Wednesday, March 18, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 36

 BIARKAN AKU MEMILIH  36

{Tien Kumalasari)

 

Bu Sarah diam terpaku. Dilihatnya Anton terbaring diam dengan kepala diperban. Wajahnya pucat. Pastinya begitu, karena Anton baru keluar dari kamar operasi. Tapi yang menarik dan membuat bu Sarah tertegun, ia melihat Dwi duduk di kursi roda, masih dengan infus terhubung di lengannya, lalu tangannya memegangi erat tangan suaminya.

Ada rasa trenyuh menyentuh.

Kepada perawat yang mengiringinya masuk, bu Sarah bertanya pelan.

“Apakah mereka mengalami kecelakaan berdua?” tanyanya menahan sedih yang mendalam.

“Tidak, pak Anton mengemudi mobilnya sendiri dan mengalami kecelakaan. Sedangkan ibu Dwi sejak awal menungguinya. Tapi semalam ibu Dwi harus dirawat karena muntah-muntah terus dan badannya lemah. Sesungguhnya dia belum boleh bangun, tapi bersikeras ingin melihat suaminya yang habis dioperasi. Sejak tadi dia menangis di situ. Ia khawatir tentang keadaan suaminya. Tapi sekarang sudah lebih tenang setelah diberi penjelasan oleh dokter yang menanganinya,” terang perawat itu panjang lebar.

Bu Sarah belum melangkah mendekat. Ia masih menatap bagaimana Dwi memegangi tangan suaminya dengan mata kuyu dan wajah yang juga masih kelihatan pucat.

“Mereka saling mencintai,” kata batinnya.

Lalu ia teringat bagaimana sikap Wati yang tanpa ekspresi ketika mendengar calon suaminya kecelakaan. Tak ada tatapan terkejut, tak ada khawatir, apalagi sedih. Bahkan ia menolak ketika diajak melihat keadaannya.

“Apakah salah aku memilihnya? Bahkan dengan cara yang tidak semestinya?”

“Silakan Bu, kalau mau melihat dari dekat, tapi jangan lama-lama. Yang diijinkan hanya istrinya. Tapi bu Dwiyanti juga harus segera kembali ke kamar rawat karena tekanan darahnya belum stabil.”

Bu Sarah mengangguk. Ia melangkah mendekat, perlahan, lalu berdiri di dekat kursi roda menantunya, di mana ada penyangga infus di dekat kursi roda itu.

Dwi terkejut, tak menyadari mertuanya mendekat.  Melihatnya datang, Dwi memundurkan kursi rodanya sambil memegangi tiang penyangga infusnya. Ia tahu, mertuanya tidak menyukainya. Tapi tiba-tiba sang mertua menarik kursi roda itu kembali mendekat.

“Di sini saja, nanti Anton mencari kamu,” katanya sambil tersenyum, tapi tampak dia menahan tangis.

Dwi agak heran, tapi ia mengangguk.

“Apakah dia belum sadar sama sekali?”

“Belum, sebenarnya saya tidak boleh menengok ke dalam, sampai dia sadar. Tapi karena saya istrinya, lalu diperbolehkan.”

“Tadi aku juga mengatakan bahwa aku ibunya, diijinkan masuk, hanya sebentar.”

Bu Sarah memegangi tangan anaknya, menepuknya lembut. Matanya tampak berkaca-kaca. Tentu ia sedih karena anak semata wayangnya terbaring tak berdaya.

“Apakah keadaannya parah?”

“Ada perdarahan otak dan harus dioperasi.”

“Ya Tuhan ….”

Tiba-tiba perawat mengingatkan.

“Ibu, silakan menunggu diluar dulu. Kalau pak Anton keadaannya stabil, baru bisa dipindahkan ke ruang rawat. Di sana Ibu bisa menunggui lebih lama.”

Bu Sarah mengangguk. Ia mencium pipi sang anak, kemudian melangkah keluar. Perawat itu kemudian juga mendorong kursi roda Dwi keluar.

“Ibu Dwiyanti akan kami bawa ke ruangannya,” kata perawat sambil menatap bu Sarah. Lalu bu Sarah mengikutinya.

***

“Apakah kamu muntah-muntah terus?” tanya bu Sarah ketika Dwi sudah kembali terbaring di ranjangnya, dan perawat meninggalkannya.

“Tadinya sudah baik, tapi kemarin itu, mungkin karena kelelahan, saya tidak doyan makan, dan apapun yang saya makan langsung kembali keluar. Tadinya ketika saya mendengar mas Anton kecelakaan, saya langsung kemari dan menungguinya. Tapi mas Anton menyuruh saya pulang saja, karena saya juga tidak bisa menunggui di dalam ruang IGD. Setelah di rumah beberapa saat itu saya merasa badan saya lemas dan muntah-muntah. Bibik memanggil ambulans dan saya harus dirawat.”

“Aku prihatin melihat keadaan kamu. Aku trenyuh melihat keadaan kamu yang lemah masih nekat menunggui suami kamu yang belum sadar.”

“Terima kasih, Bu,” kata Dwi yang masih terheran-heran dengan sikap ibu mertuanya yang berbalik seratus delapanpuluh derajat.

“Apakah keadaan Anton parah?”

“Kata dokter operasinya berhasil baik, tadinya saya juga sangat khawatir.”

Lalu keduanya diam. Yang satu heran dengan sikap satunya. Yang satu lagi merasa sungkan dan menyesal atas perlakuan sebelumnya. Entah mengapa, dia baru menyadari betapa baik Dwi sebagai istri. Lalu dibandingkan dengan Wati, penyesalannya menjadi bertumpuk-tumpuk.

Sebenarnya bu Sarah hanya iri karena perhatian dan kecintaan Anton terhadap Dwi sangat besar. Bu Sarah khawatir Anton tidak akan lagi memperhatikan ibunya, atau gampangnya saja bu Sarah merasa cemburu kepada menantunya, dan takut kehilangan cinta sang anak karena begitu besar cintanya kepada sang istri. Tapi melihat kedekatan mereka, hati bu Sarah luluh. Bukankah kalau sang anak bahagia maka orang tua juga akan ikut bahagia?

Tiba-tiba bu Sarah memegang tangan Dwi, dielusnya lembut. Dwi menatapnya, masih dengan perasaan heran.

“Dwi, ibu minta maaf,” katanya lirih.

Dwi menatap mertuanya. Minta maaf? Apa itu benar. Dwi masih tidak percaya.

“Aku telah salah melangkah karena berusaha memisahkan kamu, bahkan mencarikan perempuan lain untuk istri baru Anton,” katanya lirih dan gemetar. Mata yang penuh penyesalan itu sudah penuh dengan telaga bening.

“Tidak apa-apa Bu.” 

Hanya itu yang diucapkan Dwi.

“Apa kamu tahu, sekarang saya berpikir bahwa kamu istri terbaik bagi Anton.”

“Mengapa tiba-tiba ibu mengatakan demikian?”

“Entahlah.”

Lalu mereka kembali diam. Senyap di ruangan itu.

“Anton tidak seharusnya menikahi Wati,” ucapan itu membuat Dwi  bertambah heran.

“Bukankah dia sudah hamil?” pertanyaan itu sebenarnya menyayat hatinya sendiri.

“Maafkan ibu, itu sebenarnya kesalahan ibu. Anton tidak menyukai dia. Aku memaksanya, membuat Wati hamil karena rekayasa ibu."

Air mata itu kemudian benar-benar jatuh. Duka yang menghimpit karena anaknya terluka, ditambah penyesalan karena apa yang telah dilakukannya, membuatnya tak bisa lagi menahan tangis.

“Apa maksudnya rekayasa itu?”

“Aku memberi Anton obat ketika aku suruh dia menemui Wati. Aku hanya ingin Anton benar-benar tidak bisa meninggalkan Wati.”

“Ya Tuhan ….” Dwi mengeluh sedih.

“Maafkan aku.”

“Saya akan mengalah, biarkan mas Anton menikahi Wati,” kata Dwi menahan tangis.

 Ia baru menyadari bahwa dia sangat mencintai Anton, tapi ada kenyataan yang harus dihadapi, yaitu bahwa Anton memang harus menikahi wanita lain.

“Tidak. Tetaplah kamu menjadi istrinya. Kamu lebih pantas untuk Anton. Aku menyesal telah melakukan hal buruk terhadap kamu. Semuanya sudah terjadi, tak usah disesali.”

“Dwi, berjanjilah agar kamu tidak bercerai dengan Anton," lanjut bu Sarah.

Dwi menghela napas.

Seorang perawat masuk untuk mengukur tensi Dwiyanti.

“Maaf ya Bu,” kata perawat itu yang kemudian memasang tensimeter di lengan Dwi. 

Bu Sarah mundur, sambil mengusap air matanya.

***

“Apa kamu sudah tahu kalau suami Dwi dirawat karena kecelakaan?” kata Nirmala ketika menelpon suaminya.

“Dari kantor hanya ada berita bahwa Dwi dirawat karena terus-terusan muntah.”

“Dari kemarin dia menunggui suaminya yang akan dioperasi. Mungkin kelelahan, kan dia sedang hamil.”

“Bagaimana keadaan suaminya? Mengapa harus dioperasi?”

“Kabarnya perdarahan otak dan harus dioperasi. Tampaknya Dwi terus menerus menungguinya sehingga kelelahan.”

“Kasihan.”

“Apa kamu tidak ingin menjenguknya?”

“Di kantor sedang banyak pekerjaan.”

“Dia kan anak buah kamu, Dri. Dulu kamu sangat perhatian, mengapa sekarang tidak?”

“Kamu sedang mengejek aku?”

Nirmala tertawa.

“Tidak Adri, aku bersungguh-sungguh.”

“Akan aku suruh saja stafnya mengawasinya, dan melihat keadaannya, nanti pasti dia akan melapor juga. Di kantor sedang banyak pekerjaan. Kamu tahu kan?”

“Iya, aku tahu. Tugasku hampir selesai, mungkin besok aku bisa pulang. Aku akan lewat sana dan melihat keadaannya.”

“Baiklah, itu lebih bagus.”

“Lama-lama kasihan juga. Kata pembantunya, sebenarnya Dwi sangat mencintai suaminya. Ia hanya tergoda sejenak ketika dekat dengan kamu.”

“Ada-ada saja. Ya sudah, aku lanjutkan pekerjaanku ya, nanti aku menelpon kamu.”

***

Dwi sebenarnya mengantuk, tapi ibu mertuanya terus mengajaknya bicara tentang penyesalannya, tentang sikap Wati yang sebenarnya juga tidak mencintai Anton, dan keinginan bu Sarah untuk mencegah Dwi bercerai dengan suaminya. Dwi belum memberikan jawaban. Ada perempuan lain disamping dirinya bukan?

“Dwi, aku tetap berharap kamu tetap menjadi menantuku. Kamu mau kan?”

Dwi diam sebentar.

“Biarkan saya memikirkannya dan memilih jalan hidup saya ya Bu," kata Dwi.

***

Besok lagi ya.

 

21 comments:

  1. Alhamdulillah sdh tayang BeAaeM_36 sudah hadir.
    Terima kasih mBak Tien, salam sehat selalu.

    ReplyDelete
  2. πŸ₯—πŸ«”πŸ₯—πŸ«”πŸ₯—πŸ«”πŸ₯—πŸ«”
    Alhamdulillah πŸ¦‹πŸ’
    Cerbung BeAaeM_36
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    πŸ₯—πŸ«”πŸ₯—πŸ«”πŸ₯—πŸ«”πŸ₯—πŸ«”

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda Tien
    Semoga sehat . Beserta keluarga

    Oh... Dwi. ???

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 36" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🀲
    Sugeng sontenπŸ™

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat selalu

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah sudah tayang
    Selamat berbuka puasa
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 36 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .AamiinπŸ€²πŸ™⚘🌷

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~36 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🀲

    ReplyDelete
  9. Alhamdulilah Cerbung "BAM 36 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
  11. Terima ksih bundaqu..slm seroja dan aduhai unk bunda dri skbmi πŸ™πŸ₯°πŸŒΉπŸ’ž

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah sdh tayang. Trmksh Bu Tien.

    ReplyDelete
  13. Mks bun....selamat berbuka puasa....salam sehat ttp semangat

    ReplyDelete
  14. Alhamduliillah..terharu....sehat selalu Bunda Tien

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tien tetap sehat semangat bahagia bersama keluarga tercinta πŸ™

    ReplyDelete
  16. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 36 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.

    Sip...ibu nya Anton sdh menyadari kesalahannya, sdh insyaf nih yee, padahal kmrn seperti Datuk Maringgih..suka memaksakan kehendak..😁😁

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 37

  BIARKAN AKU MEMILIH  37 (Tien Kumalasari}   Bu Saras menatap menantunya dengan perasaan tak menentu. Sesal yang dirasakannya dan sikap san...