SAKITKU ADALAH CINTAKU 01
(Tien Kumalasari)
Aku bertanya kepada Tuhan, Ya Allah, apakah dia memang jodohku? Aku sangat mencintainya, tapi dia sering sekali menyakitiku. Seakan sudah kering air mata ini karena aku teteskan setiap hari setiap saat, setiap aku mengingatnya.
Dia selalu bilang, aku mencintai kamu, aku bisa mati tanpamu. Ya Allah, apakah ungkapan dibibir itu sama dengan yang ada di dalam hati?
Ketika rumah terasa lengang, karena akulah satu-satunya penghuni yang masih terjaga, aku tak yakin akan bisa menghadapi semuanya sendiri. Di manakah cinta berada, dimanakah sebuah naungan untuk hidupku yang pernah dijanjikannya?
Sesungguhnyalah aku sangat mencintainya, dengan segenap jiwa ragaku. Sesungguhnya aku ingin dia kembali seperti dulu, seperti ketika bertahun-tahun lalu kami sering pergi berdua, makan di warung sederhana berdua, jalan bersama dan melihat bintang bertaburan di langit biru, juga berdua. Di mana keindahan yang pernah mendekapku dalam mimpi-mimpi setiap hari, lalu ketika aku sadari bahwa semuanya adalah kosong? Haruskah aku tinggalkan laki-laki tampan yang selalu mengisi relung jiwaku, dan aku cintai dengan segenap cinta seorang istri?
***
Disebuah kampus, Indraswari berlari-lari kecil ketika dari jauh Zein melambaikan tangannya. Kakinya yang ramping bagai kijang melompat-lompat diantara rumput hijau yang membentang.
Indras hampir saja terjatuh, tepat dihadapan Zein yang kemudian berhasil menangkapnya.
Indras terengah, dan tersipu ketika kedua tangan Zein lama sekali memegangi lengannya. Ia melepaskannya dengan lembut.
“Mengapa berlari-lari?”
“Ingin segera ketemu kamu. Kemana saja dua hari ini?” tanya Indras sambil duduk di samping Zein, yang memegang dua contong es krim yang memang sudah dipersiapkannya untuk sang kekasih.
“Ini untuk kamu. Es krim coklat kesukaan kamu kan?”
“Terima kasih Zein,” katanya sambil menerima yang satu contong, lalu dijilatnya dengan nikmat.
“Di mana belinya?”
“Ada yang lewat tadi, di depan kampus. Untung kamu segera datang, jadi belum terlalu meleleh.”
“Enak,” Indras terus mencecap es krim yang masih menggunung di contongnya.
“Kamu cantik sekali,” kata Zein yang juga sedang mencecap es krimnya, sambil menatap gadis cantik di sampingnya.
“Sudah lama,” kata Indras enteng.
“Iya sih, memang sudah lama.”
“Kemana saja kamu selama dua hari ini?”
“Ada kerabat meninggal di luar kota, aku harus mengantarkan orang tuaku ke sana.”
“Innalillahi, ikut berduka ya.”
“Terima kasih.”
Mereka menghabiskan es krimnya, lalu mengunyah contong pembungkus es krim itu sampai habis.
“Hanya dua hari, tapi aku sudah sangat kangen sama kamu.”
“Benarkah?”
“Benar dong.”
“Heiii, kelas akan dimulai, pacaran melulu,” teriak salah seorang temannya dari jauh.
Zein berdiri, dan Indras mengikutinya, lalu bergegas menuju kelas.
***
Mereka adalah Indraswari dan Zein Abadi yang berteman sejak awal kuliah. Tadinya sih memang hanya berteman, tapi semakin lama, tumbuhlah perasaan cinta diantara keduanya.
Mereka adalah mahasiswa kedokteran yang sudah sampai diujung kelulusannya.
Keduanya tampak serasi, cantik dan tampan. Pasangan itu sering membuat iri teman-teman kuliahnya, karena sebagai pasangan serasi, mereka juga mahasiswa yang pintar.
Tapi bertahun berpacaran, pak Narya, orang tua Indras yang kaya raya sangat menentang hubungan mereka. Zein hanyalah anak dari keluarga sederhana yang tidak sederajat dengan keluarga Narya Kusuma.
Mereka bahkan sudah menyiapkan seorang laki-laki anak sahabatnya yang juga seorang pengusaha.
Tapi Indras tidak tertarik. Laki-laki itu, Bagas, adalah temannya semasa SMA, tapi dia dikenalnya hanya sebagai seorang sahabat. Cinta? Tidak ada rasa itu.
“Kamu itu memang bandel ya In, kamu merasa kalau pilihanmu itu sudah benar?”
“Indras mencintai dia Pak.”
“Apa artinya cinta untuk sebuah kehidupan? Derajat itu lebih penting. Karena kamu tidak akan dihormati tanpa memiliki derajat itu.”
Lagi-lagi masalah derajat.
“Pak, bolehkah Indras memilih jalan hidup Indras sendiri?”
“Tentu saja boleh, kalau jalan hidup yang kamu tempuh itu adalah jalan yang benar. Bapak hanya mengkhawatirkan kamu.”
“Apa yang Bapak khawatirkan?”
“Kamu terbiasa hidup berkecukupan. Bapak tahu siapa Zein, anak siapa dia dan bagaimana kehidupannya. Kamu akan menyesal.”
“Pak, Zein laki-laki yang baik. Pada suatu hari nanti Indras akan tahu bahwa bahagia bukan terletak pada kekayaan yang kita miliki.”
“Omong kosong itu. Namanya orang hidup itu banyak yang dibutuhkan, dan kebutuhan itu bisa terpenuhi kalau kita punya uang.”
Perdebatan demi perdebatan itu sering kali terdengar ketika Indras sedang berbincang dengan ayahnya. Sang ibu yang diam, rupanya setuju dengan pendapat sang ayah.
Tapi bagaimanapun Indras tak mau berhenti. Rasa cintanya kepada Zein sudah terpateri sejak lama, dan ia tak mau melepaskannya, hanya karena Zein anak orang kebanyakan.
Indras juga sering mengajak Zein ke rumah, tapi orang tuanya tak pernah mau menemuinya. Berbeda kalau Bagas yang bertandang, pak Narya berdua selalu menyambutnya dengan keramahan yang prima.
“Ini saatnya makan siang, ajak Bagas makan bersama kita, In,” perintah pak Narya.
“Nggak usah Pak, Bagas sudah makan tadi,” tolaknya halus.
“Jangan menolak, makanan itu juga rejeki, dan menolak rejeki itu tidak baik,” sambung bu Narya.
Indras tentu saja harus mendukung ajakan kedua orang tuanya untuk sang tamu yang memang mereka sukai.
“Ayolah Bagas, memang saatnya kita makan. Benar kata ibu, tidak baik menolak rejeki,” sambung Indras.
Mau tak mau Bagas menerimanya. Mereka makan siang dengan suasana yang sangat akrab, walau Indras lebih banyak senyum-senyum saja dan jarang menimpali pembicaraan mereka.
“Bagas, kamu harus sering datang kemari untuk menemani Indras jalan. Dia itu kutu buku, pekerjaannya membaca dan bersembunyi di dalam kamar,” kata pak Narya.
“Benarkah, Indras?”
“Tidak. Setiap hari Indras pergi keluar, dan jalan bersama teman-teman. Masa saya hanya sembunyi di kamar?”
“Seringnya begitu,” ralat pak Narya.
“Kalau sedang liburan, saya akan datang kemari. Maklum pekerjaan saya belum bisa saya tinggalkan, karena masih baru merintis peninggalan orang tua.”
“Tapi orang tua kamu kan pengusaha sukses, aku yakin kamu juga akan sukses dalam berbisnis.”
“Terima kasih Pak, doa Bapak saya minta.”
“Tentu aku doakan kamu. Ayah kamu sahabat baikku.”
Begitulah kalau Bagas yang datang. Berbeda kalau Indras mengajak Zein ke rumah. Jangankan ikut menemani berbincang, menjenguk dari pintupun tidak.
Walau begitu Indras tetap berpegang pada cintanya, dan yakin bahwa kelak dia akan berbahagia bersama Zein.
***
“Kemarin aku melihat ada mobil tamu di halaman rumah kamu,” kata Zein ketika mereka bertemu di kampus.
“Kamu lewat rumah aku, kenapa nggak mampir?”
“Maunya sih mampir, tapi aku melihat ada tamu, akhirnya aku jalan terus. Aku juga melihat orang tua kamu duduk di teras.”
“Kamu mau ke mana sebenarnya?”
“Pengin jalan-jalan saja. Tamunya siapa sih?”
“Anak teman ayahku.”
“Ganteng ya?”
“Biasalah, laki-laki ganteng. Kalau cantik namanya perempuan dong.”
“Jangan-jangan tamu itu adalah jodoh yang dipersiapkan orang tuamu untuk kamu.”
“Bisa aja.”
“Tak mungkin untuk adikmu, kamu kan anak tertua?”
“Apakah kalau ada anak muda datang ke rumah lalu ada hubungannya dengan perjodohan?”
“Barangkali saja.”
“Ngarang deh.”
“Cemburu boleh dong, namanya juga cinta.”
“Tidak usah cemburu, dia bukan siapa-siapa. Ayah dia temannya bapak.”
“Namanya siapa sih?”
“Kepo amat.”
“Namanya Bagas, tapi tidak usah dipikirkan deh. Yang penting aku hanya suka sama kamu," lanjut Indras.
“Kamu tahu Indras, bahwa aku sangat mencintai kamu.”
“Tidak usah bertanya, aku sudah tahu.”
“Semoga saja kamu juga mengimbangi perasaan aku.”
“Perasaan cinta itu tidak selalu diungkapkan dengan kata-kata. Sikap dan perilaku yang tampak, sudah menunjukkan apa yang ada di dalam hatinya."
“Terima kasih Indras.”
***
Hari itu Zein mengantarkan Indras pulang, karena Indras tidak membawa kendaraan. Ia menghentikan motornya, bermaksud segera pulang, tapi Indras mengajaknya singgah.
Zein turun dari motor, tapi di depan teras mendengar suara pak Narya kepada istrinya.
“Lihat Bu, Indras masih saja bersama dia. Apa tidak bisa mencari pasangan yang sederajat dengan kita?”
Zein berhenti melangkah naik ke tangga teras.
“Zein, ayo masuklah, aku buatkan jus segar untuk kamu.”
“Tidak, aku lupa ada yang harus aku kerjakan, aku mau pulang saja,” katanya dingin. Dan membalikkan tubuh dengan membawa luka.
***
Besok lagi ya.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteAlhamdulillah...
ReplyDeleteCerbung baru Sakitku adalah cintaku edisi perdana sudah tayang.
Matur nuwun mBak Tien, dalam sehat selalu.
Sami2 mas Kakek
DeleteMatur sembah nuwun Mbak Tien
ReplyDeleteCerbung baru sdh tayang
Sami2 jeng Ning
DeleteAlhamdulillah SAKITKU ADALAH CINTAKU~01 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.๐คฒ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
Delete๐ฆ๐ท๐ฆ๐ท๐ฆ๐ท๐ฆ๐ท
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐๐น
Cerbung baru SAKITKU
ADALAH CINTAKU telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin๐คฒ.Salam seroja ๐
๐ฆ๐ท๐ฆ๐ท๐ฆ๐ท๐ฆ๐ท
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku cerbung baru telah tayang Sakitku Adalah Cintaku.
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah, S A C epsde 1 dah nongol …
ReplyDeleteSuwun Bu Tien, …๐ค
Minal aidin wal faidzin - mohon ma’af Lahir n Batin …
Sehat sll n Rahayu ingkang tansah tinemu …๐
Aamiin Yaa Robbbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun Mbah Wi. Rahayu ugi kagem panjenengan
Alhamdulillah..cerbung baru..sehat selalu bunda Tien
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Swissti
Alhamdulilah terima kasigh bu Tien cerbung barunya... semoga ibu sll sehay dan bahagia... salam hormat dan aduhai aduhai bun ❤️❤️๐๐
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Sri
Aduhai aduhai
Alhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun ibu Endah.
Alhamdulillah .Episode perdana " Sakitku Adalah Cintaku " sudah tayang , Maturnuwun Bunda semoga sehat wal afiat selalu bersama Pak Tom .Aamiin ๐คฒ๐
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbbal'alamiin.
DeleteMatur nuwun pak Herry
Hamdallah cerbung baru nya sdh tayang. Thx Bunda Tien...tetap semangat dan sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun pak munthoni.
DeleteMasih di Kebumen?
Mks bun cerbung barunya .....selamat malam ........salam sehat tetap semangat
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati. Salam sehat juga6
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien CerBung Baru❤️๐น๐น๐น๐น๐น
Sami2 ibu
DeleteAlhamdulillah cerita baru "SAKITKU ADALAH CINTAKU" sdh mulai tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat ๐คฒ
ReplyDeleteSugeng dalu๐
3Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak. Sugeng dalu
DeleteSelamat pagii bund..terima ksih cerbung perdananya..salam sehat selalu dan aduhaaaii unk bunda๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDelete