BIARKAN AKU MEMILIH 26
(Tien Kumalasari)
Adri tersaruk mengejar Nirmala, yang kemudian sudah memasuki mobil. Teriakan Adri tak digubrisnya.
“Nirma … Nirmala … jangan pergi dulu, kita masih harus bicara. Nirma, aku cinta kamu, hanya cinta kamu.”
Adri hampir meraih bagian belakang mobil, tapi Nirmala sudah menjalankan mobilnya, sehingga Adri jatuh tersungkur mencium tanah.
“Augh … Nirmala …” keluhnya.
Sementara itu Pratama yang berdiri di jok dan sedari tadi mengawasi ayahnya yang lari, tiba- tiba menangis. Pastinya ia melihat sang ayah jatuh, lalu sang ibu terus menjalankan mobilnya.
“Paaaa … pp …paaaa ….”
Dan mobil itu sudah keluar dari halaman dan terus melaju, entah ke mana.
Hari mulai gelap, malam mulai menyentuh bumi.
Adri bangkit, lalu mengusap bibirnya yang berdarah. Bukan bibirnya yang terasa sakit, tapi hatinya. Banyak hal yang tidak dia mengerti, dan membuatnya bingung. Adri sama sekali tidak sadar apa kesalahannya. Sudah punya istri, terlalu memperhatikan wanita lain itu sebaiknya dihindari. Menolong juga ada batasnya, tapi Adri melakukannya tanpa merasa dosa, apalagi karena sang istri diam.
Sekarang semuanya menjadi runyam. Kedatangannya untuk melepas kangen berantakan, yang ada awalnya dipicu kedatangan Bima yang tidak disukainya sejak lama.
Tertatih Adri kembali ke rumah. Rumah mertuanya yang disiapkan untuk Nirmala ketika bertugas di kota itu.
Ia duduk di teras, meraih tissue untuk mengusap darah di bibirnya.
“Kemana kamu Nirma? Mengapa tidak bicara jelas, aku tidak mengerti kenapa kamu meminta aku bertanggung jawab pada Dwi? Dia bukan siapa-siapa aku, kecuali hanya teman. Kami dekat dari kecil, tapi sekarang aku juga tidak suka pada dia. Ada maksud yang aneh, sepertinya dia ingin merayu atau berbuat lebih. Ya ampun Dwi, kamu sedang mengandung dan kamu melakukan hal yang memalukan,” bisiknya.
Tiba-tiba Adri merasa seperti disengat lebah. Mengandung … hamil … apakah Nirmala mencurigai aku? Ia mengira Dwi hamil karena aku? Astaghfirullah, itu sebabnya dia mengatakan bahwa aku harus bertanggung jawab? Celaka.
“Bagaimana mungkin hal itu dipikirkan Nirma dan aku tidak memiliki bayangan tentang tuduhan itu sebelum terpikir olehku sekarang ini?”
Adri meraih ponselnya lalu menelpon Nirmala, tapi tidak diangkat. Kemudian ia menuliskan pesan, dengan harapan Nirma membukanya.
***
Nirma terus memacu mobilnya, sementara Tama terus menangis, bahkan semakin kencang. Mbak Rana sudah membujuknya, memberinya susu dalam botol, memberinya cemilan kesukaan, tapi Tama tak mau berhenti menangis. Mbak Rana kebingungan.
“Bagaimana ini Nyonya, mas Tama tidak pernah serewel ini.”
“Ada apa mbak, lapar barangkali?”
“Sudah saya beri susu dan cemilan, tapi tidak mau, terus menjerit-jerit.”
“Tama, sayang, ada apa Nak, diamlah dulu.”
“Apa kita mau pulang, nyonya.”
“Tidak, pekerjaanku belum selesai.”
“Ppaaaa … ppaaaa ….” Tama terus berteriak-teriak.
”Kenapa ya, Tama. Masih ingin bersama ayahnya?”
“Mungkin karena tadi melihat tuan terjatuh, Nyonya.”
Nirmala mengerem mobilnya tiba-tiba, membuat mbak Rana kemudian merenggut tubuh Tama di dekapnya erat, agar tidak terantuk jok di depannya.
“Siapa yang terjatuh?”
“Tadi tuan mengejar nyonya, terjatuh di belakang mobil.”
Nirmala memutar mobilnya. Cinta itu masih ada. Semarah apapun ia tak ingin suaminya sakit atau terluka. Ditambah rewelnya Tama, Nirmala bermaksud kembali lagi ke rumah.
“Tama, kita temui bapak ya, jangan nangis. Kita temui bapak,” bujuk Nirmala.
Dan ajaibnya tangis Tama mereda, meskipun masih terisak-isak.
“Diam ya mas Tama, ibu mau mengajak mas Tama ketemu bapak,” mbak Rana ikut membujuk.
“Ppaaa … ppaaaa … “ celotehnya lagi dalam isaknya.
“Mbak Rana, apa ketika kamu masih bersama suami kamu, kamu pernah disakiti?” tanya Nirmala tiba-tiba.
Mbak Rana terdiam beberapa saat.
“Itu sebabnya saya memilih pergi,” jawabnya pelan.
“Kalian bercerai?”
“Iya Nyonya, dan kebetulan kemudian Nyonya membutuhkan saya.”
“Mengapa kamu memilih pergi?”
“Suami saya punya istri muda. Saya tidak mau di madu.”
Nirmala menghela napas panjang. Semua perempuan tak mau dimadu, memilih pergi. Bagaimana dengan dirinya? Ia tidak … atau belum dimadu, jalan mana yang dia pilih? Pergi seperti mbak Rana, atau tetap bersama suami sementara di sana ada perempuan yang sedang mengandung anak suaminya? Kalau demi menjaga perasaan orang tua, Nirmala ingin terus berpura-pura hidup bahagia. Tapi akankah ia tahan menerima semua itu? Membayangkan sang suami mencumbui perempuan lain saja hatinya sudah seperti dicabik-cabik.
Tapi apa yang di dengarnya tadi? Adri mencintainya, dan itu dikatakan berkali-kali sambil lari mengejarnya. Cinta macam apa yang diberikan sang suami sementara ada perempuan lain yang mengandung anaknya?
Nirmala merasa dadanya sesak. Ia kembali karena tangis Tama, ia kembali karena menyadari cintanya masih tersisa sehingga tak ingin kalau suaminya jatuh atau terluka.
Ponselnya berdering lagi. Ia tahu sejak tadi Adri menelponnya, tapi sengaja tidak diangkatnya.
“Ah, nanti kan ketemu, akan aku dengar dia mau ngomong apa,” kata Nirmala sambil mengacuhkan dering ponselnya.
***
Sementara itu bibik pembantu melihat sang nyonya majikan terus menerus uring-uringan. Ditangannya masih memegang ponsel, wajahnya murung, seperti sedang kesal. Tapi ia hanya menatapnya.
“Heran aku, tadinya bicara baik-baik, manis, kok tiba-tiba berubah galak. Lalu melarang aku menghubungi dia. Ada apa nih? Apa tadinya istrinya tidak ada lalu sikapnya sangat manis, lalu tiba-tiba istrinya datang, lalu dia berubah garang?” gumamnya pelan.
“Siapa Nyonya?” tanya bibik pembantu yang sebenarnya juga penasaran.
“Siapa lagi, Adri. Tadi tuh menerima telponku dengan manis, baik, menanyakan kehamilan, prihatin ketika aku bilang mual terus, ee … tiba-tiba saja berubah garang. Malah dia melarang aku menghubungi dia. Gimana sih?"
“Mungkin ada istrinya.”
“Nah, aku juga berpikir begitu. Aku sudah kembali menelponnya beberapa saat kemudian, tapi tidak diangkat.”
“Ya sudah Nyonya, memang tidak mudah berhubungan dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Sebaiknya Nyonya memikirkan kebaikan untuk diri sendiri saja.”
“Tapi aku tidak bisa melupakan dia Bik.”
“Nyonya, wanita yang sedang mengandung itu tidak baik kalau pikirannya tidak tenang, sering kesal dan marah-marah. Hal itu nanti akan berpengaruh pada bayi yang Nyonya kandung.”
“Aku memang tidak suka pada bayiku ini. Dia menghambat semuanya. Aku jadi sakit, muntah terus, belum nanti kalau pada proses perceraian ketahuan kalau aku sedang mengandung. Pasti susah.”
“Jangan bilang tidak suka pada bayi yang dikandung, Nyonya, percaya atau tidak, bayi itu bisa merasakannya.”
“Masa iya, bayi yang belum berujud sempurna bisa mendengar apa yang aku katakan?”
“Mungkin tidak mendengar, tapi dia merasakannya.”
“Hmh, repot. Kalau begitu aku akan menghubungi bu Nirmala saja. Kata orang, bu Nirmala orangnya baik. Adri juga mengatakan begitu.”
“Nyonya mau bilang apa? Bukannya Nyonya pernah bilang bahwa ibu Nirmala itu wakil dari pemilik perusahaan?”
“Iya, memang.”
“Sebaiknya jangan mencari gara-gara dengan orang yang punya kedudukan Nyonya, bagaimana kalau berpengaruh pada pekerjaan Nyonya, lalu dia memecat Nyonya?”
“Biarkan saja kalau dia mau melakukannya. Yang jelas aku tahu bahwa sebenarnya Adri menyukai aku. Dia tak akan membiarkan aku kelaparan.”
“Nyonya, sebaiknya Nyonya makan saja dulu obatnya, agar tidak mual lagi, setelah itu makan malam saya siapkan."
***
Adri yang sedang kalut dan sendirian di teras, merasa kesal karena Dwi kembali menelponnya, dan tidak hanya sekali. Ia bingung bagaimana caranya menghentikan Dwi, sementara hatinya sendiri sedang kacau balau.
Lalu Adri meraih ponselnya, dan mencari nomor kontak Anton.
Kalau tidak salah dulu ia pernah meminta nomor kontak itu pada Dwi,saat Dwi mau dioperasi kakinya. Memang dia tak jadi menghubungi, karena Dwi melarangnya, tapi nomor itu sudah dicatatnya.
Adri merasa lega ketika menemukannya. Kemudian ia berbicara kepada Anton, sebagai seorang pimpinan. Ia mengatakan kalau Dwi sedang hamil, dan pekerjaannya sudah dipindahkan ke kota lain.
Adri menuliskan alamat Dwi, ketika Anton menanyakannya., lalu ia merasa sedikit lega. Sekarang ia sedang berpikir, kemana Nirmala pergi. Tak mungkin dia pulang karena pekerjaannya belum selesai. Mertuanya yang mengatakan pada siang harinya.
***
Tangis Tama sudah berhenti, ketika mobil sang ibu sudah memasuki halaman rumah.
“Paaaa…pp..ppaaa …” kembali ia berceloteh.
Nirmala sedang menghentikan mobil dan bersiap turun, ketika ponselnya berdering. Hanya nomor, tanpa ada nama pengontaknya.
Ia turun diikuti mbak Rana yang menggendong Tama. Dilihatnya Adri berdiri di tangga teras, menyambut mereka, rambutnya awut-awutan.
Ponselnya terus menerus berdering. Ketika Nirmala merasa sebal dan mencoba mengangkatnya sambil berjalan mendekati rumah, sebuah suara nyaring terdengar.
“Ini ibu Nirmala?”
“Anda siapa?”
“Saya Dwiyanti, manager pemasaran yang belum lama dipindahkan.”
Mata Nirmala menyala.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng Ning
DeleteYess..tayang cepat
ReplyDeleteYesss juga
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 26" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat π€²
ReplyDeleteSugeng sontenπ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis.
DeleteSugeng enjing
Matur nuwun Bu Tien atas ceritanya yg makin aduhai. Semoga Ibu sekekuarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
Deleteπ€π¦ͺπ€π¦ͺπ€π¦ͺπ€π¦ͺ
ReplyDeleteAlhamdulillah π¦π
Cerbung BeAaeM_26
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π€π¦ͺπ€π¦ͺπ€π¦ͺπ€π¦ͺ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 26 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Suwun mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 26 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteMaturnuwun Bu Tien salam sehat semangat dan bahagia bersama Kel tercinta......DWI kok nekat ya...,..semoga Nirmala dan Adri kembali bersatu,hidup bahagia....
ReplyDeleteSami2 ibu Tatik.
DeleteTerima kasih perhatiannya
Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~26 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteDwiyanti siap2 untuk disemprot Nirmala, penasaran kelanjutannya menunggu besok....πππ₯° Terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu sekeluarga.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah
DeleteWaah...seru nih, saling menghubungi pasangan...Adri ke Anton, Dwi ke Nirmala. Gimana hasilnya ya...jadi penasaran. Padahal semula Nirma sudah mau baikan lho...π
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...salam sehat.ππ»❤️
Sami2 ibu Nana. Salam sehat juga
DeleteCerita seru..
ReplyDeleteKira-kira seperti apa wajah Mbak Tien ketika menulis cerita ini ya?
Eh Lukman sudah ada belum Mbak? Saya ke sana dulu ah..
Terimkasih Mbak Tien...
Yaa.. seperti nenek2 pada umumnya dong prof.
Delete