SAKITKU ADALAH CINTAKU 24
(Tien Kumalasari)
Zein menatap tajam istrinya. Kemarahan mulai membakar jiwanya, dan juga darahnya. Apalagi ketika ia melihat wajah sang istri yang bicara seakan tak ada sungkan-sungkannya padahal sedang membicarakan uang belanja. Hal yang selama berpuluh tahun tabu bagi sang istri. Memang benar. Indras tak pernah mengeluh. Ia juga tak pernah meminta jatah uang belanja. Baginya ia mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya, karena kebutuhan anak sekolah dan pembantu sudah dipenuhi suaminya. Indras barangkali tak tahu bahwa seorang istri berhak mendapatkan jatah bulanan dari penghasilan suami. Tapi ketika mengetahui bahwa suaminya menghamburkan uang untuk menyenangkan orang lain apalagi itu adalah seorang perempuan, maka marahlah Indras.
“Apa maksudmu?” Zein berteriak.
“Apakah kamu pernah memberi aku nafkah bulanan seperti para suami pada umumnya?”
”Jadi kamu membandingkan aku dengan suami yang lain? Apa kamu menginginkan suami yang lain pula?”
“Bukan. Aku menginginkan kamu sebagai suami aku, yang melakukan kewajibannya sebagai suami yang benar-benar suami. Apa kamu keberatan memberikan jatah bulanan kamu kepada istri kamu? Apa kamu lebih suka memberikan penghasilan kamu untuk menyenangkan orang lain?”
“Apa?” Zein semakin berteriak.
“Maksudku … kepada perempuan lain?”
“Ternyata kamu benar-benar memata-matai aku."
"Aku bukan memata-matai kamu, tapi Allah membuka mataku tentang sebuah permainan keji yang kamu lakukan diluar keluarga kamu. Entah sudah berapa banyak uang kamu terhambur untuk memanjakan perempuan lain.. Alangkah baik hati kamu.”
Tiba-tiba Zein berdiri dan beranjak keluar dari rumah, sambil membanting pintu sangat keras, membuat Indras lumayan kaget walau sebelumnya sudah menduganya.
Indras menarik napas lega. Ia sudah mengeluarkan semua endapan yang mengaduk-aduk perasaannya. Ada air mata yang kemudian bergulir, tapi cepat segera diusapnya.
***
Sejak saat itu Zein tak pernah berkata-kata. Ia diamkan istrinya, ia diamkan anak-anaknya, bahkan sudah berhari-hari.
Pagi hari itu Zein meletakkan uang dua juta di meja dapur. Ia menoleh kepada bibik dan mengatakan itu uang untuk belanja.
Sebelum bibik menjawabnya, Zein sudah pergi dari hadapannya. Ia menghampiri mobilnya dan memacunya keluar dari halaman.
Bibik meraup uang itu, lalu bergegas mencari nyonya majikan yang kebetulan belum berangkat bekerja.
“Nyonya … Nyonya ,,, “
Indras menoleh ke arah pembantunya yang tergopoh mendekat sambil mengacungkan lembaran uang.
“Ada apa?”
“Nyonya, tadi tuan meletakkan uang ini di meja dapur.”
“Uang?”
“Tuan bilang, ini uang untuk belanja. Ini Nyonya, saya belum memerlukannya. Uang dari nyonya kemarin masih ada.”
“Bawa saja Bik, cukupi semua kebutuhan dapur dan yang lain-lainnya dengan uang itu.”
“Tapi saya membawa uang terlalu banyak, Nyonya.”
“Tidak apa-apa, supaya kamu tidak bolak-balik minta kalau persediaan barang-barang ada yang habis.”
“Nyonya ….” bibik masih ragu.
“Sudah simpan saja oleh Bibik, aku mau berangkat dulu,” kata Indras sambil terus melangkah menjauh.
Bibik menatap segenggam uang yang ada di tangannya, lalu masuk ke dalam rumah. Ada apa ini, mengapa sekarang sang tuan yang memberi uang belanja, dan sikap kedua tuannya memang agak berbeda. Mereka pasti sedang berantem. Beda ya, berantemnya orang kaya dengan orang miskin? Berantem tapi diam-diam. Pikir bibik. Ia tidak tahu kalau tuan dan nyonya majikannya sudah lama berantemnya.
***
Zein baru menginjak lobi rumah sakit, ketika seseorang dengan tampilan sexy menyambutnya.
“Dokterku yang ganteng baru datang?”
Zein menatap penampilan dokter Tyas yang mengenakan rok pendek dan baju ketat melekat yang mencetak penuh seluruh bentuk tubuhnya.
“Mengapa Dokter menatap saya? Ya ampun, hari ini Dokter kelihatan lesu, apakah Dokter sakit?” kata dokter Tyas yang mengiringi dokter Zein masuk ke dalam.
“Tidak, hanya sangat letih.”
“Memangnya kenapa? Istri Dokter minta ditemani semalam suntuk?” canda dokter Tyas.
“Tidak. Aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini.”
“Tidak bisa tidur? Apa Dokter banyak pikiran?”
“Tidak juga.”
“Saya pikir Dokter memikirkan saya, sehingga tidak bisa tidur,” kata dokter Tyas yang sudah masuk ke ruangan dokter Zein.
Zein tersenyum.
“Dokter kalau tersenyum manis sekali lhoh. Sungguh,” katanya sambil duduk di depan meja kerja Zein.
Zein kembali tersenyum, tapi ia menegur dokter Tyas karena tidak segera pergi ke ruang kerjanya.
“Mengapa Dokter cantik duduk di sini? Pasien pasti sudah banyak yang menunggu.”
“Dokter, saya hanya ingin minta ijin.”
“Minta ijin untuk apa?”
“Cuti seminggu. Boleh kan Dok?”
“Memangnya mau ke mana?”
“Ada acara dengan teman-teman sekolah saya. Ke Bali.”
“Ke Bali? Jauh banget. Aku kesepian dong.”
“Dokter jangan khawatir, aku tidak akan melupakan Dokter kok. Setiap hari aku pasti akan menelpon.”
“Mulai kapan?”
“Besok ya Dok? Please,” rayu dokter Tyas dengan suara yang mendayu-dayu.
Dokter Tyas merasa lega ketika akhirnya Zein mengangguk.
“Terima kasih Dokter.”
“Segera ke ruang kerja Dokter, akan saya tanda tangani surat cutinya.”
“Baik, terima kasih banyak Dokter.”
***
Sudah lewat tengah malam ketika Santi merasa haus kemudian terbangun, lalu keluar dari kamar untuk mengambil air minum.
Ketika melewati ruang tengah, ia melihat sang papa masih terjaga. Ia duduk melamun sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sudah sering Santi melihat pemandangan seperti itu. Tadinya Santi diam saja, tapi kali itu Santi menegurnya.
“Papa belum tidur?”
“Ya, kamu juga belum tidur?”
“Santi terbangun karena haus, ini mau mengambil air minum.”
“Setelahnya kamu harus segera tidur kembali.”
“Papa kalau tidur malam sekali. Padahal dari pagi sampai sore harus bekerja.”
“Papa sangat sulit bisa tidur sore.”
“Pasti sangat melelahkan. Apa Papa sedang memikirkan sesuatu?”
Zein menatap anak sulungnya. Ada rasa curiga, jangan-jangan istrinya sudah mengatakan sesuatu yang menyudutkannya.
“Apakah Papa berantem dengan mama?”
“Apa kamu sudah ketularan mama kamu?”
“Apa Pa?” Santi terkejut karena sang papa seperti marah.
“Penyakit mama kamu sudah menular kepada kamu.”
“Penyakit apa tuh?”
“Penyakit ingin tahu urusan orang lain, penyakit sok mengerti, sok pintar dan _”
“Pa, mengapa Papa berkata seperti itu? Santi hanya memperhatikan Papa. Barangkali ada sesuatu yang_”
“Tidak ada, segera kembali ke kamar kamu dan tidur,” tandas Zein dengan tatapan dingin.
Santi membalikkan tubuhnya dengan perasaan heran. Barangkali benar apa yang dikatakan sang mama. Sedang terjadi sesuatu pada papanya. Santi ingin bertanya lebih jauh, tapi hardikan sang papa sudah membuatnya surut ketakutan.
***
Zein merasa suntuk. Sekelilingnya terasa sunyi. Celoteh dokter cantik sudah beberapa hari tidak terdengar. Pasti sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.
Tak ada ucapan selamat pagi keluar dari mulut tipis sambil berlenggang memasuki ruang sambil membawa makanan. Dua hari lagi masa cuti dokter cantik baru akan berakhir.
Zein ingin menelponnya tapi diurungkannya. Ia sudah mengirim WA tapi tidak direspon, pasti dia sedang sibuk sehingga tak sempat membalasnya. Tapi ketika ia sedang termenung, tiba-tiba ponselnya berdering.
“Hallo Dokter gantengku,” sapa riang dari seberang.
“Hai, cantik. Sudah lama aku kehilangan senyum kamu. Kapan kamu kembali?”
“Dua hari lagi Dok, tapi sehari sebelumnya saya sudah ada di rumah.”
“Seneng ya, bersama teman-teman kamu?”
“Dok, sebenarnya saya tidak ke Bali.”
“Lhoh, kamu bilang akan ke Bali. Jadi ke mana dong?”
“Saya sedang proses cerai dengan suami. Ini sudah kelar, tinggal menunggu surat resminya.”
Zein heran. Membicarakan masalah cerai, tapi sambil tertawa-tawa riang begitu? Bukannya menangis sedih?
“Kamu cerai?”
“Ya, prosesnya sudah lama, tapi saya kemudian minta dipercepat.”
“Kamu mau cerai, tapi tidak terdengar sedih pada suara kamu?”
“Soalnya saya justru senang.”
“Senang? Cerai tapi kamu malah senang?”
“Suami tidak lagi cinta, apa saya harus menangisinya? Sudah lama dia tidak pulang. Biar saja tidak pulang selamanya.”
“Aku ikut prihatin.”
“Mengapa Dokter ikut prihatin? Saya saja tidak prihatin. Oh ya Dok, sehari lagi saya sudah di rumah, kalau Dokter mau datang ke rumah, saya senang sekali.”
“Besok?”
“Iya. Akan saya buatkan masakan enak untuk Dokter.”
“Nanti gampang. Yang jelas aku senang bisa mendengar suara kamu, biarpun tidak melihat senyum kamu.”
“Besok saya sudah ada di rumah. Datanglah ya Dok? Saya pastikan saya sendirian, seperti saat saya ulang tahun dulu itu.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah....
ReplyDeleteYes, sudah tayang
Matur nuwun mBak Tien ku...
Salam SEROJA
Alhamdullulah bunda..terima ksih cerbungnya sdh tayang..slm sht sll unk bunda sekeluarga🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah, nwn bu Tien
ReplyDeleteAssalamualaikum bu Tien, alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 24 " sampun tayang. Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🩷🩷🌹🌹🥰🥰
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien
Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 24 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 24" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu🙏
🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung eSAaCe_24
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🪷🪻🪷🪻🪷🪻🪷🪻
Waduuuh berabe nihhh, bikin deg degan Bu, jangan sampai rusak rumah tanggamu Zein, ingat masa perjuanganmu dulu, maturnuwun Bu Tien, ceritanya bikin hati galau🫢 semoga Bu Tien tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta....
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu. Tetap berkarya.
Zein bersemangat ada janda cantik .
Trmksh mb Tuen 🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~24 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 24 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Zein..mau masuk jebakan nya s Janda muda yang cantik, msh segar dan berisi...😁
Rupanya cinta mu kepada Indras telah berlalu ya Zein.
Assalamu'alaikum
ReplyDeleteSugeng ndalu Bunda Tien.
Sakit ku adalah cintaku. Saya menunggu gosip di RS seorang dr cantik selalu datang di ruang direktur RS dr Ganteng. Trus gimana ya ceritanya nanti 🤭🙏
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (24)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteSemga Zein menolak ajakan Tya
ReplyDeleteSehat selalu ya Bunda Tien
Alhamdulillaah, matur nuwun Bu Tien, sehat wal'afiat semua ya 🤗🥰🌿💖
ReplyDeleteWaduh nakalnya dr Tyas
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAlhamdulillah.... Apakah Zein mau menetima undangan ke rumah Tyas? Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.
ReplyDeleteTerima kasih Mbak Tien...
ReplyDelete