Tuesday, April 21, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 21

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  21

(Tien Kumalasari)

 

Indras melongo, ia mengira Pri sedang bercanda. Tapi kenapa candanya keterlaluan begitu?

“Kamu sudah tahu? Dokter Karsono itu seorang psikiater, teman dekat aku. Aku juga tidak mengira apa yang dikatakannya. Tapi aku mengatakan ini karena dokter Karsono tahu bahwa Zein tidak mengatakannya pada kamu. Benarkah? Atau sesungguhnya kamu sudah tahu?”

Indras menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Seberapa berat sakitnya?”

“Kamu tahu bukan tentang Bipolar? Dia juga NPD.”

”What??”

Indras terkejut bukan alang kepalang. Ini penyakit yang bukan main-main. Barangkali susah disembuhkan. Atau bahkan tidak bisa. Pantas sikapnya aneh dan sulit dimengerti. Maunya benar dan tidak mau disalahkan.

“Mengapa tiba-tiba bisa begitu?” kata Indras lirih.

“Barangkali karena ia kehilangan pegangan saat ditinggal orang tuanya. Mereka pergi ketika dia membutuhkan, atau dia ingin menunjukkan sesuatu yang membuatnya bangga. Dia membutuhkan sosok orang tua, utamanya ‘ibu’, atau entahlah. Dokter Karsono hanya mengatakannya sekilas. Aku menggambarkannya sebagai seorang anak yang kehilangan pegangan dalam hidup.”

“Mengapa dia tidak mengatakannya padaku ya Pri?”

“Dia tinggi hati, tak mau kelihatan buruk, tak mau kelihatan rendah. Dia adalah yang terbaik. Mana mungkin mau mengatakannya sama kamu?”

“Tapi aku adalah korbannya Pri, aku menjadi sasaran kemarahannya atau ketidak puasannya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

“Kamu harus sabar.”

“Ya Tuhan, kurang sabar apa aku? Dia mengadakan hubungan dengan seorang dokter perempuan, yang di kontak WA nya dinamakan 'BUNDA’. Ungkapan-ungkapannya sangat manis dan mesra.”

“O, itu benar ya?”

“Apa maksudmu?”

“Aku mendengar ada dokter baru yang dekat sama Zein, tapi aku tidak percaya. Zein kan cinta mati sama kamu?”

“Cinta mati sehingga aku dijadikan sasaran pelampiasan kemarahan dan ketidak senangannya?”

“Satu yang harus kamu tahu, dia sakit.”

“Dan aku biarkan dia berhubungan dengan perempuan lain?”.

”Mungkin dia mendapatkan sesuatu yang dicarinya dari perempuan itu.”

“Apa yang dicarinya? Dia lebih cantik? Lebih pintar?”

“Kamu sudah tahu siapa dan bagaimana dia? Apa dia tidak punya suami?”

“Besok aku mau ke kantornya untuk melihat perempuan itu seperti apa.”

“Kamu pernah menegurnya?”

“Pernah, dan kamu tahu apa jawabnya? Dia mengatakan bahwa aku menuduh tidak mendasar, padahal aku melihat ungkapan-ungkapan di WA yang tidak wajar, dan melihat dia merayakan ulang tahun perempuan itu sementara aku juga ulang tahun di hari yang sama. Ketika aku mengancam akan pergi dari rumah, dia mengambil pisau dan mengancam akan bunuh diri.”

“Indras ….” lirih suara Pri, penuh rasa iba melihat sahabatnya ternyata semenderita itu.

“Baiklah Pri, sekarang aku sudah tahu. Terima kasih telah mengatakan semuanya padaku. Kamu sahabat terbaikku.”

“Aku ikut prihatin mendengar semuanya In. Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

“Entahlah, aku akan mencoba bertahan, tapi kekuatan itu kan ada batasnya.”

“Yang kamu harus mengerti ialah, bahwa dia sakit. Aku akan selalu berdoa agar kamu bisa mengatasi semuanya. Yakinlah bahwa sesungguhnya dia sangat mencintai kamu,” kata Pri penuh perhatian.

“Aamiin. Sekali lagi terima kasih Pri.”

“Kamu tidak usah mengatakan kalau aku mengatakan semua ini.”

“Tentu saja tidak. Rumahku bisa ambruk dihancurkan oleh dia kalau sampai aku mengatakannya. Lebih baik aku pura-pura tidak mengerti saja.”

***

Indras mengendarai mobilnya pulang, dan air matanya kembali menetes di sepanjang perjalanannya. Bipolar dan NPD bukan sembarang penyakit yang gampang diatasi. Dia pemarah, mau menang sendiri, ingin berkuasa dan tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Dia ingin disanjung, dihormati, dan merasa paling benar, paling tinggi, paling pintar.

Indras ingat ketika tiba-tiba Zein memegang pisau dan ingin bunuh diri. Betapa ngeri membayangkan kalau hal itu benar-benar dilakukan.

“Ya Allah, tolonglah hamba.” keluhnya sambil mengusap sisa air matanya, karena sebentar lagi akan sampai di rumah.

Begitu mobil memasuki halaman, Zein yang tadinya duduk di teras segera berdiri, menunggunya di tangga dengan tatapan marah yang sangat mengerikan. Indras berusaha tenang. Berkali-kali ditekankan dalam hatinya, bahwa suaminya sedang sakit.

“Baru pulang?”

“Ya,” jawab Indras singkat.

“Ketemuan dengan selingkuhan? Dia datang lagi kemari, dan bertemu sembunyi-sembunyi?”

“Sekarang kamu bicara tidak mendasar.”

“Apa maksudmu tidak mendasar?” Zein berteriak dan marah karena disalahkan.

“Aku tidak selingkuh. Kamu yang selingkuh.”

“Jangan menuduh yang tidak-tidak.”

“Kalau begitu kamu juga jangan menuduh yang tidak-tidak,” kata Indras sambil berlalu masuk ke rumah. Zein mengikutinya.

“Berhenti. Aku belum selesai bicara.”

Indras berdiri, sebentar lagi air matanya tumpah, tapi ia tak sudi menangis dihadapan suaminya.

“Mau bicara apa lagi?”

“Aku tidak bisa tidur gara-gara kamu pulang terlambat.”

“Sekarang aku sudah pulang, kamu tidurlah.”

“Bicara seenaknya.”

“Aku lelah, bolehkah aku juga beristirahat?” kata Indras pelan, menahan kesal, mencoba bersabar. Selalu diingatnya, suaminya sedang sakit, walau terkadang perkataannya juga menyulut kemarahannya.

Indras memasuki kamarnya, tapi Zein berhenti di ruang tamu karena ada notifikasi WA dari ponselnya. Indras melihat Zein mengambil ponsel yang tadinya terletak di meja, dan sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya. 

***

“Dokter, ketika pulang, Dokter melupakan sesuatu,” bunyi pesan WA dari BUNDA.

“Apa yang aku lupakan, Dokter cantik?”

“Arloji Dokter. Itu kan barang mahal, kalau diambil orang bagaimana?”

”Memangnya arloji itu ketinggalan di mana? Aku kok lupa.”

“Di meja kerja Dokter.”

“Oh, syukurlah kamu menemukannya.”

“Saya simpan dulu ya Dok?”

“Simpanlah, cantik. Kita ketemu lagi besok pagi kan?”

“Dokter besok ingin dibawakan makanan apa?”

“Kamu selalu menawarkan makanan untuk aku, apa suami kamu tidak marah?”

“Dia mana tahu kalau saya memasak untuk Dokter.”

“Baiklah, masak apa saja sesuka kamu. Apapun bagi aku enak kok.”

Dokter Tyas mencantumkan emotikon tertawa dan jantung hati berderet-deret sebelum mengakhiri pesannya.

Zein menutup ponselnya. Katika ia memasuki kamar, Indras sudah berganti pakaian. Dengan heran Indras melihat wajah sang suami yang sumringah, seperti anak kecil menemukan mainan. Wajah garang yang tadi diperlihatkan, tiba-tiba berubah manis dan cerah.

Zein tak mengucapkan apa-apa. Ia memasuki kamar mandi.

Indras keluar setelah menyisir rambutnya, dan menemukan ponsel Zein tergeletak di meja.

Indras mendekati ponsel itu, ingin tahu apa saja yang dibicarakan suaminya dengan si pengirim pesan.

Setelah sekali lagi menoleh ke arah pintu dan belum ada tanda-tanda sang suami akan keluar, Indras meraih ponsel itu dan berusaha membukanya. Namun ia tak berhasil. Zein telah mengganti password nya.

Indras pergi ke ruang tengah, meneguk coklat panas yang sudah disediakan pembantunya.

“Rupanya dia sudah lebih pintar. Sekarang tak mungkin aku membuka-buka ponselnya lagi.

***

Hari itu Indras pergi keluar setelah menyelesaikan tugasnya. Ia ingin pergi ke rumah sakit di mana sang suami bertugas. Rasa penasaran tentang dokter cantik yang dipuja-puja suaminya selalu mengganggunya.

Indras langsung menuju ke ruang dokter di mana Zein bertugas. Ia mengetuk pintu sekilas tanpa menunggu dipersilakan masuk.

Zein sedang sendiri, menatap aneh ketika melihat istrinya datang.

“Kamu, mengapa kemari?” tanyanya dingin.

“Aku tadi lewat, setelah ke bank mengambil uang. Aku bawakan es dawet kesukaan kamu,” kata Indras dengan sikap manis. Tapi apa jawab Zein?

“Kamu tidak usah repot-repot membawakan sesuatu untuk aku, di sini semuanya tersedia.”

“Ini kan beda Zein, oleh-oleh dari istri,” kata Indras dengan senyuman manisnya.

Zein belum sempat menjawabnya, ketika tiba-tiba pintu terbuka tanpa terdengar ketukan, dan seseorang muncul dengan sikap genit.

“Dokter, saya bawakan makanan yang kemarin saya janjikan.”

Indras mengangkat wajahnya, dan si pendatang baru sadar kalau ada orang lain diruangan dokter pujaannya.

***

Besok lagi ya.

 

20 comments:

  1. Alhamdulillah episode 21 sdh tayang
    Matur nuwun Dhe

    ReplyDelete
  2. 🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung eSAaCe_21 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat dari mBantul

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~21 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  5. Alhamdullilah .terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  6. Alhamdulilah. Terimakasih Bunda.
    Atas pencerahannya tentang penyakit yg diderita Zein. Saya JD nambah pengetahuan tentang penyakit tsb.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 21 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah... Episode 21 sdh terbaca. Trimakasih bu Tien. Semoga sekluarga bu Tien dalam Lindungan Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku adalah cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Alhamdulilah eps 21 sampun tayang , maturnuwun bu Tien ... waduuuuh indras ketemu dg pelakor... semoga gak tambah parah sakit nya zein ... gak sabar nunggu besok ... salam hangat dan aduhai aduhai bun.❤️❤️πŸ‘ŒπŸ‘Œ

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah,dah tayang dng serunya....... maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga ibu tetap sehat semangat dan bahagia bersama keluarga tercinta...❤️

    ReplyDelete
  14. Matur nuwun Bu Tien, kayaknyq bsk akan ada perang.....
    Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  15. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 21 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Simpel aja ya Indras bicara sama Tyas,... jangan ganggu suamiku... sesama kaum wanita harus saling menghormati ya... gitu

    😁

    ReplyDelete
  16. Hmm...apa reaksi Indras terhadap Tyas ya?πŸ€”

    Terima kasih, ibu Tien. Sehat selalu.πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 21

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  21 (Tien Kumalasari)   Indras melongo, ia mengira Pri sedang bercanda. Tapi kenapa candanya keterlaluan begitu? “K...