SAKITKU ADALAH CINTAKU 20
(Tien Kumalasari)
Indras bangkit, ada rasa marah yang ditahannya.
“Apa kamu memiliki sebuah rahasia?”
“Aku tidak suka kamu memata-matai aku.”
“Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kamu lakukan. Kamu ingat pada ulang tahun orang lain, tapi abai pada ulang tahun istri kamu sendiri.”
“Hanya masalah ulang tahun. Apa itu penting?”
“Bukan masalah ulang tahunnya. Sikapmu yang berubah akhir-akhir ini. Siapa dokter cantik yang kamu sembunyikan dariku?”
Zein menatap marah kepada istrinya.
“Pokoknya aku tidak suka kamu memata-matai aku.”
“Siapa dokter cantik itu?”
“Kamu tidak perlu tahu,” katanya lalu meninggalkan kamar kemudian membantingnya keras.
Indras bangkit dari pembaringan. Memburunya keluar. Zein menuju ke ruang makan, lalu mengambil segelas air minum yang tersedia di sana.
“Jawab pertanyaanku, siapa dia? Kalau memang kamu suka dia, biarkan aku pergi bersama anak-anak dari rumah ini.”
Zein berhenti menghabiskan minumannya, meletakkan gelasnya sehingga menimbulkan bunyi keras, dan sebagian airnya muncrat membasahi meja.
“Apa kamu bilang?”
“Kalau kamu pilih dia, biarkan aku pergi bersama anak-anakku.”
Tiba-tiba Zein mengambil sebuah pisau yang kebetulan terletak di meja, siap menggoreskan pisau itu pada pergelangan tangannya.
“Kalau begitu biarlah aku mati saja.”
Indras terkejut bukan alang kepalang. Ada apa sebenarnya sang suami ini, dan sejak kapan dia suka mengancam akan bunuh diri.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Kamu menuduh tak mendasar. Aku benci itu. Kamu memata-matai aku, kamu berani membuka-buka ponselku,” Zein hampir berteriak.
Hari sudah malam. Indras membalikkan tubuhnya menjauh dari sana, khawatir kalau keterusan akan membangunkan anak-anak dan juga pembantunya. Tapi sebelum keluar dari ruang makan, ia menoleh kembali kepada suaminya, dan merasa lega sang suami telah meletakkan pisaunya.
***
Lalu tak terjadi apapun. Indras membaringkan dirinya di tempat tidur, mencoba tidur sesulit apapun. Ia tak melihat sang suami masuk ke kamar.
Sampai pagi Indras memikirkan perilaku suaminya yang aneh. Ia melihat kirim-kiriman WA di ponsel yang begitu mesra. Ia melihat sang suami mengirim bunga di ulang tahun perempuan lain, setelah sebelumnya mengirimkan taart ulang tahun kepadanya. Lalu ia berteriak bahwa tuduhannya tidak mendasar? Mengapa tiba-tiba dia mengancam bunuh diri? Indras seperti sedang menghadapi orang asing di rumahnya. Itu bukan Zein yang dikenalnya. Itu orang sakit jiwa.
Indras menitikkan air mata dan tersedu sambil menutupkan bantal di wajahnya.
Ia terisak sampai terdengar adzan subuh, lalu ia bangkit dan melangkah lunglai ke kamar mandi.
Diambilnya wudhu sambil sesekali masih meneteskan air mata.
Di atas sajadah, ia sesambat kepada Tuhannya.
“Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga hamba ini?”
***
Indras keluar kamar setelah mandi dan berganti pakaian dinas. Ia sudah memoles wajahnya dengan bedak yang tebal, tapi mata sembab itu tak berhasil ditutupinya.
Ketika ia keluar itu, dilihatnya sang suami sudah mengenakan pakaian dinasnya juga, siap untuk berangkat. Ia menatap istrinya sekilas, lalu berkata singkat.
“Aku berangkat,” kemudian berlalu begitu saja.
Di ruang makan, ada Santi yang menunggunya. Ia mendengar sebuah keributan, walau hanya sebentar. Lalu di pagi harinya menatap wajah mamanya yang pucat dan sembab.
“Apa yang terjadi Ma?”
Santi sudah dewasa, ia harus mengerti apa yang terjadi. Keretakan sebuah rumah tangga harus ada jalan keluarnya agar supaya bisa didandani agar menjadi apik kembali.
“Tidak apa-apa.”
“Mama jangan menutupi apapun, Kami sudah tahu ada sesuatu yang terjadi.”
“Harusnya kamu bukan tanya kepada mama, tapi kepada papamu.”
“Apa bedanya bertanya kepada Mama atau papa? Santi lebih nyaman berbicara dengan Mama, sebagai sesama perempuan,” kata Santi.
“Tapi mama sudah harus berangkat ke rumah sakit.”
“Sedikit saja. Sekilas saja Mama katakan.”
“Papa kamu selingkuh.”
“Selingkuh? Mama tahu dari mana?”
“Mama beberapa kali membuka ponsel papamu, mama juga memergoki papamu merayakan ulang tahun selingkuhannya, semalam, dan itu sebabnya dia tidak ada ketika kita rame-rame merayakannya."
“Mama sudah bicara sama papa?”
“Susah diajak bicara. Dia marah tanpa menjelaskan apapun.”
Indras berdiri dari tempat duduknya, karena ia harus segera bertugas.
“Jangan dulu Mama mempercayai yang hanya Mama lihat sekilas. Sebaiknya bicara baik-baik sama papa,” seperti orang tua Santi berpesan sebelum mamanya berangkat.
Indras mengangguk dan tersenyum. Tanpa sadar anak sulungnya sudah sedewasa ini. Tanpa sadar tahun demi tahun yang dilaluinya. Justru menemui cobaan ketika usia pernikahan sudah puluhan tahun.
“Apa salahku?” gumamnya sambil mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dia bekerja.
***
Indras bekerja seperti biasa. Ia menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata. Kalau anaknya saja tahu bahwa dia sedang menyembunyikan wajah sembabnya, pasti orang lain juga akan tahu. Ia tak ingin banyak pertanyaan.
Tapi siang hari itu setelah visite ke ruang-ruang pasien, ponselnya berdering. Dari seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Bukan Bagas yang selalu membuat kejutan setiap kali menemuinya, tapi dari Pri, dokter seangkatannya yang tugasnya di luar kota.
“Assalamu’alaikum Pri.”
“Wa’alaikumussalam Indras. Apa kabar?”
“Baik. Kemana saja kamu? Lama sekali nggak terdengar kabarmu?”
“Kamu kan tahu tugasku jauh dari sini. Tapi saat ini aku ada di sini, dan pengin ketemu kamu.”
“Datanglah ke rumah.”
“Jangan, aku ingin ketemu kamu, sendirian.”
“Ya ampun, nanti dikira kamu selingkuhan aku, bagaimana?”
“Tidak apa-apa, sudah sejak kamu pacaran, aku ingin sekali diselingkuhi sama kamu.”
Indras terkekeh. Pri selalu membuatnya tertawa.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
“Harus bertemu? Tidak bisa ngomong sekarang? Aku jadi penasaran, mau ngomong apa sih?”
“Nanti kalau aku ketemu, baru ngomong.”
“Anakmu sudah berapa Pri?”
“Satu. Mau besanan? Dia ganteng dan hampir lulus. Tapi dia tidak mau menjadi dokter seperti bapaknya.”
“Oh ya? Anakmu laki-laki?”
“Ya laki-laki, mana ada perempuan ganteng?”
“Iya, benar. Tapi aku kangen sama kamu nih. Mau ketemu di mana? Di kantorku saja?”
“Jangan, nggak enak, di sini banyak yang aku kenal. Nanti saja kalau kamu pulang. Kamu pulang jam berapa?”
“Jam tiga paling.”
“Baik, aku samperin kamu, nanti kita ngopi ya.”
“Di mana?”
“Kamu yang tinggal di kota ini, tunjukkan saja di mana, aku tungguin kamu di sana.”
“Bener-bener seperti ketemu selingkuhan nih.”
“Biarin. Selingkuh sama dokter ganteng kan biasa.”
“Masih merasa ganteng ya kamu?”
“Sejak dulu aku ganteng, kamu saja yang menutup mata gara-gara aku kalah ganteng daripada Zein.”
“Ini masalah jodoh, Pri. Sudah, masa lalu jangan diungkit. Terkadang masa lalu itu menyakitkan, tapi juga menyenangkan. Tapi sakit menyakitkan dan menyenangkan itu kan masa lalu, yang penting adalah masa sekarang.”
“Kamu ngomongnya suka berbelit. Ya sudah, sampai ketemu nanti. Kabari tempatnya ya.”
Indras tersenyum. Bertemu Pri selalu heboh, ada saja candaannya. Dan ternyata dia belum berubah.
***
Hari itu Indras ketemu Pri setelah selesai bertugas. Pri masih seperti dulu, suka bercanda dan mengganggunya. Tapi hari itu Pri kelihatan sangat serius. Indras berdebar menunggu apa yang akan dikatakannya.
"Kamu itu lama tidak ketemu, baru mau ketemu sudah membuat aku berdebar-debar tak karuan."
“Harus berdebar dong kalau ketemu orang ganteng.”
“Pri, aku serius, bukan karena bertemu denganmu tapi karena kamu akan mengatakan sesuatu yang kelihatannya akan sangat membuat aku terkejut.”
“Minum dulu kopinya. Baru aku cerita.”
Indras semakin penasaran. Tapi akhirnya Pri mengatakannya juga.
“Apa kabar Zein?”
“Dari tadi nggak nanyain Zein. Dia baik.”
“Baik? Tapi aku ingin mengatakan sesuatu tentang Zein.”
Indras semakin berdebar. Apa Pri tahu bahwa Zein selingkuh? Padahal dia kan bertugas dikota lain dan tidak pernah bertemu? Indras meneguk kopinya lagi.
“Apa kamu sudah tahu kalau suami kamu sakit?”
“Sakit? Tapi dia baik-baik saja, setiap hari bekerja, dan_”
“Yang sakit jiwanya.”
“Apa?”
“Aku punya teman seorang dokter. Psikiater. Zein adalah pasiennya.”
***
Besok lagi ya.
🪻🍃🪻🍃🪻🍃🪻🍃
ReplyDeleteAlhamdulillah 🙏😍
Cerbung eSAaCe_20
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
🪻🍃🪻🍃🪻🍃🪻🍃
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAssalamualaikum bu Tien, alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 20 " sampun tayang. Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🩷🩷🌹🌹🥰🥰
ReplyDeleteMasyaa Allah ternyata zein sakit .. semoga baik baik saja ya
DeleteMatur suwun Bu Tien SAC - 20 sdh tayang .🙏🙏🙏
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹
Alhamdullilah terima kaih bunda cerbungnya. Slmt mlm dan slmt istrht .slm sht sll uno bunda 🙏🥰🌹❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 20 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (20)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah perseteruan Zein dan Indras tambah memuncak, si Zein aja kacang sing lali lanjaran. Cinta ya di pupuk dari masa kuliah disia-siakan/rusak sendiri, bukannya dipupuk demi keutuhan rumah tangga.
ReplyDeleteSiapa yang penasaran....? Hayo ngaku..
Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 20" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng dalu🙏
Alhamdulilah. Terimakasih Bunda. Semoga sehat slalu.
ReplyDeleteZein sakit.. terlalu bnyk pikiran kali.. mudah"an Indras. Mengerti keadaan suaminya.
Alhamdulilah. Terimakasih. Bunda. Semoga sehat slalu
ReplyDeleteZein sakit. Indras bari tahu dari Pri. Semoga Indras lebih sabar
Matur nuwun Bu Tien, semoga Zein cepat sembuh.....dan semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteMasyaallah, ternyata Zein sakit, mungkin belum mau menerima kenyataan ditinggal ibunda tercinta, sehingga terpikirkan terus,dan TDK mau bercerita ttg perasaannya,.......semoga bisa cepat sembuh, dan bahagia kembali bersama Kel tercinta.... Maturnuwun Bu Tien, tetap sehat semangat dan bahagia bersama Kel tercinta..🙏🙏
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Sakitku adalah cintaku telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~20 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien.🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulillah sdh tayang. Kenapa yg tahu Zein sakit malah orang lain.... Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu berkumpul bersama tercinta.... Aduhaaii
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 20 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
ReplyDeleteSyafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.
Waduh... Zein memiliki kelainan mental, kepribadian nya terganggu.
Terima kasih Ibu Tien cerbung sangat disukai, semoga sehat sehat dan terus berkarya
ReplyDeleteOh Zein sakit jiwa. Sama dong dengan Setanyaho dan Donal Bebek?
ReplyDelete