Thursday, March 19, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 37

 BIARKAN AKU MEMILIH  37

(Tien Kumalasari}

 

Bu Sarah menatap menantunya dengan perasaan tak menentu. Sesal yang dirasakannya dan sikap sang menantu yang tidak kelihatan sangat berharap untuk kembali kepada Anton, sangat membuatnya merasa sakit karena dosa-dosanya.

Air matanya kembali berlinang.

“Dwi, aku bersalah padamu, juga kepada Anton. Apakah tidak akan ada maaf untuk aku?” tanyanya memelas.

Dwi menatapnya tak berkedip. Nyonya garang yang kalau bicara sering keras dan menyakiti itu sekarang tak ada lagi. Yang ada hanyalah tatapan mata lelah dan rasa putus asa. Tatapan seorang musuh yang kalah perang. Pasrah akan hukuman apa yang harus diterima. Dwi merasa trenyuh. Lalu ia bertanya kepada dirinya sendiri. Sanggupkah ia hidup bersama madunya? Sanggupkah ia berbagi cinta dengan perempuan lain yang ia sama sekali belum mengenalnya? Meminta agar Anton meninggalkannya? Tak mungkin. Dwi juga perempuan. Tak bisa dia bayangkan bagaimana perasaannya ketika dirinya mengandung lalu tak ada orang yang menikahinya.

“Dwi, sebenarnya semua ini salahku. Wati tidak mencintai Anton, demikian juga Anton, juga tidak mencintai Wati. Aku yang membuat semuanya itu terjadi, Dwi, aku yang salah.”

“Baiklah Bu, semuanya sudah terjadi, lalu apakah mas Anton akan meninggalkan Wati begitu saja sementara Wati sudah mengandung anaknya? Dengan alasan tidak cinta? Bukankah ia harus bertanggung jawab atas semuanya? Tidak mungkin Ibu membiarkan mas Anton lepas dari semua tanggung jawabnya, walaupun itu karena kesalahan Ibu.”

“Iya, Anton sudah mengatakan bahwa dia tetap akan menikahinya. Nanti setelah bayinya lahir, dia akan menceraikannya.”

“Rasanya sangat tidak adil bagi Wati.”

Bu Sarah terdiam lagi. Keadaan sudah menjadi rumit. Ia sekarang tidak ingin melepaskan Dwi, sementara Wati harus mendapatkan perlindungan dari kehamilannya. Persiapan pernikahan sudah disiapkan, tapi bu Sarah goyah setelah melihat kecintaan anak dan menantunya.

“Lalu apakah kamu benar-benar akan meninggalkan Anton, Dwi?” pertanyaan itu terlontar dengan bibir gemetar dan penuh keputus asaan, karena melihat bahwa Dwi tidak memberikan setitik harapanpun.

“Bu, berikan waktu saya untuk memilih ya.”

Bu Sarah hanya bisa mengangguk lemah.

“Lagipula kita juga harus bicara dengan mas Anton. Barangkali nanti setelah mas Anton sadar dan sehat, kita bisa bicara lagi.”

Setitik harapan membuat bu Sarah agak merasa lega.

***

Seorang perawat yang kembali memeriksa tensi Dwiyanti, mengabarkan bahwa Anton sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sudah sejak tadi bu Sarah menunggui di ruang ICU tempat Anton diobservasi.

Dwi merasa lega. Anton sudah bersama ibunya.

“Tensi ibu sudah bagus,” kata perawat itu.

“Terima kasih suster.”

“Apakah masih muntah-muntah? Tidak kan?”

“Tidak, kadang-kadang saja merasa mual.”

“Nanti akan saya laporkan pada dokternya.”

“Saya sudah boleh pulang kan?”

“Nanti menunggu dokternya ya Bu,” kata perawat itu yang kemudian berlalu.

Bibik yang sedari tadi menemani, juga mendengar pembicaraan antara bu Sarah dan Dwi. Ia berpihak kepada bu Sarah, yang berharap agar Dwi tidak meminta cerai dari suaminya.

“Saya sudah mengatakan sejak lama. Sebaiknya Nyonya kembali kepada tuan Anton.”

“Sebenarnya aku masih kesal. Tapi semua ini ternyata kesalahan ibunya.”

“Iya Nyonya, saya juga mendengarnya tadi. Sangat keterlaluan nyonya Sarah itu, masa memaksa anaknya menghamili orang. Sekarang dia menyesal ketika melihat bahwa tuan Anton dan Nyonya masih saling mencintai.”

“Dan katanya, ternyata Wati sebenarnya tidak menyukai mas Anton.”

“Lha kalau tidak mencintai lalu bagaimana? Keadaan sudah mengandung begitu?”

“Aku belum bisa membayangkan bagaimana hidupku nanti. Apakah mas Anton akan membawa istrinya ke rumah dan akan hidup bersama? Apa aku bisa?”

“Nyonya kan sedang bertugas di kota ini?”

“Tapi kalau aku kembali menjadi istri mas Anton, belum tentu aku diijinkan tinggal di sini. Mungkin pulang dan pergi dari rumah sana.”

“Jadi bagaimana nantinya, apakah Nyonya sudah memutuskan?”

“Belum, aku masih bingung. Bagaimana nanti setelah mas Anton sudah sembuh. Sekarang ini dia belum bisa diajak bicara.”

“Benar Nyonya, harus berbicara dengan tuan dulu, bagaimana baiknya.”

***

Tapi sore hari itu, Nirmala menepati janjinya. Ketika ia harus kembali ke kantor pusat, ia mampir ke rumah sakit di mana Dwi dirawat.

Dwi sangat terkejut melihat kedatangan Nirmala. Semenjak bekerja, dia belum pernah bertemu Nirmala. Ia tahu bahwa itu Nirmala, karena ia melihat fotonya bersama Adri di kantor Adri. Apakah Nirmala akan memarahinya dan menganggap dia berbuat seenaknya dengan mengatakan bahwa bayi yang dikandung adalah anak Adri?”

“Apa kabar Dwi?” sapa Nirmala.

Dwi berusaha bangkit.

“Tiduran saja.”

“Saya sudah baikan.”

“Tapi kamu kan masih diinfus? Bagaimana keadaan kamu?”

“Saya sudah merasa sehat. Saya siap untuk pulang, menunggu dokternya.”

“Beberapa hari yang lalu kamu ke rumah sampai malam?”

“Iya Bu.”

“Kamu mau mengatakan apa waktu itu sampai menunggu aku hampir seharian?”

“Saya …"

”Katakan saja.”

“Apakah Ibu tidak marah kepada saya?”

“Tidak, katakan saja.”

“Saya hanya akan minta maaf kepada Ibu, dan juga pak Adri.”

“Masalah kamu mengakui tentang kehamilan kamu itu? Yang kamu bilang kepada suami kamu bahwa anak Adrilah yang ada di dalam kandungan kamu?”

“Maafkan saya. Saya … sebenarnya sedang kalut. Saya tidak ingin kembali kepada suami saya. Saya berbohong agar suami saya menceraikan saya.”

“Dan yang terjadi adalah sebaliknya?”

“Saya takut sekali waktu itu, karena suami saya mengancam akan menghajar pak Adri. Saya tidak tidur semalaman, lalu paginya langsung pergi ke rumah ibu.”

“Dan ternyata semuanya baik-baik saja kan?”

Dwi mengangguk.

“Dan ketika dia menunggu kepulangan saya dari rumah ibu itu, barangkali dia lelah, lalu terjadilah kecelakaan.”

“Karena kebohongan kamu, semuanya jadi kacau kan?”

Dwi mengangguk lagi. Dia menatap Nirmala, dan mengakui bahwa Nirmala adalah wanita yang baik. Tidak salah Adri sangat mencintainya.

“Apakah kamu masih bersikeras ingin bercerai?”

“Saya masih bingung. Entah memilih kembali, atau bercerai. Wanita yang akan dinikahi suami saya sudah mengandung.”

“Tapi suami kamu berharap kamu tidak pergi kan?”

“Bahkan mertua saya yang semula membenci saya, berharap saya kembali kerumah, melarang bercerai. Padahal dulu dia sangat membenci saya.”

“Mertua yang membenci, sudah kehilangan rasa bencinya, mungkin dia sadar bahwa kamu adalah istri yang baik.”

“Sebenarnya saya tidak sebaik yang Ibu bayangkan.”

“Apapun itu, perceraian bukanlah jalan terbaik, sementara kalian masih saling mencintai. Adanya wanita lain, tergantung suami kamu, apakah bisa berbuat adil atau tidak.”

“Ibu mertua saya mengatakan bahwa mereka tidak saling mencintai.”

“Jadi suami kamu hanya bermain-main?”

“Dipaksa oleh ibunya yang waktu itu sangat membenci saya. Dan akhirnya sekarang dia menyesal, karena keduanya tidak saling suka.”

“Kalau kamu dilarang menceraikan suami kamu, pasti ada solusi untuk mengatasi wanita yang sudah hamil itu.”

“Mas Anton akan menceraikannya kalau dia sudah melahirkan.”

“Hal terbaik adalah kamu bicara dengan wanita itu. Bicaralah dari hati ke hati, dan tanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan. Aku yakin kamu akan bisa memilih setelah berbicara dengannya.”

“Menurut aku, waktu itu kamu sedang kalang kabut karena kemarahan kamu kepada suami karena suami minta ijin untuk menikah lagi. Lalu kamu berpikir yang aneh-aneh, lalu kamu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan nurani kamu, setelah menyadari bahwa kamu ternyata masih mencintai suami kamu.”

Dwi lagi-lagi menatap Nirmala tak berkedip.

Apakah Nirmala tahu bahwa dia pernah tergoda pada Adri, yang kemudian diyakininya bahwa dia melakukannya karena rasa kalut atas penyelewengan suaminya. Tapi Nirmala tidak kelihatan marah. Matanya teduh, dibibirnya selalu tersungging senyuman.

Sampai kemudian Nirmala pergi, Dwi masih memikirkan apa yang dikatakan Nirmala.

Hal itu semula tidak dipikirkannya. Bicara dengan Wati, mengapa tidak?

***

Besok lagi ya.

11 comments:

  1. Alhamdulillah BeAaeM_37 sdh hadir.
    Matur nuwun mBak Tien, sugeng sonten sugeng persiapan buka puasa.
    Salam SEROJA
    Tetap ADUHAI, tetap SEMANGAT BERKARYA.
    Menulis menyalurkan hobby dan menyenangkan para penggemarnya.
    Aamiin.....
    πŸ€²πŸ€²πŸ€²πŸ™

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~37 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, matur nwn bu Tien,

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah Cerbung "BAM 37" sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  6. πŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒ
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung BeAaeM_37
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    πŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒπŸŒ·πŸƒ

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 37 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah.... Selamat berbuka puasa...

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 37

  BIARKAN AKU MEMILIH  37 (Tien Kumalasari}   Bu Sarah menatap menantunya dengan perasaan tak menentu. Sesal yang dirasakannya dan sikap san...