BIARKAN AKU MEMILIH 28
(Tien Kumalasari)
Bibik pembantu justru berteriak lebih dulu.
“Nyonya, itu kan tuan?”
Dwi menatap kedatangan suaminya dengan pandangan datar. Biarpun heran karena mengetahui Anton bisa sampai ke tempat tinggalnya, ia tak segera menanyakannya.
“Ternyata kamu ada di sini?” Anton yang lebih dulu bertanya.
“Aku ditugaskan di kantor cabang. Dari mana kamu tahu?”
“Aku tidak dipersilakan masuk?”
“Masuklah.”
Keduanya masuk ke dalam, Dwi menghadapinya seperti menghadapi seorang tamu.
“Kalau kamu sudah mengurus perceraian, kamu kan bisa mengabari melalui telpon atau pesan singkat?”
“Aku sudah mengurusnya, tapi tidak berhasil.”
“Apa maksudmu tidak berhasil”
“Karena kamu sedang hamil.”
Dwi terkejut setengah mati. Dari mana juga suaminya tahu kalau dirinya sedang hamil?
Bibik pembantu keluar dengan membawa segelas minuman hangat.
“Silakan, Tuan.”
“Terima kasih Bik. Apa kabarmu?”
“Saya baik, Tuan.” jawabnya, lalu beranjak kembali ke belakang.
“Dari mana kamu tahu kalau aku sedang hamil?”
“Dari mana itu tidak perlu kamu tahu, yang jelas aku bahagia sekali karena ternyata kamu sedang mengandung anakku.”
“Ini bukan anakmu," tiba-tiba kata Dwi tanpa menatap suaminya. Ia berbohong dengan suatu alasan yang dia sendiri yang tahu.
“Bukan anakku?”
“Ya, siapa tahu kalau kamu sendiri yang mandul.”
“Tidak mungkin.”
“Mengapa tidak mungkin? Aku ….”
“Kamu yakin kalau kamu sehat dan bisa membuatku hamil? Jangan mimpi. Lanjutkan saja perceraian, itu lebih baik.”
“Kalau bukan anakku, lalu itu anak siapa?”
“Kamu tidak perlu tahu.”
“Ternyata kamu perempuan murahan. Berhubungan dengan laki-laki lain dan kemudian bersikeras minta cerai.”
“Kalau ya, kenapa? Jadi segera ceraikan aku.”
“Katakan siapa laki-laki itu. Yang sering mengantarkan kamu? Menjemput kamu?”
“Memang,” kata Dwi enteng.
Wajah Anton gelap dan matanya menyala marah. Ingin sekali ia menampar sang istri. Kegembiraan karena istrinya hamil telah sirna karena perkataan sang istri.
Tapi kemudian dia ingat apa yang dikatakan si penelpon yang mengatakan bahwa istrinya sedang hamil, lalu ia mengatakan dimana istrinya berada. Dia Adri pimpinan di kantor Dwi bukan? Kalau dia pelakunya, mengapa dia harus mengabari dirinya? Bukankah dia seharusnya diam saja dan melanjutkan hubungan dengan Dwi?
“Laki-laki yang pimpinan kamu itu?”
“Ya.”
“Asal kamu tahu Dwi, yang memberi tahu aku kalau kamu hamil, dan mengatakan di mana alamat kamu, adalah dia.”
Dwi sangat terkejut. Jadi Adri yang mengatakannya pada suaminya?
“Yang aku heran, kalau dia pelakunya, mengapa dia justru mengabari aku?”
Dwi diam sesaat, berusaha mencari jawaban. Ia kesal sekali pada Adri. Bukankah dia pernah meminta agar Adri merahasiakan kehamilannya agar perceraiannya tak ada kendala?
“Bagaimana menurut kamu?”
”Entahlah, aku tidak mengerti. Pokoknya ceraikan aku.”
“Dwi, aku butuh penjelasan. Kalau memang Adri pelakunya, aku akan menghajarnya.”
“Apa?”
”Dia laki-laki pengecut. Dia menghamili kamu tapi mengatakannya padaku, maksudnya supaya dia bisa lepas tangan dan meminta akulah yang bertanggung jawab? Aku akan mencari dia dan menghajarnya,” kata Anton sambil bangkit, lalu bergegas menghampiri mobilnya. Dwi sangat terkejut.
“Maas. Berhenti dulu, jangan main hajar-hajaran.!” Dwi berteriak, tapi juga diliputi ketakutan.
Tubuhnya terasa lemas ketika melihat mobil Anton keluar dari halaman rumah kecil yang ditinggalinya.
Ia duduk di kursi teras. Kebingungan melandanya.
***
Anton memacu mobilnya dengan perasaan yang tidak karuan. Tadinya ia senang dan bermaksud merayu istrinya agar mengurungkan niatnya bercerai, dan akan tetap menjadikan Dwi sebagai istrinya. Masalah wanita lain akan dipikirkannya nanti. Ia tetap mencintai Dwi dengan sepenuh hati. Hanya karena sang ibu maka ia bersikeras mendekati perempuan lain.
“Memang semua bermula dari kesalahanku. Aku terlalu lemah, aku selalu bingung setiap kali ibu berbicara tentang anak. Lalu mencela Dwi sebagai istri yang tidak sempurna, lalu mendorong aku mendekati perempuan pilihan ibu. Dan aku yang lemah ini menurutinya, mengabaikan Dwi yang kemudian tidak mau lagi hidup bersamaku. Semua ini gara-gara ibu.”
Anton menyalahkan ibunya, juga dirinya sendiri yang terlalu lemah.
“Tapi Dwi juga perempuan nggak benar. Masa dia kemudian menyukai laki-laki lain. Karena dia direktur perusahaan yang lebih kaya dari aku? Dan lebih ganteng dari aku?”
Lalu Anton merasa sangat marah, karena laki-laki yang seorang direktur itu adalah laki-laki pengecut. Buktinya dia melakukan hal terkutuk, dan justru ingin mengabaikan tanggung jawab? Aku harus menghajarnya.
Anton meraih ponselnya. Ia harus memaki-maki laki-laki itu. Tak peduli dia orang terhormat, tapi sama sekali tidak pantas dihormati. Dia sudah memencet nomor telponnya. Tapi kemudian dia mengurungkannya.
“Tidak usah menelpon, lebih baik aku datangi saja di rumahnya lalu aku hajar dia.”
Anton melihat arloji di tangannya.
“Sudah malam, haruskah ditunda besok pagi? Tidak, aku sudah sangat marah. Darahku mendidih, dan aku tidak akan merasa tenang kalau tidak melakukannya sekarang.”
Anton memacu mobilnya lebih cepat.
***
“Nyonya, mengapa tuan pergi, sedangkan minumannya belum disentuh sama sekali?”
Dwi tidak menjawab. Ia memijit-mijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
“Ada apa Nyonya? Mengapa tuan pergi begitu saja, dan Nyonya kenapa?”
“Kacau Bik, ini kacau. Aku sekarang bingung harus berbuat apa?”
“Kacau bagaimana Nyonya, tuan tidak mau menceraikan, atau perceraian sudah diproses?”
“Dia tahu kalau aku hamil, dan tinggal di sini.”
“Lalu tuan tidak mau menceraikan? Nyonya, ini hal terbaik yang harus Nyonya jalani. Nyonya bisa membuktikan kepada tuan dan juga mertua Nyonya bahwa Nyonya bisa mengandung anak keluarga tuan.”
“Kamu tidak bertanya dari mana dia tahu bahwa aku mengandung dan tinggal di rumah ini?”
“Dari mana Nyonya?”
“Dari Adri.”
“Oh, malah tuan Adri sendiri yang memberi tahu? Kalau begitu sudah jelas kalau tuan Adri sama sekali tidak menghendaki Nyonya.”
“Sekarang masalahnya bukan itu. Anton akan mencari Adri dan ingin menghajarnya.”
“Lha kenapa Nyonya?”
“Soalnya … aku mengatakan bahwa bayi yang aku kandung ini anak Adri.”
“Ya ampuun, mengapa Nyonya melakukannya?”
“Aku tidak mau kembali kepada Anton. Aku tidak cinta lagi pada dia.”
“Nyonya sudah bertindak gegabah. Nyonya sudah menghancurkan nama baik tuan Adri. Padahal selama ini tuan Adri selalu membantu Nyonya.”
“Aku harus bagaimana? Aku tidak punya jawaban untuk menghindari Anton.”
“Mengapa Nyonya tidak berpikir panjang sebelum mengatakan itu?”
“Aku hanya ingin Anton meninggalkan aku karena aku mengandung yang bukan anaknya.”
“Saya ikut pusing memikirkan Nyonya,” keluh bibik pembantu.
“Aku juga pusing Bik. Bagaimana ini?”
“Saya juga tidak tahu. Saya pusing Nyonya. Saya nggak ikutan,” kata bibik sambil beranjak pergi. Tapi Dwi berteriak memanggilnya.
“Biik! Mengapa pergi, bantu aku memikirkannya.”
Bibik kembali, ngelesot di lantai bersandar pada dinding.
“Aku bingung Bik.”
“Pemikiran Nyonya aneh-aneh. Menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Lalu bertindak semau Nyonya tanpa memikirkan akibatnya. Nyonya juga berdosa karena menghancurkan nama baik orang lain.”
“Kamu tidak menghiburku, malah menyalah-nyalahkan aku,” kata Dwi yang mulai menangis.
“Mengapa Nyonya menangis?”
“Aku bingung harus berbuat apa.”
“Semuanya sudah terlanjur. Nyonya tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Apa aku harus menelpon Anton dan mengatakan hal yang sebenarnya?”
“Itu juga lebih baik.”
“Ambilkan ponselku Bik.”
Bibik memberikan ponsel sang nyonya majikan.
Tapi panggilan itu tidak sekalipun diterima oleh Anton. Ia sedang marah, ia tahu Dwi menelpon, tapi dia tak peduli, dan membiarkannya berdering.
“Tidak diangkat,” katanya lirih, putus asa.
***
Anton sudah tahu di mana rumah direktur perusahaan di mana istrinya bekerja. Tapi belum pernah ke sana.
Ketika berhenti di depan pagar, mobilnya berhenti. Pagar itu tertutup. Ada penjaga yang sedang merokok di gardu sebelah dalam. Penjaga itu bertugas berjaga hanya di saat malam. Ia berdiri ketika melihat mobil berhenti.
“Selamat malam,” sapanya ketika Anton turun.
“Saya mau bertemu dengan Adri,” katanya.
Penjaga itu belum membuka pintu pagar. Ia mengerutkan keningnya mendengar orang menyebut nama majikannya dengan namanya saja.
“Bapak mau apa?”
“Mau menghajarnya,” kata Anton dengan kemarahan meluap.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah..sdh tayang
ReplyDeleteMatur sembah nuwun
Alhamdulillah
ReplyDeleteMatur nuwun IBu
ReplyDeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 28" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat 🤲
ReplyDeleteSugeng sonten🙏
🥙🧆🥙🧆🥙🧆🥙🧆
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung BeAaeM_28
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🥙🧆🥙🧆🥙🧆🥙🧆
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulilah Cerbung "BAM 28 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~28 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA.🤲
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda
Sehat slalu
Suwun mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah, nwn bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteMks bun .....selamat bwrbuka puasa
ReplyDeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteHehe...ya jelas Anton mengelak dituduh mandul, kan dia sudah berhasil menghamili calon istri yg disarankan ibunya? Dasar Dwi aja yg egois, ga beretika...masa mengaku dihamili Adri? 😬
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...salam sehat.🙏🏻😘😀
Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 28 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDelete