Tuesday, March 17, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 35

 BIARKAN AKU MEMILIH  35

(Tien Kumalasari)

 

Nirmala menatap bibik yang tampak gelisah.

“Sekarang opname?”

“Dari semalam belum boleh pulang. Ini saya pulang untuk mengambil baju ganti. Kelelahan nyonya majikan saya itu. Kemarin pergi seharian, malam baru sampai di rumah. Tidak lama kemudian muntah-muntah tanpa henti. Tentu saya takut. Eh, maaf, saya belum tahu siapa Nyonya?”

“Saya Nirmala.”

“Aduh, ya ampun. Apakah Nyonya istri tuan Adri?”

“Benar.”

“Apakah Nyonya mau memarahi majikan saya? Dia khilaf, bingung masalah minta cerai, sehingga bohong semaunya. Tapi nyonya saya sangat menyesal. Sungguh, harap jangan memarahi dia,” kata bibik memelas.

“Kemarin dia di rumah saya seharian.”

“Iya Nyonya, dia ketakutan karena ulahnya yang tanpa pikiran panjang. Dia hanya bermaksud agar suaminya menceraikan. Tapi setelah suaminya kecelakaan, rupanya majikan saya itu juga kebingungan.”

“Suami ibu Dwi kecelakaan?”

“Kemarin menunggu istrinya sampai malam, lalu pulang karena paginya harus bekerja, tapi ketika majikan saya pulang, lalu mendapat telpon bahwa suaminya kecelakaan.”

Lalu bibik menceritakan semuanya tentang keadaan Anton dan sikap Dwi yang kebingungan.

Nirmala mengerti, ternyata Dwi ingin menemui dirinya karena penyesalannya. Baiklah, dia tidak sakit, sakit karena kehamilan itu bukan penyakit. Karena waktu saya tidak banyak, saya juga mau ke kantor. Sampaikan rasa keprihatinan saya untuk bu Dwi dan tentu saja suaminya.”

“Baiklah Nyonya, nanti saya sampaikan. Tapi Nyonya tidak marah pada majikan saya itu kan, kasihan, dia menyesal sampai kebingungan, nggak mau makan, nggak bisa tidur. Malam tadi itu dia kelelahan.”

“Tidak, saya tidak akan marah. Permisi Bik.”

Bibik menatap punggung tamunya dengan rasa kagum. Ia terpaku memandangi mobilnya sampai hilang dari balik gerbang.

“Memang sudah selayaknya kalau tuan Adri tidak mau berpaling darinya. Sudah cantik, baik hati pula. Tak ada kemarahan walau suaminya difitnah,” gumamnya sambil mengunci pintu dan bergegas pergi ke rumah sakit lagi.

“Dan salah sekali kalau nyonya Dwi ingin merebut suaminya. Semoga hatinya sudah luluh. Apalagi aku melihat bahwa perhatiannya pada suaminya sangat besar. Ia juga mengkhawatirkannya. Aku yakin nyonya masih cinta. Semoga bisa berbaikan kembali.”

***

Dwi terbaring lemas. Tapi ia ingin melihat keadaan Anton suaminya. Entah mengapa pikirannya tidak tenang. Ia ingin bangkit, tapi selang infus terhubung di tubuhnya. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya menjadi sangat sakit, bagai diremas-remas. Ia merasa berdosa, atau entah apa, yang jelas ia sangat ingin segera melihat keadaan suaminya. Tidak cinta? Mengapa perasaannya seperti ini?

“Mas Anton, bagaimana keadaan kamu?”

Ketika suster datang untuk memeriksa tekanan darahnya, Dwi minta agar infusnya dilepas. Ia ingin turun untuk melihat suaminya.

“Ibu masih sangat lemas, tekanan rendah. Tidak bisa melepas infusnya. Harus minta ijin dokter.”

“Tapi saya ingin melihat keadaan suami saya.”

“Suami ibu, bapak Anton sedang diperiksa secara menyeluruh. Tapi saya tidak tahu persisnya, nanti saya carikan informasinya. Kalau tidak salah akan dioperasi kalau penyumbatan darah tidak bisa diatasi.”

“Saya bisa melihat keadaannya?”

“Ibu sabar ya, ibu masih lemas.”

Perawat itu keluar setelah memeriksa tensi Dwi yang dikatakannya sangat rendah.

***

Pagi hari itu tanpa sepengetahuan Anton, bu Sarah ibu Anton membawa Wati ke rumahnya, menunjukkan semua isi dan sudut rumah, dan mengatakan bahwa semua itu nanti akan menjadi miliknya.

“Tapi Bu, bukankah mas Anton masih punya istri?”

“Istrinya minta cerai. Anton masih menemuinya, dan semoga segera mengurus perceraiannya itu.”

“Apa benar mas Anton mencintai saya?”

“Kamu itu bagaimana Wati, di dalam perutmu itu ada benih yang diteteskan Anton, bagaimana bisa dia tidak cinta?”

“Mas Anton melakukannya karena dipaksa ibu bukan?”

“Tidak, dia menginginkan anak, dan kamu bisa memberikannya.”

“Kalau Ibu tidak memberikan obat itu, pasti mas Anton tidak melakukannya.”

“Itu satu-satunya cara untuk menjerat dia. Karena kamu hamil, dia mau tidak mau harus menikahi kamu. Percayalah Wati, kamu akan bahagia. Anton anakku itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Bukankah pernikahan kalian sudah dipersiapkan?”

“Tapi saya tidak yakin mas Anton mencintai saya.”

“Wati, kamu masih ragu juga. Bukankah hampir setiap malam Anton datang mengunjungi kamu?”

“Tidak selalu ke tempat saya Bu, sebelah rumah itu teman sekolahnya. Dia sering main ke situ.”

“Katanya ke rumah kamu?”

“Hanya tiga kali, yang terakhir yang Ibu kasih obat dan harus saya campurkan ke minuman dia. Lalu semuanya terjadi. Kelihatannya dia menyesal.”

“Setidaknya kamu hamil, dan dia harus bertanggung jawab.”

Wati tampak diam. Wati adalah gadis sederhana yang cantik. Ayah ibunya sudah tak ada. Ia menjadi pegawai sebuah toko, di mana ibunya Anton sering belanja di situ. Tertarik pada kecantikan Wati, ibu Anton menginginkannya menjadi menantunya, dengan harapan Wati bisa melahirkan cucu-cucunya, bukan seperti Dwiyanti yang bertahun-tahun tidak juga hamil.

Tapi jalan yang ditempuhnya salah, sehingga keadaan menjadi runyam. Apalagi setelah diketahui bahwa Dwi pun sedang hamil.

Dwi yang sakit hati karena setiap malam ditinggal pergi, lalu tiba-tiba mau menikahi perempuan lain, menjadi sakit hati dan merasa kehilangan rasa cintanya. Ia tidak tahu bahwa setiap malam ketika Anton pergi hanyalah memenuhi permintaan sang ibu agar mengunjungi Wati, padahal Anton lebih sering bertandang ke rumah temannya yang adalah tetangga Wati.

“Sudahlah Wati, kamu tidak usah menyesali semuanya. Kamu harus yakin kalau Anton laki-laki yang baik. Kamu akan berbahagia. Setelah ini kamu tidak usah bekerja di toko lagi. Anton akan memenuhi semua kebutuhan kamu," bu Sarah masih tetap membujuk.

Wati terdiam. Calon mertuanya terlalu nekat, dan sangat memaksa agar dia menjadi menantunya.

Wati melihat ke dinding, tampak foto berbingkai yang besar. Foto Anton dan istrinya. Tampak mesra dan sangat serasi. Wati sangat mengagumi istri Anton yang cantik. Ia heran mengapa ibunya lebih menyukai dirinya. Masa hanya karena tidak bisa hamil?

“Apa kamu ingin agar aku menurunkan foto itu?”

Wati terkejut.

“Jangan, jangan Bu, mengapa harus diturunkan. Pasangan yang sangat serasi, biar saja di situ.”

“Besok akan berganti menjadi foto kamu bersama Anton.”

Wati mengangkat bahu. Tiba-tiba ia sangat menyesalkan apa yang sudah terjadi.

“Biar saja begitu,” kata Wati sambil berjalan ke arah depan, lalu duduk di teras.

“Anton kok ya tidak pulang semalam, apa dia langsung ke kantornya ya.”

“Kan bertemu istrinya Bu. Tidak aneh kalau berlama-lama.”

“Apa? Mereka sedang membicarakan perceraian. Kemarin aku ikut menunggu, tapi lalu aku pulang lebih dulu. Barangkali Dwi pulang malam, dan Anton harus menginap karena terlanjur menunggu. Dan mungkin sekarang sudah langsung pergi ke kantor. Dia karyawan yang rajin.”

Tiba-tiba ponsel bu Sarah berdering.

“Dari siapa nih, nggak ada namanya.”

“Diangkat saja Bu, barangkali penting.”

“Ya, haloo, benar, saya ibunya. Ini siapa? Apa? Rumah sakit? Ada apa? Anton itu anak saya, benar … apa? Semalam kecelakaan? Mengapa baru mengabari sekarang. Atas permintaan pak Anton. Rumah sakit mana? Bagaimana keadaannya?”

Wati melihat tangan calon ibu mertuanya gemetar. Tampaknya ia panik. Begitu ponsel diletakkan, tangan Wati langsung ditariknya.

“Wati, kita harus ke sana. Anton kecelakaan.”

“Tidak Bu, saya tidak mau.”

“Apa maksudmu? Calon suami kamu sedang cedera berat, dan kamu tidak mau melihatnya? Masih dekat dari rumah istrinya, kita harus segera berangkat. Tempatnya jauh.”

“Saya tidak berani Bu.”

“Tidak berani kenapa? Istrinya tidak akan bisa apa-apa. Dia sudah tahu kalau kamu mengandung anak Anton.”

“Saya tidak mau pergi. Ibu saja yang pergi.”

Wati berpikir tentang pertemuannya nanti dengan istri sah Anton, yang pasti menungguinya di sana. Ia merasa bersalah.

“Jadi kamu tidak peduli walau calon suamimu mengalami cedera parah dan akan segera dioperasi?”

“Maaf Bu, saya akan mendoakan saja dari sini. Sekarang saya mau pulang saja.”

Lama-lama Wati membuat kesal. Dan sang calon mertua menatapnya dengan wajah muram.

***

Sudah agak sore ketika bu Sarah sampai di rumah sakit. Ia segera mencari di mana anaknya dirawat. Ternyata Anton masih ada di ruang ICU setelah dioperasi, dan Dwiyanti menungguinya sambil duduk di kursi roda dan selang infus masih terpasang di lengannya.

Ibu Sarah tertegun.

***

Besok lagi ya.

16 comments:

  1. 🍧🍭🍧🍭🍧🍭🍧🍭
    Alhamdulillah 🙏😍
    Cerbung BeAaeM_35
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. 💐🦋
    🍧🍭🍧🍭🍧🍭🍧🍭

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~35 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien 🙏
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA.🤲

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih Bunda Tien
    Semoga sehat slalu

    ReplyDelete
  5. Alhamdulilah Cerbung "BAM 35 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 35 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 35" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
    Sugeng dalu🙏

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, mayur nwn bu Tien, salam sehat

    ReplyDelete
  9. Terima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda 🙏❤️🌹❤️

    ReplyDelete
  10. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 35

  BIARKAN AKU MEMILIH  35 (Tien Kumalasari)   Nirmala menatap bibik yang tampak gelisah. “Sekarang opname?” “Dari semalam belum boleh pulang...