BIARKAN AKU MEMILIH 24
(Tien Kumalasari)
Bibik pembantu menatap sang nyonya dengan heran. Nyonya majikannya ini minta cerai karena tidak mau dimadu, tapi ia bersedia menjadi istri ke dua? Bukankah ini aneh? Dan apa yang dirasakannya itu kemudian diutarakannya kepada sang nyonya majikan.
“Bibik, ini masalah perasaan. Aku sudah tidak lagi mencintai mas Anton, sehingga aku ingin bercerai. Jadi alasannya bukan karena dia ingin menikah lagi saja.”
“Berarti alasan Nyonya karena tuan Anton mau menikah lagi itu tidak sepenuhnya benar?”
“Ada alasan itu, tapi sekarang aku jatuh cinta pada teman kecilku, aku mau menjadi istri keduanya.”
“Nyonya telah membuat masalah,” gumam bibik pembantu.
“Kamu diam saja Bik, biar aku berusaha menggapai cintaku sendiri.”
“Saya ikut sedih kalau Nyonya kecewa.”
“Mengapa kamu mengira aku akan kecewa?”
“Nyonya, saya melihat sikap tuan Adri pada malam terakhir ketika mengantarkan Nyonya pindah kemari. Dia kelihatan tidak suka. Kalau memang dia suka, saya pasti mendukung Nyonya. Kalau memang Nyonya dan dia saling suka, ya terserah saja, asal bisa mengatasi masalah. Soalnya tuan Adri punya istri, jadi masalah pasti ada. Tapi kalau sama-sama nekat, mau bagaimana lagi? Hanya saja, saya kira Nyonya akan sia-sia mengejarnya.”
“Aku belum mencobanya. Kita lihat saja nanti.”
Bibik undur ke belakang, setelah gagal membujuk majikannya untuk pergi ke dokter. Sebetulnya suasana ini sangat tidak menyenangkan bagi bibik. Ia hanya pembantu. Biasanya menurut majikan, tidak berhak memberikan saran. Kalau dia nekat, dia bakal dipecat dan itu berarti kehilangan penghasilan. Karenanya dia kemudian diam. Tapi ketika kemudian ia mendengar lagi sang nyonya muntah-muntah, terpaksa dia tergopoh-gopoh mendekatinya.
“Nyonya, kan saya sudah bilang, ke dokter saja, biar diberi anti muntahnya, daripada Nyonya menelpon ke mana-mana,” kata bibik sambil memijit-mijit tengkuk sang nyonya majikan.
“Tidak keluar apa-apanya, malah perutnya sakit Nyonya. Ke dokter saja, mumpung masih sore.”
Akhirnya Dwi menurut kata bibik, berangkat ke dokter saat itu juga. Urung menelpon Adri, karena perutnya terasa sakit dan tidak nyaman.
***
Malam itu Adri gelisah. Ia menelpon sang istri, tapi lagi-lagi tidak tersambung. Kali ini memang ponselnya mati. Ia belum makan malam, dan memang tak ingin makan. Rasanya hanya ingin ketemu sang istri saja, atau berbicara dengannya. Karena ponselnya mati, harapan berbincang malam itu tak kesampaian.
“Ya ampun, selama berkeluarga aku tak pernah merasa segelisah ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Nirma, katakan ada apa, aku tak mengerti. Jelas kamu marah, tapi aku tidak tahu kenapa. Tak ada yang aku sembunyikan dari kamu.”
Adri hampir tidak tidur semalaman. Ketika bangun wajahnya tampak pucat dan lesu. Bibik menyiapkan minuman hangat dan menawarkan sarapan.
“Tuan, Tuan kelihatan sangat pucat, semalam Tuan langsung tidur, tidak makan juga.”
“Iya Bik, agak malas makan.”
“Nanti Tuan sakit. Kemarin Nyonya berpesan agar melayani Tuan seperti biasanya.”
“Nyonya berpesan begitu?”
“Iya, Tuan. Nyonya selalu berpesan begitu setiap akan pergi sampai menginap.”
“Berarti Nirma masih peduli sama aku,” kata batin Adri. Tapi hatinya tetap saja gelisah.
“Tuan kalau mau sarapan sudah saya siapkan. Kalau tidak, nanti Tuan bisa sakit. Wajah Tuan kelihatan pucat.”
“Iya, aku nanti sarapan Bik,” katanya sambil meneguk coklat susunya yang masih setengah panas.
Bibik ke belakang, melihat lagi ke meja makan, apakah sajiannya sudah sempurna ataukah belum. Ia khawatir, sang tuan tidak suka makan karena penyajiannya yang kurang bagus, atau menu makanan tidak sesuai yang diinginkan sang tuan. Tapi sebenarnya perasaan bibik ini berlebihan. Ia memasak seperti biasa, menghidangkan seperti biasa, tak ada yang berbeda saat sang nyonya majikan ada di rumah.
Ia senang melihat tuan Adri makan dengan lahap. Tapi wajah sembabnya masih sangat tampak.
“Apakah Tuan sakit?” tanya bibik yang sudah lama mengabdi di keluarga Bondan, sehingga keluarga Nirmala juga sudah seperti keluarganya. Dia tidak merasa sungkan menanyakan banyak hal yang dilihatnya janggal, kecuali hal yang sangat pribadi.
“Agak lelah Bik, tidak apa-apa.”
Sambil makan itu Adri mencoba menelpon sang istri, tapi ponselnya tetap masih mati.
Adri berangkat ke kantor, lalu berusaha mengesampingkan keinginannya untuk berkomunikasi. Ia berjanji bahwa nanti sepulang kantor akan langsung menemui sang istri, bukan hanya menelpon, karena beberapa kali menelpon tidak bisa terhubung.
***
Siang hari itu Adri tidak menelpon lagi istrinya. Entah dengan alasan apa, nyatanya setiap menelpon tidak pernah tersambung. Akhirnya Adri memutuskan untuk datang saja langsung menemuinya, sehabis kantor nanti.
Ia bisa pulang lebih awal karena tidak ada masalah hari itu.
Tapi mendadak ponselnya berdering. Adri merasa kesal, ia sudah tak mau berhubungan lagi dengan Dwi, karena alasan sang istri yang tampaknya tidak suka. Betapapun keras kepalanya Adri, tapi ia tetap mencintai istrinya. Dering ponsel itu memekakkan telinganya. Ia tetap tak mengangkatnya.
Tapi tak lama kemudian ada pesan di ponsel itu yang dikirimkan Dwi. Ia hanya ingin membacanya, tapi tak akan membalasnya. Hanya ingin tahu saja apa yang dikatakannya.
“Adri, berkali-kali menelpon tidak bisa tersambung. Kamu sangat tega ya Adri. Lihatlah aku sekarang terbaring di rumah sakit. Badanku lemah, muntah tak henti-hentinya. Keinginanku hanya satu, kamu bisa datang menemuiku, agar aku mendapat kekuatan baru," itu bunyi pesannya.
Adri agak terganggu dengan kalimat sedang terbaring di rumah sakit. Sepantasnyalah kalau ada bawahan sakit maka pimpinan juga harus memperhatikan. Tapi tidak. Adri sangat kuat dengan pendiriannya. Ia menyuruh staf yang ada di kantor cabang agar memperhatikan keadaan Dwi.
Dan Dwi terkejut ketika beberapa kawan sekantornya menjenguknya di rumah sakit.
“Oh, ini karena hamil toh?” kata seorang teman sekantornya yang sedang membezoek.
Dwi heran karena rekan sekantornya membezoek ganti berganti.
“Pak Adri meminta agar kami menengok ibu di rumah sakit, karena pak Adri akan mengunjungi istrinya di kantor cabang yang lain. Rupanya pak Adri sangat perhatian pada Ibu,” kata salah seorang rekannya.
“Kami memang dekat,” kata Dwi sedikit membanggakan diri. Tapi ia kesal karena Adri hanya menyuruh orang-orang kantor sedangkan nanti dia akan pergi menemui istrinya. Dwi tahu, kalau Nirmala ditugaskan ke kantor cabang yang lain.
“Ini bukan sakit karena penyakit,” kata salah seorang rekannya yang lain.
“Sakit hamil itu kan sakit yang menyenangkan,” celetuk yang lain.
“Tapi seperti aku dulu, saat hamil terbaring di rumah sakit karena muntah tak henti-hentinya. Lama waktu itu, sampai tiga bulan lebih tak bisa ngapa-ngapain.”
Dwi tak menyahut. Pikirannya hanya satu. Adri sedang bersama istrinya. Ia akan menelponnya. Biar saja istrinya tahu. Kata batinnya. Tapi harus menunggu malam. Adri pasti akan ke sana sore, dan malam hari ketika dia sedang berduaan dengan sang istri, dia akan mengejutkannya.
***
Di tengah bekerja itu, Nirma menerima pesan singkat dari Bima. Bima akan pulang ke Jawa, dan pasti mampir untuk menemuinya. Bima bilang ada yang ingin dikatakannya. Nirma tersenyum. Bagaimanapun dengan adanya Bima ia menjadi sedikit terhibur.
Ketika membaca pesan Bima itu, Nirmala segera tahu bahwa Adri berkali-kali menelponnya. Yang terakhir adalah ketika dia mengecas ponselnya, dan setelah itu ia belum membuka ponselnya lagi.
Ada apa Adri menelponnya? Nirmala hanya sedikit berpikir tentang Adri, kemudian dikibaskannya.
“Rupanya Adri masih berupaya menunjukkan bahwa masih memperhatikan aku. Omong kosong kan? Rindu … kangen … menelpon berkali-kali … apa lagi? Tapi Nirmala bergeming. Bayangan seorang wanita muda yang perutnya buncit, melintas, membuatnya terganggu, membuatnya berpikir bahwa apa yang dikatakan Adri hanyalah palsu.
Kemudian ia membalas pesan singkat itu.
“Aku tunggu, Bima. Jangan siang-siang, aku masih di kantor.”
Lalu Bima menjawabnya.
“Sorean lah, aku langsung ke situ. Aku juga ingin bertemu anakmu. Apakah dia ganteng seperti ayahnya, atau walau laki-laki tapi mirip ibunya?”
Nirma tersenyum, lalu dibalasnya.
“Mirip ibunya dong.”
Lalu Nirmala tak meneruskan lagi karena tenggelam dalam pekerjaannya.
***
Hari itu Nirmala pulang agak siang, karena Bima akan bertamu. Setelah mandi dan berganti pakaian rumah, ia mengajak Tama bermain di teras.
Tama senang bermain dengan sang ibu, tapi Tama anak yang pintar. Ketika ia mengambil sebuah mobil, ia rupanya ingat bahwa mobil-mobilan itu ayahnyalah yang membelikannya. Sambil mengacungkan mobil-mobilan itu ke depan, ia berceloteh.
“Ppaaa …pp…paa …”
Nirmala mengelus kepala Tama. Anaknya itu memang sangat dekat dengan ayahnya. Tapi tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban, ucapan Tama itu benar-benar membuat Nirma terkejut, karena ia melihat mobil sang suami memasuki halaman.
Tama yang lebih dulu melihatnya berjingkrak-jingkrak senang.
Adri bergegas mendekat dan merengkuh anak laki-lakinya, mendekapnya erat di dadanya.
“Tama, bapak kangen banget sama kamu.”
Nirmala menatapnya datar. Tapi ia benar-benar tak mengira sang suami akan datang menemuinya.
Sambil menggendong Tama, Adri mendekati Nirma dan memeluk dengan sebelah tangannya. Nirma ingin mendorongnya, tapi tangan sang suami sangat kuat. Akhirnya dia diam.
“Mandi sana, bau asem,” kata Nirma yang tidak tahu harus berkata apa.
Adri terkekeh. Ia kembali ke mobil untuk mengambil koper kecilnya, karena ia memang berencana untuk menginap.
“Baiklah, aku mau mandi dulu.”
Mbak Rana yang melihat kedatangan Adri segera ke belakang untuk membuatkan minuman. Tama masih bersama ibunya, yang sedikit bingung dengan kedatangan sang suami.
Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan pagar, lalu seseorang keluar, dan bergegas berjalan ke arahnya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteAlhamdulillah BeAaeM_24 sudah tayang gasik, merga mBak Tien arep.masak enak kagem dhahar buka lan sahur.
ReplyDeleteTur nuwun nggih mBak Tien sugeng masak.
Tetap sehat dan semangat💪🤝🙏
Alhamdulillah, mtr nwn bu Tien, salam sehat dari mBantul
ReplyDeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~24 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien 🙏
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..🤲
Alhamdulilah . Sudah tayang
ReplyDeleteTerimakasih Bunda Tien
Semoga sehat slalu. Ada dalam lindungan Allah SWT.
Suwun mb Tien, smg sht sll🙏
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien
ReplyDelete🫑🥬🫑🥬🫑🥬🫑🥬
ReplyDeleteAlhamdulillah 🦋💐
Cerbung BeAaeM_24
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiin🤲.Salam seroja 😍
🫑🥬🫑🥬🫑🥬🫑🥬
Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 24" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sonten🙏
ReplyDeleteSami2 pak Sis. Sugeng siang
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 24 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiin🤲🙏⚘🌷
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah.
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulilah Cerbung "BAM 24 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun 🙏🩷🌹🌹
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Hamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien,semoga keluarga Nirmala dan Adri tetap kuat,utuh , tidak saling mencurigai.....
ReplyDeleteBikin deg degan Bu, pertemuan bima dan Adri nanti gimana ya? Penasaran....
Sami2 ibu Tatik. Matur nuwun perhatiannya
DeleteAlhamdulilla... Sdh tayang BAM~24, terimakasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komariyah
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 24 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Amboi...miskom antara Nirma dengan Adri sdh mencapai puncak nya...sampai Bima datang ke rumah dinas nya Nirma untuk sesuatu keperluan.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteGantian Adri yang curiga karena kedatangan Bima...
ReplyDeletePermisi mau melihat Lukman dulu..
Terimakasih Mbak Tien...
Hati2 di jalan prof
DeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Reni
Delete