BIARKAN AKU MEMILIH 30
(Tien Kumalasari)
“Mengapa Ibu tertawa?” tanya Anton yang sebenarnya hatinya sedang kesal. Ia tak sepenuhnya mencintai Wati, tapi dia merasa dikhianati sang istri.
“Bagaimana ibu tidak tertawa, Anton. Istri yang kamu cintai itu melakukan hal yang memalukan, menjijikkan. Katakan bahwa kamu masih mencintainya. Ayo katakan,” kata sang ibu sambil tertawa-tawa. Pada dasarnya kan dia tidak menyukai Dwi, sehingga berita yang dibawa Anton sangat membuatnya senang.
“Anton sangat marah, tadi ingin mencari direktur perusak rumah tangga orang itu untuk menghajarnya, tapi tidak ketemu.”
“Mengapa kamu susah-susah menghajar dia, biarkan saja dia bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kamu malah bersyukur karena perceraian kamu mempunyai alasan yang kuat.”
Anton diam. Ia tidak sependapat dengan ibunya. Ia masih mencintai Dwi. Perceraian dengan Dwi belum dipikirkannya, yang penting kekesalan dan kemarahannya bisa segera dilampiaskan. Ia harus bertemu Adri, laki-laki yang menurutnya sangat licik dan tidak bertanggung jawab.
“Bisa-bisanya sok baik hati pakai menelpon untuk memberitahukan kehamilan Dwi. Ternyata dia yang menghamilinya. Bagaimana mungkin seorang direktur yang seharusnya berperilaku terhormat tapi malah melakukan hal licik seperti itu,” omel Anton sambil masuk ke dalam kamarnya, tak peduli ibunya bicara apa.
“Besok ibu antar kamu ke kantor Pengadilan Agama. Urus segera perceraian kamu,” kata sang ibu yang ternyata mengikutinya.
“Biar aku saja Bu, itu urusan aku,” kata Anton sambil menutup pintu kamarnya.
***
Pagi hari itu hari Minggu. Adri sudah bangun dan bercanda dengan Tama yang tertawa-tawa senang karena ada ayahnya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Adri mengerutkan keningnya, ternyata Anton yang menelponnya.
“Hallo, selamat pagi pak Anton,” sapa Adri ramah.
“Anda ada di mana saat ini?” katanya dingin.
“Ada di luar kota, ada apa?”
“Katakan ada di mana, aku ingin bicara.”
Adri sangat heran mendengar suara Anton yang sangat tidak bersahabat. Ia tidak mengerti apa sebabnya.
“Pak Anton, mari kita bicara dengan baik. Saya sedang bersama istri dan anak saya, dan sedang merencanakan liburan hari Minggu ini. Katakan apa sebenarnya maksud pak Anton.”
”Enak ya, lari dari masalah, kemudian bersenang-senang dengan anak istri?”
“Lho, ada masalah apa?”
“Jangan berpura-pura. Anda melakukan hal yang sangat menjijikkan, tapi tidak mau bertanggung jawab, malah melemparkan tanggung jawab itu kepada saya kan?”
"Sungguh saya tidak tahu apa maksud pak Anton sebenarnya. Saya bingung. Saya juga bingung ketika penjaga malam melaporkan kepada saya bahwa Bapak marah-marah datang ke rumah.”
“Bagus kalau penjaga malam yang sombong itu sudah melaporkan kepada Anda.”
“Tunggu, tolong bicara yang jelas, dari mana duduk perkaranya. Saya sungguh tidak mengerti mengapa Bapak marah-marah kepada saya.”
Adri masih berusaha sabar, walau sebetulnya dia kesal dan merasa tidak dihargai si penelpon.
“Bagus sekali kalau Anda tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti. Dengar, Anda menelpon saya, mengatakan kalau istri saya hamil. Apa Anda tahu bahwa saya sangat bahagia, karena memang kehamilan itu yang saya tunggu-tunggu.”
“Itulah yang saya maksud juga.”
“Tapi ternyata itu hanyalah akal licik Anda saja.”
“Apa maksud Bapak?”
Adri mulai bicara dengan nada tinggi, sambil tangannya melambai memanggil mbak Rana, agar mengajak Tama pergi dulu karena dia sedang bicara serius dengan seseorang. Serius marah.
Tama merengek tak mau lepas dari sang ayah, tapi kemudian diam ketika melihat ibunya keluar dari kamar.
“Maksud saya ialah , bahwa saya sudah tahu apa sebenarnya maksud Anda. Anda sangat licik dengan melemparkan tanggung jawab kepada saya, padahal Anda yang berbuat.”
Adri sangat bingung. Seandainya Anton ada didepannya, pastilah dia sudah menghajarnya.
“Aku berbuat, tapi menyuruh Bapak bertanggung jawab? Berbuat apa?”
“Jangan pura-pura bodoh!” dari seberang Anton berteriak.
“Anda bicara tidak jelas! Saya sungguh tidak mengerti!”
Adri mulai mengimbanginya dengan teriakan tak kalah keras. Nirmala yang melihat sang suami bertelpon di halaman dengan suara marah, lumayan kaget. Ia belum pernah melihat Adri segarang itu.
“Bukankah yang dikandung Dwi itu anak Anda?”
“Apa?”
Dan teriakan kali ini membuat Nirmala kemudian mengajak Tama ke belakang, karena Tama mulai menangis melihat ayahnya marah-marah.
“Jadilah laki-laki jantan, jangan mengecoh saya dengan permainan kotor Anda.”
“Jangan ngawur. Siapa bilang yang dikandung Dwi anak saya? Anda kira saya sekotor itu? “
Seandainya Anton ada didepannya saat itu pasti Adri benar-benar sudah menghajarnya sampai babak belur.
“Dengar ya, saya tidak pernah menyentuh istri Bapak. Siapa menyebarkan berita bohong itu?”
“Dwi sendiri yang bilang. Anda mau ingkar?”
“Perempuan kurangajar. Ayo kita temui Dwi bersama-sama. Itu tuduhan penuh fitnah! Anda ada di mana sekarang, saya akan berangkat menemui dia, dan Bapak harus ada di sana juga, lalu mendengar siapa yang bohong, jahat, memfitnah saya.”
“Baik, saya berangkat sekarang.”
***
“Adri, ada apa? Kamu marah-marah pada siapa?” tanya Nirmala sambil menepuk-nepuk punggung suaminya untuk lebih bisa menenangkannya.
“Ayo kita pergi.”
“Ke mana?”
“Kita temui Dwi.”
“Tidak, mengapa aku harus ikut menemui Dwi?”
“Dwi memfitnah aku. Mengatakan kepada suaminya bahwa dia hamil karena aku. Padahal itu kan anaknya Anton, suaminya?”
“Astaga. Dwi melakukan itu? Apa maksudnya?”
“Barangkali maksudnya adalah agar suaminya menceraikan dia. Tapi aku tidak terima dia mengatakan bahwa bayi yang dikandung adalah anakku,” kata Adri berapi-api.
“Baiklah, sabar ya Dri, aku akan ikut bersamamu. Kita ajak Tama ya?”
“Terserah kamu, jangan lama-lama, aku harus segera ketemu perempuan tak tahu malu itu.”
“Sabar Adri, jangan pergi membawa emosi.”
“Ini keterlaluan. Perempuan tak tahu malu.”
***
Anton bergegas menuju ke arah mobilnya, sang ibu mengejarnya.
“Anton, kamu mau ke mana?”
“Pergi sebentar Bu.”
“Ke mana, ibu mau ikut.”
“Tidak usah Bu, hanya sebentar.”
“Pokoknya aku mau ikut,” kata sang ibu yang nekat mengikutinya, dan masuk ke dalam mobil, duduk di samping kemudi.
Anton menghela napas panjang. Ibunya suka sekali ikut campur urusan keluarga anaknya, bahkan ingin tahu apa yang sedang dilakukannya.
Anton terpaksa membiarkan sang ibu ikut bersamanya.
“Mengapa wajahmu merah padam begitu. Kamu tadi marah-marah sama siapa?” tanya sang ibu yang ternyata mendengar dia berteriak-teriak di telpon.
“Aku akan menemui Dwi.”
“Ya ampun Anton, apa yang kamu lakukan? Sudah jelas Dwi tidak pantas menjadi istrimu, kelakuannya buruk, memalukan. Mau apa lagi kamu menemuinya?”
“Adri juga sedang menuju ke rumahnya.”
“Siapa Adri?”
“Laki-laki busuk itu.”
“Yang menghamili istri kamu?”
“Iya.”
“Lalu kenapa kalian mau bertemu Dwi? Semuanya sudah jelas, apa kamu masih tidak terima? Ingat Anton, rasanya alam sedang menunjukkan siapa sebenarnya Dwi, perempuan yang tidak pantas kamu cintai. Mengapa kamu malah membuat perkara semakin lebar seperti ini? Bukankah sangat sederhana sekali, tinggal kamu ceraikan Dwi dengan alasan berselingkuh, selesai kan, untuk apa ketemuan-ketemuan pula?”
“Adri tidak mengakui. Ia menuduh Dwi berbohong, jadi harus dibuktikan siapa benar, siapa salah.”
“Ya ampun, ibu jadi ikutan pusing.”
“Kalau begitu Ibu tidak usah ikut saja, turun disini lalu pulang naik taksi.”
“Enak saja, ini sudah sangat jauh dari rumah.”
“Naik taksi, daripada Ibu marah-marah terus.”
“Nggak apa-apa, ibu akan diam.”
Antonpun diam. Ia berharap semuanya menjadi jelas. Ia belum percaya sepenuhnya apa yang dikatakan Adri, tapi kemudian dia juga meragukan apa yang dilontarkan Dwi ketika dia mengajaknya pulang dan membatalkan keinginannya bercerai.
***
Seperti sudah diatur, Adri dan Anton datang di tempat tinggal Dwi hampir bersamaan. Anton dari arah utara, Adri dari arah selatan. Keduanya turun bersama-sama. Baik ibu Anton maupun Nirmala dan anaknya tidak mau turun.
Tanpa berbicara mereka mendekati rumah yang terlihat tertutup rapat. Bel tamu bertubi-tubi dan ketukan bertalu-talu, tak ada jawaban. Entah Dwi pergi ke mana.
***
Besok lagi ya.
Yessss, sudah tayang BeAaeM_30
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah Cerbung "BAM 30 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteTrmksh mb Tien π
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~30 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.π€²
Alhamdulullah, nwn bu Tien, salam sehat
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bu DA
Semoga sehat slalu
Dwi kabur... Anton . Adri tenangkan pikiran kamu.
π₯π«π₯π«π₯π«π₯π«
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung BeAaeM_30
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π₯π«π₯π«π₯π«π₯π«
Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 30" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng daluπ
Mks bun...selamat berbuka puasa
ReplyDeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 30 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien sdah membuat para pembaca deg..deg..pyur..ππsemoga bisa menyelesaikan keruwetan dan mereka kembali PD kelnya masing2.....salam sehat Bu Tien bahagia selalu bersama keluarga tercinta..
ReplyDeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 30 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia. Aamiin.
Weleh...weleh...Dwi yang mempunyai lidah tak bertulang..ππ...
Memilih kabur daripada kena marah nya Anton dan Adri.
Ada dimanakah Dwi? Adri dan Anton sudah sampai, penasaran menunggu lanjutan besok... Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu...
ReplyDeleteDwi ini buat onar...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...