Monday, March 30, 2026

SAKITKU ADALAH CINTAKU 02

 SAKITKU ADALAH CINTAKU  02

(Tien Kumalasari)

 

Indras mengejar lalu mendekati Zein yang sudah naik ke motornya. Ia memegangi setang motor butut itu, yang sudah mulai dinyalakan mesinnya.

“Zein, bukankah kamu tadi bilang bahwa kamu mau singgah sebentar?”

“Maaf, Indras, aku lupa bahwa harus melakukan sesuatu.”

Indras melepaskan setang yang dipegangnya, karena Zein telah memutarnya ke arah keluar.

“Zein …. “

Indras masih membuka mulutnya ketika Zein memacu motornya keluar dari halaman.

“Zeiiiin,” mulutnya berbisik, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan bergegas menuju rumah.

Ketika memasuki ruang tengah, ia melihat ayah dan ibunya masih berbincang. Sekilas ia mendengar nama Bagas di sebut, lalu mereka memuji-mujinya. Mereka tak menanyakan siapa yang mengantarnya, atau mengapa si pengantar tak mau duduk barang sebentar di teras.

Indras menghela napas panjang. Pasti Zein mendengar ketika ayah ibunya berbincang. Pasti ada ucapan yang membuatnya sakit. Ia sudah naik ke tangga pertama ketika itu, kemudian membalikkan tubuhnya tiba-tiba dengan alasan yang sepertinya dibuat-buat.

Indras langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk dan menelpon Zein, tapi tidak diangkat. Lalu ia menuliskan sebuah pesan yang intinya meminta maaf, lalu mencantumkan emotikon cinta berderet-deret di akhir kalimatnya.

Perjalanan cinta memang tak selalu mulus. Dan ini terasa sangat rumit, karena orang tuanya membandingkannya dengan laki-laki lain yang  lebih sesuai dengan keinginan mereka dan dianggap sepadan derajatnya.

“Zein, aku akan tetap mencintai kamu, dan kamu adalah satu-satunya laki-laki yang selalu ada dalam hidupku,” bisiknya.

 Kemudian ia pergi ke kamar mandi. Ia merasa gerah, oleh keringat yang membasahi tubuhnya, karena udara memang panas. Tak ada keluhan ketika ia harus berpanas-panas di boncengan Zein, dan tidak duduk di dalam mobil yang dingin ber AC. Karena ini memang kehendaknya.

***

Ketika keluar dari dalam kamar mandi, dilihatnya sang ibu sudah menunggu.

“Indras, tadi kamu diantar oleh siapa?” justru sang ibu yang bertanya, padahal Indras hampir yakin kalau sang ibu sudah tahu siapa yang mengantarnya.

“Zein,” jawab Indras singkat. Tak ada gunanya ia berbohong. Ia justru ingin menunjukkan kepada orang tuanya, betapa gigih ia mempertahankan cintanya.

“Bapakmu tidak menyukai Zein.”

“Ibu juga kan?”

“Indras, kamu anak tertua, harus bisa memberi contoh kepada adikmu.”

“Apakah ada perilaku Indras yang buruk?”

“Membantah orang tua itu bukan perilaku yang baik.”

“Indras tidak melanggar sesuatu yang buruk. Jatuh cinta itu bukan hal buruk bukan? Indras mencintai Zein.”

“Terkadang pandangan orang tua itu benar. Bagaimana kalau hidupmu tidak bahagia?”

“Kemiskinan bukan ukuran untuk kebahagiaan seseorang. Mungkin dia bukan keluarga berada, tapi dia baik.”

“Terkadang juga, cinta bisa mengaburkan hal buruk menjadi seperti baik.”

“Ibu, berilah Indras restu, agar Indras bisa menjalani hidup dengan baik dan bahagia, walau kelak harus hidup dalam kemiskinan,” kata Indras sambil memeluk ibunya.

“Ibu selalu berdoa untuk anak-anak ibu, tapi jangan membuat ayahmu marah.”

***

Di rumah, Zein tampak murung. Rumah itu kosong, entah ke mana perginya ayah dan ibunya. Ingatan tentang ucapan orang tua Indras masih terngiang di telinganya, dan itu menyakitkan serta sangat membekas. Salahkah kalau ia lahir dari keluarga sederhana? Salahkah kalau orang miskin mencintai orang kaya?

Hari sudah sore ketika sang ibu pulang, seorang diri.

“Ibu dari mana? Ibu tidak pergi sama bapak?”

“Ibu dan bapak pergi ke rumah sakit. Batuk ayahmu tidak berhenti, lalu ibu mengajaknya periksa ke dokter. Ayahmu harus dirawat.”

“Dirawat? Ibu punya uang?”

“Hanya sedikit, biarlah ayahmu istirahat di rumah sakit, besok aku akan mengajaknya pulang.”

“Kalau belum baik, pasti dokter melarangnya pulang.”

“Apa boleh buat. Lebih baik obat jalan saja, biarlah ibu sendiri yang merawatnya. Biaya rumah sakit terlalu mahal untuk kita.”

Zein menghela napas panjang, sedih. Ia teringat lagi tentang apa yang didengarnya ketika berada di depan rumah Indraswari.

Keluarganya miskin, tidak sejajar dengan keluarga Indras yang kaya raya.

“Zein berhenti kuliah dulu saja.”

“Jangan Zein, kamu harus terus kuliah. Masalah ayahmu ibu pasti bisa mengatasinya. Percayalah.”

“Sakit apa sebenarnya bapak?”

“Radang paru-paru. Tampaknya sudah parah. Ibu sedih melihat dokter geleng-geleng kepala, pertanda bahwa ayahmu sudah parah. Sejak masih muda doyan merokok. Bahkan saat batukpun masih juga menghisap asap rokok tanpa rasa takut.”

Zein menatap sang ibu dengan sedih. Perempuan tua itu masih gigih berjualan makanan di dekat pasar, demi menghidupi keluarga, sementara sang ayah karena sakit-sakitan tak bisa lagi bekerja. Walau begitu sang ibu tetap berharap agar anaknya bisa menjadi dokter. Biayanya tidak murah, ia harus membanting tulang siang malam demi memenuhi kebutuhan Zein kuliah. Sekarang suaminya sakit, pasti akan ada biaya tambahan.

“Zein, kamu tidak perlu sedih. Ibu bisa mengatasi semuanya. Pikirkan kuliahmu. Ibu dan ayahmu akan bangga melihatmu bisa menjadi orang.”

Zein mengangguk.

“Zein akan mewujudkan semua cita-cita Ibu dan bapak.”

“Terima kasih Zein”

“Haruskah ibu berterima kasih? Zeinlah yang seharusnya berterima kasih karena ibu telah berjuang demi keluarga ini, demi kuliah Zein, demi semuanya.”

“Sudahlah, itu kan kewajiban seorang ibu. Apa kamu sudah makan?”

“Sudah,” jawab Zein berbohong. Sebenarnya dia tak doyan makan karena memikirkan perlakuan orang tua Indras.

Ketika ia memasuki kamarnya, ia baru membuka ponselnya. Beberapa panggilan dari Indras yang memang sengaja tak diangkatnya. Tapi Zein senang membaca pesan singkat yang dikirimkannya, dengan emotikon cinta berderet-deret. Zein tersenyum, ia tahu Indras amat mencintainya.

Zein menuju ke kamar mandi, untuk segera ke rumah sakit. Ia ingin melihat keadaan ayahnya.

***

Indras gelisah. Hari itu Zein tidak ke kampus. Zein tidak mau mengangkat panggilan telponnya. Zein juga tidak membalas pesan singkatnya.

Indras sudah berkali-kali menelpon lagi. Hasilnya nihil.

Ia pulang dengan wajah suntuk.

Sesampainya di rumah ia melihat Arunika sang adik sedang membaca sambil berbaring di sofa.

“Kamu ngapain?”

“Kok sudah pulang?”

“Ditanya belum jawab, malah gantian bertanya.”

“Mbak kan sudah tahu bahwa aku sedang membaca. Nih, novel baru, asyik nih ceritanya. Tumben Mbak sudah pulang.”

“Nggak ada kuliah hari ini,” jawabnya sambil langsung masuk ke kamarnya, tapi tak disangka, Arun mengikutinya.

“Mbak kelihatan suntuk. Lagi berantem sama Zein?”

“Nggak, aku nggak pernah berantem.”

“Dimarahin bapak karena masih pacaran sama dia?”

“Mau tahu aja.”

“Mbak, ngapain Mbak menolak dijodohkan sama mas Bagas. Dia itu laki-laki yang baik lho. Lagian ganteng amat.”

“Sama kamu aja kalau begitu.”

“Yeee, kan yang diminta tuh mbak Indras.”

“Siapa yang minta?”

“Bagas. Dia pernah bilang sama bapak bahwa dia suka sama mbak.”

“Ngawur.”

“Itu benar. Mbak mau ya?”

“Eh, kok bisa-bisanya kamu ikut jadi mak comblang?”

Arun terkekeh.

“Kok mak comblang sih, aku hanya mendorong agar Mbak mau. Dia jauh lebih baik dari Zein.”

“Karena kamu memuji-muji dia, maka dia buat kamu saja.”

“Nggak ah. Aku sudah punya pacar.”

“Apa? Siapa pacar kamu, kenapa aku belum tahu kalau kamu punya pacar?”

“Masa punya pacar aja harus kasih tahu ke sembarang orang.”

“Kamu anggap aku orang sembarangan?”

“Bukan, maksudku aku belum pantas memperkenalkan pacar aku kepada siapapun.”

“Awas saja kamu, kalau pacaran bukan dengan orang yang sederajat dengan kita, pasti dilarang oleh bapak.”

“Aku juga sedih mendengar bapak memarahi Mbak.”

“Tidak usah sedih. Cinta itu kan harus diperjuangkan. Zein itu baik, entah kapan, bapak dan ibu pasti bisa luluh dan merestui hubungan aku sama dia.”

“Mbak sama Zein itu satu angkatan?”

“Ya.”

“Seneng dong, setiap hari ketemu.”

“Tapi tadi tidak ketemu. Entah kenapa dia tidak ke kampus hari ini.”

“Itu sebabnya Mbak suntuk?”

Ponsel yang berdering menghentikan pembicaraan mereka. Zein menelpon Indras.

***

Besok lagi ya.

24 comments:

  1. Matur sembah nuwun EsAaCe 02 sudah tayang

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

  3. Alhamdulillah EsAaCe_02 sdh tayang. Terima kasih mBak Tien, salam sehat.
    Selak arep nonton sepak bola timnas Indonesia vs Bulgaria.. di GBK pkl 20:00 wib.
    Tetap semangat berkarya.

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~02 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  5. Matur suwun Bu Tien salam sehat selalu utk keluarga di Solo.πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
  6. πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung eSAaCe_02
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’πŸ₯‘πŸ’

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun Bu Tien, romantika cinta lagi Bu......semoga ibu tetap sehat semangat bahagia selalu bersama keluarga tercinta..

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah udah terbit
    Terimakasih bunda
    Salam Seroja. Sehat slalu

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah "SAKITKU ADALAH CINTAKU 02" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah cerbung SAKITKU ADALAH CINTAKU 02 Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu Sehat serta Bahagia bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  11. Alhamdulilah sakitku adalah cintaku eps 02 sampun tayang ..maturnuwun bu Tien semoga ibu selalu sehat dan bahagia .. salam seroja dan aduhai hai hai bun ❤️❤️😍😍

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  14. Matur nuwun mbak Tien-ku Sakitku Adalah Cintaku telah tayang

    ReplyDelete
  15. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  16. Terima ksih bunda cerbungnya..slmt mlm slmt beristrhat .slm sht sll unk bunda πŸ™πŸ₯°πŸŒΉ❤️

    ReplyDelete
  17. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Sakitku adalah Cintaku 02.. sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.

    Zein sdh mengalami kesulitan besar, maka telpon Indras...kekasihnya.
    Semoga dia dapat membantu kesulitan keluarga Zein.

    ReplyDelete
  18. Walah, Zein...gimana mau berhenti kuliah dulu untuk nolong biaya berobat bapaknya...kan kalau uang kuliah sudah dibayar tiap awal semester?😁

    Terima kasih, ibu Tien...sudah lanjit berkarya. Sehat2 ya, buu...πŸ™πŸ»πŸŒΉ

    ReplyDelete

  19. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *SAKITKU ADALAH CINTAKU 02* yang di tunggu2 sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete

SAKITKU ADALAH CINTAKU 02

  SAKITKU ADALAH CINTAKU  02 (Tien Kumalasari)   Indras mengejar lalu mendekati Zein yang sudah naik ke motornya. Ia memegangi setang motor ...