Thursday, April 23, 2026

AKITKU ADALAH CINTAKU 23

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  23

(Tien Kumalasari)

 

Pemilik toko itu terbahak melihat Indras tercengang.

“Pasti suami Dokter ingin memberi kejutan. Ya ampun, saya minta maaf telah mengatakannya. Tolong jangan bilang ke dokter Zein kalau saya membuka rahasianya ya. Aduh, dokter Indras nanti harus pura-pura terkejut ya, untuk menyelamatkan saya dari omelan dokter Zein,” kata pemilik toko itu panjang lebar.

Indras berusaha tenang. Ia sudah tahu apa yang terjadi. Pasti pemilik toko itu tidak tahu kelakuan suaminya.

“Pasti ia mengira Zein memberikan arloji bagus untuk aku, tapi rasanya tak mungkin, Zein tak pernah begitu royal memberikan sesuatu untuk aku, karena merasa bahwa aku mampu membelinya sendiri,” kata Indras dalam hati.

Walau begitu Indras berusaha tersenyum. Ia tetap memberikan arloji tangannya yang patah kaitannya.

“Tidak apa-apa, benerin ini saja. Tidak nyaman menyimpan barang rusak,” kata Indras.

“Baik, baiklah Dokter, akan kami betulkan, tapi bener ya Dok, nanti harus pura-pura terkejut ketika dokter Zein memberikannya. Saya tidak ingin dokter Zein marah pada saya karena telah membuka rahasia sehingga menjadi bukan kejutan lagi nanti.”

Indras hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol tangannya, kemudian berlalu.

Ketika mengendarai mobilnya pulang, pikiran Indras bertambah kacau. Sudah sejauh apa hubungan Zein dengan perempuan itu sehingga ia rela memberikan barang mahal untuk selingkuhannya itu?

Sungguh menyakitkan kalau dipikir, ketika seseorang mengira dirinya mendapat hadiah dari suami, tapi ternyata hadiah itu untuk orang lain.

Tapi kemudian Indras berpikir lain. Jangan-jangan Zein memang beli untuk dirinya karena tahu kalau arloji saya patah kaitannya.

“Akan aku lihat nanti,” katanya sambil memacu mobilnya, dengan perasaan terganggu.

***

Ketika pulang, ia melihat sang suami sudah ada di teras, sedang mengutak atik ponselnya. Wajahnya cerah, tak ada amarah. Wajah cerah itu bukan untuk dirinya, tapi untuk orang lain yang entah bagaimana membuatnya begitu terhibur.

Indras masuk ke rumah sambil mengucapkan salam, tapi tidak dibalas sepatah katapun. Jarinya sibuk menutul keyboard di ponselnya sambil tersenyum-senyum.

Indras menekan dadanya yang terasa sakit.

Dari dalam terdengar teriakan Santi.

“Mama kok baru pulang?”

“Kamu juga baru pulang dari kuliah?”

“Iya, lapar sekali. Tadi minta papa agar ikut makan, tapi belum mau. Pasti papa menunggu Mama.”

Indras menutupi rasa perihnya dengan senyuman. Santi tidak tahu, papanya tidak sedang menunggunya, tapi sedang asyik ber ponsel ria dengan seseorang, yang pastinya Santi tidak atau belum tahu.

“Ya, sebentar, mama ganti baju dulu,” kata Indras yang kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.

Di ruang makan setelahnya, Santi harus nyamperin sang ayah dengan mengatakan bahwa ia ditunggu di ruang makan.

“Sebetulnya papa sudah makan,” kata Zein.

“Di kantor?”

“Iya.”

“Kalau begitu temani saja kami makan. Mama juga ingin makan. Bibik masak timlo, dimakan tanpa nasi juga pasti segar.”

Zein menuliskan sesuatu yang singkat, kemudian menutup ponselnya, lalu berjalan mengikuti anaknya.

Di ruang makan Zein dan Indras tak banyak bicara. Sesekali Santi yang berbicara, menceritakan tentang suasana kampus siang ini yang agak ricuh, karena kebijakan rektor yang tidak disetujui para dosen.

Zein hanya mengangguk angguk, dan Indras menikmati jamur kuping yang kenyal di dalam sayur timlonya.

Indras masih menunggu, barangkali sang suami bicara tentang arloji baru, tapi tak ada. Bahkan saat di kamar, ketika mereka tidur berdua tapi saling beradu punggung, dan bahkan sampai keesokan harinya ketika masing-masing berangkat kerja.

Indras tidak begitu berharap. Ia hanya salah dalam sedikit harapan yang pernah melintas. Memang arloji itu bukan untuknya. Seperti kata pemilik toko arloji kemarin, ia memang tidak lagi terkejut. Bukan masalah akan diberikannya hadiah sebuah arloji, tapi justru tidak diberikannya hadiah itu. Bukankah ia sudah menduganya?

***

Begitu sampai di kantornya, Zein memasukkan sebuah bungkusan ke dalam lacinya. Arloji cantik yang mahal dan sudah dijanjikannya kemarin, akan dipenuhinya janji itu di hari berikutnya. Di pagi hari jarang sekali dokter Tyas memasuki ruang kerjanya, jadi ia harus menyimpannya sampai siang harinya.

Hari penuh cerah ceria adalah di tempat kerjanya. Zein sendiri barangkali tidak merasa adanya ketimpangan dalam dirinya bersikap. Ia hanya ingin marah ketika berhadapan dengan istrinya, tapi ia begitu ceria saat berada di tempat kerja.

Barangkali juga ia tidak merasa bahwa telah menyakiti hati istrinya.

Sementara itu Indras berangkat agak siang karena ada sesuatu yang harus dikerjakan. Sebelum ia memasuki mobilnya, bibik berlari-lari mendekatinya.

“Nyonya, saya lupa bilang, ini catatan barang-barang kebutuhan dapur yang sudah habis, dan catatan uang belanja beserta sisanya."

Indras menatap sekilas catatan bibik.

“Mengapa baru bilang sekarang sih Bik?”

“Maaf Nyonya, saya lupa.”

Tanpa harus membaca keseluruhan catatan, Indras sudah tahu bahwa bibik butuh uang lagi untuk belanja. Ia membuka dompet yang ada di dalam tasnya, lalu memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada bibik.

“Ini Bibik bawa dulu. Catatannya nanti saja kalau aku sudah pulang.”

“Baik Nyonya.”

Indras masuk ke dalam mobilnya dan berlalu.

Bibik menutup gerbang kemudian masuk ke dalam rumah. Ia siap untuk belanja pagi hari itu, ketika semua majikan sudah berangkat meninggalkan rumah dengan kesibukan masing-masing.

***

Tapi dalam perjalanan ke kantor itu Indras kemudian berpikir. Selama hidup berumah tangga, dia yang mencukupi semua kebutuhan. Ia tidak menerima nafkah dari sang suami. Sang suami memenuhi semua kebutuhan, anak sekolah, gaji pembantu, tapi tidak memberi nafkah kepada istrinya. Awalnya Indras diam saja, toh ia punya uang dari penghasilannya sendiri. Tapi ketika mengetahui suaminya membelikan arloji mahal, Indras merasa sangat marah.

Ia yakin bukan hanya sekali suaminya royal kepada perempuan itu. Barangkali sudah bermacam-macam yang dia berikan kepadanya.

Rasa panas merayapi jiwanya, batinnya, darahnya. Memenuhi semua kebutuhan adalah kewajiban seorang suami. Memberikan nafkah kepada istri, bukan hanya nafkah batin, juga menjadi kewajibannya.

“Mulai sekarang aku tak mau keluar uang lagi untuk semua kebutuhan rumah tangga. Enak saja dia menghambur-hamburkan uang demi seseorang yang bukan siapa-siapa, tapi nafkah untuk istri dilupakannya.” gumamnya marah.

***

Dokter Tyas melonjak kegirangan ketika ia menerima hadiah arloji cantik dari dokter pujaannya.

“Terima kasih Dokter,” kata dokter Tyas yang siap memeluknya untuk meluapkan kegembiraannya, tapi Zein mendorongnya pelan.

“Jangan. Ini di kantor. Ada CCTV di mana-mana.”

Dokter Tyas terkekeh, kemudian duduk di kursi depan meja kerja Zein. Ia membuka kotak indah kecil yang berisi arloji cantik, lalu mengenakannya di tangannya.

“Bagaimana pendapat Dokter dengan arloji ini? Maksudku dengan lengan yang mengenakan arloji cantik ini?”

“Sangat indah. Pas di tangan kamu. Orangnya cantik, arlojinya cantik.”

“Terima kasih Dokter. Aku tidak salah kan, ketika mengatakan bahwa Dokter adalah orang terbaik di dunia ini. Ganteng, cakap, pintar, pokoknya tak ada duanya.”

Mata Zein berbinar. Ia tak pernah mendengar istrinya memuji setinggi langit. Sang istri cukup mengerti, dan walau mengakuinya, ia tak pernah mengatakan apapun. Ia hanya mengatakan cinta, ia tidak menyanjungnya.

“Aku juga mengucapkan terima kasih karena pujian-pujian kamu. Tampaknya kamu berlebihan deh.”

“Tidak, itu benar.”

“Bagaimana kalau suami kamu tahu bahwa kamu memakai arloji baru, padahal dia tidak memberikannya?”

“Suami saya tidak akan peduli. Dia jarang pulang karena punya istri muda,” katanya enteng.

“Benarkah? Dan kamu tidak merasa sedih diduakan oleh suami kamu?”

“Saya malah senang. Dia juga mengatakan bahwa akan menceraikan saya.”

“Kamu tidak mencintainya?”

“Dulu kami saling mencintai. Tapi setelah suami beralih ke perempuan lain, cinta itu sudah sirna. Lebih baik hidup sendiri. Toh saya mendapatkan perhatian yang sangat baik dari Dokter.”

“Tapi aku bukan suami kamu.”

“Apa bedanya? Yang penting adalah perhatiannya, bukan statusnya. Ya sudah, Dokter jangan bicara tentang dia, ini lho, sampai lupa kalau saya membawa makanan untuk Dokter.”

Zein tersenyum. Seperti biasanya ruang kerjanya dipergunakan untuk ruang makan, walau hanya sesaat.

***

Sore hari itu Indras mendekati suaminya yang duduk di ruang tengah.

“Zein, aku mau bicara.”

“Bicaralah,” katanya tanpa menatap sang istri.

“Uang belanja untuk bibik sudah habis.”

“Apa maksudmu? Apa kamu tidak bisa memberikannya? Apa uangmu sudah habis untuk kamu hambur-hamburkan?”

“Uangku tidak habis untuk aku hambur-hamburkan. Tapi uangku adalah uangku. Mulai sekarang kamu yang harus memenuhi semua kebutuhan. Aku tidak lagi mau mengeluarkan uang. Sepeserpun,” katanya tandas.

***

Besok lagi ya.

21 comments:

  1. Alhamdulillah
    Matur sembah nuwun Mbak Tien..๐Ÿ™♥️

    ReplyDelete
  2. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  3. ๐ŸŒน๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒฟ
    Alhamdulillah ๐Ÿฆ‹๐Ÿ’
    Cerbung eSAaCe_23 sdh
    hadir. Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin๐Ÿคฒ.Salam seroja ๐Ÿ˜
    ๐ŸŒน๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒฟ๐ŸŒน๐ŸŒฟ

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah
    Matur nueun nggih Mbak Tien❤️๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

    ReplyDelete
  5. Matur suwun Bu Tien๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 23" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat ๐Ÿคฒ
    Sugeng dalu๐Ÿ™

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien cengkok ceritanya menarik para pecinta cerbung, ditunggu selalu lanjutannya yg menarik,....
    Sehat2 ,semangat dan bahagia selalu bersama keluarga Bu Tien tercinta...

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah. ~ SAKITKU ADALAH CINTAKU 23 ~. Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐Ÿคฒ๐Ÿ™⚘๐ŸŒท

    ReplyDelete
  9. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda . Semoga sehat slalu beserta keluarga tercinta.
    Semoga Indras mendapat kebahagian. Dan Zein sembuh dari penyakitnya. Menyadari kesalahannya

    ReplyDelete
  10. Assalamualaikum bu Tien, alhamdulilah cerbung " Sakitku adalah Cintaku 23 " sampun tayang. Semoga bu Tien sekeluarga sll sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐Ÿฉท๐Ÿฉท๐ŸŒน๐ŸŒน๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ

    ReplyDelete
  11. Alhamdulillah sudah tayang
    terima kasih bunda Tien
    Semoga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  12. Maaf bunda Tien saya kok ikut emosi membacanya ya dengan kelakuan tyas dan dikter zain ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~23 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien.๐Ÿ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.๐Ÿคฒ

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah
    Trimakasih Bunda Tien cerbung nya malam ini, sdh aku tunggu tunggu dan harus menunggu besok malam lagi .

    ReplyDelete
  15. Hatur nuhun bunda ๐Ÿ™slmt mlm dan slmt isyrht..slm sht sll unk bunda sekeluarga๐Ÿ™๐Ÿฅฐ๐ŸŒน❤️

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bunda Tien, cerbung Sakitku Adalah Cintaku 23 telah tayang. Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah angkat semua penyakitnya dan pulih lagi seperti sediakala. Aamiin.

    Zein...ingatlah bahwa kamu adalah kepala keluarga.... bertanggungjawab memenuhi kebutuhan hidup keluarga mu ya.

    ReplyDelete
  17. Wah.... karena sedang "sakit" maka tdk boleh gregetan dg tingkah laku Zein yg njelehi......dan menjengkelkan banget...
    Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat.....

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU (23)telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete

AKITKU ADALAH CINTAKU 23

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  23 (Tien Kumalasari)   Pemilik toko itu terbahak melihat Indras tercengang. “Pasti suami Dokter ingin memberi keju...