SAKITKU ADALAH CINTAKU 26
(Tien Kumalasari)
Beberapa saat lamanya Indras terpaku di depan pintu, sambil memelototi strook belanjaan yang diberikan petugas toko langganan. Ia sampai tidak sadar ketika petugas itu pamit pergi dan ia hanya mengangguk tanpa rasa.
Sebuah kopor, dan jacket seharga ratusan ribu, kopor yang tidak murah, lalu apa lagi yang dibelinya? Sampai tertinggal di toko? Karena saking banyaknya? Lalu barang-barang yang lainnya ada di mana? Hem mahal, baju baju, kaos bermerk, jumlahnya tidak sedikit. Belanja yang bukan main. Apa dia membelikannya kepada dokter cantik selingkuhannya? Gaun mahal, adakah gaun mahal … atau ia hanya membelikannya kaos-kaos ini. Dia kan suka pakai baju-baju yang sporty walau sedang bertugas?
Ada pula celana, dan jacket lagi, kaos lagi … Indras merasa pusing. Ia meletakkan barang tertinggal itu di ruang tamu, kemudian dia ke kamar lalu memijit-mijit kepalanya yang berdenyut.
Ia mengambil air wudhu ketika mendengar adzan, lalu menumpahkan segala keluh di atas sajadah tempatnya bersujud.
“Apa yang harus hamba lakukan, Ya Allah sesembahan hamba? Hamba tak tahan lagi, haruskah hamba pergi?”
Indras mengusap air matanya ketika mendengar suara berisik di luar. Seperti barang-barang diletakkan dengan kasar, lalu langkah sepatu menuju kamar. Indras mendengar pintu kamar terbuka. Indras menoleh lalu terdengar sentakan yang keras.
“Mengapa shalat di sini sementara ada mushola di samping?”
Hanya masalah bertanya mengapa shalat di kamar, tapi suaranya gemuruh seperti guntur diantara hujan.
Indras tak menjawab. Ia melepas mukena dan melipatnya pelan, berikut sajadah yang tadi digelar.
Ia meletakkannya di atas kasur.
“Kamu tidak mendengar aku bicara?”
“Biasanya kamu tak mau bicara,” jawabnya singkat kemudian keluar dari kamar.
Indras melihat barang-barang berserakan di lantai. Belanjaan suaminya? Ternyata bukan untuk perempuan itu? Dan dia belanja gila-gilaan? Indras ingin mendiamkannya, tapi karena ini luar biasa, maka dia menegurnya, ketika ia melihat sang suami mengikutinya.
“Untuk apa belanja barang-barang sebanyak ini?”
“Memangnya kenapa? Nggak suka?”
“Kamu membeli barang-barang yang sembarangan dan tidak diperlukan. Apa akan kamu berikan kepada doktermu yang cantik itu?”
“Apa maksudmu? Kapan kamu tidak berpikiran jelek tentang aku?”
“Aku hanya bertanya. Ini tidak wajar.”
“Apa yang tidak wajar? Kamu menganggap aku gila?”
Indras ingin menjerit saking jengkelnya. Ia tak tahu harus mengatakan apa, ia heran dengan kelakuan suaminya. Ia hanya bertanya dan karena itu sangat luar biasa, tapi jawabnya sangat menyakitkan dan membuatnya semakin sedih.
Akhirnya Indras diam, dan itu membuatnya semakin berteriak.
“Mengapa kamu diam?” sentakan itu menggetarkan dadanya.
Jadi daripada dia menjawabnya lalu lebih baik ia kembali masuk ke dalam kamar. Malu juga didengar oleh pembantu di rumah.
Tapi Zein mengikutinya masuk.
“Kamu belum menjawab pertanyaan aku,” masih keras suara itu.
“Pertanyaan yang mana?”
“Kamu anggap aku gila?”
“Aku tidak mengatakan itu. Kamu sendiri yang mengatakannya.”
Ketika Indras ingin duduk di sofa yang ada di kamar itu, Zein mendahuluinya.
Indras tak mengatakan apa-apa, sampai kemudian terdengar dering ponsel suaminya, yang segera diangkatnya sambil berjalan keluar.
Indras merasa sakit mendengar suara tawa suaminya saat menerima telpon. Mengapa dia bisa tertawa kepada orang lain dan selalu amarah yang ditumpahkan untuk dirinya? Begitu manis kata-katanya ketika menjawab. Indras bangkit, dibukanya pintunya sedikit, lalu terdengar Zein berbicara sambil terkekeh.
“Maaf, aku tidak bisa. Bukan, bukannya tidak mau, aku sedang ada keperluan. Tidak masalah, besok bisa kamu bawa ke kantor kan … pasti … aku selalu suka … apa yang rusak? Nanti beli yang baru … ya, jangan marah dong, nanti cantiknya hilang bagaimana... Beneran, besok beli baru, sudah dulu ya....Yaa, ada … tak apa, baiklah, selamat malam cantik…”
Indras melompat ke atas tempat tidur dan menyembunyikan tangisnya di bawah bantal.
***
Lewat tengah malam ketika dia terbangun dan bermaksud mengambil air wudhu, ia tak melihat suaminya di sampingnya, ia melongok keluar dan melihat sang suami masih terjaga. Barang-barang belanjaan yang semula terserak sudah tak ada lagi. Bersih dan rapi disekelilingnya. Entah ditaruh di mana barang-barang belanjaan itu, Indras tak ingin menanyakannya. Ia melihat suaminya diam di depan televisi yang masih menyala. Ada pertunjukan sepak bola yang entah antara siapa dan siapa, tapi ia yakin sang suami tidak melihat pertunjukan itu, karena matanya menerawang ke langit-langit. Ia bahkan tak menoleh ketika mendengar ia membuka pintu dan pergi ke arah mushala. Ia tak akan shalat di kamar seperti tadi, daripada disemprot suaminya tanpa alasan. Padahal bukankah Allah ada di mana-mana?
Indras kembali bersujud, mengadukan duka lara yang menimpanya. Berharap menemukan jalan keluar yang bisa meringankan bebannya.
Ia merasa yakin suaminya berselingkuh, dan suaminya mengumbar hartanya demi menyenangkan perempuan itu. Ia ingin lari dari kehidupan itu, tapi rumah tangganya sudah dijalani puluhan tahun. Anak-anaknya sudah dewasa, bahkan Santi sudah mendapat pekerjaan di luar kota, sehingga anaknya yang ada hanyalah Sinta. Itupun karena dia sibuk menyelesaikan kuliahnya, jadi Indras tak ingin mengganggunya dengan keluhan-keluhan.
Lama sekali Indras bersujud, sampai adzan subuh menggema.
***
Ketika pagi ia merasa malas untuk berangkat kerja, ia melihat Zein sudah rapi dan tampak sangat bersemangat. Padahal entah jam berapa dia tidur, atau bahkan tidak tidur sama sekali.
Tiba-tiba Indras teringat bahwa uang belanja yang diberikan Zein sudah habis. Bibik mengatakannya kemarin pagi.
Karena Indras tak lagi mau mengeluarkan uang sepeserpun, maka ia terpaksa mengatakannya kepada sang suami.
“Zein, uang belanja sudah habis. Bibik sudah melaporkannya kemarin.”
“Apa? Dua juta sudah habis? Apa kamu mengajari pembantu agar berlaku boros untuk menghambur-hamburkan uang?”
Indras mengerutkan keningnya. Dua juta untuk belanja sebulan, dan dia mengatakan boros serta menghamburkan uang? Bagaimana dengan belanjaan yang dia beli bahkan sampai pusing Indras membayangkannya.
“Ada catatan bibik kalau kamu ingin membacanya,” kata Indras dingin.
Wajah Zein gelap bagai mendung. Ia meletakkan uang dua juta di meja dengan kasar.
“Apa kamu tak mau sedikitpun memberikan sebagian uangmu untuk belanja?”
“Tidak,” kata Indras sambil menggelengkan kepalanya dan menyunggingkan senyuman sinis.
“Ya sudah, pakai itu dan jangan pergunakan uang itu untuk hal yang tidak berguna,” katanya sebelum ngeloyor pergi menghampiri mobilnya dan berlalu.
Indras mengerutkan keningnya.
“Siapa mempergunakan uang untuk hal yang tidak berguna? Siapa menghambur-hamburkan uang?” gumamnya dengan wajah datar. Lalu dipanggilnya bibik.
“Bik, itu uang untuk belanja dan semua kebutuhan.”
“Saya bawa semua, Nyonya?”
“Iya, tentu saja. Itu untuk kebutuhan semuanya. Kalau habis atau kurang, kamu tinggal membuat laporan seperti kemarin.”
“Saya mencatat semua pengeluaran setiap hari. Kemarin tuan juga sudah memberikan uang gaji saya.”
“Bagus, memang biasanya tuan yang memberikan.”
“Saya permisi Nyonya, nanti mau belanja lagi. Sabun cuci, sabun mandi, odol sudah habis. Saya juga akan membeli sikat gigi yang baru, kemarin non Sinta berpesan begitu.”
“Lakukan saja apa yang harus kamu lakukan, semua kebutuhan harus tercukupi. Kalau habis cukup bilang sama aku.”
“Baik Nyonya.”
Ketika bibik berlalu, Indras bersiap pergi bertugas. Padahal sebenarnya kepalanya sangat pusing. Ia membayangkan sang suami akan membelikan sesuatu, seperti yang didengarnya ketika mereka bertelpon. Ia tak tahan lagi. Harus ada yang dia putuskan. Jalan terus, atau berhenti. Kalau tidak dirinya akan hancur.
Dalam perjalanan ke tempat kerja, Indras terus menimbang-nimbang. Semuanya harus berhenti. Ia adalah dokter, di mana ketenangan dalam menghadapi pasien sangat diperlukan.
***
Sore hari ketika suaminya pulang, Indras mendekatinya.
“Zein, aku ingin bicara.”
Saat itu Zein sedang duduk di teras. Seperti biasa ia sedang mengutak atik ponselnya. Hanya itu yang membuatnya tenang.
Zein mengangkat wajahnya, yang tiba-tiba menjadi muram.
“Aku sudah tahu apa yang kamu lakukan. Aku tidak ingin hal buruk ini berlanjut.”
“Apa maksudmu?” Zein mulai mengerutkan kening. Wajahnya sangat tak sedap dipandang.
“Aku ingin mencari ketenangan, jadi biarkan aku pergi.”
”Apa?” seperti biasa Zein berteriak.
“Biarkan aku pergi sehingga kamu tidak perlu melampiaskan kekesalan dan kemarahanmu di rumah ini. Dengan demikian kamupun akan lebih tenang dan nyaman.”
Tiba-tiba Zein berdiri, wajahnya merah padam. Indras siap menerima apapun yang akan dikatakan suaminya, tekatnya sudah bulat.
“Kalau begitu biarkan aku mati saja!”
Itu sebuah teriakan, sangat keras seakan membubung ke atas langit, membuat Indras gemetar.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah.....sudah tayang
ReplyDeleteTur nuwun Dhe
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (26)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteTrmksh mb Tien
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Sehat slalu beserta keluarga.
Zein ko belum sadar juga ya... KLO mau mati ya matilah...
Hamdalah sampun tayang
ReplyDeleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung eSAaCe_26
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππππππππ
Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 26" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng daluπ
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~26 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Hatur nuhun bunda cerbungnya..slm seroja unk bunda sekeluargaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 26 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Gas terus ya Indras, sdh nyata nyata Zein berselingkuh, gugat cerai dia. Agar dia menyadari kesalahannya. Zein suruh memilih, mau kamu atau d janda muda tsb. Klu dia ingin mati biarin aja. Dia ingin mati secara terhormat atau mati sebagai pengecut π
Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 26 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAssalamualaikum bu Tien, alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 26 " sampun tayang. Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun π©·π©·πΉπΉπ₯°π₯°
ReplyDeleteAlhamdulillah dah tayang, maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta ππ❤️
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien.ππ
ReplyDeleteTerimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aamiin YRA
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat semua ya π€π₯°πΏπ
ReplyDeleteWaduh, dokter Zein gendeng ...rapuh juga ya imannya . jangan terbawa emosi dr Indras tetap bertahan ya ,,π€
Terima kasih Bunda Tien, barokalloh...Zein sakit NPD kok mengerikan ya Bun .. kasihan istri dan anak2 jadi korban
ReplyDeleteZein itu sudah gila...
ReplyDeletePermisi Mbak, lihat Lukman dulu..
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteAlhamdulilah sudah tayang kembali
Sehat sll Bunda Tien. Cerbung nya semakin menyayat hati. Aku tunggu kelanjutan cerbung nya π