HANYA BAYANG BAYANG 49
(Tien Kumalasari)
Nugi menoleh ke sana kemari, bayangan Puspa benar-benar tak tampak. Ketika ia berjalan ke arah kasir untuk membayar makanannya, kasir itu mengatakan bahwa Puspa sudah membayar semuanya.
Nugi keluar dari kantin dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Ia ingin menjauh dari Puspa karena menyadari siapa dirinya. Tapi ketika Puspa benar-benar pergi, hatinya merasa kacau tidak karuan.
Ketika keluar, ia sengaja melewati ruang kerja Puspa, tapi tak ada bayangan gadis itu. Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba pergi tanpa pesan apa-apa?
Nugi kembali ke ruangannya dengan perasaan terganggu oleh bayangan-bayangan yang sangat tidak mengenakkan. Tak biasanya Puspa bersikap seperti itu.
Yang membuat Nugi heran, mengapa hal itu membuat perasaannya terguncang? Baru ditinggalkan saat makan saja perasaannya seperti itu, bagaimana kalau Puspa benar-benar meninggalkannya, atau kemudian tak lagi peduli pada dirinya? Nugi memarahi dirinya sendiri. Katanya ingin menjauh, katanya merasa tak pantas, katanya dirinya dan Puspa adalah bumi dan langit, bagaimana hatiku ini? Kata batinnya sambil memegangi kepalanya.
“Pak Nugi sakit?” salah seorang rekan seruangannya menegur, membuat Nugi terkejut, lalu melepaskan pegangan pada kepalanya.
“Oh, tidak … tidak apa-apa kok,” katanya tersipu.
“Atau pusing? Saya ambilkan obat di poli?”
“Tidak, terima kasih, hanya … sedikit mengantuk.”
Rekan kerjanya tersenyum, dan merasa lega. Nugi adalah karyawan kesayangan tuan Sanjoyo, karena dia baik dan tidak sombong. Kalau sampai Nugi sakit, mereka pasti merasa khawatir.
“Ya sudah, istirahat dulu sebentar Pak.”
“Terima kasih.”
***
Ke mana perginya Puspa? Ia ada di ruangan sang ayah, sedang membantu memeriksa laporan yang dibuat sekretarisnya. Tapi entah mengapa, Puspa juga tidak fokus pada pekerjaannya. Ia mengulang dan mengulang lagi laporan itu dan merasa selalu tidak ada yang benar. Tadi ia meninggalkan Nugi di kantin, karena ada perasaan aneh yang dia rasakan, ketika Nugi bertelpon dengan seseorang, dan janjian mau ketemu besok. Padahal tidak jelas dengan siapa Nugi bertelpon. Puspa cemburu? Sepertinya iya. Cemburu buta, karena tidak tahu kepada siapa dia cemburu. Puspapun memarahi dirinya sendiri, karena tiba-tiba saja dia pergi dengan perasaan kesal. Pasti Nugi akan bertanya-tanya atas sikapnya yang menurut Nugi pastilah aneh.
Tuan Sanjoyo belum kembali. Tamunya, kecuali rekan bisnis, juga bekas teman kuliahnya. Barangkali agak lama barulah kembali. Kalau ia belum selesai mengerjakan tugasnya, pasti sang ayah akan menegurnya. Bagaimana menghentikan perasaan aneh ini? Ia harus bertemu Nugi dan meminta maaf, tapi dengan alasan apa dia meminta maaf? Apakah Nugi menganggapnya bersalah?
Lalu diraihnya ponselnya.
“Assalamu’alaikum ….," sapa Nugi dari seberang. Mendadak Puspa berdebar-debar. Apa yang harus dia katakan?
“Wa’alaikumussalam.”
“Ada apa?”
Tuh kan, ada apa? Oh iya, ia harus meminta maaf karena tiba-tiba meninggalkannya di kantin. Hal mudah, mengapa Puspa seperti kebingungan?
“Puspa?”
“Eh, iya Nug, maaf sambil bekerja nih.”
“Ya, bekerja saja dulu, ada apa?”
Walau menyuruhnya bekerja, tapi Nugi juga ingin tahu mengapa Puspa menelponnya.
“Itu, eh … kamu masih di kantin?”
“Tidak, sudah di ruangan. Ada apa?”
“Aku mau minta maaf.”
“Maaf untuk apa?”
“Tadi meninggalkan kamu ketika kamu sedang bertelpon dengan seseorang.”
“Ooh.”
“Maaf ya, tidak pamit dulu, aku … sebenarnya lupa, ada tugas dari bapak yang belum aku selesaikan.”
“Ohh …”
Lalu tiba-tiba Nugi merasa lega. Dan kelegaan itu juga dirasakan oleh Puspa ketika dia sudah mengucapkan kata maaf, dan tampaknya Nugi juga tidak marah, dari nada suaranya.
“Tidak apa-apa, mengapa harus meminta maaf?”
“Merasa tidak enak sendiri, karena tiba-tiba pergi, habis kamu sedang asyik bertelpon,” perkataan Puspa ini sebenarnya memancing, dengan siapa Nugi bertelpon.
“Oh, dengan teman … janjian ketemu besok.”
Puspa ingin menanyakan, temannya itu cewek atau cowok, tapi ia malu menanyakannya. Jadi pertanyaan itu masih menggantung karena sampai dia meletakkan ponselnya belum ada jawaban pasti, siapa teman Nugi. Yang penting cewek, atau cowok.
“Kenapa aku harus peduli tentang siapa teman Nugi? Cewek atau cowok? Memangnya kenapa kalau cewek, dan kenapa pula kalau cowok?” gumamnya.
Dan nyatanya Puspa belum bisa merasa tenang, berbeda dengan Nugi yang merasa lega setelah Puspa meminta maaf. Ia buru-buru meninggalkannya karena lupa ada tugas dari ayahnya. Baiklah.
Nugi melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan lebih tenang.
***
Ketika tuan Sanjoyo kembali ke kantor, Puspa bersyukur karena sudah menyelesaikan tugasnya.
“Tahu begitu tadi kamu ikut bapak, Puspa. Pak Cokro, teman bapak itu menanyakan kamu. Ketika kami bertemu, kamu masih kecil, pasti kamu tidak ingat.”
“Saya kan punya tugas Pak, kalau ikut Bapak, mana mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan saya.”
“Iya, bapak tadi juga mengatakan begitu sama pak Cokro. Kamu tahu, pak Cokro tadi melihat foto kamu di ponsel bapak, lalu dia ingin menjadikanmu menantu.”
“Apa?” Puspa membelalakkan matanya.
Tuan Sanjoyo tertawa. Ia tahu Puspa tak akan mau, karena hatinya sudah terpaut pada seseorang.
“Putra pak Sanjoyo itu sudah memegang usaha ayahnya yang ada di luar Jawa. Dia ganteng juga lhoh.”
Puspa tersenyum.
“Bapak setuju menjadi besan pak Cokro?”
“Tidak, kamu kok kelihatan khawatir sekali?” kata Tuan Sanjoyo sambil tertawa.
“Orang tua sering menjodoh-jodohkan anaknya,” jawab Puspa sambil tersenyum.
“Bapak lebih mengutamakan kemauan anak-anak, tidak akan memaksakan kehendak.”
“Terima kasih Pak.”
“Bagaimana hubungan kamu dengan Nugi?”
Puspa mengangkat wajahnya. Kok bapaknya bertanya lagi, sudah tahu kalau Nugi tidak berani menyatakan suka, apalagi cinta. Malahan tadi dia kencan dengan seseorang, jangan-jangan Nugi punya pacar yang menurut Nugi lebih pas dengan statusnya? Entahlah, Puspa mengambil map laporan lalu diberikannya kepada sang ayah.
“Kamu tidak menjawabnya ….”
“Kan Bapak sudah tahu jawabannya?”
***
Sore hari itu bik Supi menghadap tuan Sanjoyo, ingin pamit sehari saja untuk pulang kampung.
“Tidak apa-apa Bik, pulanglah saat kamu ingin pulang. Aku dan Puspa kan tidak perlu harus dilayani dengan begitu rumit. Makan minum seadanya, Puspa sudah belajar banyak dari kamu.”
“Non Puspa sudah sangat pintar melakukan pekerjaan rumah tangga. Membuat minuman, memasak dan semuanya. Walau begitu saya tidak tega meninggalkannya terlalu lama.”
“Kamu kan juga butuh ketemu anakmu, orang tuamu. Temui mereka, agar mereka tidak mengira kamu bekerja terlalu keras. Kita sudah seperti keluarga kan Bik?”
“Terima kasih banyak atas kebaikan Tuan. Sedianya setelah Nugi bekerja, saya akan berhenti bekerja, tapi ternyata saya tidak tega meninggalkan keluarga ini.”
“Terima kasih atas kebaikan kamu, Bik. Kamu benar-benar sudah seperti keluarga sendiri.”
“Iya Tuan.”
“Sekarang aku ingin bicara tentang Nugi.”
“Kenapa Tuan? Apa Nugi mengecewakan Tuan dalam menjalankan pekerjaannya?”
“Tidak, bukan masalah pekerjaan. Nugi kan sudah dewasa. Kamu sudah siap punya menantu kan?”
“Sebetulnya sih, iya. Tapi Nugi itu orangnya sulit. Dari beberapa gadis yang saya ‘tawarkan’ … tidak satupun yang menarik baginya, saya sampai bingung. Apa ya kesampaian, Nugi jadi perjaka tua?”
Tuan Sanjoyo tertawa.
“Nugi anaknya pintar, dan baik. Pasti banyak yang mau menjadikannya menantu.”
“Nuginya itu yang sulit, Tuan.”
“Barangkali dia sudah punya pilihan, tapi tidak berani mengatakannya sama orang tuanya.”
Bik Supi terdiam. Apa iya dirinya berani mengatakan bahwa yang dicintai Nugi adalah non Puspa? Iya kalau sang tuan berkenan, kalau ditolak, bahkan dengan perasaan tersinggung, bagaimana? Siapalah dirinya maka berani menjadikan non majikan menjadi menantu?
“Apa dia pernah mengatakan sesuatu? Maksudku … tentang seseorang yang disukainya?”
“Ya pernah … eh … tidak Tuan … entahlah anak itu,” bik Supi tiba-tiba hampir kelepasan bicara.
“Kalau pernah ya katakan pernah, Nugi sudah dewasa, wajar kalau dia jatuh cinta. Katakan saja, siapa gadis itu, nanti aku bantu melamar untuk dia.”
Bik Supi menundukkan wajahnya. Kalau sang tuan majikan mendengar siapa yang diinginkan Nugi, bisa habis dia.
“Tidak Tuan, Nugi itu kan hanya suka bicara seenaknya. Saya tidak tahu apa maksudnya dia.”
“Bik, aku kan hanya ingin membantu. Gadis mana dia, rumahnya di mana, nanti aku bantu melamarnya.”
“Tuan, yang diinginkan Nugi itu tidak mungkin terjadi. Nugi hanya anak pembantu, apa ada yang mau menjadikannya suami? Nugi hanya bermimpi.”
“Tidak apa-apa bermimpi, bukankah mimpi juga bisa menjadi kenyataan?”
“Ya sudah Tuan, saya akan membersihkan dapur dulu.”
“Kamu kan belum menjawab pertanyaanku, Bik?”
Bik Supi kebingungan.
“Tidak ada gunanya Tuan, keinginan Nugi hanya khayalan. Nanti akan saya carikan gadis kampung saya saja.”
“Kan tadi kamu bilang kalau semua pilihan kamu tidak ada yang mengena di hati Nugi?”
“Memang iya sih Tuan.”
“Aku kan sudah bilang kalau ingin membantu, katakan saja. Bahkan kalau Nugi menginginkan anakku, aku akan memberikannya,” kata tuan Sanjoyo karena sudah lama berbelit-belit menunggu jawaban, dan sementara itu tuan Sanjoyo sudah tahu maksudnya.
Bik Supi terbelalak menatap sang tuan majikan. Apakah dia salah dengar? Sang tuan akan memberikannya seandainya Nugi menyukai anaknya yang adalah non Puspa?
“Itu benar, Bik. Aku suka anakmu. Dia cerdas, pintas dan baik, serta bertanggung jawab. Apakah kamu tidak percaya?”
“Tuan … tu .. tuan … mau bermenantukan Nugi?”
“Tapi entah juga Bik, barangkali Nugi juga tidak suka pada anakku.”
Bik Supi mendekat dan mencium tangan sang tuan majikan. Tanpa mengucapkan apa-apa, karena air matanya sudah berjatuhan membasahi lantai.
***
Pagi hari itu bik Supi pulang kampung. Tuan Sanjoyo tidak mengatakan apapun pada Puspa tentang pembicaraannya dengan bik Supi. Ia masih menunggu reaksi Nugi setelah pastinya ibunya mengatakannya.
Puspa pamit pada sang ayah untuk belanja.
“Kamu berangkat sendiri?”
“Iya, hanya belanja. Bapak di rumah saja ya, Puspa juga akan beli sesuatu untuk kebutuhan Puspa sendiri.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
***
Puspa mengendarai mobilnya pelan, menyusuri daerah pertokoan, mencari toko yang dia sukai untuk belanja keperluannya.
Tiba-tiba matanya terbelalak. Ia melihat Nugi, sedang berboncengan dengan seorang gadis. Puspa mengenal gadis itu. Bukankah dia Wuri, adik kelas mereka?
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng I'in
DeleteHamdallah sampun tayang
ReplyDeleteAlhamdullilah terima ksih bunda hbb nya..slmt mlm dan slmt istrhat..salam seroja unk bunda sekeluarga๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteSami2 ibu Farida salam seroja juga
DeleteTerima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Bagyo
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 49 " ๐๐น
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 49 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Anik
Delete๐ป๐พ๐ป๐พ๐ป๐พ๐ป๐พ
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐ฆ
Cerbung HaBeBe_49
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin๐คฒ.Salam seroja ๐
๐ป๐พ๐ป๐พ๐ป๐พ๐ป๐พ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sari
DeleteMks bun HBB sdh tayang ....selamat malam
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati.
DeleteSelamat malam.juga
๐
ReplyDeleteMaturnuwun bu Tien, HBB 49 sampun tayang, semoga ibu dan pak Tom sehat dan dlm lindungan Allah SWT... aamiin yra ... salam hangat aduhai hai hai ๐ฅฐ๐ฅฐ❤️❤️
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 49" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu๐
ReplyDeleteSami2 pak Sis.
DeleteKemarin nggak tindak Solo?
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun Yangtie
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 49* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 49 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Hancur sdh hati nya Puspa...seperti di sayat sayat sembilu, melihat Nugi boncengan dengan Wuri. Bagi Puspa...Nugi adalah cinta pertama nya, orang nya tinggi, ganteng, mirip Ali Topan..anak jalanan...eeh salah.. anak gedongan...๐๐
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni.
DeleteKemarin nggak ke Solo?
Alhamdulillah HaBeBe_49 sdh tayang.
ReplyDeleteMatur nuwun mBak Tien salam SEROJA. Dan.... tetap semangat serta ADUHAI
Sami2 mas Kakek. ADUHAI
DeleteAlhamdulilah. HBB ke 49 udah tayang.
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Sehat slalu
Semangat... Terus berkarya.
Semoga Bu supi di kampungnya cerita apa yg dikehendaki tuan Sanjoyo.
Puspa cemburu nih... Perjodohan Puspa dan Nugi terrbukti. Semoga.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang atas perhatiannya.
DeleteKasihan Puspa mudah-mudahan tmau belanja jadi tidak fokus.Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bersama keluarga tercinta.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah
DeleteMaturnuwun Bu Tien ๐,sehat dan bahagia selalu bersama Kel tercinta....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien ❤️๐น๐น๐น๐น๐น
Sami2 jeng Susi.
DeleteAlhamdulillah sdh tayang saya kira besuk tayangnya... Suwun Bu Tien๐๐
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto .. hehee .
DeleteBukannya kalau besok kelamaan?
Maaf tanggung Bunda...gak lama lg puasa trus Lebaran..In syaa Allah...Pulkam..sih..
ReplyDeleteCerita awal tentang meninggalkan cowok kebingungan di kantin, sepertinya itu pengalaman Mbak Tien ya karena dihantarkan secara mulus sekali. Cerita akhir tentang Nugi membonceng cewek lain membuat hati Puspa terbakar, pengalaman siapa tu?
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~49 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..๐คฒ