Tuesday, January 27, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 46

 HANYA BAYANG BAYANG  46

(Tien Kumalasari)

 

Gemetar tangan Puspa ketika membuka amplop hasil pemeriksaan DNA. Ada harapan yang selalu menjadi dambaannya setiap saat, yaitu bahwa seyogyanya ia adalah putri tuan Sanjoyo.

Melihat kegelisahan Puspa, tuan Sanjoyo merangkul pundak Puspa.

"Tak ada yang harus kamu takutkan. Kamu adalah Puspawati Sanjoyo. Tak ada yang bisa merubahnya."

Puspa menatap sang ayah dengan genangan air mata di pelupuknya. Lalu dengan masih gemetar ia membuka amplopnya dan menarik kertas hasil lab itu.

Tiba2 air matanya turun semakin deras. Kertas yang dibacanya meluncur begitu saja ke lantai.

Tuan Sanjoyo tak berniat mengambil surat laporan itu. Apapun hasilnya tak akan mempengaruhi isi hatinya. Puspa adalah anak Sanjoyo, apapun yang terjadi.

Puspa menatap sang ayah dengan cucuran air mata yang semakin deras.

"Puspa, apa yang kamu takutkan? Kamu tetap putri Sanjoyo. Apapun hasilnya."

Tiba-tiba Puspa menghambur ke pelukan sang ayah. Tangisnya tak terbendung.

"Kamu anak Sanjoyo, kamu anakku, tak ada yang harus kamu takutkan."

"Bapak ... Puspa memang putri Bapak ... Puspa putri Sanjoyo."

"Bapak tak akan pernah ingkar. Kamu tetap anakku. Apapun hasil tes itu."

"Apa Bapak tahu? Hasil lab itu mengatakan bahwa Puspa memang anak Bapak. Putri Bapak. Bukan anak Priyadi."

Tuan Sanjoyo membelalakkan matanya yang berbinar. Puspa mengangguk sambil tersenyum walau matanya masih basah.

Perlahan tuan Sanjoyo membungkuk, mengambil hasil lab yang tadi terjatuh. Tak urung ingin sekali dia melihat hasil itu. Lalu ia merengkuh Puspa dan memeluknya erat.

“Kamu adalah anakku, darah yang mengalir di tubuhmu adalah darahku,” kata tuan Sanjoyo dengan gemetar.

***

Berita yang kemudian dikirimkan tuan Sanjoyo kepada Sekar segera sampai juga ke telinga Suroto dan Suwondo, suaminya. Mereka sangat gembira, dan bermaksud merayakannya dengan jalan-jalan ke sebuah tempat yang indah dan menyejukkan.

Mereka sudah merancang kepergian itu  walau masih dengan saling menelpon.

“Bolehkah aku mengajak Nugi?” kata Puspa setelah bertemu dengan kakak-kakaknya.

Sekar menatap sang adik dengan senyum penuh arti, membuat Puspa tertunduk malu.

“Memangnya ada apa?” tanya sang ayah.

" Ajak saja Nugi, karena dia juga keluarga kita, dan bik Supi juga akan kita ajak serta bukan?”

“Bapak belum tahu ya? Puspa itu_”

Tiba-tiba Puspa menutup mulut sang kakak dengan telapak tangannya.

“Mmmmh … mmmh.”

“Baiklah aku saja yang mengatakannya, karena Puspa menutup mulut Sekar. Bapak, Puspa dan Nugi itu ada cinta,” kata Suroto sambil terkekeh.

“Kalimat kamu nggak jelas, Roto, harusnya begini, Puspa dan Nugi saling merasa cinta, begitu,” sambung Suwondo.

“Bohong.” kata Puspa sambil menjerit.

“Bapak jangan percaya, kami baru berteman.”

Tuan Sanjoyo tersenyum.

 “Baiklah, biarkan kakak-kakak kamu berkata sapa saja, bukankah perkataan adalah doa? Siapa tahu ada malaikat lewat yang mengamininya.”

Semuanya tertawa senang, tapi Puspa cemberut sambil mencubit lengan sang ayah.

“Bapak kok nggak bantuin Puspa sih?”

“Tidak apa-apa, mereka bercanda, canda yang menyenangkan.”

“Tapi sungguh, kami hanya berteman," kata Puspa yang begitu senang karena tak tampak penolakan pada ayahnya.

“Teman dekat kan?” ledek Sekar lagi. Ia tentu saja tahu apa sebenarnya isi hati adiknya, karena jauh hari sebelumnya Puspa sudah mengeluh kepada sang kakak tentang isi hatinya yang dipendamnya, yaitu bahwa dia menyukai seseorang, dan seseorang itu adalah Nugi.

“Ya sudah, jangan bercanda saja, segera siapkan semuanya, Minggu depan nanti kita jalan-jalan, jangan lupa ajak bik Supi, dan tentu saja Nugi,” kata tuan Sanjoyo.

“Siaaap, Bapak,” teriak mereka serempak.

***

Tapi ketika Puspa mengatakan rencana itu kepada Nugi, bukannya Nugi menanggapi ajakan Puspa, tapi malah menegur Puspa yang tidak peduli kepada ibunya yang berada di dalam penjara.

“Bagaimanapun dia adalah ibumu, wanita yang telah melahirkanmu dengan taruhan nyawa. Betapapun buruknya dia, tapi ikatan antara ibu dan anak tidak bisa terhapus begitu saja.”

Puspa menatap Nugi tanpa berkedip. Sudah banyak Nugi mengatakan sesuatu kalau dirinya berbuat salah, dan sekarang dia menegurnya yang seperti tak peduli kepada Ibunya.

“Kamu jangan salah, disetiap doaku, aku selalu memohonkan ampun bagi ibuku, tak pernah lupa,” kata Puspa membela diri.

“Tunjukkan padanya bahwa kamu peduli.”

“Apa yang harus aku lakukan lagi?”

“Temui dia, dan ungkapkan isi hati kamu, dan katakan bahwa kamu sebenarnya menyayangi dia.”

Puspa menghela napas. Diakuinya, sejak dia mengetahui tentang hubungan sang ibu dengan Priyadi, dia sangat membenci ibunya. Ibu yang mencintai suaminya dengan cinta palsu. Yang hanya pura-pura sayang karena ingin menghisap hartanya dengan segala tipu daya. Dan sang ayah yang begitu tulus mencintainya, tak sadar akan kebohongan yang dilakukannya. Pasti sang ayah merasa, betapa bodoh dirinya. Pasti sang ayah juga terluka, walau dengan bijak menutupinya dengan senyuman tulus terhadap anak-anaknya. Benarkah hati ayahnya sekokoh batu karang yang tak goyah walau ombak menerjangnya.

“Puspa, kenapa diam? Apa perkataanku salah?”

“Tidak, Nugi. Kamu adalah laki-laki terbaik yang banyak petuah untuk hidupku. Aku berubah karena kamu.”

“Lalu apa pendapat kamu tentang apa yang baru saja aku katakan? Kalau aku salah, abaikan saja, aku tidak mungkin memaksa kamu melakukannya.”

“Tidak Nugi, kamu benar. Kamu selalu benar.”

“Jangan begitu, katakan dengan nurani kamu.”

“Seluruh nuraniku mengatakan itu. Tapi aku mohon, temani aku menemui ibuku di penjara.”

“Baiklah. Kapan?”

“Nanti waktu istirahat siang ya, aku mau pamit bapak dulu.”

“Baik. Aku selesaikan dulu pekerjaan aku."

***

Sang ayah setuju saja, dan memuji sifat baik Nugi yang memberi saran yang sangat bagus untuk Puspa. Memang sesungguhnya bekas suami itu ada, tapi bekas anak tidak ada, karenanya ia mendukung keinginan Puspa yang ingin menemui ibunya di penjara.

“Itu bagus, bagaimanapun dia adalah ibumu. Perempuan yang melahirkan kamu. Betapapun buruknya dia, dia tetap ibumu.”

“Nanti saya akan mengajak Nugi ya Pak.”

“Terserah saja kalau Nugi mau. Dia kan dengan sendirinya sudah tahu apa yang terjadi di keluarga kita, karena dia anak bik Supi yang sudah mengetahui masalah itu, malah sudah bertahun-tahun lalu.”

“Nugi sudah mengatakan kalau dia bersedia, jadi mohon ijin kalau nanti kami kembali ke kantor agak terlambat.”

Tuan Sanjoyo mengangguk. Ia merasa iba menatap Puspa, yang pasti batinnya sakit menyadari bahwa dia terlahir dari rahim seorang ibu yang penuh dosa.

“Semoga Allah mengampuninya,” bisik tuan Sanjoyo pelan.

***

Sementara itu Srikanti yang melihat Puspa menemuinya, begitu senang sekaligus terharu. Selama ini tak ada yang menjenguknya atau melihat keadaannya, karena dia memang tidak punya siapa-siapa. Dia juga tak mungkin mengharapkan tuan Sanjoyo datang melihatnya, karena dia sudah diusir dan diceraikannya. Karena itu kedatangan Puspa sangat membuatnya senang dan bahagia.

“Syukurlah kamu masih mengingat ibumu, Puspa. Ibu yang penuh dosa ini tidak pantas diperhatikan oleh siapapun.”

“Kalau ibu menyadari bahwa Ibu penuh dosa, selalulah bersujud kepadaNya, dan mohon ampun atas semua kesalahan yang pernah Ibu perbuat.”

“Iya, ibu akan melakukannya. Terima kasih kamu bersedia menemui ibumu ini.”

“Puspa selalu berdoa untuk Ibu.”

“Apa kamu juga mendengar kalau Priyadi sudah meninggal?”

“Iya.”

“Apa kamu tahu bahwa sesungguhnya dia adalah ayah kamu?” tiba-tiba kata Srikanti.

“Tidak Bu, dia juga mengatakannya, tapi dia bohong.”

“Mengapa kamu mengira bahwa dia bohong?”

“Puspa sudah tes DNA, dan hasilnya adalah bahwa Puspa anaknya bapak Sanjoyo. Mengapa ibu juga mengatakan itu?”

Srikanti menundukkan muka.

“Ibu sudah banyak dosa, jangan menambah lagi dengan dosa yang lain. Mengapa Ibu masih ingin berbohong lagi?”

“Puspa, sesungguhnya ketika ibu dinikahi tuan Sanjoyo, ibu memang sedang mengandung anak Priyadi. Tapi kemudian ibu keguguran.”

“Mengapa Priyadi bersikeras bahwa Puspa adalah anaknya?”

“Ibu tidak berterus terang pada Priyadi bahwa ibu keguguran. Ibu takut dia marah dan meninggalkan ibu.”

“Mengapa?”

“Kami adalah orang-orang jahat Puspa, ketika ibu hamil, Priyadi berharap bayi yang ibu lahirkan akan bisa mewarisi kekayaan tuan Sanjoyo, dan tentu saja akan membuat hidup Priyadi lebih bergelimang harta. Lalu kami akan menikah setelah aku minta cerai dari ayahmu. Kalau ibu mengatakan telah keguguran, ibu takut Priyadi marah, lalu meninggalkan ibu. Ibu begitu mencintainya. Jadi ketika ibu hamil lagi, dia mengira bahwa bayi itu adalah benih yang ditanamnya.”

Puspa menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar sebuah kejahatan yang telah ditata rapi. Tapi Allah tidak mengijinkan sehingga semua impian mereka hanyalah bayang-bayang.

Lalu tiba-tiba Srikanti melihat laki-laki yang duduk di kursi agak jauh dari mereka.

“Kamu datang bersama dia?”

“Iya Bu, namanya Nugi,” kata Puspa sambil melambaikan tangan ke arah Nugi, meminta agar Nugi mendekat.

Nugipun mendekat, meraih tangan Srikanti dan menciumnya.

“Apa dia pacar kamu?” tanya Srikanti sambil menatap tajam anaknya.

Puspa menatap Nugi yang menundukkan kepalanya, tersipu. Sesungguhnya Nugi juga mencintai Puspa, namun merasa bahwa dirinya sangat tidak pantas, karena dia hanyalah anak bik Supi.

“Mengapa kalian diam? Pacaran tidak? Anak ini begitu ganteng, ibu suka.”

“Tapi saya tidak berani Bu, saya hanya anak pembantu.”

“Kamu anak pembantu?”

“Saya anak bik Supi,” lirih ketika Nugi mengatakannya dengan terus terang.

“Apa? Kamu anak Supi pembantu aku? Tidak boleh, Puspa, aku tidak mau berbesan dengan pembantu,” teriak Srikanti, yang kemudian membuat beberapa polisi penjaga menoleh kearah mereka.

“Bu, mengapa Ibu berkata begitu?”

Sementara itu polisi meminta agar pertemuan diakhiri, dan Srikanti yang masih mengomel panjang pendek dibawa masuk kembali.

Puspa menarik tangan Nugi, dan menatapnya dengan penuh perasaan bersalah.

***

Nilam memang tidak mendapat hukuman seberat Srikanti. Ia tidak banyak tahu tentang kejahatan Srikanti, kecuali hanya dimanjakan oleh Priyadi dengan memenuhi semua permintaannya. Ia bersalah karena tahu bahwa itu uang yang berasal dari kebohongan, karena itu ia juga ikut dipenjara, walau vonisnya lebih ringan.

Tiga tahun yang dijalaninya sudah selesai, lalu dia keluar dengan perasaan penuh suka cita. Bayangan tentang memiliki rumah dan semua isinya, membuatnya ingin menari-nari di setiap langkahnya.

Tapi ketika dia sampai di tempat tujuan, ia tidak mendapatkan rumah itu lagi. Rumah itu sudah menjadi masjid kecil yang megah, dan beberapa orang tampak orang sedang membersihkan tempat itu.

“Apa yang kalian lakukan?” teriak Nilam.

***

Besok lagi ya.

59 comments:

  1. Alhamdulilah .. maturnuwun bu Tien

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah
    Matur nuwun bunda
    Sehat slalu beserta keluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  5. Terima ksih bunda cerbungnya..slm seroja unk bunda sekel πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  6. Terimakasih Bu Tien. Salam sehat selalu

    ReplyDelete
  7. Yessss... πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 46 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah HBB 46 test DNA Puspa Sanjoyo ,Maturnuwun Bunda semoga sehat selalu bersams Pak Tom.Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  10. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 46" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  11. Mks bun,....selamat malam....salam sehat tetap semangat

    ReplyDelete
  12. Terima kasih bu Tien, salam sehat selalu πŸ™sepertinya hampir tamat ceritanya...

    ReplyDelete

  13. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 46* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  14. Dengan gemetar... Ikut terhanyut .
    Alhamdulilah Puspa bukan anak Priyadi.

    Perjuangan cinta Puspa masih ada duri sang ibu belum merestui. Sabar Nugi jangan berkecil hati.
    .salut bunda. Dlm merangkai cerita ini

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah, sehat selalu mbakyu.... Matursuwun... NyimakπŸ₯°

    ReplyDelete
  16. Matur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk...

    ReplyDelete
  17. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 46 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Waduh...Kanti...stress nya kumat, dia tidak mau Puspa punya teman dekat anak pembantu. Sebaiknya dia di rehabilitasi saja ya..😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak.Munthoni

      Delete
  18. Alhamdulillah... terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  19. Waah...ibu Tien memang piawai memelintir alur cerita ya...plot twist yg manis dan tak terduga. Terima kasih, ibu...sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
  20. πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung HaBeBe_46
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·πŸͺ»πŸͺ·

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
    2. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  21. matur nuwun Bunda Tien,semoga selalu sehat, barokalloh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yulian

      Delete
  22. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yati

    ReplyDelete
  23. Orang shalat kok ditanya mengapa?
    Memangnya mereka bernyanyi?
    Nilam belum move on...
    Bagaimana kabar Mery ya?
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  24. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~46 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  25. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Yati

    ReplyDelete
  26. Alhamdulillah semoga Srikanti cepat sadar atas kesalahannya. Salam sehat utk Bu Tien & keluarga. Aamiin YRAπŸ™πŸ™πŸ™

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 51

  HANYA BAYANG BAYANG  51 (Tien Kumalasari)   Bik Supi menatap anaknya sampai selesai bertelpon, ada wajah tak senang ketika melihat wajah s...