BIARKAN AKU MEMILIH 27
(Tien Kumalasari)
Nirmala berhenti, sementara Tama sudah berteriak-teriak minta gendong sang ayah.
Ponsel itu masih berdering, Nirmala sedang berpikir, mengapa Dwi menelponnya.
Nirmala mengangkatnya setelah agak lama mendiamkannya.
“Ya.”
“Ini ibu Nirmala?”
“Ya, tadi kan sudah saya jawab?” jawab Nirmala kaku.
“Maaf Ibu, saya hanya ingin bilang, pak Adri ke mana ya?”
“O, mau bicara dengan pak Adri, mengapa menelpon saya?”
“Saya hanya ingin bilang, saya ini kan sedang hamil, jadi_”
“Oh, dengan pak Adri saja, orangnya ada,” potong Nirmala.
Nirmala langsung memberikan ponselnya kepada Adri.
“Apa ini?”
”Dwi, ingin menghubungi kamu.”
“Tidak usah, matikan saja,” kata Adri dengan wajah gelap. Tapi Nirmala tetap memberikan ponselnya. Ia melihat wajah Adri yang keningnya kebiruan, dan ada bekas darah dibibirnya. Rasa iba menerpanya, tapi mendengar kata hamil dari ponselnya, ia merasa bahwa segala rasa iba itu tak ada gunanya. Tapi Nirmala terkejut mendengar Adri membentaknya.
“Mengapa kamu masih menghubungi aku? Dengar Dwi, aku sedang bersama istriku. Dan aku sudah melarang kamu untuk menghubungi aku, bukan?”
“Adri, mengapa tiba-tiba kamu berubah?”
“Aku hanya ingin membatasi hubungan kita. Memang benar kita berteman sejak kecil, tapi setelah dewasa, kita memiliki kehidupan masing-masing.”
“Aku sedang hamil, Adri, aku butuh perhatian.”
“Tapi bukan dari aku. Mengapa kamu menganggap aku bisa menjadi penghibur kamu saat kamu sedang terkena masalah? Kamu harus bisa membatasi persahabatan kita. Berbeda ketika kita masing-masing sudah punya kehidupan sendiri.”
“Kamu tidak kasihan sama aku, Adri. Aku tahu sesungguhnya kamu tidak tega. Apakah istri kamu marah dan mulai mencurigai hubungan kita?”
“Apa maksudmu ‘hubungan kita?’ Kita tidak memiliki hubungan apa-apa. Dan kalau kamu ingin mengeluhkan kehamilan kamu, maka seharusnya keluhan itu kamu tujukan kepada suami kamu. Bukan aku.”
Kali ini Nirmala memasang kupingnya. Ia bermaksud menentukan hari ini, jalan mana yang akan dipilihnya, jadi ia sekalian akan mempersilakan Adri agar meninggalkannya, walau masalah menjaga perasaan orang tua masih harus dipikirkannya. Semestinya karena Dwi hamil maka dia harus bertanggung jawab bukan? Tapi Nirmala heran mendengar perkataan Adri ketika bertelpon.
Apa yang salah sehingga Adri justru marah-marah. Adri juga menyebut tentang suami. Ah ya, bukankah Dwi wanita bersuami? Tapi Adri pernah mengatakan bahwa mereka sedang dalam proses cerai.
Adri masih menggendong Tama yang diam seakan mendengarkan perkataan sang ayah di telpon. Ia tidak merengek, tidak pula menangis.
Nirmala duduk di ruang tengah, tangannya memegang remote dan mengotak atiknya untuk menyalakan televisi. Tiba-tiba Adri datang, menyerahkan ponsel Nirmala, sambil duduk di sampingnya.
“Nirmala, jangan pergi,” katanya lirih.
“Maaf kalau aku mengungkapkan rasa kesal atas kedatangan Bima. Aku terlalu cemburu karena kamu selalu memuji-mujinya.”
Nirmala meletakkan remote yang semula dipegangnya.
Kok jadi masalah Bima, bukan masalah perempuan dengan keluhan kehamilan itu tadi? Dan apa arti jawaban ketika Dwi menelponnya? Hanya pura-pura karena ada dirinya? Nirmala tetap masih curiga.
“Aku dan Bima hanya sahabat baik. Berbeda dengan kamu.”
“Aku kenapa?”
“Seorang perempuan hamil dan kamu tidak merasa punya tanggung jawab?”
“Apa maksudmu? Dia hamil karena punya suami, apa itu masalah aku?” kata Adri dengan nada tinggi.
Nirmala terdiam. Pikiran warasnya baru bekerja. Iya juga, Dwi punya suami, dan kehamilan itu, mengapa harus Adri yang bertanggung jawab? Tapi siapa tahu Adri juga pernah ….
“Apa kamu menuduh aku yang menghamili Dwi?”
Nirmala menatap Adri, kebiruan di dahinya ternyata ada lecet yang semula tak tampak. Ingin tangannya mengelusnya.
“Bukan kamu?”
“Nirmala, apakah aku seburuk itu? Aku selalu bilang bahwa aku mencintai kamu, apakah itu tidak cukup untuk membuat kamu mengerti bahwa aku memang mencintai kamu?”
“Tapi … sepertinya Dwi sangat bergantung pada kamu.”
“Tadinya aku kasihan karena suaminya akan menikah lagi dan dia kemudian meminta cerai. Tapi tiba-tiba dokter mengatakan kalau dia sedang hamil. Aku kasihan dan memintanya kembali saja kepada suaminya, karena alasan suaminya menikah lagi adalah karena suaminya menganggap bahwa Dwi tak bisa memberikan anak untuknya. Tapi kenyataannya Dwi hamil. Aku selalu membujuknya untuk kembali.”
“Mengapa juga dia selalu mengeluh kepada kamu?”
“Ketika aku tahu bahwa dia sudah melampaui batas, aku bersikap keras pada dia. Aku ingatkan bahwa bukan kepada aku dia selalu berkeluh.”
“Apa kamu tidak berpura-pura? Kamu bersikap keras karena ada aku kan? Kemarin ketika ada Bima kamu menerima telponnya dengan manis.”
“Astaga, saat itu aku hanya ingin memanas-manasi kamu, karena aku kesal saat kamu menerima kedatangan Bima. Saat ini aku sudah mengabari Anton, suami Dwi, bahwa istrinya ternyata hamil. Aku berharap mereka akan baik-baik saja dan melanjutkan pernikahan yang tiba-tiba terguncang.”
Nirmala terdiam. Kesalah pahaman ini sudah membuatnya melangkah terlalu jauh.
“Mbak Rana, coba ambilkan obat merah dan salep di kotak obat,” Nirmala berteriak.
***
Dwi menangis terisak-isak. Bibik pembantu kewalahan membujuknya. Ia heran pada sang nyonya majikan. Sudah dewasa tapi sikapnya masih seperti anak kecil. Benar benar seperti anak kecil yang sedang kehilangan mainan.
“Bik, kamu tahu, aku mencintai dia,” katanya pelan.
“Nyonya tidak boleh bersikap seperti itu. Tuan Adri itu punya istri, dan kalau dia menerima telpon Nyonya dengan sikap keras, berarti Nyonya bertepuk sebelah tangan. Menurut saya, hal itu tidak bisa dilanjutkan. Nyonya harus berhenti.”
“Enak saja kamu bicara.”
“Kemarin Nyonya sudah menelpon istrinya, dan belum sempat bicara malah telponnya diberikan kepada suaminya kan? Apa maksud Nyonya dengan menelpon istri tuan Adri?”
“Agar dia tahu bahwa aku ada hubungan dengan suaminya.”
“Nyonya bersikap sangat gegabah. Maaf Nyonya, saya tidak mendukung Nyonya dalam hal ini.”
“Bik, temanku hanya bibik sekarang ini. Harusnya bibik mendukung aku, agar aku tidak sedih.”
“Kesedihan itu Nyonya sendiri yang membuatnya. Kalau Nyonya tidak berpikiran macam-macam, pasti pikiran nyonya akan lebih tenang.”
“Aku sedang hamil Bik, aku butuh seseorang.”
“Kalau Nyonya membutuhkan seseorang, orang itu adalah suami Nyonya.”
“Apa maksudmu? Kamu lupa bahwa dia mau menikah lagi? Barangkali juga dia sudah menikah saat ini, sambil mengurus perceraian denganku.”
“Tapi alasan menikah lagi itu kan jelas, dia menganggap Nyonya tidak bisa hamil. Kenyataannya Nyonya hamil. Hal termudah ialah mendatangi suami Nyonya, melarangnya menikah karena Nyonya ternyata hamil.”
“Mana bisa segampang itu, lagipula aku tidak mencintai suamiku lagi. Terlanjur sakit hati, lalu cinta itu sudah hilang. Ditambah sikap mertua aku yang nyinyir dan selalu meremehkan aku”
“Nyonya, kalau Nyonya bisa berbicara dengan baik, semuanya akan menjadi baik.”
“Sudahlah Bik, aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku tetap akan mengejar cintaku. Aku yakin Adri hanya terpaksa karena sungkan kepada istrinya.”
Bibik pembantu kehilangan kata-kata. Ia bangkit dan berjalan ke belakang, karena dengan cara apapun sang nyonya tidak mau mendengarnya.
***
Pagi hari itu Dwi bangun agak siang. Badannya terasa tidak enak. Ia merasa sangat lelah, dan rasa mual masih sangat mengganggunya.
Ia menelpon ke kantor bahwa tidak bisa masuk hari itu.
Bibik menyiapkan obat yang harus diminum, lalu menyiapkan sarapan untuk sang nyonya.
“Ini apa?”
“Obat yang harus Nyonya minum sebelum makan.”
Dwi meraih obatnya dan menelannya. Sejak semalam ia masih merasa mual, walau muntahnya sudah berkurang.
“Sebentar lagi Nyonya harus makan.”
“Mengapa mas Anton tidak segera mengabari perkembangan permohonan cerainya?”
“Nyonya, saya mau ke pasar dulu. Sarapan untuk nyonya sudah saya siapkan.”
“Ya. Aku mau tiduran di kamar dulu.”
Tapi ketika dia bangkit bermaksud masuk ke kamar, sebuah mobil memasuki halaman. Dwi hampir bersorak karena mengira Adri yang datang. Ia keluar, dan berdiri di teras. Yang datang adalah Anton suaminya.
“Cuma mengabari masalah perceraian saja, mengapa harus datang? Dari mana juga dia tahu bahwa aku ada di sini?” gumam Dwi dengan wajah gelap
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah.... SCTB_15 sfh ditayangkan
ReplyDeleteMatur nuwun mBak Tien....
Sehat terus dan terus sehat ya mBak Tien.
Matur nwn bu Tien, salam sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~27 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
ππ₯ππ₯ππ₯ππ₯
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung BeAaeM_27
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππ₯ππ₯ππ₯ππ₯
Alhamdulilah
ReplyDeleteMatur nuwun. Bunda
Semoga sehat slalu
Duh Dwi ....Dwi....
Alhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 27 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 27" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng dalu π
Alhamdulilah Cerbung "BAM 27 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,tetap sehat semangat bahagia bersama Kel tercinta,....... Alhamdulillah Adri dan Nirmala telah terbuka dan saling salah paham, semoga mereka tetap bersatu dan bahagia, pembaca ikut merasakan bahagia, salam hangat Bu Tien π❤️
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan aku memilih telah tayang
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, selamat berakhir pekan dg keluarga tercinta....
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 27 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Anton...rayu Dwi untuk kembali ya, krn dia membawa benih mu.
Dwi ini lupa bahwa dia punya otak tapi lupa dipakai.
ReplyDelete