

“Sekarang pergilah. Kalau ada barang-barang kamu yang ada di kantor ini, segera kamu kemasi dan tinggalkan tempat ini.”

Priyadi mengangkat tubuhnya sendiri dengan sangat berat, lalu tertatih keluar dari ruangan.

Dalam berjalan itu ia justru berpikir tentang Srikanti. Benarkah Srikanti yang mengobrak-abrik rumah dan mengambil semua benda berharga? Kenapa? Priyadi dan Nilam sama sekali tidak berpikir tentang surat nikah mereka.

***

Priyadi tidak segera pulang. Ia menunggu Nilam sampai menyelesaikan jam kerjanya. Nilam tentu saja tidak mengira kalau ternyata Priyadi sudah dipecat. Ia baru tahu ketika mereka sudah sampai di rumah mesum itu.

“Jadi Mas dipecat?”

“Tampaknya tuan Sanjoyo sudah tahu semuanya. Baik tentang uang untuk panti-panti itu, maupun tentang hubunganku dengan istrinya. Srikanti sudah diusir dari rumah sejak kemarin.”

“Apa? Kalau begitu mengapa dia tidak datang ke rumah ini?”

“Aku sedang berpikir tentang pencurian itu. Mungkinkah Srikanti pelakunya?”

“Dia? Mengapa dia melakukannya? Mengapa dia tidak memilih untuk tinggal baik-baik di rumah ini dan justru mengambil barang-barang berharga yang ada?”

“Aku masih bingung memikirkannya,” kata Priyadi yang merasa lemas dan hanya duduk bersandar di sofa.

Nilam beranjak ke kamar. Dari tadi malam dia belum selesai membersihkan dan merapikan barang-barang yang berantakan. Tapi ketika dia membuang sesuatu ke keranjang sampah, ia berteriak keras, membuat Priyadi terkejut.

“Maaas, lihat!”

Priyadi bangkit dan beranjak mendekati Nilam yang berjongkok di depan keranjang sampah.

“Ada apa?”

Nilam menunjukkan buku nikah keduanya yang sudah dirobek menjadi serpihan kecil.

“Ternyata dia menemukan ini Mas,” kata Nilam gemetar.

“Kalau begitu dia marah, lalu mengambil semua barang berharga dan uang.”

“Bagaimana ini Mas. Segera laporkan kecurigaan kita ini kepada polisi. Enak saja dia mengambil barang-barangku.”

“Baik, aku akan segera melaporkannya. Kemungkinan besar dia berada di sebuah hotel, entah apa lagi yang akan direncanakannya.”

***

Dugaan Priyadi benar. Srikanti sedang berada di sebuah hotel, membawa luka karena diusir suaminya, dan membawa kemarahan ketika menyadari bahwa dia dikhianati oleh laki-laki yang dicintainya. Tapi cinta itu sudah tak ada. Semenjak ia menemukan surat nikah itu, cinta itu sudah berubah menjadi kebencian dan kemarahan yang menyala. Sekarang dia sedang berpikir tentang apa yang akan dilakukannya.

“Aku harus membalas pengkhianatan ini,” geramnya sambil mengumpulkan perhiasan miliknya sendiri dan perhiasan milik Nilam, yang diyakininya diberi oleh Priyadi dengan uangnya juga.

Ia juga menghitung uang yang berhasil dibawanya. Uang hasil kebohongannya, baik yang dibawanya maupun yang disimpan Priyadi.

“Rasain kamu Pri, kamu tak memiliki apa-apa sekarang.”

Ketika ia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan perasaannya, pintu kamarnya diketuk dari luar. Srikanti ingin mengacuhkannya, tapi ketukan itu terdengar semakin keras dan bertubi-tubi.

Dengan malas Srikanti bangkit, dan membuka pintu. Ia terkejut ketika dua orang polisi berdiri di depan pintu.

“Ada apa ya?”

“Apakah Ibu adalah nyonya Srikanti?”

“Be … benar, ada apa?”

“Kami mendapat perintah untuk menangkap Nyonya.”

“Menangkap saya? Kenapa?”

“Atas tuduhan pencurian di rumah bapak Priyadi. Ini surat perintahnya.”

Srikanti tak menggubris surat itu. Ia berteriak marah.

“Aku bukan mencuri, itu barang-barang saya sendiri.”

“Nanti Ibu bisa memberi keterangan di kantor, sekarang Ibu harus ikut saya.”

“Kurangajar Priyadi. Aku tak mau memikul ini semua sendiri, kamu dan Nilam akan merasakan hal yang sama,” teriaknya.

***

Hari itu Puspa dinyatakan lulus, dengan riang dia pergi ke kantor ayahnya. Ketika ia memasuki halaman kantor, di gardu satpam ia mendengar kasak kusuk bahwa Priyadi dipecat, dan Nilam tak lagi masuk bekerja.

Puspa tak menggubrisnya, ia sudah tahu bahwa sang ayah akan melakukannya. Beruntung ayahnya tidak melaporkan kebusukan mereka kepada polisi. Mereka bisa dihukum bertahun-tahun kalau ayahnya melaporkannya. Tapi ia tahu bagaimana ayahnya. Seperti kata orang, tuan Sanjoyo sangat baik hati dan dermawan.

Puspa meneruskan langkahnya, melewati beberapa karyawan yang sudah mengenalnya, lalu mengangguk hormat. Ketika memasuki ruang kerja sang ayah, ia melihat bagian ekspedisi sedang berbicara dengan ayahnya. Ia menunggu duduk di sofa dengan perasaan tak sabar. Ternyata mereka sedang membicarakan tentang Nilam yang ikut-ikutan tak masuk kerja hari ini.

“Biarkan saja kalau dia mau mengikuti ayahnya untuk keluar. Nanti aku carikan lagi pengganti.”

“Baiklah, saya permisi.”

Tuan Sanjoyo mendekati Puspa yang kemudian merangkulnya.

“Bapak, aku sudah lulus,” katanya sambil berlinang air mata.

Tuan Sanjoyo memeluknya erat.

“Anak baik, anak pintar. Bapak bahagia sekali mendengarnya. Ayo sekarang harus mulai belajar bekerja membantu bapak.”

“Iya, pasti Pak.”

“Duduklah, kalau mau minum ambil sendiri. Apa kamu lapar? Kita bisa makan diluar.”

“Iya, aku mau Pak.”

“Sebentar lagi ya, bapak sedang menunggu laporan dari bagian keuangan.”

“Pak, Priyadi sudah dipecat?”

“Sudah, mulai hari ini dia bukan lagi karyawan. Dan tampaknya Nilam juga mengikuti ayahnya. Biarkan saja.”

“Bagaimana dengan permintaan Puspa?”

“Permintaan yang mana?”

“Nugi, anak bik Supi, bisa nggak ikut bekerja di sini?”

“Mana dia? Bukankah bapak sudah menyuruh kamu agar membawanya kemari?”

“Besok pasti akan Puspa ajak dia menghadap Bapak. Bukankah Bapak sudah pernah bertemu ketika ulang tahun Bapak?”

“Iya. Tapi kan hanya sekilas. Nanti bapak mau mengajaknya bicara dalam banyak hal. Kalau cocok, akan bapak tugaskan dia di bagian keuangan, menjadi wakil pak Utoyo.”

“Terima kasih Pak.”

“Kamu bersemangat sekali mencarikan pekerjaan buat dia? Jangan-jangan ada apa-apa diantara kalian,” tuduh sang ayah.

Puspa tersenyum tersipu.

“Belum ke arah sana, baru berteman dekat. Bapak ada-ada saja.”

“Bapak hanya berpesan, pilih pasangan yang baik, jangan asal tampan, atau jangan asal kaya.”

“Iya, Puspa tahu.”

“Sebentar, itu sepertinya pak Utoyo sudah datang, kamu tunggu dulu, lalu kita makan siang diluar.”

***

Nilam sedang sendirian di rumah. Ia menyuruh Priyadi membeli makanan, karena dia ingin sekali makan nasi gudeg, tapi dia sedang malas keluar. Ia juga sudah mendengar bahwa kemarin Srikanti sudah ditangkap. Nilam senang, barang-barang berharga miliknya pasti akan segera dikembalikan.

Tapi lamunan Nilam buyar, ketika tiba-tiba ada polisi berdiri diluar. Ia tidak mengunci pintunya sehingga langsung melihat mereka.

Nilam mengira polisi-polisi itu akan memberikan keterangan tentang Srikanti, tapi ternyata polisi-polisi itu ingin membawanya.

“Saya juga akan membawa bapak Priyadi.”

“Kenapa? Kami yang kehilangan, mengapa kami mau ditangkap?”

“Ada laporan bahwa bapak Priyadi dan ibu Nilam terlibat dalam penipuan bersama ibu Srikanti.”

“Sebentar, suami saya sedang pergi, saya akan menelponnya,” kata Nilam yang tiba-tiba ketakutan.

 Nilam mengambil ponselnya, dan menelpon Priyadi. Ia mengatakan tentang penangkapan yang akan dilakukannya kepada dirinya dan Priyadi. 

Celaka duabelas, ini namanya senjata makan tuan. Pikir Priyadi. Bukannya ia pulang, ia justru kabur.

***

Besok lagi ya.

Monday, January 19, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 40

 HANYA BAYANG BAYANG  40

(Tien Kumalasari)

 

Hari itu, di pagi harinya, Srikanti sudah meninggalkan rumah. Tak ada ucapan selamat tinggal diucapkannya, dan tak ada ungkapan selamat jalan diterimanya. Ia merasa semuanya sudah selesai.

Tak seorangpun mengira apa yang terjadi pada Srikanti setelah tiba di rumah mesum yang dibangunnya dengan tetesan dosa bersama Priyadi.

Tak seorangpun juga tahu bahwa Srikanti terkapar di lantai, di dalam kamar yang selalu dipakainya bersama Priyadi.

***

Ketika Srikanti datang, Priyadi dan Nilam sedang pergi jalan-jalan. Mereka tidak pergi ke kantor karena hari itu adalah Minggu.

Mereka bersenang-senang di hotel, makan enak di restoran, dan pulang ketika hari sudah malam.

Ketika pulang, mereka tidak mengira kalau Srikanti sudah datang ke rumah itu. Mereka melihat kasur berantakan, seprei dan sarung bantal berserakan di lantai, dan seprei yang masih terlipat rapi terletak di lantai.

“Apa yang terjadi?”

“Kamu tidak mengunci pintu ya? Rumah kita dirampok,” teriak Priyadi.

Nilam berlari ke kamarnya, melihat almari terbuka dan kotak yang berisi perhiasan yang dibelikan oleh  Priyadi lenyap tak berbekas. Juga dompet berisi uang tak bersisa.

“Mas, benar, kita telah di rampok. Perhiasan satu kotak hilang,” pekik Nilam sambil menangis.

“Kita tidak mengunci rumah kita.”

“Tadi ketika masuk, pintu juga tidak terkunci.”

Priyadi memeriksa almarinya sendiri. Uang simpanan yang ada di dalam dompet, lenyap tak berbekas.

“Mas, ayo lapor polisi,” tangis Nilam.

“Tapi kenapa ya perampok itu mengobrak abrik tempat tidur?”

“Mungkin mencari sesuatu, atau barangkali dia punya pikiran bahwa ada yang kita sembunyikan di bawah kasur atau di dalam sarung bantal.”

“Mereka mengambil seprei dari dalam almari tapi dibiarkan tergeletak di lantai.”

“Pastinya bukan bermaksud mengambil seprei Mas, barangkali ia ingin mencari sesuatu di almari itu, karena tidak mendapatkannya maka membiarkan saja seprei itu tergeletak di lantai.”

“Kamu benar juga Nilam, ayo kita lapor polisi. Tapi sebentar, aku juga harus menelpon Srikanti. Ia harus tahu tentang pencurian ini, karena aku masih membawa sebagian uangnya, dan yang ternyata sekarang hilang.”

“Ya ampuun, kita tidak punya apa-apa Mas, habis semuanya,” Nilam masih tetap menangis, sementara Priyadi gagal menghubungi Srikanti. Berkali-kali dilakukannya, tapi tak bisa tersambung. Srikanti mematikan ponselnya.

***

Suroto dan Suwondo bersiap pulang ke tempat kerjanya pagi itu, ketika melihat tuan Sanjoyo juga bersiap pergi ke kantor.

“Bapak tidak istirahat saja?” kata Sekar.

“Iya, istirahat di rumah dulu, biar Puspa menemani.”

“Tidak usah, bapak baik-baik saja. Bukankah ujian untuk kamu diundur besok pagi?”

“Iya Pak, itu sebabnya saya akan di rumah saja menemani Bapak.”

“Tidak, bapak akan tetap pergi ke kantor. Parto sudah dalam perjalanan kemari.”

“Ya sudah, ini mas Wondo dan Suroto juga mau pamit, Sekar juga akan segera ke kantor.”

“Ya sudah, kalian sudah terlambat ke tempat kerja kalian karena bapak.”

“Tidak, kami sudah merencanakan akan kembali ke kantor Senin siang, atau libur sama sekali.”

“Hati-hati di jalan, terima kasih atas semuanya.”

“Bapak tidak perlu berterima kasih, kami bahagia melihat Bapak juga bahagia.”

“Aku sangat bahagia. Aku merasa sudah terlepas dari sebuah kungkungan yang melingkupi hidupku. Yang penting aku memiliki kalian yang benar-benar menyayangi ayahmu ini dengan sepenuh hati.”

Mereka berangkulan, dan masing-masing kembali ke tempat kerja mereka.

“Puspa, apakah kamu mau ikut bapak ke kantor? Bukannya kamu ingin belajar dari awal tentang perusahaan bapak?”

“Besok saja setelah ujian Pak, supaya Puspa merasa lebih tenang. Doakan saja Puspa berhasil lulus.”

“Doa bapak selalu untuk kalian.”

Puspa merangkul ayahnya dengan perasaan haru. Ia sedih mengetahui dosa-dosa ibunya, tapi ia sedih melihat ayahnya terluka.

***

Puspa membantu bibik di dapur, sambil tak henti-hentinya membicarakan Srikanti yang akhirnya bisa ketahuan kelakuan busuknya.

“Tapi saya minta maaf Non, pasti Non juga ikut terluka, karena nyonya adalah ibu kandung Non.”

“Tidak apa-apa Bik. Memang sudah kehendak Tuhan sehingga semua bisa menjadi seperti ini.”

“Non jangan membenci ibu sendiri, doakan dan mintakan ampun kepada Tuhan, dan agar Tuhan menunjukkan jalan yang benar dalam sisa hidupnya.”

“Terima kasih ya Bik, Bibik selalu menguatkan aku.”

Suara dering bel tamu terdengar, lalu Puspa berlari ke depan. Betapa terkejutnya Puspa ketika melihat siapa yang datang.

“Nugi?”

Nugi berdiri di depan pintu, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Waktu datang pada ulang tahun Tuan Sanjoyo, aku belum sempat bicara banyak. Aku harus berterima kasih karena keluarga ini telah memberikan pekerjaan untuk ibu, sehingga ibu bisa menyekolahkan aku.”

“Sudah, jangan berterima kasih untuk itu, aku yang harus berterima kasih karena bik Supi telah berbuat banyak untuk keluargaku. Ayo masuk, langsung ke belakang. Ibumu ada di belakang,” kata Puspa yang mendahului masuk ke dalam.

“Bibik, lihat siapa yang datang,” Puspa berteriak.

Bik Supi melongok dari pintu dapur, dan sangat bergembira ketika melihat Nugi berjalan di belakang Puspa.

***

“Nugi?”

Mereka kembali berangkulan, hati Puspa sedikit teriris. Alangkah bahagianya memiliki ibu yang sangat baik dan penuh kasih sayang.

“Aku datang untuk memohon restu, karena besok mau maju ujian.”

“Ibu selalu mendoakan kamu, Nugi. Kamu anak baik yang membanggakan ibu.”

“Semua karena doa Ibu.”

“Ayo duduklah, aku buatkan minuman,” kata Puspa tiba-tiba.

“Eh, jangan Non, biar bibik saja.”

“Kan bibik baru kedatangan tamu. Tenang saja, yang akan Puspa buat itu minuman instan, tinggal menuang air panas dari termos, selesai,” kata Puspa yang nekat mengambil cangkir-cangkir, membuat minuman instan dan diletakkan di meja dapur.

“Atau kita duduk di ruang tengah saja?”

“Tidak Non, di sini saja. Ini kan bukan tamu, tapi anak bibik.”

“Ya sudah, terserah Bibik saja.”

“Bibik tidak mengira kalau Non itu teman kuliahnya Nugi. Berkali-kali bicara tentang Nugi, dan Non sudah tahu kalau Nugi itu anaknya bibik, tapi tidak pernah mengatakan bahwa Nugi itu teman Non.”

“Nugi juga tidak tahu kalau Ibu bekerja di rumahnya Puspa,” sambung Nugi.

“Sedang musim saling menutupi rahasia,” kata bik Supi tiba-tiba, membuat Puspa tersenyum kecut. Ia merasa bik Supi juga sedang menyindir keluarganya.

“Bik, aku sudah bilang pada bapak, kalau nanti Nugi sudah lulus, aku minta kepada bapak agar diterima bekerja di kantornya.”

“Ya ampun Non, Nugi hanya anaknya bibik, mana pantas bekerja bareng orang-orang kaya.”

Puspa tertawa.

“Bik, orang bekerja itu yang penting pekerjaannya, bukan dia siapa atau anak siapa.”

“Tapi kalau tuan tahu bahwa Nugi itu anak bibik, jadi nggak enak bibik ini Non.”

“Bibik jangan khawatir, nanti aku akan mengajak Nugi ke kantor bapak. Bapak yang menyuruhnya.”

“Tuh Nug, kamu akan bekerja diantara orang-orang kaya,” kata bik Supi sambil menepuk bahu anaknya, membuat Nugi tertawa. Rupanya ibunya merasa minder kalau dirinya kelak bisa bekerja di kantor tuan Sanjoyo.

“Bibik gimana sih? Tidak ada orang melamar pekerjaan itu ditanya, apakah dia kaya atau miskin. Kalau diterima bukan karena dia kaya. Kalaupun ditolak bukan karena dia miskin atau anak siapa. Yang penting dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.”

Bibik menutup mulutnya, tersipu. Tapi rona bahagia tampak pada wajahnya.

“Bibik tahu? Aku tuh belajar banyak hal dari Nugi. Aku yang terbiasa hidup serba mewah, diperkenalkan oleh Nugi bagaimana hidup sederhana, makan di pinggir jalan, berbuat baik kepada sesama, dan masih banyak lagi. Jadi kalau bibik merasa bahwa aku sudah berubah, itu semua karena Nugi.”

“Benarkah Non?” kata bik Supi yang memang merasa ketika pada suatu hari ia melihat sikap Puspa berubah menjadi baik.

Puspa mengangguk, sementara Nugi hanya tersenyum-senyum mendengarkannya.

“Ini Bibik mau masak apa? Nanti kita ajak Nugi makan bersama-sama. ”

“Tidak usah Non.”

“Hei, mengapa kamu berubah memanggil aku non? Tetaplah seperti dulu, tak ada yang berubah,” sergah Puspa.

“Baiklah, tapi aku mau pulang dulu.”

“Tidak boleh, ayo Bik, masak soto ayam seperti dulu aku minta lalu aku bawa ke kampus.”

“O, itu dulu dimakan bersama Nugi?” tanya bibik heran.

Puspa mengangguk sambil tersenyum. Kedatangan Nugi membuat semua derita yang melandanya akibat ulah ibunya menjadi sedikit berkurang.

***

Priyadi sudah melapor polisi tentang kehilangan uang dan barang-barang di rumahnya. Polisi sudah memeriksanya dan menanyakan apa yang harus ditanyakannya.

Ia juga menanyakan apakah ada orang lain yang sering datang ke rumah, dan Priyadi hanya menjawab bahwa dia, Srikanti, istri seorang pengusaha besar yang tak mungkin mencuri barang-barangnya, karena semua barang-barang itu juga pemberiannya.

***

Pagi hari itu Priyadi dan Nilam masuk bekerja seperti biasa. Priyadi tetap tidak bisa menghubungi Srikanti sampai saat itu.

Dengan wajah muram Nilam segera menceritakan kepada teman-temannya bahwa kemarin ketika ditinggal pergi, ada orang yang menjarah barang-barangnya.

Demikian juga Priyadi. Tapi ketika dia asyik bercerita, tiba-tiba manager ekspedisi memanggilnya.

“Pak Sanjoyo meminta agar kamu menghadap Pri.” katanya, dan entah mengapa Priyadi merasa debar jantungnya berdetak keras. Pada pikirnya, pasti ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Srikanti malam itu.

***

Besok lagi ya.

Saturday, January 17, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 39

 HANYA BAYANG BAYANG  39

(Tien Kumalasari)

 

Belum habis kebingungan Srikanti, Sekar dan Roto membawa masuk tiga orang tamu yang kemudian dipersilakan duduk bersama dua yang lainnya. Tuan Sanjoyo menyambutnya dengan ramah.

Srikanti hampir tak bisa menahan tubuhnya ketika berdiri. Ia melangkah ke arah sebuah kursi dan duduk dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia merasa bahwa malam ini akan habislah semuanya. Mengapa mereka datang? Bukankah undangan tidak diberikan? Kepala Srikanti berdenyut. Ia duduk agak ke belakang, sama sekali tidak menyambut para tamu, dan menganggap Sekar adalah sama seperti mereka, tamu yang diundang, bukan nyonya rumah yang seharusnya menerima jabat tangan dari pada yang hadir.

Suasana yang semakin meriah karena terdengar alunan musik gamelan dari sebuah CD yang mengalun lembut, mengiringi canda dan celoteh anak-anak yatim piatu dan tawa renyah para tamu undangan.

Tuan Sanjoyo sangat bahagia melihat kemeriahan itu.

“Saya sangat berterima kasih, Bapak-Bapak mau datang memenuhi undangan saya,” kata tuan Sanjoyo menyapa lima orang yang dianggapnya sebagai tamu istimewa. Bukankah setiap bulan mereka menerima sumbangan dari keluarga Sanjoyo? Ada sebuah perasaan yang masih disimpannya, yaitu ketika Priyadi mengantarkan sumbangan, mengapa mereka mau saja menerima sementara Puspa sudah lebih dulu memberikannya?

Tiba-tiba tuan Sanjoyo terkejut, ketika salah seorang dari mereka mengatakan sesuatu.

“Kami sangat terkejut, ketika beberapa minggu yang lalu kedatangan putri Bapak yang memberikan sumbangan kepada panti kami. Sungguh kami tidak mengira akan mendapat perhatian besar dari Bapak dan keluarga. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih. Pemberian itu sangat membantu meringankan beban kami, dalam mencukupi semua kebutuhan dalam mengasuh panti kami.”

“Itu benar, baru sekali saya menerima kedatangan nona Puspa yang memberikan sumbangan yang sangat membuat kami harus mengucapkan terima kasih.”

“Kami tidak menduga ternyata keluarga tuan Sanjoyo memperhatikan panti kami.”

Kelima orang itu bersahutan, dan begitu mengejutkan tuan Sanjoyo. Baru sekali? Semuanya menyiratkan sebuah terima kasih karena baru sekali mendapat perhatian dari keluarga Sanjoyo. Baru sekali? Berkali-kali perkataan itu melintas di benaknya. Padahal sudah bertahun-tahun tuan Sanjoyo melakukannya. Tiba-tiba ia merasa dadanya hampir meledak dilanda kemarahan yang membakarnya. Ia meraih minuman yang ada di depannya, sambil menawarkan kepada tamu-tamunya untuk meminumnya juga.

“Apa tuan Sanjoyo sakit?”

Ternyata wajah pucat tuan Sanjoyo tertangkap oleh salah satu tamunya. Tuan Sanjoyo menarik napas panjang, berusaha mengendapkan gelegak kemarahan yang membakar. Ia ingin mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun ia melakukannya, tapi diurungkannya. Kalau ia berkata berarti dia membuat nama istrinya tercoreng, dan semarah-marahnya tuan Sanjoyo, ia masih bisa menahan dan menjaga martabat keluarganya.

“Tidak, saya baik-baik saja,” katanya sambil meneguk lagi minuman di gelasnya.

Ia mencari-cari istrinya, yang tiba-tiba tak tampak di sekitar para tamu undangan.

“Tuan Sanjoyo mencari siapa?”

“Istri saya, Bapak-Bapak sudah mengenal istri saya?”

“Belum … belum, dari tadi saya juga bertanya-tanya, mengapa tuan Sanjoyo menerima tamu sendirian.”

“Sebenarnya ingin saya kenalkan, tapi mungkin dia masuk ke dalam. Ia agak sakit, dan sedikit lemah.”

“Kami ikut prihatin, semoga ibu Sanjoyo segera sembuh.”

Dari pengeras suara, terdengar Suwondo mempersilakan para tamu untuk mengambil hidangan makan malam yang sudah tersedia. Anak-anak yatim yang duduk berjajar jajar, mendapat kotak nasi sehingga tidak ikut berjubel bersama para tamu dalam mengambil makanan.

Ketika tuan Sanjoyo masuk ke ruang makan untuk mengambil obat, dari kamarnya ia mendengar suara dari dalam kamar. Itu suara istrinya, dan Priyadi.

Ia mendengar sang istri menangis, dan Priyadi menghiburnya.

“Tenanglah Sri, nanti kita cari jalan untuk membuat alasan agar tuan Sanjoyo mempercayai kamu. Tuan Sanjoyo sangat baik, lebih dulu yang harus kamu lakukan adalah meminta maaf.”

Rupanya dalam kegelisahan dan ketakutannya, Srikanti masuk ke dalam dan memanggil Priyadi. Ia mengira suaminya masih sibuk melayani tamu, dan tak mungkin melihat Priyadi masuk ke rumah, bahkan ke dalam kamarnya.

Tuan Sanjoyo langsung ke ruang makan, mengambil obat dan meminumnya, sambil duduk sejenak di sana.

Tiba-tiba Puspa masuk dengan membawa seorang laki-laki tampan. Ia terkejut melihat sang ayah duduk di ruang makan.

“Bapak kok di sini?”

“Minum obat. Itu siapa?”

Puspa membisikkan sesuatu ke telinga sang ayah, lalu tuan Sanjoyo menatap teman Puspa tak berkedip.

“Kamu, anak bik Supi?”

Laki-laki itu adalah Nugi. Ia tak tahu mengapa Puspa membawanya masuk ke rumah, langsung ke arah belakang. Ia terkejut ketika tuan Sanjoyo menyebut nama ibunya.

“Bapak mengenalnya?”

“Kamu tidak tahu ya? Bibiiiiik,” tuan Sanjoyo berteriak, lalu bibik muncul dari belakang. Matanya terbelalak melihat Nugi ada di sana, bersama nona dan tuan majikannya.

“Nu … Nugi?”

“Ibu?”

Dua-duanya terkejut, lalu berangkulan sambil menangis. Puspa melihatnya terharu. Lalu Puspa mendekati ayahnya dan berbisik.

“Itu yang dulu saya minta kepada Bapak agar menerimanya bekerja di kantor Bapak.”

“Dia?”

Sejenak ia melupakan masalah yang menghimpitnya. Ia senang pembantunya memiliki anak begitu tampan dan pintar menurut Puspa.

“Besok ajak dia ke kantor,” kata tuan Sanjoyo pelan, sementara bik Supi sudah berhenti menangis dan sedang diusap pipinya oleh sang anak.

Nugi tersenyum menatap Puspa, kejutan yang dijanjikan adalah pertemuannya dengan sang ibu, yang ternyata pembantu keluarga teman kuliahnya.

***

Perayaan itu usai. Tapi tuan Sanjoyo mengajak anak dan menantunya berkumpul di ruangan tengah rumah itu. Ia menyuruh bik Supi untuk memanggil istrinya, tapi kemudian bik Supi mengatakan bahwa sang nyonya sakit, tidak bisa keluar dari kamar.

“Kalau begitu kita masuk ke kamar saja semuanya,” kata tuan Sanjoyo.

Dan anak menantu tuan Sanjoyo memasuki kamar di mana Srikanti terbaring. Priyadi tentu saja sudah keluar, entah kapan, dan mungkin juga sudah pulang bersama Nilam.

Untunglah kamar tuan Sanjoyo lumayan luas, ada meja kursi di dalam kamar itu untuk duduk ramai-ramai.

“Sri, aku tidak akan basa basi. Langsung saja aku katakan bahwa aku sudah tahu semua kebusukan yang kamu lakukan, dan aku tinggal menunggu waktu yang baik untuk membuka tabir hitam yang menyelimuti keluarga ini.”

“Mas, aku mengaku salah, maafkan aku,” Srikanti menangis mengharu biru.

“Mohon ampunlah kepada Tuhan. Aku juga memaafkan kamu.”

“Terima kasih Mas, aku tidak akan mengulanginya lagi.”

“Kamu tidak akan bisa mengulanginya lagi, karena malam ini adalah malam terakhir kamu tinggal di rumah ini.”

“Mas, maaf Mas, aku minta maaf. Jangan mengusirku.”

“Aku mengusirmu dan menceraikan kamu. Besok akan ada orang yang mengurusnya.”

“Maaaas,” Srikanti menangis menggerung-gerung.

Tuan Sanjoyo keluar, dan mengajak anak menantunya keluar pula dari kamar itu, meninggalkan Srikanti yang mungkin juga sudah bergulung-gulung di lantai karena malu dan putus asa.

***

Di ruang keluarga, tuan Sanjoyo mengutarakan semua yang dipikirkannya. Ia terkejut ketika ternyata anak-anaknya sudah tahu tentang kebusukan itu sejak lama, tapi tidak mau mengatakan kepada dirinya.

“Kalau kalian tahu, mengapa tidak segera mengatakannya kepada bapak?” tegurnya.

“Maaf Pak, kami sedang menunggu waktu yang baik untuk mengatakannya kepada Bapak.”

“Soalnya kami harus menjaga perasaan Bapak.”

“Terutama kesehatan Bapak.”

Tuan Sanjoyo tersenyum.

“Bapak sudah memendamnya lama, dan sama seperti kalian, belum ingin mengutarakannya untuk menunggu waktu yang baik. Dan waktu yang baik itu adalah sekarang, karena aku sudah tahu sejelas-jelasnya. Dari tindakan perselingkuhan dan kebohongan yang dilakukan Srikanti tentang uang sumbangan untuk panti. Dan Puspa saat memberikan sumbangan itu pasti sudah tahu kalau panti-panti tidak pernah menerima sumbangan sebelumnya.”

“Ya Pak, sudah tahu. Dan panti-panti baru sejumlah lima itu ternyata tidak ada. Alamatnya palsu semua.”

“Rupanya kurang banyak uang sumbangan yang diembat. Baiklah. Banyak hal yang membuat aku kecewa, tapi jangan kalian kira kalau aku sedih atau sakit hati. Malam ini aku justru merasa seperti keluar dari sebuah lobang gelap yang melingkupi kehidupanku. Semuanya tampak terang, dan aku bahagia memiliki kalian.”

Satu persatu anak dan menantu tuan Sanjoyo merangkul sang ayah dengan linangan air mata.

“Selamat ulang tahun Pak. Selalu sehat, bahagia dan dikaruniai sisa usia yang penuh berkah,” kata mereka sambil merangkul satu persatu.

“Terima kasih, aku bangga memiliki kalian. Aku mencintai kalian.”

Diantara mereka, Puspa menangis paling lama. Tuan Sanjoyo dan yang lain mengerti, karena Srikanti adalah ibu kandung Puspa.

Tuan Sanjoyo memeluk Puspa, mengelus kepalanya lembut.

“Yang harus kamu lakukan adalah mendoakan ibumu, mohonkan ampun atas semua kesalahannya, dan mohon tuntunan agar kembali ke jalan yang benar.”

Puspa terisak dipelukan sang ayah.

***

Tidak bisa tidak, pagi harinya Srikanti sudah berkemas. Palu sudah diketuk, keputusan tuan Sanjoyo adalah menceraikannya dan menyuruhnya pergi dari rumah.

Dengan wajah murung dia naik taksi, pergi ke rumah mesum yang dibangun dengan limbahan dosa bersama Priyadi.

Hari itu Priyadi dan Nilam masih masuk bekerja. Belum jelas apa nanti keputusan tuan Sanjoyo.

Srikanti langsung memasuki rumah dan masuk ke dalam kamar yang selalu dipakainya bersama Priyadi.

Agak kesal juga Srikanti ketika melihat kamar masih berantakan, dan berbau tak enak. Srikanti melepas semua seprei dan sarung bantal, dilemparkannya ke lantai begitu saja. Ia membuka almari untuk mengambil seprei pengganti, tapi betapa terkejutnya dia, ketika menemukan sebuah buku. Bukan sembarang buku, tapi buku nikah. Srikanti terbelalak melihat foto yang tertera. Priyadi dan Nilam menikah?

Srikanti terjatuh di lantai, pingsan.

***

Besok lagi ya.

 

 

Friday, January 16, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 38

 HANYA BAYANG BAYANG  38

(Tien Kumalasari)

 

Srikanti panik. Panti-panti diundang? Bagaimana kalau nanti terbuka semuanya? Aduh, bagaimana cara mencegahnya ya? Pikir Srikanti yang kemudian masuk ke kamarnya.

Karena bingung ia menelpon Priyadi. Hari sudah malam dan Priyadi sedang tidur bersama Nilam. Wajah Nilam cemberut melihat di ponsel Priyadi. 

"Siapa yang menelpon? Dia? Huhh."

“Perempuan ini kenapa ya, malam-malam begini menelpon?” omelnya kesal, apalagi ketika kemudian Priyadi menerima panggilan itu.

“Ada apa?”

“Kamu sudah tidur?”

“Hampir, ini sudah malam. Ada apa?”

“Kamu tahu tidak, besok Sabtu tanggal lima ini, tuan Sanjoyo mau mengadakan pesta ulang tahun.”

“Biarkan saja, kamu senang ada pesta kan?”

“Apa maksudmu? Kamu tahu siapa yang akan diundang?”

“Teman-teman bisnis, atau teman anak-anaknya, atau_”

“Pri! Kalau tidak ada apa-apa, masa aku akan menelpon kamu?”

“Ada apa sebenarnya?”

“Dia juga akan mengundang panti-panti itu.”

“Panti yang mana?”

“Panti yang menurutnya dia selalu diberi sumbangan setiap bulan.”

”Apakah panti-panti juga akan ditanya tentang sumbangan? Kan tidak?”

“Pri, bagaimanapun itu membuat aku khawatir. Bagaimana kalau entah karena apa, lalu rahasia kita terbongkar?”

“Kalau kamu takut, cegah mereka mengundangnya.”

“Mana mungkin aku bisa mencegahnya.”

“Kalau mereka tidak mau membatalkan keinginan mengundang itu, lebih baik kamu minta agar undangannya kamu atau aku yang membawanya.”

“Oh, iya … sebaiknya begitu. Soalnya kalau aku melarang pasti tidak akan digubris, lagian alasan aku menolak mengundang mereka juga apa, susah kan?”

“Ya sudah, begitu saja. Sekarang aku mau tidur, takutnya besok bangun kesiangan.”

Tiba-tiba Nilam bersin, tak bisa dicegahnya, sehingga Priyadi melotot kesal melihatnya.

“Pri, yang bersin itu siapa? Nilam ya?”

“Iya, siapa lagi? Masa aku tidur dengan perempuan lain.”

“Memangnya Nilam tidur di kamar kamu?”

“Tidak, Nilam baru saja mengambil minyak gosok di kamarku, dia memang agak flu.”

“Oh, ya sudah.”

Priyadi menutup ponselnya dan menegur Nilam.

“Mengapa bersin tidak ditahan?”

“Aneh, bagaimana menahan bersin? Apakah dia marah?”

“Tidak, karena aku memberi alasan tepat. Lain kali hati-hati. Belum saatnya ia mengetahui semuanya.”

“Iya, baiklah, aku mau tidur sekarang.”

***

Persiapan pesta itu sudah sempurna. Tidak ada undangan khusus karena tuan Sanjoyo tidak mengundang banyak orang. Yang utama hanyalah anak buah di kantornya, dan anak yatim sebanyak 100 orang, dan tentu saja pengurus panti di mana tuan Sanjoyo merasa menjadi donatur untuk mereka.

Pagi hari sebelum tuan Sanjoyo berangkat, Srikanti mendekatinya.

“Mas, mana undangan untuk panti-panti, biar aku yang mengantarnya.”

“Mengapa harus kamu? Tidak pantas istri seorang pemilik perusahaan bersusah payah mengirimkan undangan.”

“Aku kan sudah mengenal mereka dengan baik.”

“Bukankah kamu sering mengeluh tentang kaki kamu yang masih sering terasa ngilu? Lebih baik tidak kemana-mana dulu.”

“Aku sudah merasa baik. Lagipula kalau Mas tidak mengijinkan aku yang mengirimkan undangan, biar nanti Mas suruhan Priyadi saja. Dia kan lebih tahu.”

“Oh, begitu?”

“Iya Mas, kasihan yang mau disuruh ke sana, kalau Priyadi kan sudah biasa?”

“Kalau begitu bilang saja pada Puspa. Dia yang mengurus undangan untuk panti.”

“Baiklah, aku bilang pada Puspa dulu saja kalau begitu, tapi dia sudah pergi sejak pagi-pagi sekali.”

“Tungguin kalau dia pulang, sebentar lagi dia ujian, pasti dia sibuk mempersiapkannya,” katanya sambil berlalu, karena Parto sudah menjemputnya.

Srikanti tidak mengantarkannya sampai ke depan, dia juga tidak mencium tangannya. Perasaan bingung memikirkan undangan untuk panti itu kembali membuatnya gelisah. Puspa baru saja berangkat, pasti pulangnya akan lama. Karenanya Srikanti segera menelponnya, sebelum semuanya menjadi kacau.

Lama sekali dia menelpon, Puspa baru menjawabnya. Dia sedang ada di kampus, berbincang dengan Nugi yang sama-sama akan menghadapi ujian.

“Ada apa bu?”

“Ya ampun, kamu itu sama orang tua, bagaimana kalau jawabannya lebih manis begitu, tidak kaku seperti orang yang tidak pernah kenal.”

“Puspa sedang ada di kampus Bu, ada apa, waktunya tidak banyak.”

“Kamu sudah membuat undangan untuk panti-panti?”

“Sudah, bapak yang menyuruh. Memamgnya kenapa?”

“Undangan itu tidak usah kamu yang mengantarkan.”

“Maksud Ibu apa?”

“Berikan saja undangannya pada ibu, nanti biar Priyadi yang mengantarkan undangan itu.”

“Ini juga mengundang anak-anak yatim piatu.”

“Iya, aku tahu. Berikan saja undangannya. Sudah kamu bawa? Kalau sudah kamu bawa, jangan dikirimkan dulu, biar ibu atau Priyadi yang mengantarkannya.”

“Mengapa harus Ibu atau Priyadi?”

“Hei, kamu itu kalau sama Priyadi jangan memanggil namanya saja. Biarpun sopir, dia itu juga termasuk orang tua. Panggil pak Priyadi.”

“Baiklah, mengapa harus Ibu atau dia?” tanya Puspa yang enggan memanggil Priyadi sepenti anjuran sang ibu.

“Soalnya kami yang sudah biasa, daripada kamu repot. Aku juga sudah bilang pada ayahmu dan diijinkan.”

“Baiklah, nanti undangannya Puspa berikan pada ibu, tunggu Puspa pulang dulu.”

Srikanti merasa sedikit lega. Ia sama sekali tak tahu apa yang dipikirkan Puspa, yang kemudian menelpon sang kakak.

***

Sekar sedang di kantornya pagi itu, agak heran Puspa menelponnya, dan mengatakan bahwa undangan untuk panti-panti akan diminta oleh ibunya.

“Ah … iya, apa kamu tidak tahu apa maksudnya?”

“Paling undangannya tidak akan diberikan, karena kalau mereka datang maka semua yang disembunyikan akan terbongkar.”

“Jadi kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?”

“Aku mau membuat dua undangan, satu aku berikan ke ibu, satunya lagi aku yang mengirimkan. Tetap harus dikirimkan bukan?”

“Bagus, anak pintar.”

“Ya sudah Mbak, aku hanya ingin memastikan kalau Mbak menyetujui rencanaku ini.”

“Aku tentu saja setuju. Sudah dulu, aku akan rapat sebentar lagi.”

Puspa mengakhiri pembicaraan itu, lalu menyesali keadaan yang sangat rumit di keluarganya.

“Ada apa? Setelah menelpon kok wajahmu murung begitu?”

Puspa tersenyum, rupanya Nugi memperhatikannya.

“Tidak apa-apa. Hanya urusan keluarga. Oh ya Nugi, nanti datang ke rumah ya, tanggal 5 bulan depan.”

“Ada apa nih, kamu tunangan? Atau malah menikah?” canda Nugi.

Puspa terkekeh.

“Enak aja, aku tuh belum ada yang mau, tahu. Ini acara ulang tahun ayahku. Datang ya.”

“Waduh, aku kan nggak kenal ayahmu? Sungkan aku.”

“Nugi, yang mengundang itu aku. Kalau nggak kenal, nanti aku kenalin. Aku sudah bilang pada bapak kalau kamu akan melamar di perusahaan bapakku.”

“Benarkah? Belum tentu diterima kan?”

“Bapak kan belum pernah bertemu kamu, jadi ya sabar dululah. Pokoknya kamu harus datang ya? Ada kejutan untuk kamu.”

“Kejutan apa nih?”

“Namanya kejutan ya tidak boleh dikatakan lebih dulu. Pokoknya datang dan ikutlah bergembira bersama keluarga aku.”

***

Sesampai di rumah, Puspa segera memberikan lima buah undangan untuk panti-panti yang katanya akan diundang. Srikanti menerimanya dengan riang. Ia merasa akan selamat dari rasa malu, dan juga selamat dari kemarahan suaminya, karena sudah bertahun-tahun dia berbohong. Sementara itu tuan Sanjoyo dan anak-anaknya sudah menyiapkan jebakan yang akan membuatnya tak berkutik.

Dengan gembira pula ia kemudian mengabarkannya kepada Priyadi, bahwa undangan sudah ada di tangannya.

Pagi harinya, sebelum sang suami berangkat ke kantor, tanpa merasa berdosa, Srikanti meminta kepada suaminya agar Priyadi mengantarkannya mengirim undangan ke panti-panti.

“Mengapa harus kamu? Kalau memang Priyadi bisa, biarkan saja Priyadi melakukannya sendiri.”

“Maksudku, biar mereka senang, kalau aku sendiri yang datang.”

“Sesungguhnya malah tidak pantas kalau kamu mengaku sebagai istriku lalu kamu berangkat sendiri mengirimkan undangan.”

“Mereka sudah seperti saudara, mengapa Mas mengatakan begitu? Aku tidak pernah menyombongkan diri sebagai istri direktur utama sebuah perusahaan besar.”

“Sebetulnya mengapa kamu bersikeras mengantarkannya sendiri? Lagipula kakimu belum sembuh benar, berjalanpun masih tertatih-tatih.”

Srikanti tak bisa menjawabnya. Lalu menjawab sekenanya.

“Untuk menghormati mereka.”

“Mereka orang-orang alim dan tidak gila hormat. Barangkali dia juga sudah merasa terhormat dengan undangan yang kita berikan,” kata tuan Sanjoyo sambil terus menuju ke arah mobilnya, bersama Parto yang menjemputnya. Srikanti mengikutinya.

“Mas, baiklah, berikan undangan ini kepada Priyadi, biar dia mengantarkannya sendiri,” kata Srikanti sambil membawa setumpuk undangan untuk panti-panti.

Tuan Sanjoyo menerimanya tanpa menjawab sepatah katapun, lalu menutup pintu mobilnya.

Srikanti menatap kepergiannya sambil tersenyum.

“Nanti kalau sudah membawa undangan itu, Priyadi sudah pasti akan mampir kemari. Masa iya tidak?” gumamnya sambil tertatih masuk ke rumah.

***

Hari perayaan itu tiba, rumah tuan Sanjoyo sudah dihias dan ditata rapi. Memang hanya perayaan sederhana yang tidak harus diadakan di sebuah gedung mewah, tapi anak dan menantu tuan Sanjoyo mengatur semuanya dengan indah. Tuan Sanjoyo meminta sebuah tempat khusus, karena ia ingin menjamu para pimpinan panti di situ, sementara untuk anak-anak yatim digelar sebuah karpet indah di halaman yang sudah diberi tenda-tenda dan terhias rapi.

Srikanti berdandan secantik mungkin. Ia tersenyum bahagia di samping suaminya yang juga sudah berpakaian rapi. Srikanti sudah merasa aman karena undangan untuk panti tidak diberikan, jadi tak akan ada yang dikhawatirkannya.

"Tak mungkin mereka datang," pikirnya senang.

Putra putri dan menantu tuan Sanjoyo berdiri di depan, menjadi penyambut tamu.

Tamu-tamu itu adalah anak buah tuan Sanjoyo di kantor. Priyadi juga ada diantara mereka.

Tiba-tiba Puspa mengantarkan dua orang laki-laki asing yang kemudian dibawanya untuk duduk di tempat khusus. Ia adalah dua orang pengasuh pesantren yang baru bulan kemarin mendapat sumbangan dari keluarga Sanjoyo.

Puspa mendekati sang ayah.

“Pak, ini dari Panti Asih Asuh, dan ini dari panti Restu Ibunda,” kata Puspa memperkenalkan tamunya.

Tuan Sanjoyo menyambutnya ramah, kemudian duduk bersama mereka, sementara wajah Srikanti tampak pucat pasi.

***

Besok lagi ya.

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...