Tuesday, March 24, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 39

 BIARKAN AKU MEMILIH  39

(Tien Kumalasari)

 

Dwi mendekati suaminya dan tersenyum.

“Aku menelpon bu Nirmala.”

“Kamu ke sana?”

“Tidak, aku hanya menelpon.”

“Bicara tentang apa? Lalu kemana saja kamu sejak pagi pergi sampai siang baru kembali?”

“Banyak yang harus aku lakukan. Diantaranya aku ke kantor dan membuat surat pengunduran diri.”

“Kamu? Mau mengundurkan diri?”

“Bayi yang aku kandung agak rewel. Aku berkali-kali tidak bisa memenuhi kewajibanku sebagai manager pemasaran. Jadi lebih baik aku istirahat saja dulu. Bagaimana menurutmu?”

“Aku sangat setuju. Kasihan melihat kamu sering tersiksa karena kandungan kamu. Tapi aku bahagia, akhirnya kamu akan melahirkan anakku, hal yang sudah lama sekali kita rindukan.”

Dwi tersenyum, sedikit kaku, karena meruntuki dirinya ketika hampir saja ia menggugurkannya kalau saja Adri tidak mengingatkannya.

“Kita akan pulang ke rumah kita bukan?”

“Tadi aku ketemu Wati juga.”

“Kamu? Kamu memarahinya? Wati tidak sepenuhnya bersalah. Ada hal yang membuat dia melakukannya. Aku kesetanan karena obat yang diberikan ibu waktu itu.”

“Aku sudah tahu semuanya. Aku tidak memarahinya. Aku hanya ingin tahu apa yang diinginkannya. Bagaimanapun dia sudah mengandung anak kamu.”

“Dia bilang apa?”

“Dia hanya ingin menikah demi anak yang dikandungnya. Tapi dia tidak ingin menjadi istrimu sepenuhnya. Setelah anak itu lahir, dia minta kamu menceraikannya.”

Anton menarik napas lega. Ada beban yang sedikit terlepas. Dwi tampak tidak terpengaruh dengan hamilnya Wati.

“Kamu mau kan, pulang ke rumah setelah aku sembuh?”

“Aku bahkan mau hidup serumah dengan maduku.”

“Apa? Dia punya rumah sendiri, aku akan mencukupi kebutuhannya.”

“Biarlah aku menikmati hidup yang sangat berbeda dari sesuatu yang pernah aku impikan. Hidup berdua selamanya. Tapi  nanti aku akan hidup bersama maduku. Entah bagaimana rasanya. Tapi aku kira semuanya akan baik-baik saja.”

Anton menatap kesungguhan pada wajah sang istri. Jawaban itu menggambarkan bahwa Dwi tidak bersikeras ingin bercerai, bahkan ingin pulang ke rumah bersama-sama.

“Kamu tidak percaya? Aku sudah memilih, dan pilihanku adalah kembali.”

Anton ingin sekali memeluk sang istri, tapi sebelah tangannya masih tersangkut di selang infus. Rona bahagia itu tergambar pada binar matanya yang digenangi telaga bening. Dwi melihatnya, lalu merengkuh suaminya dalam pelukan yang hangat.

***

Berhari berminggu berbulan sudah berlalu. Pada suatu hari saat pagi, Adri heran melihat sang istri masih meringkuk di ranjang.

“Hei, pemalas. Ini jam berapa? Habis subuh tidur lagi?” ledek Adri.

Nirmala hanya menggeliat, tapi kemudian meringkuk lagi sambil memeluk guling.

“Nirma, ada apa kamu?”

“Mmmmh … males … ,“ lalu Nirmala berguling ke arah samping, membelakangi suaminya, sambil masih tetap memeluk guling, membuat Adri gemas, lalu berbaring disampingnya, memeluknya dari belakang.

“Jangan Dri, perutku mual bau keringat kamu,” keluh Nirmala.

Adri melepaskan pelukannya, mencium ketiaknya.

“Wangi tuh, aku kan sudah mandi.”

“Nggak mau, pokoknya Adri bau.”

Adri mengerutkan keningnya. Kemarin tidak apa-apa, tiba-tiba sekarang mengatakan dirinya bau, dan enggan didekati?

Adri masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dan menggosoknya dengan sabun bertubi-tubi.

Tapi ketika ia keluar, masih mendapati istrinya masih meringkuk, ia mendekat lagi.

“Nirma, aku sudah wangi,” katanya lembut.

“Wangi atau tidak, aku nggak mau dekat sama kamu,” sentaknya, membuat Adri heran.

“Nirma, benar ya, nggak mau dekat sama aku?”

Adri keluar dari kamar dengan hati linglung. Tidak biasanya Nirmala bersikap seperti itu.

Ketika itu tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata dari sang ibu mertua.

“Adri, ini kamu kan?”

“Iya Bu, saya.”

“Aku menelpon istri kamu dari tadi tidak diangkat. Ini libur kan? Masa dia pergi ke kantor?”

“Tidak, dia masih tidur.”

“Tidur? Jam segini masih tidur? Apa dia sakit?”

“Tidak Bu, tiba-tiba dia tidak mau saya dekati, dia bilang saya bau, saya mandi lagi, dan yakin sudah wangi, tapi dia tetap tidak mau dekat sama saya. Sekarang masih meringkuk tidak mau bangun.”

"Tapi tidak sakit?”

“Dia tidak mengatakan apa-apa, atau mengeluh sakit. Dia hanya tidak mau dekat sama saya dan terus-terusan mengatakan bahwa saya bau.”

Adri heran ketika kemudian mendengar sang ibu mertua tertawa.

“Dri, jangan-jangan istri kamu hamil.”

“Apa?” Adri tersentak tiba-tiba. Nirmala hamil? Tapi kemudian wajahnya sumringah.

“Hamil? Benarkah Bu?” katanya setengah berteriak.

“Melihat tanda-tandanya Dri. Orang hamil itu terkadang aneh. Coba kamu bawa dia ke dokter untuk meyakinkannya.”

“Baik, baiklah Bu,” jawab Adri bersemangat.

“Tunggu, sebenarnya tadi aku mau bicara sama Nirma, ayahnya kangen sama cucunya. Sudah lama kalian tidak membawa Tama menemui kakek dan neneknya.”

“Iya Bu, rencananya hari ini sebenarnya, tapi nggak tahu itu, sepertinya nggak mau dekat-dekat saya.”

“Berikan ponselnya pada Nirma, biar ibu yang bicara.”

Adri masuk kembali ke kamar, memberikan ponselnya kepada Nirmala, yang masih meringkuk memeluk guling. Tapi ia menerima ponsel itu dan mendengarkan sang ibu bicara.

Adri berdiri agak jauh, dan mendengar sang istri menjawab.

“Ya Bu..  benar, nggak tahu kenapa ini … apa? Hamil?”

Adri ikut tersentak mendengar Nirmala berteriak. Lalu ia senang mendengar Nirmala mengatakan bersedia periksa ke dokter.

Lalu dilihatnya Nirmala bangkit, lalu menyerahkan ponsel kepadanya.

“Dri, antar aku ke dokter ya, kata ibu kemungkinan aku hamil.”

“Tapi ini hari Minggu Nirma.”

“Oh iya, kalau begitu belikan aku tespack di apotik saja. Terkadang itu juga cocok.”

“Baik, nanti Aku belikan.”

“Sekarang Dri, jangan nanti,” sentaknya.

“Baik, baik,” kata Adri sambil bergegas keluar kamar. Tapi dari luar Adri mendengar Nirmala berteriak.

“Adri, bukankah kamu memang ingin punya anak lagi?”

Adri berhenti, lalu melongok ke dalam kamar. Dilihatnya Nirmala menatapnya sambil tersenyum.

Adri mengacungkan jempolnya. Dua jempolnya. Wajah Nirmala berseri, bagai matahari baru muncul dari ufuk timur.

***

 Pernikahan antara Anton dan Wati sudah berlangsung. Dwi bahkan menunggui saat akad nikah.

Tapi ketika Dwi mengajaknya tinggal bersama di rumah Anton, Wati menolaknya.

“Saya akan tinggal di rumah saya sendiri.”

“Tapi kamu kan terkadang harus periksa ke dokter, terutama tentang kandungan kamu?” kata Dwi.

“Nanti gampang. Saya kan sehat, jadi tidak perlu diantar,” jawab Wati sambil tersenyum.

“Kalau ada apa-apa hubungi aku, kamu kan sudah aku beri nomor kontakku?”

“Iya Mbak, terima kasih. Tapi nanti kalau saya melahirkan, anak saya akan tetap saya serahkan pada keluarga mas Anton.”

“Kamu serius?”

“Saya sangat serius.”

Tak ada yang bisa menolaknya. Sebuah drama kehidupan telah berakhir dengan baik. Setidaknya dalam waktu sekarang ini. Semoga sebuah pelajaran bisa didapatkan, tentang kebohongan, tentang sikap diam dalam menyikapi sebuah masalah. Lalu sebuah komunikasi memang seharusnya dilakukan.

Siapa tahu sebuah perjalanan masih akan berlanjut.

***

T A M A T

 

 

Apa kamu tahu, bahwa hidup memang adalah pilihan? Masih tentang pilihan di kisah ini. Ada cinta yang tersamar, ada ketakutan ditinggalkan, tapi tak bisa menghentikan perilaku yang menyakitkan pasangan.

Sakit hati dan dendam ternyata bisa terbawa dalam hari-hari yang panjang.

Tunggu cerita selanjutnya. SAKITKU ADALAH CINTAKU.

Yuk, tungguin. Sabar ya.

31 comments:

  1. Alhamdulillah
    Sdh TAMAT. Anton jadi menikah dengan Wati.
    Tunggu cerbung berikutnya SAKITKU ADALAH CINTAKU

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 39 (Tamat)" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
    Sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis
      Sugeng dalu

      Delete
  3. Alhamdulilah Cerbung "BAM 39 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri.
      Aduhai aduhai

      Delete
  4. 🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung BeAaeM_39
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  5. Alhamdulillah sudah tamat... Suwun Bu Tien. Ditunggu cerita berikutnya... Smg sehat selalu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Handayaningsih. Lama tidak komen ya bu

      Delete
  6. Alhamdullilah sdh tamat bun..terima ksih episode terakhirnya..slm sehat sll uno bunda sekeluarga🙏🥰🌹💞

    ReplyDelete
  7. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah... Biar Aku Memilih udah tamat. Terimakasih Bunda. Sehat slalu.
    Selamat datang Cerbung baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  9. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 39 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  10. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  11. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 39 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.

    Wati dan Dwi sdh halim, menyusul Nirma. Ini benar2 potong padi rame2 di sawah....😁😁

    Terima ksh Bunda Tien...cerbung nya sdh menghibur kita semua.

    Selamat Idhul Fitri, mhn maaf lahir dan batin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  12. Alhamdulillāh, tak ada lakon yang di-Guntur-kan..
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~39 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien 🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 39

  BIARKAN AKU MEMILIH  39 (Tien Kumalasari)   Dwi mendekati suaminya dan tersenyum. “Aku menelpon bu Nirmala.” “Kamu ke sana?” “Tidak, aku h...