AKU BENCI AYAHKU 15
(Tien Kumalasari)
Rohana menatapnya tajam, tapi wanita yang ditabraknya kemudian membungkukkan badan, lalu meraih tangan Rohana dengan sangat hormat.
“Ibu, apa kabar?”
“Kamu? Sedang apa kamu di sini?”
“Saya sedang … belanja, Bu.”
“Hm, belanja ya. Orang udik belanja sendiri di Jakarta? Berani sekali kamu.”
“Saya bersama mas Satria. Tuh, di sana, sedang membayar buah-buahan yang dibelinya.”
“O, sang nyonya sedang belanja, tapi ada pelayannya yang membawa belanjaan dan dia hanya jalan-jalan, sampai-sampai tidak melihat orang di depannya,” kata Rohana sinis.
“Bukan begitu Bu, saya sedang membeli perabot yang kami belum punya, mas Satria berhenti karena melihat buah yang dia sukai.”
“Aku kira kamu masih di kampung, hati-hati jalan-jalan di kota besar,” kata Rohana sambil berlalu.
“Minar, kamu sudah tinggal di sini bersama Satria?” Tomy yang masih berhenti menyapa Minar dengan ramah.
“Iya, Tomy. Apa kabarnya Monik?” tanya Minar yang pura-pura tidak tahu tentang perginya Monik, dan dia menyapa tapi bingung apa yang akan dikatakannya.
“Monik sudah pergi.”
“Pergi, bagaimana maksudnya?”
“Sudahlah, jangan tanyakan tentang dia lagi. Mungkin dia pulang ke orang tuanya. Apa kamu tidak pernah bertemu?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Tomy? Apa yang kamu lakukan? Jadi makan tidak?” teriak Rohana yang sudah berada didepan sebuah rumah makan.
Tiba-tiba Satria sudah mendekat dengan membawa tentengan buah jambu kristal.
“Ada Tomy, di sini?”
“Apa kabar Satria,” sapa Tomy, kaku.
“Kabar baik. Kamu masih di Jakarta?” tanya Satria yang juga pura-pura tidak mengerti tentang rumah tangga Tomy.
“Iya. Rupanya Minar sudah tinggal bersamamu di Jakarta?”
“Dia sudah selesai kuliah, setelah wisuda aku membawanya ke Jakarta."
“Syukurlah.”
“Kesibukan kamu apa? Kenapa ada di Jakarta?"
“Ini … belum ada. Baru mau cari pekerjaan.”
“Bukankah kamu_”
“Tomy!! Apa-apaan kamu!” teriak Rohana dari jauh, memotong pembicaraan keduanya.
“Ibu duluan, aku menyusul,” kata Tomy tak kalah keras.
“Kamu bekerja pada ayahmu bukan?” tanya Satria.
“Ada sesuatu, yang membuat bapak marah. Aku dipecat, juga diusir.”
“Sesuatu itu apa?”
“Banyak masalah yang membuat bapak kecewa. Monik pergi dari rumah, aku punya istri lagi,” katanya pelan, sambil memandang ke arah lain, sedikit sungkan.
“Wah, masih muda sudah menikah dua kali?”
“Kamu kan tahu, bahwa aku sama Monik tidak pernah saling menyukai.”
“Rumah tangga itu kan harus dipelihara.”
“Carikan aku pekerjaan,” akhirnya keluar juga perkataan itu dari mulut Tomy, setelah berbulan bulan merasa gengsi. Ia juga mengacuhkan perkataan Satria yang terakhir.
“Aku juga tidak tahu, apakah ada lowongan di kantor aku, tapi yang jelas ada itu bagian pemasaran.”
“Pemasaran? Apa pekerjaan bagian pemasaran?”
“Namanya pemasaran itu ya menawarkan apa saja yang sedang kamu jual. Bisa barang, bisa properti, bisa jasa apapun itu.”
“Biasanya aku jadi kepala bagian.”
Satria tertawa, pemikiran Tomy sangat sederhana, tapi tampak terbelakang dalam hal pekerjaan.
“Kamu jadi kepala bagian karena bekerja di perusahaan ayah kamu. Itupun kamu pasti masih banyak dibantu oleh ayah kamu. Ya kan? Oh ya, ada lagi, driver. Pasti kamu juga tidak suka.”
“Tomyyyyy!!” Rohana yang tadinya sudah masuk ke sebuah rumah makan, ternyata keluar lagi lalu berteriak memanggil Tomy.
“Kamu bersama ibu?”
“Kami sedang mau makan. Di rumah nggak ada yang memasak.”
“Mas, ada ibu, sebaiknya kita juga menemuinya. Tadi aku sudah menyalaminya juga,” kata Minar.
Akhirnya Tomy memenuhi panggilan ibunya, Minar mengajak Satria mengikutinya.
Rohana yang sudah kembali duduk di rumah makan itu, menatap tajam Satria yang sedang menggandeng tangan Minar.
”Ibu, apa kabar?” kata Satria yang tetap berdiri, hanya sedikit membungkuk lalu mencium tangan ibunya.
“Baik, tentu saja. Ya sudah, ibu dan Tomy mau makan dulu.”
“Satria, ikutlah makan bersama kami,” kata Tomy.
“Maaf Tomy, tadi kami sudah makan sebelum berangkat. Lagipula Minar masih harus belanja.”
“Ya sudah. Lupakan tentang pekerjaan itu. Aku tidak mau di bagian pemasaran.”
“Nanti aku kabari kalau ada lowongan yang kira-kira kamu bisa melakukannya.”
Satria menggandeng tangan Minar lalu berpamit pada ibunya.
Tomy mengikutinya lagi dari belakang. Minar memberi isyarat kepada suaminya agar memberikan uang untuk Tomy. Satria yang mengerti kemudian membuka dompetnya, lalu menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu ke saku baju Tomy.
“Eh, ini apa?”
“Sekedar buat jajan,” kata Satria yang kemudian melanjutkan melangkah pergi. Tomy meraba sakunya, ada uang satu juta di selipkan di saku bajunya. Malu? Ada sih, sedikit, tapi kan dia juga sedang tidak punya uang?
Tomy kembali ke meja di mana ibunya sudah menghadapi pesanannya.
“Kamu itu apa? Seperti ketemu pejabat saja. Harus diantar sampai ke depan,”
“Ya tidak apa-apa Bu, kan Satria itu kakak Tomy juga,” kata Tomy sambil nyengir. Kan baru saja dia dapat uang dari Satria, jadi dia berusaha membelanya.
“Bukan masalah Satria, ibu tidak suka pada perempuan itu.”
“Maksud ibu … Minar? Dia tidak salah, mengapa ibu membencinya?”
“Mengapa kamu selalu bersikap baik kalau ibu membicarakan Minar?”
“Sudahlah Bu, nggak enak makan sambil marah-marah. Ini ibu sudah pesan buat aku juga?”
“Iya, kelamaan menunggu kamu, ngobrol nggak penting.”
“Mengapa ibu memesan nasi soto? Kemarin sudah soto, kemarinnya juga soto,” omel Tomy.
“Jangan cerewet. Ini menu yang paling murah di sini. Yang penting tidak mati kelaparan.”
Tomy diam. Ia teringat apa yang dikatakan Satria. Ada lowongan, bagian pemasaran, dan juga driver? Astaga, masa anak pengusaha kaya jadi driver? Pikir Tomy sambil geleng-geleng kepala. Ia lupa bahwa dirinya sudah dipecat oleh ayahnya yang ‘pengusaha kaya’ itu.
Andai saja Tomy bisa melakoni apa saja asal bisa mendapat penghasilan, mungkin hidupnya akan terasa lebih tenang. Ia makan dengan berdiam diri. Menikmati nasi soto yang hampir setiap hari memasuki mulutnya.
"Tadi kamu bicara tentang pekerjaan?"
"Ya, yang ada lowongandi bagian pemasaran, dan driver."
"Apa? Jangan mau. Masa kamu akan kerja di bagian pemasaran? Berat. Ada targetnya. Apalagi driver. Pekerjaan rendahan," omel Rohana sambil menyuapkan makanan terakhirnya.
***
Pagi hari itu Rohana sedang mengumpulkan baju kotor untuk dicuci. Apa boleh buat, tak ada orang dan tak mampu bayar pembantu, sementara uang dari bekas suaminya lebih banyak dipergunakan untuk pergi bersama teman-temannya, tapi selalu mengeluh kekurangan. Tomy yang malas sudah enggan mencari istrinya, yang pergi entah ke mana. Akhirnya ia hanya pasrah, tetap mengikuti ibunya, tinggal di sana dan tak tahu harus berbuat apa.
Rohana meraba saku baju Tomy yang terasa tebal, ia sangat terkejut ketika menemukan uang di sana.
“Uang? Tomy memiliki uang? Dari mana? Sementara setiap hari hanya minta uang padaku, entah untuk beli jajanan atau hanya sekedar uang saku."
Rohana selalu memberikannya, karena sesungguhnya dia amat menyayangi anak laki-lakinya itu.
Rohana menimang-nimang uang itu dan menghitungnya.
“Satu juta? Dari mana Tomy mendapatkan uang sebanyak ini? Padahal aku tak pernah memberinya uang yang banyak.”
Ketika ia sedang menimang-nimang uang itu, tiba-tiba Tomy muncul dan merebut uang itu. Rupanya Tomy ingat ketika menyimpan uang itu di saku, ia lupa menyimpan di dompetnya. Ia mencari-cari pakaian kotor yang ternyata sudah tak ada lagi. Ia membayangkan uangnya sudah di gilas di mesin cuci dan hancur. Lalu ia merasa lega ketika ternyata uangnya belum masuk mesin cuci, sedang dipegang ibunya.
“Eh, itu uang siapa?” pekik ibunya karena terkejut Tomy tiba-tiba muncul.
“Uang Tomy dong Bu,” kata Tomy sambil membawa uangnya pergi. Tapi Rohana menarik tangannya.
“Kamu tidak menjawab pertanyaan ibu. Uang siapa itu?”
“Kan Tony sudah menjawab Bu, ini uang Tomy.”
“Dari mana kamu mendapat uang sebanyak itu? Bukan mencuri uang ibu kan?”
“Ya ampun Bu, memangnya ibu telah kehilangan uang? Tomy tidak pernah mencuri ya Bu. Ibu jangan khawatir.”
“Kalau begitu jawab, dari mana kamu mendapatkan uang itu?” tanya Rohana yang tidak melepaskan lengan Tomy.
“Dari Satria,” lalu Tomy melepaskan diri dari cengkeraman ibunya, langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Rohana terpaku di tempatnya. Satria mau memberi uang untuk Tomy, sementara hubungan mereka tak pernah baik. Rohana merasa, bahwa Satria telah memiliki kehidupan yang nyaman. Tapi yang membuatnya tak suka adalah ada Minar di samping Satria.
“Mengapa perempuan itu dibawanya kemari? Sangat memalukan sampai Tomy diberi uang oleh suaminya. Pasti ia mengejek Tomy walau hanya dalam hati. Dikiranya aku kekurangan sehingga anakku harus diberinya uang. Tak mungkin MInar tak mengetahui tentang uang itu. Memalukan," omelnya.
***
Minar sedang bersantai dengan suaminya di sore hari itu. Gelas minum yang tinggal separo, dan sepiring cemilan terhidang di depan mereka.
“Bagaimana sikap ibu ketika bertemu kamu tadi?” tanya Satria.
“Biasa saja, aku juga sempat menyalami dan mencium tangannya."
“Aku selalu khawatir, kalau ibu menyakiti kamu lagi.”
“Jangan dipikirkan, aku yang lebih muda harus bisa mengerti dan memahaminya. Pada suatu hari nanti dia pasti menyayangi aku,” kata Minar, tulus.
Satria menatap istrinya dengan pandangan kagum. Minar memang luar biasa.
“Mas tidak ingin menolong Tomy?” tanya Minar tiba-tiba.
“Menolong?”
“Bukankah dia butuh pekerjaan?”
“Di kantor, ada lowongan pekerjaan, tapi yang pasti tidak disukai Tomy. Bagian pemasaran, sudah ditolaknya. Dia mengatakan waktu bersama ayahnya dia adalah kepala bagian. Lalu ada lagi, driver. Apalagi driver, mana mungkin dia mau. Dia itu terbiasa hidup enak, mewah, jadi ketika Allah mengujinya dengan kehidupan yang membuatnya kekurangan, maka dia tak bisa mengatasinya.”
“Mas Satria sebagai kakaknya, harus bisa memberikan contoh, atau menuntunnya ke jalan yang benar. Memberinya arahan agar dia bisa mengatasi semua kesulitan dalam hidupnya. Bahwa mengingat kemewahan yang pernah dirasakannya, sangat tidak benar. Sebagai manusia, kita harus bisa melompati masa-masa sulit, dan mensyukuri apa yang menjadi karunia dalam hidup.”
“Kami tidak pernah berbincang. Kami selalu berbeda. Tomy yang dimanja ayah ibunya, dan aku yang mandiri. Mana mungkin dia mau menuruti apa kataku, seandainya kami bertemu.”
“Ajaklah dia ketemu, kalau Mas lagi senggang. Coba Mas bicara, agar dia mengerti bahwa apapun dan bagaimanapun yang ia hadapi, ia harus bisa mengatasinya. Jangan meremehkan sebuah pekerjaan."
Satria selalu merasa kagum kepada istrinya, yang selalu bisa berbicara dengan sangat bijak. Walaupun ibunya selalu membenci dirinya, tapi Minar tak pernah tidak menghormatinya, apalagi balas membencinya.
“Baiklah, kalau ada waktu akan aku suruh dia datang kemari.”
***
Sudah hampir sebulan Desy berada di rumah ayah Tomy, menemani anaknya setiap hari. Ada rasa lega karena ayah Tomy ternyata bisa menerima kehadirannya di rumah itu. Walau begitu dia tak ingin berpangku tangan dan menikmati semua kemudahan di rumah itu. Makan enak dan kenyang setiap hari, tidur nyenyak di kamar yang nyaman dan selalu wangi. Tapi Desy tak ingin berpangku tangan.
Ia selalu menunggu berita dari rumah makan, dimana dulu dia makan es krim bersama Indira.
Terlalu nyaman hidup tinggal makan, tidur, bepergian, bersenang-senang dengan anaknya. Desy merasa sangat tidak enak, apalagi dia berada di rumah mertuanya yang ia tahu bahwa dirinya tidak disukainya.
“Ibu, mengapa ibu bersedih?” Desy tersentak dari lamunannya ketika tiba-tiba Indira muncul, setelah puas bermain bersama pembantunya.
Desy tertawa pelan.
“Siapa yang bersedih? Ibu sama sekali tidak bersedih.”
“Kata bibik, ibu melamun. Kalau melamun itu, katanya sedang bersedih.”
“Tidak Indi, ibu hanya sedang menunggu kamu bermain. Tapi sama sekali tidak sedih kok.”
“Ibu jangan sedih ya?”
“Tidak. Ibu senang karena setiap hari bisa bersama Indi,”
“Benar?”
“Benar, Nak. Teruslah bermain, ibu hanya duduk dan menunggu di sini.”
Indrira berlari kepada pembantunya, dan mengatakan bahwa ibunya tidak sedang bersedih. Desy mendengar percakapan Indi, dan tersenyum senang.
Tiba-tiba ia mendengar mobil berhenti di halaman. Desy berdebar. Ia selalu takut, kalau ayah mertuanya datang. Ia merasa bahwa ia diterima di rumah itu karena terpaksa. Ia yakin bahwa sebenarnya ia tidak disukai. Adanya kemudian Desy diijinkan tinggal, pasti karena Indi merengek kepada kakeknya.
Desy berdiri menyambut di teras, mengangguk hormat ketika sang ayah mertua lewat. Tapi ayah Tomy hanya menoleh sejenak, lalu melewatinya, kemudian masuk ke dalam kamarnya, di mana dia bersantai bersama Indi setiap kali datang. Tapi kali itu ayah Tomy tidak memanggil Indi. Salah seorang pembantu datang, mengatakan kepada Desy bahwa tuan besar menunggu di ruangannya.
Desy berdebar. Setelah mengangguk, ia melangkah ke ruangan itu dengan kaki gemetar.
***
Besok lagi ya.
Trmksh mb Tien
ReplyDelete𝙎𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙩 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙔𝙖𝙣𝙜𝙩𝙞𝙚 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧2 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙡𝙚𝙥𝙖𝙨 𝙨𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡 𝙟𝙚𝙥𝙞𝙩𝙣𝙮𝙖, 𝙡𝙖𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙪𝙚𝙣𝙘𝙚𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙣𝙘𝙞𝙡.... 𝙉𝙮𝙖𝙡𝙞𝙥 𝙟𝙚𝙣𝙜 𝙎𝙖𝙧𝙞, 𝙟𝙚𝙣𝙜 𝙉𝙪𝙣𝙞𝙣𝙜, 𝙙𝙡𝙡
DeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah mba Tien sayang . Aku benci ayahku 15 telah tayang. Semoga mba Tien sehat selalu dan bahagia bersama keluarga
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteABeAy episode 15..sudah tayang
Matur nuwun Mbak Tien
Salam sehat
Salam ADUHAI..dari Bandung
🙏🥰🤗🩷🌹🌸
Sami2 jeng Ning
DeleteADUHAI selalu dari Solo
🌹🍄🌹🍄🌹🍄🌹🍄
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏🦋
AaBeAy_15 sdh tayang.
Matur nuwun sanget,
tetep smangats nggih Bu.
Semoga slalu sehat dan
bahagia. Aamiin.
Salam Aduhai 😍💝
🌹🍄🌹🍄🌹🍄🌹🍄
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun jeng Sari
Aduhai deh
🏃🏃🏃🏃🏃👨⚖️👨⚖️👨⚖️👨⚖️👀👀👀👀
ReplyDeleteAlhamdulillah ABeAy_15 sdh hadir malam, ini walau Bunda Tien sedikit kurang sehat.....
𝙎𝙮𝙖𝙛𝙖𝙠𝙞𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪 𝙏𝙞𝙚𝙣....
𝙇𝙖 𝙗𝙖'-𝙨𝙖 𝙩𝙝𝙤𝙝𝙪𝙪𝙧𝙪𝙣 𝙄𝙣𝙨𝙝𝙖𝘼𝙡𝙡𝙖𝙝.....
𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙗𝙪 𝙏𝙞𝙚𝙣
𝙎𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙩𝙖𝙥 𝘼𝘿𝙐𝙃𝘼𝙄......
🌹🌹🌹🍅🍅🌷🌷🌻🌻🌻🌻
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun mas Kakek
Tetap ADUHAI
Alhamdulilah Aku Benci Ayahku 15 sudah tayang
ReplyDeleteMaturnuwun bu Tien .. jadi penisirin lihat kelanjutan rohana dan tomy .....semoga bu Tien sekeluarga selalu sehat dan bahagia, serta selalu dalam lindungan Allah SWT salam hangat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️🌹🌹
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Sri
Aduhai aduhai..deh
Matur nuwun mbak Tien-ku Aku Benci Ayahku telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteMatur suwun bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun pak Indriyanto
DeleteAlhamdulillah 👍🌷
ReplyDeleteMaturnuwun Bunda semoga selalu sehat wal afiat 🤲🙏
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Herry
Alhamdulillah..
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien 🌹🌹🌹🌹🌹
Sami2 ibu Susi
DeleteAlhamdulillah *Aku Benci Ayahku*
ReplyDeleteepisode 15 tayang
Mksh bunda Tien sehat selalu doaku
Salam hangat dari Jogja
Ttp semangat dan tmbh ADUHAI ADUHAI ADUHAI
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun jeng In
ADUHAI 3X
alhamdulillah
ReplyDeletematurnuwun bunda
Sami2 ibu Nanik
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien
Semoga bunda selalu sehat
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Salamah
Semoga siTomy dan Rohana sifatnya tetap jelek. Gak kaya Minar.
ReplyDeleteAlhamdulillah, ABeAy -15 tayang
ReplyDeleteMatur nuwun bunda Tien🙏🩷
Semoga selalu sehat dan bahagia bersama 🤲🤗
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Ermi
Alhamdulillah AKU BENCI AYAHKU~15 sudah hadir, terimakasih bu Tien, semoga sehat & bahagia senantiasa bersama keluarga.
ReplyDeleteAamiin yra..🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun pak Djodhi
Alhamdulillah ABA 15 sdh tayang.
ReplyDeleteSuwun bu Tien. Smg sll sehat dan bahagia bersama kelg.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Handayaningsih
Alhamdulillah ABeAy~15 sdh tayang.
ReplyDeleteMatursuwun bu Tien. Semoga sehat dan bahagia selalu bersama kelg 🌷😍
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Umi
Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat selalu ya 🤗🥰💐
ReplyDeleteSemoga Desy ditawarkan pekerjaan ya , hehe🤩
Minar sungguh luar biasa sabarnya n ikhlas menjalani hidup
Mantab & Aduhaiii Bu Tien,👍🌿💖
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Ika
Matur nuwun
ReplyDeleteWaduh ada apa yaa Desy dipanggil mertuanya
Kok aku yang gemeter
Hehee.. aja gemeter mbak Yaniiikk
DeleteOwalah rohana_rohana, apa lupa to yo kamu dulu jg orang kampung to, ko ya ngatain minar orang kampung, ngaca dong ngaca
ReplyDeleteMinar juga hatimu terbuat dari opo to nduk, ko ya bisa sabar, mulia sekali kamu nduk
Mks bun smg tetap sehat...selamat malam...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin
DeleteMatur nuwun ibu Supriyati
Hehee... pak Widay2
ReplyDeleteMatur nuwun Mbak Tien sayang. Salam sehat selalu buat Mbak Tien dan keluarga.
ReplyDeleteSami2 jeng Iraaaaaa
DeleteApa kabar ?
ReplyDeleteAlhamdullilah
Cerbung *Aku Benci Ayahku 15* telah. hadir
Matur nuwun bu Tien
Semoga sehat bahagia bersama keluarga
Aamiin...
.
Hamdallah. cerbung Aku Benci Ayahku -15 telah hadir.
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien
Sehat dan bahagia selalu bersama amancu di Sala. Aamiin
Minar bersikap bijaksana, Satria kagum pada nya.
Tomy perlu di arahkan ke jalan yng benar, agar mau bekerja dan tdk bermalas malasan lagi.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAda baiknya Rohana dan Tomy berubah jadi orang baik. Pengaruh Minar dan Satria mungkin dapat mengubah watak mereka.
ReplyDeleteDesy akan 'disidang' mertuanya kah... Atau akan diberi pekerjaan...
Tunggu besok lagi ya...
Salam sukses mbak Tien yang ADUHAI, semoga selalu sehat, aamiin.
Tommy sifatnya nurun dari ibunya ya, gengsian. Kerjaan asal halal kan bisa menghasilkan juga. Keenakan kalau dikasih terus, bisa bikin tergantung ke orang lain dan malas.
ReplyDeleteTerima kasih, bu Tien. Salam sehat.🙏
Rame
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bu tien tayangan cerbungnya
Semoga bu tien sehat² selalu
Matur nuwun Bu Tien, selamat week end dengan keluarga..
ReplyDeleteMakasih mba Tien.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap aduhai