NAMAKU TETAP SENJA 30
(Tien Kumalasari)
Mbok Mangun, Arka dan Rimba mulai merasa gelisah. Senja masuk ke dalam karena curiga. Terasa lama sekali, kalau hanya mengambil sesuatu yang ketinggalan.
“Memangnya barang mas Arka ada yang ketinggalan?” tanya mbok Mangun.
“Rasanya tidak ada Mbok, semuanya sudah saya bawa. Saya juga heran ada yang mengatakan bahwa ada yang ketinggalan.”
“Tas Mbak Senja, barangkali,” kata Rimba.
“Tidak, ini tas kakakmu diletakkan di dekat Simbok ketika membantu Simbok masuk mobil tadi.”
“Biar saya susul ke dalam,” kata Arka yang kemudian bersiap turun.
Arka meminggirkan mobilnya, kemudian turun dan bergegas masuk ke dalam toko. Ia langsung menuju kasir, pastinya kalau ada yang ketinggalan juga ada di kasir, atau tempat pengambilan barang di dekat kasir. Tapi ia tak melihat Senja di sana.
“Mbak, barang apa yang tadi ketinggalan?” tanyanya kepada yang bertugas di situ.
Tiga orang yang bertugas saling tatap dan bingung.
“Yang ketinggalan apa ya Mas?”
“Tadi ada yang menyusul ke mobil, katanya ada barang ketinggalan, sehingga adik saya kembali masuk. Tapi kok lama sekali tidak keluar-keluar.”
“Kalau di sini rasanya tidak ada yang ketinggalan Mas.”
Arka mulai merasa tak enak. Ia ke counter penjualan pakaian di mana tadi mereka memilih-milih. Tapi di sana juga tak ditemukan apa-apa. Para petugas malah bingung dibuatnya.
Arka seperti orang linglung, berkeliling hampir semua petugas ditanya, tak seorangpun tahu.
“Barangkali sedang ke toilet Pak,” saran salah satu petugas.
Arka bergegas ke toilet. Tak ada orang di sana. Arka kebingungan.
“Dia seorang gadis?” tiba-tiba kata seseorang.
“Iya, gadis, hampir setinggi mbaknya itu,” kata Arka sambil menunjuk ke salah seorang petugas.
“Apa gadis yang tadi sakit ya?”
“Sakit?”
“Tadi ada seorang gadis yang dipapah keluar, tampaknya dia sakit.”
“Bajunya biru?”
“Ya, pakai atasan warna biru, tadi kalau tidak salah memilih-milih di counter sebelah sana.”
“Kemana dia?”
“Seorang laki-laki membawa keluar dari pintu samping. Laki-laki itu memakai masker. Ketika ditanya teman saya yang di sana, katanya gadis itu adiknya yang tiba-tiba sakit.”
Arka berlari keluar melalui pintu yang ditunjuk, menoleh ke sana kemari, tapi tak menemukan apa yang dicarinya. Arka heran. Ada yang menculik Senja? Untuk apa? Senja kan tidak punya apa-apa seandainya dia ingin memerasnya?
Dengan hati cemas Arka kembali ke mobilnya. Ia bisa membayangkan, Simbok dan Rimba pasti sangat cemas mendengarnya. Tapi ia harus melaporkan kejadian itu kepada polisi.
Arka berbelok arah pergi ke pos penjaga, melaporkan tentang apa yang terjadi pada Senja. Polisi membuka file CCTV yang dipasang di toko itu. Arka berteriak, ia melihat bahwa itu Senja, terkulai lemas dipundak seorang laki-laki yang wajahnya tertutup masker, tidak jelas itu siapa, tapi dia membawa Senja dengan sebuah mobil.
“Jadi orang yang mengatakan bahwa ada yang ketinggalan itu memang memancing Senja agar kembali masuk, lalu entah dengan apa, ia bisa membuat Senja lemas sehingga bisa dibawanya."
Arka menyerahkannya kepada polisi untuk mengusut Senja yang hilang tiba-tiba. Ia juga harus kembali ke mobil untuk menemui mbok Mangun dan Rimba yang pasti menunggu-nunggunya.
Dan itu benar. Mereka sangat cemas. Simbok menangis meraung-raung. Rimba yang kebingungan tak tahu bagaimana harus menenangkan simboknya.
“Mbok, saya sudah melaporkan masalah Senja yang hilang. Simbok tenang dulu ya, polisi akan mencari Senja.”
“Mengapa anakku diculik? Apa salahnya? Anakku anak yang baik, penurut, dan ia juga baik kepada semua orang. Apa ada yang membencinya? Apa yang diinginkannya? Dia tidak kelihatan seperti orang kaya kalau memang akan dirampok.”
“Baiklah, saya antar pulang dulu ya Mbok, polisi pasti bisa menemukannya.”
***
“Bapak, mengapa mondar mandir dari tadi? Tuh, minumnya keburu dingin,” kata Bu Wiguna.
“Mengapa sampai sore begini Arka belum juga pulang?”
“Namanya jalan-jalan sama temannya, mungkin masih mampir-mampir lagi ke mana … gitu.”
“Ia jalan sama keluarga penjual beras itu. Ibu tadi tidak dengar ya. Aku kan sudah bilang?”
“Sama siapapun memangnya kenapa. Ini hari Minggu, biarlah dia menikmati pemandangan yang lain, bukan hanya melihat ruangan kantor yang penuh berkas-berkas dan laporan dari sana-sini.”
“Ternyata Ibu tetap tidak mengerti.”
“Baiklah, memang banyak yang tidak aku mengerti. Biarkan saja, sekarang minum dulu, duduk santai, jangan memikirkan apapun.”
“Ibu tahu, Rosa sangat kecewa dengan kelakuan Arka.”
“Menurut aku, biarkan saja mereka. Kalau jodoh bisa bersatu, kalau tidak, mengapa harus dipaksakan.”
“Mengapa suami istri bisa tidak sejalan pemikirannya.”
“Suami istri bisa sejalan, kalau berjalan melalui jalan yang lurus.”
“Jadi menurut Ibu aku ini berjalan serong?”
“Menurutkan kehendak, tanpa peduli perasaan orang lain itu namanya tidak lurus. Ibu tidak sependapat dengan Bapak, karena Bapak menurutkan kemauan Bapak sendiri.”
“Ibu tetap tidak mengerti. Ini bukan untuk aku, tapi juga untuk Arka, untuk Ibu, untuk keluarga ini. Kalau kita bisa berbesan dengar pak Daryono, derajat kita akan naik setinggi langit.”
“Bapak harus tahu, naik terlalu tinggi itu, kalau jatuh rasanya lebih sakit.”
“Ada-ada saja. Itu kan kiasan.”
“Tapi itu benar.”
“Hidup itu dibuat sederhana saja, jangan pakai kiasan-kiasan.”
”Saya setuju dengan ungkapan hidup sederhana itu. Tapi Bapak tidak melakukannya. Kalau yang namanya sederhana itu ya sudah, apa adanya, tidak usah punya keinginan yang aneh-aneh.”
“Ibu itu salah, maksudku sederhana itu jangan pakai kiasan-kiasan. Itu menghambat kemajuan seseorang.”
“Bapak itu kok tiba-tiba punya pemikiran aneh dan tidak masuk akal. Apa yang Bapak bicarakan itu aku nggak ngerti sama sekali. Kiasan kok menghambat kemajuan seseorang itu apa.”
“Ya sudah, diam saja kalau tidak mengerti. Mana ada, orang punya cita-cita tinggi kok dikatakan nanti akan sakit kalau jatuh. Kalau mengingat hal itu ya tidak akan ada orang punya cita-cita tinggi.”
“Bukan cita-cita pada umumnya Pak, keinginan Bapak itu lho. Yang tadi Bapak bilang derajat kita akan semakin tinggi. Lha mengapa Bapak menilai derajat tinggi dari harta? Itu cita-cita yang sesat. Ya cita-cita semacam itu yang nanti akan membuat kejatuhan dan sakit.”
Seperti biasa bu Wiguna memilih pergi kalau nada pembicaraan sudah semakin tinggi. Tapi pak Wiguna kembali duduk di teras, menunggu kedatangan Arka yang saat hari hampir gelap tapi belum juga sampai di rumah.
***
Apa yang terjadi pada Senja?
Ketika Senja membuka matanya, ia berada di sebuah ruangan atau kamar yang sama sekali tidak dikenalnya. Kamar tidur yang bagus menurut ukuran Senja, tapi tak ada siapapun di sana.
“Bagaimana aku bisa berada di sini, ini rumah siapa?”
Senja mengingat kejadian sebelum itu, ia ingat tadi dipanggil orang, yang mengatakan bahwa ada barang yang ketinggalan, tentu saja dia bergegas kembali, mengira kalau belanjaan Arka yang ketinggalan. Waktu itu Arka sedang memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, dan Senja langsung saja mengikuti orang yang dikiranya petugas toko. Tapi ditengah perjalanan ke bagian toko yang lebih dalam, ia seperti mencium sesuatu. Orang itu menempelkan sesuatu dihidungnya. Ia ingin menghindar tapi tak mampu. Tahu-tahu ia berada ditempat asing. Sekarang Senja memikirkan simboknya. Betapa sedih hati simboknya ketika menyadari bahwa dia menghilang tanpa jejak.
“Jadi aku ini diculik orang? Untuk apa aku diculik? Siapa melakukannya, dan apa yang diharapkan dari aku?” gumamnya sambil turun dari tempat tidur, berjalan mengelilingi kamar.
Ada perabotan lengkap di kamar itu, tempat tidur, almari, bahkan ada cermin untuk berdandan. Jadi ini kamar seorang wanita. Pikir Senja.
Senja adalah seorang yang kuat. Ia tidak gampang menangis. Kehidupannya yang penuh susah payah, membuatnya tidak mudah mengeluh dalam setiap kesulitan. Sudah jelas ia diculik tanpa tahu apa dan mengapa juga siapa yang melakukannya.
Senja melihat ada jendela, ia mendekat, berharap dari jendela itu ia bisa kabur. Tapi ketika ia membukanya ternyata jendela itu berterali besi. Senja melihat ke sekeliling, lalu berjalan ke arah sebuah pintu, yang ketika ia membukanya ternyata pintu kamar mandi. Senja masuk, ia mencari barangkali ada celah untuk melarikan diri. Tapi tiba-tiba pintu kamar mandi itu dibuka dari luar, seorang laki-laki berdiri disana, dengan tatapan menakutkan.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteSuwun mb Tienπ
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwu Mbak Tien
Alhamdulilah, cerbung kesayangan sampun tayang .... maturnueun bu Tien ..sehat dan sukses selalu nggih bun ..salam aduhai aduhai bun ❤️❤️❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku NAMAKU TETAP SENJA telah tayang.
ReplyDeleteSemoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
π¦πΉπ¦πΉπ¦πΉπ¦πΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eNTeeS_30 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja ❤️
π¦πΉπ¦πΉπ¦πΉπ¦πΉ
Alhamdulillah,senja telah hadir, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ππ semoga senja selamat dari kejahatan Rosa..
ReplyDeleteSudah jelas Senja diculik atas suruhan Rosa si jahat itu...makin nampak karakternya yg ga bagus, Arka makin ga suka...bagus kalau pak Wiguna tahu nanti.
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...semoga sehat selalu.ππ»πΉ
Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun Bunda
ReplyDeleteSalam Seroja. Sehat slalu
Alhamdulillah cerbung yg ditunggu sdh tayang mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu dan diberi umur panjang aamiin
ReplyDeleteTerima ksih bunda cerbungnya..slm sehat sll dan aduhai unk bunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteTerima ksih bunda cerbungnya..slm sehat sll dan aduhai unk bunda ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ Namaku Tetap Senja 30 ~. Sudah tayang. Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDelete