SEORANG PENGAIS SAMPAH DAN SANG PUTRI KECIL 0006
(Tien Kumalasari)
Menur terpana, didepannya, sangat dekat di depannya, laki-laki yang ingin dilupakannya itu berdiri. Menur merasa berdiri didepan gunung yang amat tinggi, mana mungkin ia bisa menjangkaunya. Seperti dulu, ketika saat manis masih menyelimuti hidupnya. Ketika hati dan jiwanya diguyur oleh kasih sayangnya. Tapi tidak, itu hanya semu. Hanya mimpi-mimpinya. Mimpi menggapai bintang, mimpi bermandikan sinar rembulan.
Ia mundur selangkah, tapi Baroto menggapai tangannya.
“Jangan berani-berani menyentuhku, Tuan,” katanya tandas.
Baroto tersenyum. Menur masih seperti dulu, tak mudah disentuh oleh sembarang tangan.
“Mengapa kamu lari? Aku ingin kita bicara.”
“Saya tidak mengenal Tuan,” katanya sambil membalikkan tubuhnya.
Tapi entah dari mana datangnya, Baroto sudah berada di depannya. Apakah dia angin yang bisa melesat dalam waktu tak sampai sedetik?
“Tuan, aku mohon.”
“Jangan panggil aku ‘tuan’. Aku Baroto.”
“Saya tidak mengenal Tuan. Saya hanya seorang pemulung, hina dan kotor. Apa Tuan tidak malu berbincang dengan saya?”
“Tolong mengertilah, aku akan meminta maaf.”
“Apa yang sudah Tuan lakukan? Kita tidak pernah saling mengenal.”
“Aku pernah mencintaimu, dan sekarang aku menemukan cinta itu lagi.”
Menur tersenyum tipis.
“Senyummu membuat aku sakit.”
“Tuan, apa tuan sadar siapakah aku? Biarkan aku pergi, ada yang harus aku lakukan di rumah. Ada yang menunggu aku.”
“Suami kamu?”
“Bukan urusan Tuan. Tolong menyingkirlah.”
Tapi Baroto tak mau menyingkir.
“Aku akan terus mengikuti kamu. Sampai kamu mengakui siapa dirimu dan siapa aku.”
“Baiklah. Saya Menur, dan Tuan adalah seorang terhormat yang tidak pantas mendekati Menur, pengais sampah yang kotor.”
“Tapi hatimu tidak kotor. Apa kamu tidak percaya kalau aku mencintai kamu?”
“Apa Tuan bermimpi? Apa Tuan sadar siapa aku?”
“Kamu Menur, anak pak lurah yang pernah menjadi istriku.”
“Istri dalam khayalan.”
“Benar-benar istri.”
“Tolong jangan omong kosong lagi dihadapan saya.”
“Aku sungguh-sungguh mencintai kamu.”
“Mudah saja mengucapkan itu. Dulu ada orang yang mengatakan bahwa dia mencintai saya. Tapi dia pergi begitu saja.”
“Aku terpaksa. Aku dijodohkan oleh orang tuaku, dan terpaksa menjalaninya karena orang tuaku sakit parah.”
“Sekarang saya sudah mendengarnya, sekarang menyingkirlah.”
“Aku mencarimu setelah beberapa bulan menikah. Tapi kamu tak ada lagi di sana. Mengapa kamu bekerja menjadi pengais sampah?”
“Apakah menurut Tuan ini adalah pekerjaan hina?”
“Bukan itu. Kemana suami kamu, dan mengapa membiarkan kamu bekerja seberat ini?”
“Ini tidak berat. Demi anak saya.”
“Kamu punya anak? Apa itu anakku?”
“Tidak, bukan … mengapa Tuan berpikir begitu?”
“Ketika aku mencari kamu, aku mendapat keterangan kalau kamu pergi dalam keadaan hamil.”
”Tapi dia bukan anak Tuan, ayahnya sudah meninggal. Tuan, sungguh saya harus pulang. Tolong jangan mengganggu saya lagi.”
“Aku melakukan ini bukan hanya untukku, tapi untuk Ana. Dia menangis terus dan berharap kamu menjadi pengasuhnya.”
“Itu tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin?”
“Saya tidak ingin bertemu Tuan lagi, apalagi melihat Tuan setiap hari.”
“Aku hanya pulang selama sepekan, lalu aku harus pergi. Pekerjaanku ada di luar negri. Tolong penuhilah permintaan Ana, aku tak tahan melihatnya menangis.”
“Tuan sangat mencintai anak Tuan?”
“Sebenarnya Ana bukan anak kandung kami.”
Menur terkejut mendengar bahwa Ana bukan putri keluarga Baroto. Ditatapnya Baroto dengan heran.
“Itu benar. Kami menikah tidak didasari cinta, kecuali karena ikatan bisnis. Kami tidak pernah saling menyentuh, karenanya tidak dikaruniai seorang anakpun. Orang tua istriku memberikan seorang bayi, anak kerabat yang tak punya orang tua lagi, agar kami adopsi. Bayi tu adalah Ana.
“Itukah sebabnya mereka tak pernah memeluk Ana? Ia selalu teringat permintaan Ana ketika pertama kali bertemu, ‘bibi, peluk aku.’ Sebuah permintaan yang aneh, hanya karena ketika Ana hampir terjatuh, lalu aku menangkapnya dan memeluknya," kata batin Menur.
Barangkali baru kali itulah Ana merasakan sebuah pelukan. Tiba-tiba Menur merasa sangat iba. Di dalam sebuah keluarga yang kaya raya, ada seorang anak yang merindukan kasih sayang. Terbayang wajah gadis kecil itu ketika memohon untuk dipeluk. Begitu menghiba, membuatnya trenyuh.
“Pergilah bersamaku, Menur. Ana akan senang,” Baroto mengejutkannya.
Menur mengangkat wajahnya.
“Aku harus mencari makan. Anakku juga butuh sekolah, dan untuk itu aku bekerja.”
“Menur, Ana akan memberikan gaji untuk kamu. Aku percaya, pendapatan kamu akan meningkat, jauh di atas kalau kamu memulung. Maaf, kamu tidak akan dianggap pembantu. Kamu akan jadi bagian dari keluarga Baroto, karena Ana menyayangi kamu.”
“Istriku tidak suka anak kecil," lanjutnya.
“Tuan juga ….” sindir Menur.
Baroto tersipu.
“Aku terlalu sibuk berbisnis. Itu adalah sebuah pelarian, sebenarnya.”
“Pelarian dari apa?”
“Dari gagalnya mendapatkan cinta,” kata Baroto sambil menatap tajam Menur. Tatapan yang memiliki seribu makna. Menur membuang muka ke arah lain. Ia tak ingin terjebak oleh perasaannya yang mulai melemah.
“Tolong ijinkan aku pergi, anakku sudah menunggu,” katanya sambil terus melangkah, dan mau tak mau Baroto menyingkir memberi jalan.
Tapi baru beberapa tindak dia berjalan, Baroto meneriakinya.
“Menur, ada titipan dari Ana.”
Menur terpaksa berhenti melangkah. Baroto mendekatinya, menyerahkan sebuah kotak berisi makanan.
“Ini ….”
“Bawalah, itu dari Ana, kalau dibuang sayang, kalau aku bawa pulang pasti Ana akan marah.”
Menur menerimanya, dan matanya memancar marah ketika Baroto sengaja menyentuh tangannya.
“Maaf, tidak sengaja.”
Menur membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menuju pulang.
“Pikirkanlah permintaanku, tolong Ana, dia sangat menunggu kamu.”
Menur terus saja melangkah, tapi bayangan gadis kecil nan manja itu terus mengikutinya.
***
Wajah Rahman berseri-seri, ketika melihat makanan yang terhidang di depannya.
“Tidak ada ikan tidak apa-apa. Ini daging rendang, enak sekali. Bagus Bu, setiap hari bawakan lauk yang enak-enak,” katanya enteng sambil mengunyah makanan yang tak pernah disantap sebelumnya.
Menur tak menjawab. Rahman tak pernah peduli dari mana ibunya mendapatkan semua itu. Kalau Ana tidak memberinya makanan, mana mungkin dia bisa membawa pulang ikan, dan daging rendang seperti hari itu? Rahman juga tak pernah memikirkan, bagaimana kalau makanan yang terhidang disantap habis olehnya, sementara sang ibu belum makan sedikitpun. Tapi Menur membiarkannya. Itu hal biasa. Menur biasa makan sisa-sisa makanan walau tak seberapa, setelah sang anak kenyang.
“Besok saatnya membayar uang sekolah, dan uang untuk ujian,” tiba-tiba Menur menghentikan kegiatannya bersih-bersih dapur mendengar perkataan sang anak.
“Besok uang sekolah bisa kamu bayar, tapi uang untuk ujian menyusul ya?”
“Apa maksud ibu? Pokoknya harus besok, malu dong kalau tidak bisa membayar besok.”
“Besok biar ibu yang membayarkannya ke sekolah, jadi kamu tidak perlu malu.”
“Terserah, tapi ingat satu hal, jangan mengaku sebagai ibuku.”
“Baik, aku adalah pembantu kamu,” katanya sambil berjalan ke arah dapur sambil mengusap air matanya.
***
Pagi hari itu setelah Rahman berangkat ke sekolah, Menur bersiap untuk bekerja, dan akan mampir ke sekolah Rahman untuk membayar uang sekolah. Tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda berjalan tak jauh di depannya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda Tien
Pengais Sampah .... Telah tayang.
Sami2 bapak Endang
DeleteSuwun mb Tien🙏
ReplyDeleteSami2 Yang tie
DeleteAlhamdulillah Ana sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu.Endah.
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah terima kasih bunda ,
ReplyDeleteSemoga bunda dan keluarga selalu sehat 🤲
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu.Sifa
Delete