BIARKAN AKU MEMILIH 32
(Tien Kumalasari)
Susah payah bibik bangkit sambil mendorong tubuh Dwi yang lemah. Lalu setelah bibik bangkit, Dwi hanya bisa terduduk di tanah. Wajahnya sangat pucat.
“Saya ketakutan …” bibirnya bergetar ketika mengatakannya.
“Nyonya ketakutan karena apa? Ada yang mengejar Nyonya?”
Dwi menggeleng lemah, berusaha bangkit namun tak berhasil. Bibik menariknya, membantunya, lalu dipapahnya menaiki tangga teras, dan dimintanya duduk.
“Nyonya sakit, badan nyonya panas sekali, sebentar, duduk bersandar dulu, saya ambilkan minuman hangat,” kata bibik sambil bergegas ke belakang.
Pikiran bibik jadi yang macam-macam. Ada apa sebenarnya wanita cantik yang datang-datang seperti mau pingsan ini. Dan mengapa juga mencari nyonya majikannya, bukannya sang tuan.
Dwi duduk lemas kebingungan. Yang dicari tidak ada. Ia tiba tiba ingin bertemu Nirmala dan meminta maaf. Ini karena dia terlanjur mengatakan bahwa bayi yang dikandungnya adalah anak Adri. Kalau terjadi kekacauan, pasti akan berimbas kepada pekerjaannya, karena Adri adalah menantu perusahaan di mana dia bekerja, dan istrinya adalah wakil direktur utama. Sejak kemarin dia tak doyan makan. Ia tak lagi suka muntah-muntah, tapi rasa mual tetap ada.
Karena tidak makan sejak kemarin, maka badannya terasa lemas, dan rasa pusing seperti memukul-mukul kepalanya.
“Nyonya, silakan diminum dulu. Ini coklat susu panas, tapi tidak begitu panas, nyonya minum pakai sendok ya, sudah saya siapkan nih,” kata bibik sambil mengulungkan minumannya yang dilengkapi dengan sendok, agar kalau kepanasan, tamunya bisa meminumnya sesendok demi sesendok.
Dwi menerima gelas itu, tangannya gemetar, membuat bibik jadi khawatir.
“Nyonya, gelasnya saya letakkan dimeja saja, nyonya mau saya suapin minumnya?”
“Tidak, tidak … biar saya meminumnya sendiri," kata Dwi yang merasa sungkan dilayani.
Ija segera menyendoknya sesendok demi sesendok. Rasa hangat mengaliri tenggorokannya, meresap keseluruh tubuhnya. Segelas penuh dihabiskan, lalu ia bersandar di sandaran kursi.
“Saya akan menelpon nyonya majikan saya.”
“Jangan. Aku mau pergi saja.”
“Kenapa tidak boleh? Saya khawatir karena nyonya kelihatan sakit, bagaimana nyonya mau pergi dalam keadaan seperti ini?”
“Bukankah pemilik rumah baru akan pulang besok? Masa saya akan menunggu sampai besok?” kata Dwi yang mulai sedikit bicara lancar, tidak gemetar seperti sebelumnya.
“Kalau Nyonya sehat tidak apa-apa. Badan nyonya agak panas, wajah Nyonya pucat,” kata bibik sambil mengambil gelas kosong dari meja, lalu dibawanya kebelakang.
Sesampai di dapur ia segera menelpon Nirmala.
“Ada apa Bik?”
“Nyonya, ada tamu, hampir pingsan di depan rumah.”
“Apa? Tamu siapa?”
“Tamu, perempuan cantik, katanya anak buah Nyonya.”
“Siapa?”
“Katanya namanya … eh … siapa tadi … Dwi … ya Nyonya, Dwiyanti lengkapnya.”
“Dia ke rumah? Mau apa?”
“Tidak bilang mau apa, hanya ingin ketemu Nyonya, tapi dia sakit. Tadi jatuh menimpa tubuh saya, badannya lemas, sudah saya beri coklat susu, sekarang mau pergi, tapi saya larang, kalau jatuh di jalan bagaimana? Tapi benar kan, dia karyawan di kantor Nyonya?”
“Kalau namanya Dwiyanti, itu benar. Dia sakit?”
“Iya, kasihan sekali. Apakah Nyonya pulang sampai malam?”
“Rencananya besok baru mau pulang. Ini sedang liburan, bersama Adri dan Tama juga mbak Rana.”
“Waduh, lalu harus saya apakan tamunya itu? Kasihan. Badannya panas, tubuhnya lemas. Katanya dia mau pergi saja. Tapi saya kok tidak tega.”
Lalu terdengar Nirmala bicara sama suaminya.
“Dwi ada di rumah, kata bibik dia hampir pingsan.”
“Mau apa dia?”
“Kok yang dicari aku ya Dri, katanya tadi sempat jatuh, menimpa bibik. Sudah dikasih minum, terus mau pulang.”
“Mau apa ya?”
“Kita pulang sekarang saja ya Dri, kita suruh Dwi menunggu.”
“Ya sudah kalau mau kamu begitu.”
“Bik,” Nirmala kembali bicara sama bibik.
“Ya.”
“Suruh dia menunggu. Kalau mau suruh tiduran di kamar tamu. Kalau masih panas coba bibik cari obat panas di almari obat, suruh dia minum. Eh ya, kalau mau suruh dia makan juga.
”Baik Nyonya.”
Bibik bergegas ke arah depan.
“Nyonya jangan pulang dulu, sekarang tuan dan nyonya majikan saya sedang ke arah pulang. Saya akan ambilkan obat untuk Nyonya. Sebentar ya,” kata bibik lalu kembali lagi ke arah belakang.
Dwi merasa tidak enak. Ia kemudian bingung, nanti akan mengucapkan apa.
Bibik kembali dengan membawa obat panas, sebutir obat yang tersedia di almari obat keluarga. Ia juga membawa segelas air putih.
“Nyonya, ini obat panas, silakan diminum dulu. Tadi nyonya berpesan begitu. Suruh minum obat dan diminta untuk makan juga.”
Dwi tiba-tiba merasa dirinya kecil. Ia dengan penuh harapan ingin merebut Adri dari keluarga ini. Dari ibu Nirmala yang ternyata sangat baik dan penuh perhatian. Pasti ia juga sudah mendengar tentang pengakuannya yang ngawur tentang kehamilannya, karena Anton marah-marah dan mengancam akan menghajar Adri.
Tapi sikap Nirmala sangat baik. Jauh dari rasa marah seperti wanita yang sakit hati ketika suaminya menghamili perempuan lain.
“Ya Tuhan.”
Dwi terkejut karena mulutnya menyebutkan nama Tuhan. Nama yang sudah lama dilupakannya.
“Nyonya, minum obatnya dulu, biar lebih merasa segar. Lalu makan ya, saya sediakan sebentar. Tapi ya lauk seadanya, karena bibik tidak memasak hari ini.”
Dwi meraih obat yang diberikan bibik, lalu diminumnya, sementara bibik bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan.
Dwi dipaksa ke ruang makan. Hanya ada lauk semur ayam yang dimasak kemarin, dan kerupuk.
“Seadanya Nyonya, atau mau saya buatkan mie?”
“Tidak usah … biar ini saja.”
Tapi Dwi hanya makan sedikit, setelah beberapa sendok kemudian ia meneguk air putih yang disediakan.
“Kok cuma sedikit, apa tidak enak?”
“Bukan, aku agak mual, daripada muntah. Aku lupa membawa obatnya.”
“Sebenarnya Nyonya sedang sakit?”
“Aku sedang hamil.”
“Ya ampun Nyonya, pasti gara-gara kehamilan itu. Tapi perut Nyonya belum kelihatan besar.”
“Baru awal kehamilan.”
“Nyonya, kalau begitu Nyonya istirahat dulu, kamar tamu selalu saya rapikan. Nyonya bisa langsung tiduran. Ini juga nyonya majikan saya yang menyuruh.”
Karena badannya terasa tidak enak, maka Dwi menurut saja. Kebaikan yang diterimanya bertubi-tubi membuat Dwi merasa semakin kecil di hadapan Nirmala. Ia merasa begitu jahat.
Bibik mengantarnya ke kamar tamu. Dwi ke kamar mandi sebentar, kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Badannya terasa lebih nyaman.
***
Sementara itu Anton menunggu dengan gelisah. Apalagi ibunya. Beberapa cemilan yang dihidangkan bibik sudah habis disantap, tapi Dwi belum juga kelihatan batang hidungnya. Berkali-kali bibik menawarkan makan, tapi mereka tidak mau.
“Kemana ya Dwi? Sudah sore ini.”
“Sudah sore, dan aku sangat lelah. Ayo kita pulang saja,” gerutu sang ibu.
“Ibu ini bukannya mendukung Anton, malah menggerutu terus.”
“Anton, bagaimana aku tidak menggerutu, kamu tiba-tiba mau ketemu istri kamu yang sudah tidak mau lagi sama kamu, siapa yang tidak kesal?”
“Anton harus ketemu Dwi, agar semuanya menjadi jelas. Kelakuannya dengan memfitnah Adri itu tidak benar. Apa coba maksudnya?”
“Bukankah maksudnya adalah supaya kamu menceraikan dia? Kamu ini tidak punya harga diri ya Ton, istri sudah seperti itu kamu masih berharap atas dia. Bukankah sudah ada Wati? Kurangnya apa dia? Dia cantik, dan sudah mengandung anakmu. Dia juga baik, sayang sama ibu.”
“Ibu tidak sayang pada Dwi, sejak dulu ibu tidak suka. Itu sebabnya ibu ingin agar Anton menceraikannya.”
“Kalau dia sudah tidak mau, apa kamu akan memaksanya?”
“Anton harus bicara dulu sama dia.”
“Tapi dia pulang atau tidak, kamu kan tidak tahu?”
“Anton akan tetap menunggu.”
“Kalau begitu ibu mau pulang saja, carikan taksi untuk ibu.”
“Bagaimana kalau Anton carikan travel saja.”
"Taksi saja, kalau kamu keberatan biar ibu sendiri yang bayar.”
Anton terpaksa menurutinya. Ia akan menunggu, walau harus menginap, asalkan sudah bertemu Dwi. Biarlah dia memilih, cerai atau kembali kepada dirinya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu
Trmksh mb Tien ๐
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 32 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐๐ฉท๐น๐น
ReplyDeleteMatur nwn bu Tien, salam sehat dari mBantul
ReplyDeleteMatur nwn bu Tien, salam sehat dari mBantul
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~32 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien ๐
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.๐คฒ
Matur suwun bu Tien salam sehat selalu.
ReplyDeleteAlhamdulillah,BAM sudah tayang dng cantiknya, Maturnuwun Bu Tien, semoga ibu tetap sehat bahagia bersama keluarga tercinta....semoga Dwi sadar kembali ke Anton dan hidup bahagia, ...salam hangat Bu Tien ๐๐
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDelete๐น๐ธ๐น๐ธ๐น๐ธ๐น๐ธ
ReplyDeleteAlhamdulillah ๐ฆ๐
Cerbung BeAaeM_32
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin๐คฒ.Salam seroja ๐
๐น๐ธ๐น๐ธ๐น๐ธ๐น๐ธ
Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 32 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin๐คฒ๐⚘๐ท
ReplyDeleteTerima kaih cerbungnya bunda.slm seroja dan tetap aduhai unk bunda sekeluarga๐๐ฅฐ๐น❤️
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, salam sehat bahagia aduhai dari Yk.....
ReplyDeleteHehe...apakah Dwi akan takluk pada rayuan Anton besok? Kita tunggu akhir bahagianya...๐
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...sukses ya...๐๐ป๐
Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 32" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat ๐คฒ
ReplyDeleteSugeng dalu๐