Monday, March 23, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 38

 BIARKAN AKU MEMILIH  38

(Tien Kumalasari)

 

Berhari-hari kemudian keadaan Anton sudah mulai membaik. Biarpun operasi berjalan baik dan hasilnya memuaskan, tapi ia masih harus dirawat. Dwi yang sudah boleh pulang beberapa hari sebelumnya, selalu menungguinya dengan setia, sementara bu Sarah kadang-kadang kembali pulang karena ia masih punya urusan di rumah. Pernikahan dengan Wati juga harus ditunda karena Anton masih dirawat.

Tapi ketika bu Sarah menemui, sama sekali Wati tidak menanyakan keadaan Anton, kecuali bu Sarah menceritakan semuanya.

“Sabar dulu masalah pernikahan ya, Anton masih harus dirawat.”

“Iya, tidak apa-apa Bu.”

“Kamu tidak ingin menjenguk calon suami kamu?”

“Saya kira tidak usah Bu, di sana sudah ada istri sahnya, nanti malah suasananya jadi tidak enak.”

”Dwi wanita yang baik,” kata bu Sarah, yang membuat Wati heran, karena selama ini bu Sarah selalu menjelek-jelekkan nama Dwi, yang dikatakannya wanita tidak setia, semaunya, mentang-mentang punya pekerjaan yang mapan, dan sebagainya. Sekarang ketika ia mendengar sepatah kata pujian untuk Dwi dari bu Sarah, tentu saja ia merasa heran. Tapi dia tidak menanyakannya.

Sikap bu Sarah juga tiba-tiba berubah, sejak dia menolak ikut menjenguk Anton di rumah sakit. Ia tidak begitu manis dalam berkata-kata. Wajahnya juga dingin, tidak menampakkan harapan untuk segera memintanya menjadi menantu yang kemarin-kemarinnya masih menggebu-gebu.

Sampai kemudian bu Sarah pulang, Wati masih merenungi apa yang telah terjadi. Dulu, saat ia bekerja di toko langganan bu Sarah, bu Sarah sangat bersemangat untuk mengambilnya sebagai menantu, dengan alasan istri anaknya mandul. Bu Sarah sering memberinya uang dan barang-barang yang membuat Wati senang, dan menganggap betapa baiknya bu Sarah. Ia juga selalu menerima kedatangan Anton yang oleh bu Sarah dimintanya untuk mendekati Wati. Rupanya Anton begitu menghormati sang ibu dan enggan menolak keinginannya, walau tidak pernah mengatakan bahwa dia menyukainya. Hingga malam itu, ketika bu Sarah menyarankan Wati agar memberikan minuman yang dikirimkan bu Sarah kepada Anton, lalu terjadilah malam yang dianggapnya sebagai malam jahanam. Anton memaksanya dan tak bisa dikendalikan. Apa boleh buat. Waktu itu bu Sarah sangat gembira ketika menyadari bahwa Wati benar-benar hamil, dan memaksa Anton agar menikahinya.

Berlinang air mata Wati ketika menyadari jalan hidupnya yang tidak sesuai dengan harapan. Hanya karena merasa berhutang budi, ia menuruti kemauan bu Sarah untuk diambil menantu, tapi kemudian dia sadar bahwa Anton sebenarnya tidak mencintainya. Bahkan Anton pernah mengatakan bahwa ia akan menikahi hanya demi bayi yang dikandung.

“Selamat siang,” sebuah suara mengejutkannya.

Wati terbelalak. Ia pernah mengenal wajah itu di rumah Anton. Beberapa hari yang lalu. Dari sebuah foto yang terpajang apik di sana.

“Si … siang,” jawabnya gugup.

“Apa kamu yang bernama Wati?”

“Iya … iy … iya.”

“Bolehkah aku masuk?”

Yang datang adalah Dwi. Ia menyempatkan pergi menemui Wati tanpa sepengetahuan Anton. Ia tahu rumah Wati dari bu Sarah yang bercerita tentang hubungan Anton dan Wati yang adalah sebuah rekayasa yang dibuat olehnya.

“Ssi … silakan, silak ..kan..” 

Wati sangat gugup. Apakah wanita cantik istri Anton ini akan memarahinya? Memaki-makinya dan menuduhnya telah merebut Anton darinya? Wati sedikit takut, tapi dia kemudian menyiapkan jawaban tentang semua yang terjadi.

“Kamu tidak usah gugup atau takut. Aku datang kemari dengan maksud yang baik. Benar-benar baik. Jadi tenang sajalah.”

“Ssaaya .. ambilkan .. minum …”

“Tidak usah, aku hanya sebentar.”

Wati urung berdiri, dan kembali duduk dengan posisi yang dirasanya paling nyaman.

“Aku sudah tahu tentang hubungan kamu dan mas Anton.”

“Itu … saya …”

“Aku sudah tahu semuanya. Yang ingin aku tanyakan sekarang adalah, apakah kamu benar-benar ingin menjadi istri mas Anton?”

Wati menatap wajah Dwi. Tatapannya teduh, tak ada rasa kesal atau marah tergurat di sana.

“Saya melakukannya tidak dengan dasar suka. Bu Sarah yang menginginkannya, dan mas Anton juga tidak menyukai saya. Mas Anton mengatakan kepada saya bahwa dia sangat mencintai istrinya.”

“Lalu bagaimana dengan kandungan kamu?”

“Saya minta maaf. Kalau nanti mas Anton menikahi saya, adalah demi bayi yang tidak berdosa ini. Saya tidak ingin menjadi istri seutuhnya.”

“Maksudnya …”

“Saya akan minta cerai setelah bayi ini lahir. Dan saya akan menyerahkan bayinya kepada keluarga mas Anton.”

“Apa? Kamu tidak ingin merawatnya?”

”Tidak. Dia terlahir bukan karena kehendak saya.”

***

“Bik, mana istriku?” tanya Anton yang sejak pagi tidak melihat istrinya, hanya bibik yang menungguinya.

“Tadi nyonya pamit karena ada keperluan.”

“Bekerja? Ini hari apa?”

“Hari ini nyonya masih libur. Katanya baru hari Senen akan ke kantor lagi.”

”Jadi ke mana dia?”

“Saya tidak tahu, Tuan. Coba tuan menelpon dia.”

“Ponselku dibawa nyonyamu itu.”

“Owh. Kalau begitu Tuan tunggu saja dulu, sebentar lagi pasti nyonya akan datang.”

“Aku sudah bosan dan ingin pulang.”

“Kalau Tuan belum boleh pulang, berarti tuan masih harus mendapat perawatan. Sebaiknya Tuan bersabar dulu.”

“Tidak kerasan berada di sini.”

“Mana ada orang kerasan tinggal di rumah sakit? Tuan ada-ada saja.”

“Bik, apa kamu tau tentang Adri?”

“Tuan Adri itu baik. Selalu menolong ketika nyonya dalam kesulitan. Bahkan mengantarkan ke rumah sakit dan menungguinya. Apakah Tuan mencurigainya? Kata tuan Adri, mereka adalah teman saat masih kecil, jadi wajar kalau sampai kemudian dewasa dan berkeluarga ikatan pertemanan itu masih ada. Apakah Tuan mencurigainya?” bibik mengulang pertanyaannya.

“Wajar kalau aku mencurigainya. Dia baik sama istriku.”

“Ya jangan begitu, mereka baik karena berteman. Tuan Adri sangat mencintai istrinya. Dan nyonya juga sangat mencintai Tuan.”

“Benarkah? Kalau begitu mengapa dia bersikeras ingin bercerai?”

“Nyonya sakit hati ketika mendengar Tuan mau menikah lagi, ditambah sikap nyonya Sarah yang semena-mena. Barangkali itu sebabnya Tuan. Tapi saya hanya menangkap keluhan nyonya sepotong-sepotong, lalu saya menyimpulkannya sendiri. Maaf kalau saya salah Tuan, saya hanya berharap Tuan dan nyonya kembali bersama. Saya lihat sikap nyonya Sarah juga sudah berubah. Entah kenapa,” kata bibik panjang lebar. 

Sebenarnya dia juga menangkap sikap Dwi yang tampaknya menyukai Adri, tapi tampaknya sang nyonya sudah berubah, terlebih ketika ia keceplosan tentang kehamilannya yang diakuinya sebagai anak Adri. Lalu sang nyonya ketakutan. Dan kejadian tentang kecelakaan yang menimpa Anton, membuat Dwi menyadari bahwa dia sebenarnya masih mencintai suaminya.

Anton tampak memikirkan apa yang dikatakan bibik, dan itu ada benarnya, lebih-lebih tentang ibunya yang semena-mena terhadap Dwi ketika itu. Tapi sekarang Anton melihat sang ibu dan menantunya kelihatan akrab. Hanya saja ia masih punya sesuatu yang mengganjal. Bukankah ia tetap harus menikahi Wati? Apakah nanti Dwi mau menerimanya? Ia belum membicarakannya.

“Nyonya ke mana ya, mengapa sampai siang belum juga datang?”

“Jangan-jangan dia pulang dan tidur di rumah.”

“Mana mungkin Tuan, nyonya sangat perhatian pada Tuan, kalaupun tidur pasti ia tidur di sini sambil menunggui Tuan, saya malah yang disuruhnya pulang."

***

Hari itu Adri mendapat telpon dari mertuanya.

“Adri, apa kamu sudah tahu kalau Dwiyanti mengundurkan diri?”

“Belum. Bapak tahu dari mana?”

“Ada laporan itu, mengapa kamu belum tahu?”

“Laporan itu belum sampai ke meja saya Pak, mungkin ke pusat terlebih dulu.”

“Apa ia menyebutkan alasannya?”

“Dia sedang mengandung dan tampaknya harus sering meninggalkan pekerjaannya.”

Tiba-tiba Adri melihat laporan yang belum sempat dibacanya. Ia segera membukanya.

“Iya, laporan tentang Dwi sudah sampai ke meja saya Pak. Memang benar, dia mengandung dan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.”

“Segera buka lowongan, atau kamu punya pandangan lain.”

“Nanti saya bicara dengan Nirmala.”

“Baiklah. Aku serahkan urusan itu pada kamu.”

Adri meletakkan ponselnya. Memang Dwi sering tidak bisa melakukan tugasnya, karena kehamilannya sering rewel.

Ponsel Adri kembali berdering. Dari Nirmala.

“Mas sudah tahu, Dwi mengundurkan diri?”

“Ya, bapak juga sudah menelpon.”

“Tampaknya Dwi memilih pulang, untuk kembali kepada suaminya.”

“Benarkah?”

“Baru saja dia menelpon saya, dan bercerita panjang lebar. Ia merelakan suaminya menikahi gadis itu.”

“Syukurlah. Semoga mereka baik-baik saja. Memang seharusnya Anton bertanggung jawab bukan, apapun alasannya? Dan mau tidak mau Dwi harus kembali kepada suaminya, karena diapun sedang mengandung.”

“Anton bakal punya anak dua dong.”

“Jadi pengin,” canda Adri.

“Apa?”

“Mengapa tidak? Tama sudah besar. Dia pasti juga pengin adik.”

“Adri, di kantor ngomongin pengin anak lagi. Sudah, didengar orang, malu.”

Nirmala menutup pembicaraannya, dan Adri meletakkan ponselnya sambil tersenyum-senyum.

“Punya anak lagi, apa salah?” gumamnya sambil terus berharap untuk segera pulang.

***

Dwi sudah berada di kamar Anton kembali. Anton masih mendengar ketika Dwi memasuki ruangan sambil berbicara di telpon.

“Telponan sama siapa?"

***

Besok lagi ya.

23 comments:

  1. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 38 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete
  2. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~38 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  3. Taqabbalallahu minna wa minkum
    Taqabbal Yaa Kariim.
    Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447-H
    Mohon naaf segala salah & khilaf Lahir Batin.
    Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan mempertemukan kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya.

    Yaumil Milad mBak Tien.
    Baarakallahu fii umrik fii rizky fii afiat fiiddunnya wal akhirah.
    Aamiin Yaa Robbal'alamiin πŸ€²πŸ’—πŸŒΉπŸŽ‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun mas Kakek

      Delete
  4. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 38" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis. Sugeng dalu ugi

      Delete
  5. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah...matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...

    ReplyDelete
  7. Alhamdulilah
    Sudah tayang kembali. Terimakasih kasih Bunda. Semoga sehat slalu
    Salam idul Fitri

    ReplyDelete
  8. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  9. Matur nuwun Bunsa Tien.
    Sugeng Riyadi sedaya lepat nyueun pangapunten

    ReplyDelete
  10. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 38 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.

    Dwi dan Wati hrs jaga kandungan nya, agar s bayi lahir dengan sempurna.

    ReplyDelete
  11. πŸ•ŒπŸ™πŸ•ŒπŸ™πŸ•ŒπŸ™πŸ•ŒπŸ™
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung BeAaeM_38
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ•ŒπŸ™πŸ•ŒπŸ™πŸ•ŒπŸ™πŸ•ŒπŸ™

    ReplyDelete
  12. Matur suwun Bu Tien ...Alhamdulillah akhirnya Dwi sdh bisa memilih jalan yg terbaik..πŸ™

    ReplyDelete
  13. Hatur nuhun bunda cerbungnya .slm seroja uno bundaπŸ™πŸ₯°πŸŒΉπŸ’ž

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 38

  BIARKAN AKU MEMILIH  38 (Tien Kumalasari)   Berhari-hari kemudian keadaan Anton sudah mulai membaik. Biarpun operasi berjalan baik dan has...