SAKITKU ADALAH CINTAKU 25
(Tien Kumalasari)
Zein terdiam. Mengunjungi seorang janda di rumahnya? Untuk acara apa? Dulu dia datang, untuk merayakan ulang tahunnya, tapi sekarang apa?
“Dokter, mengapa Dokter diam?” suara dari seberang. Merengek seperti kambing.
“O tidak, aku sambil mengerjakan sesuatu.”
“Jadi bagaimana, apa Dokter bersedia? Aku akan masak, seenak masakan almarhumah ibunda. Tak ada siapapun di rumah Dok, kita bisa berbincang sepuas hati kita. Hitung-hitung mengisi kekosongan hati saya setelah suami pergi.”
“Nanti aku pikirkan lagi ya. Jangan merengut, nanti cantiknya hilang.”
“Bener ya, jangan membuat saya kecewa ya Dok.”
“Daag, cantik,” kata Zein memutuskan pembicaraan itu.
“Saya tunggu ya Dokter.”
Ketika meletakkan kembali ponselnya, Zein termangu. Sebuah undangan yang menarik. Hanya berdua bersama janda, sepi tak ada orang lain, dan bisa berbincang dengan nyaman. Hanya berbincang? Bukankah setan suka sekali mengutak atik hati manusia dengan iming-iming yang lezat dan nikmat?
Sesungguhnya Zein bukan laki-laki seperti itu. Ia hanya ingin mencari kesenangan dengan puja puji dari seseorang yang tidak didapatkannya di rumah. Ia hanya suka senyumnya, suka celotehnya yang meluncur dari bibir tipisnya. Suka pakaiannya yang seronok dan menggugah selera aneh? Zein suka membuang muka ketika dokter Tyas sedang berlenggak lenggok memamerkan keseksiannya. Tapi apakah dia akan bisa bertahan ketika godaan demi godaan semakin gencar menghajarnya?
Zein membenahi barang-barangnya dan bersiap untuk pulang.
Ketika ia melewati ruang perawat, telinganya mendengar sebuah gunjingan, dan itu tentang dokter Tyas.
“Lama tidak melihat dokter Tyas ya, biasanya melewati ruangan ini dengan pakaian seksi.”
“Ya ampuun, kamu betul. Tahu nggak, semua dokter selalu melotot melihat penampilannya.”
“Keterlaluan. Aku nggak suka melihatnya. Ia memakai jas dokter tapi tidak dikancingkan seluruh kancing di depannya.”
“Kan hanya ingin memamerkan bahwa dia cantik dan montok?”
“Mengapa ya, dokter Zein tidak menegurnya.”
“Eeeh, kamu tidak tahu ya? Dokter Tyas itu anak emas dokter Zein.”
“Betul … betul … kalau ada di dekat dokter Zein, dia memperlihatkan kemanjaannya. Memuakkan!”
“Tapi kalau keterlaluan seharusnya ditegur.”
“Rasa sayang itu mengalahkan segalanya.”
“Dokter Zein itu istrinya cantik lhoh. Dia juga baik.”
“Ya, aku tahu itu. Cara berpakaiannya juga sopan. Kalau pas ada acara kemari, dia menyapa semua orang dengan sangat santun.”
Zein yang berhenti menguping tak tahan mendengar itu semua. Rupanya kedekatannya dengan dokter Tyas tercium juga oleh perawat-perawat itu. Barangkali juga oleh dokter yang lain, yang tentu saja sungkan menegurnya karena dia adalah pimpinan tertinggi di rumah sakit itu.
Zein berdehem, dan sepi di ruangan itu segera menyengat. Tak ada suara, karena semua menutup mulut.
Tapi Zein tidak mengatakan apa-apa. Ia terus berlalu menuju lobi, meninggalkan rasa ketar ketir yang memenuhi ruang perawat itu.
“Ya ampuun, aku kira dokter Zein masih di ruangannya,” bisik seseorang.
“Tumben-tumbenan pulang cepat.”
“Soalnya dokter genit itu sedang cuti.”
“O iya. Aduuh, tadi dia mendengar tidak ya kita ngomongin dokter Tyas?”
“Dan menyinggung namanya juga lhoh.”
“Ya sudah … bubar … bubar, tugas baru dimulai sudah ngegosip.”
***
Zein mengendarai mobilnya sambil memikirkan gunjingan yang barusan didengarnya. Ternyata kelakuan yang tidak wajar bisa menjadi perhatian. Ia ingin marah, tapi mengapa marah kalau semua itu adalah kenyataan?
Mereka benar. Cara berpakaian dokter Tyas sangat tidak pantas, dan dia selaku pimpinan tidak pernah menegurnya. Lalu kalau nanti dia memenuhi undangan dokter Tyas, apakah gunjingan itu tidak akan menjadi semakin seru?
Zein merasa gelisah. Lalu ia tak ingin pulang. Ia mengendarai mobilnya tanpa arah. Yang penting jalan. Ke rumah dokter Tyas? Tidak. Zein bukan mencari kepuasan yang tidak pantas.
“Kalau dokter Tyas menginginkan lebih, biarkan saja. Kalau dia marah karena aku tidak memenuhi undangannya, biarkan saja juga. Aku pasti bisa membuatnya kembali tersenyum,” gumamnya.
Dan senyuman itu terkadang sering dirindukannya.
Zein terus memacu mobilnya, lalu berhenti di sebuah rumah makan. Ia ingat belum makan sejak di rumah sakit, sekarang ia merasa lapar.
Dalam makan itu dokter Zein merasakan sebuah kegelisahan yang entah dari mana datangnya. Ia ingin marah, ia ingin menangis. Apa? Menangis? Tabu bagi dokter memperlihatkan kelemahannya. Dia adalah laki-laki perkasa yang tak ada duanya. Tapi mengapa hatinya tidak bisa menjadi tenang?
Akhirnya dokter Zein tidak menghabiskan makanannya. Ia berdiri dan beranjak keluar, yang untungnya dia tidak lupa membayar makanannya.
Tapi ia tak menuju ke arah mobilnya.
***
Indras heran, hari sudah senja tapi suaminya belum pulang. Mereka tak bertegur sapa sudah berbulan-bulan, tapi Zein tidak pernah pulang terlambat, kecuali ada sesuatu di kantornya.
Tapi kali ini Indras benar-benar gelisah. Ia marah kepada suaminya, ia kesal dan kecewa atas apa yang diperbuatnya, tapi ia tetap memikirkannya dan berharap dia akan baik-baik saja.
Karena tak tahan berpikiran yang sangat mengganggunya, dia menelpon ponselnya. Tidak diangkat. Lalu dia menelpon ke rumah sakit.
“Dokter, dokter Zein sudah pulang dari tadi. Bahkan lebih awal dari biasanya.”
“Oh, baiklah, terima kasih.”
Indras meletakkan ponselnya. Ada perasaan aneh menghantuinya. Ia pulang awal? Apakah bepergian dengan perempuan ganjen itu?
Karena penasaran dia menelpon lagi ke ruang dokter, ia pura-pura ingin bicara dengan dokter Tyas. Tapi jawabannya mengejutkannya.
“Dokter Tyas cuti sudah hampir seminggu.”
Sambil meletakkan kembali ponselnya, ia berpikir tentang kepergian Zein yang pastinya dengan perempuan itu. Rasa panas membakar darahnya.
“Mama, kok papa belum pulang?” yang bertanya adalah Sinta.
“Entahlah, barangkali ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan," jawabnya sekenanya.
“Minuman Mama Sinta bawa ke teras ya, nanti keburu dingin. Tadi Sinta yang membuatkannya.”
“Terserah kamu saja.”
Sinta beranjak ke belakang lalu keluar dengan membawa dua cangkir kopi panas.
Tapi mereka tak banyak bicara. Sinta asyik mengutak atik ponselnya, sedangkan Indras sedang berpikir tentang suaminya. Rupanya Sinta hanya ingin menemani mamanya dalam menunggu kepulangan sang papa.
***
Sudah lewat maghrib dan Zein belum pulang juga. Kopi yang disediakan Sinta sudah dingin, sementara Indras sudah menghabiskannya. Teras sudah kosong tak ada orang karena saatnya melakukan ibadah maghrib.
Indras sempat menangis di atas sajadahnya, sesambat kepada Allah Tuhannya, tentang hidupnya yang di tahun-tahun terakhir ini kurang bahagia.
“Hanya Engkau yang bisa menolong hambaMu ini Ya Allah, tolonglah hamba. Tunjukkan jalan mana yang harus hamba tempuh,” isaknya.
Indras keluar dari kamarnya dengan perasaan lebih ringan. Ia merasa memiliki tempat untuk bersandar dan berserah, ia tahu ia akan melakukan hal yang benar karena bimbinganNya.
Ketika ia keluar dari kamar, bibik menghampirinya.
“Nyonya, uang yang saya bawa sudah tinggal beberapa. Ini catatan yang saya buat hampir selama sebulan. Ini catatan per hari dan apa saja yang saya beli. Beras, sabun, pewangi dan belanja harian. Mohon Nyonya membacanya.”
Indras menerima catatan itu, lalu membacanya sekilas. Kebutuhan sebulan termasuk beras dan lain-lain. Indras tak ingin menghitung-hitung. Ia percaya pada bibik yang sudah ikut bersamanya sejak masih pengantin baru. Ia selalu jujur dan bekerja dengan sangat memuaskan.
“Untuk belanja harian barangkali saya harus minta uang lagi, Nyonya.”
“Ya, baiklah. Nanti saya bicara lagi dengan tuan.”
Bibik beranjak ke belakang. Ia melihat kegelisahan yang sejak tadi tampak pada wajah nyonya majikannya. Ia juga belum melihat sang tuan pulang sejak pagi.
Indras kembali ke teras. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ini dari butik langganannya. Butik yang lengkap. Bukan hanya baju-baju yang dijualnya. Tas bermerk juga ada.
“Selamat malam, dengan dokter Indras?”
“Ya, saya. Ada apa Mbak?”
“Dokter Zein ada?”
“Tidak ada, ada yang bisa saya bantu?”
“Ini, Dok. Belanjaan dokter Zein ada yang ketinggalan, juga notanya. Saya sedang menyuruh pegawai saya mengantarkannya ke mari.”
Indras terkejut. Belanjaan apa?
“Yang ketinggalan apa ya?” Indras sebenarnya tak tahu menahu tentang belanjaan suaminya, tapi ia pura-pura tahu agar tidak kelihatan aneh.
“Sebuah kopor dan jacket. Maklum tadi dokter Zein membawa barang banyak. Tapi jangan khawatir, kami sudah mengirimkannya ke rumah.”
“Oh, baiklah, terima kasih.”
Indras menutup ponselnya.
“Belanjaan banyak sekali? Kopor dan jacket ketinggalan?”
Tak lama ia berpikir, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di halaman. Seorang kurir turun, membawa kopor dan bungkusan besar yang pastinya adalah jacket seperti yang dikatakan pemilik toko langganan.
Indras menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Kurir itu juga menyerahkan nota belanjaan yang membuat Indras terbelalak.
“Limaratus juta lebih?”
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien
ReplyDeleteMatur nuwun ibu
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~25 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulillah,SAC sdah tayang,, semoga Zein kuat imannya,...dan kembali mencintai keluarganya...
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta.❤️❤️
Alhamdulillah sudah tatang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 25" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng dalu π
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (25)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTrimakasih Bunda Tien. Yg ku tunggu sdh tayang, gosip...tapi... Dr Zein kan sakit apa bisa di sembuhkan. Kasian dr Indras. π
Alhamdullilah .terima ksih bunda..met malming bersm keluarga..slm sht sllππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteMks bun.....selamat malam smg sehat sll
ReplyDeleteAlhamdulilah. Matur nuwun Bunda.
ReplyDeleteAduh bnyk amat Zein belanja sampai 500 JT... Dasar dokter sakit. Uang belanja cuman ngasih 2 JT.
π»πΌπ»πΌπ»πΌπ»πΌ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung eSAaCe_25 sdh
hadir. Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π»πΌπ»πΌπ»πΌπ»πΌ
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 25 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 25 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Zein yang kepribadian nya terbelah, gampang banget di keretin oleh s janda kembang...eh... janda muda..deng π
Matur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....
ReplyDeleteMatur nuwun,Bu Tien. Semoga selalu sehat dan salam Aduhai
ReplyDeleteZein....makin membuat pinisirin
Terimakasih bunda Tie, selamat berlibur, sehat dan bahagia selalu
ReplyDeleteMaturnuwun bu Tien ... ya Alloh kok Zain tambah menjadi jadi penyakitnya ..gara gara Tyas nih ... jadi penisirin bun ...salam sehat dan aduhai aduhai bun
ReplyDeleteApa lagi kelakuan Zein ini Mbak?
ReplyDeleteTerima Kasih Mbak, izin mau nengok Lukman dulu..
Alhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat semua ya π€π₯°πΏπ
ReplyDeleteAda apa dg dr Zein... banyak bener belanja nya sampai 500jt