BIARKAN AKU MEMILIH 23
(Tien Kumalasari)
Nirmala membuka ponselnya dengan wajah berseri. Lama sekali dia tidak mendengar kabar dari Bima. Setahun lebih, hampir dua tahun malahan.
“Assalamu’alaikum,” sapa Nirmala ketika menelponnya.
“Wa’alaikumussalam. Senang akhirnya kamu menghubungi aku.”
“Apa kabarmu, Bima?”
“Sangat baik, aku sedang di luar Jawa. Sudah setahun lebih.”
“Aku kira kamu sudah melupakan aku.”
“Mana mungkin aku melupakan kamu? Bagaimana kabar Adri? Aku tahu kamu tidak di rumah. Makanya aku berani menelpon malam-malam. Kalau di rumah aku takut, nanti suami kamu marah.”
“Bagaimana kamu tahu kalau aku sedang tidak di rumah?”
“Tadi sore bapak menelpon aku. Tumben saja, kangen katanya. Lalu bapak bilang kalau kamu sedang bertugas diluar kota.”
“Iya, baru tadi pagi aku di sini.”
“Bagaimana dengan anakmu? Kabarnya kamu sudah punya momongan.”
“Ada di sini, bersama aku dan perawat. Soalnya dia masih minum ASI.”
“Oh, berapa umurnya?”
“Baru setahun, sedang lucu-lucunya.”
“Suatu hari aku ingin mengunjungi kamu ke rumah, kira-kira suami kamu marah nggak ya, dia kan nggak suka sama aku.”
“Nggak lah. Datang aja. Kalau kita tidak ada apa-apa kan tidak perlu takut. Oh ya, kamu sudah menikah?”
”Belum.”
“Lho, aku kira sudah …”
“Kalau aku menikah pasti mengabari kamu dong.”
“Mungkin saja, karena kamu jauh. Kenapa sih berlama-lama. Cepat menikah dan punya anak. Punya anak itu senang lho, dia bisa menghibur saat kita sedang suntuk, bisa menyegarkan ketika kita sedang lelah.”
“Maunya sih, tapi dia belum mau, masih harus menyelesaikan studinya di luar negeri.”
“Wah … sampai kapan?”
“Nggak tahu juga aku. Doakan saja semoga lancar semuanya. Padahal orang tuaku sudah nggak sabar menunggu.”
“Menikahlah dulu, masalah studi bisa dilakukan sambil jalan. Keburu jadi bujang lapuk kamu Bim.”
“Entahlah, aku pasrah saja,” kata Bima lemas.
“Kelihatannya kamu sebenarnya juga sudah ingin kan? Ajak dia menikah dulu. Kelamaan juga nggak bagus. Keburu digaet cowok lain, bagaimana?”
Terdengar Bima tertawa kecil.
“Ya sudah, maaf ini … aku mengganggu saat istirahat kamu. Pastinya kamu sangat lelah. Kata bapak urusannya agak berat sehingga kamu dikirim kemari.”
“Ya, kantor cabang ini memang tanggung jawabku, aku yang membuka dan merintisnya hingga menjadi perusahaan yang maju.”
“Kamu benar-benar luar biasa. Tapi jangan terlalu sibuk, beri juga waktu untuk suami, agar dia juga tidak kesepian, lalu timbul pikiran yang macam-macam.”
“Pikiran yang macam-macam itu seperti apa?”
“Misalnya … misalnya lho ini, aku hanya cerita saja, dan tidak semuanya begitu. Misalnya … karena tidak mendapatkan apa yang dibutuhkan dari istrinya, dengan alasan sang istri lelah, atau terlalu sibuk, bisa saja dia lari ke perempuan lain, yang punya banyak waktu.”
Nirmala terpana.
“Eh, kenapa kamu diam? Jangan takut Nirma, aku yakin suami kamu sangat mencintai kamu. Ahaa … apa aku menakuti kamu? Tidak kan? Kata bapak, hidup kamu sangat bahagia, dan bapak sangat bersyukur.”
“Tidak Bima, aku tidak apa-apa, hanya kamu agak menakuti aku, tapi tidak, hanya agak … tapi tidak benar-benar takut kok, jangan khawatir.”
“Ya sudah, istirahatlah, akan berapa lama kamu di sini?”
“Dua tiga hari, atau mungkin seminggu, tergantung situasi perusahaan. Tadi aku sudah hampir menyelesaikannya. Menunggu beres yang benar-benar beres. Tapi kalau aku masih kerasan di sini ya bisa lebih lama, entahlah.”
“Ya sudah, kalau ada waktu aku akan menelpon lagi.”
Nirmala meletakkan ponselnya dengan kata-kata Bima masih melekat di benaknya.
“Dengan istri terlalu sibuk, lelah, lalu suami memiliki pemikiran yang macam-macam? Bahkan melakukannya? Perempuan lain? Nirmala menjatuhkan tubuhnya di sofa. Apakah karena salahnya maka suaminya menghamili perempuan lain, dan itu dilakukan dengan tanpa merasa dosa? Soalnya dia setiap bicara tentang perempuan itu, kelihatannya wajar-wajar saja.”
Nirmala bangkit ketika dari kamar Pratama ia mendengar rengekannya. Nirmala memasuki kamar itu, dan mendengar Tama mengigau memanggil-manggil papanya.
“Paapp…paaa …”
Mbak Rana bangkit kemudian menepuk nepuk pantatnya pelan, sampai Tama kembali tertidur.
Nirmala menghela napas. Pratama kangen sama ayahnya? Tampaknya dia bermimpi tentang sang ayah.
***
Hari itu Adri bekerja dengan gelisah. Pikirannya hanya tertuju kepada istrinya. Ia merasa tidak melakukan apa-apa, tapi istrinya marah tanpa dia tahu sebenarnya ada apa. Adri yang tidak peka, merasa bahwa istrinya baik-baik saja. Tentang Dwi? Dwi hanya teman masa kecil, di mana dulu dia sering bermain bersama, hujan-hujanan bersama, berkejar-kejaran dan masih banyak lagi. Kalau sekarang bertemu, lalu dia butuh pertolongan, apakah ia harus menolak? Kenangan masa kecil itu masih melekat di hatinya. Tapi itu bukan cinta. Sekarang dia merasa Dwi bersikap agak lain. Bukan seperti teman, tapi lebih dari itu. Sikap-sikapnya semakin menyentuh hal-hal terlarang yang seharusnya tidak bisa dilakukannya. Dan karena itulah dia berjanji sejak malam mengantarkan kepindahannya, dia akan menghentikan semuanya.
“Benarkah kamu marah karena Dwi? Bukankah semuanya tentang Dwi sudah aku katakan? Bukankah aku berterus terang setiap mengantarkannya, membantunya, bahkan menungguinya saat dia sakit,” gumamnya sendirian.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Memang sudah waktunya istirahat, lalu Adri melihat siapa yang menelponnya. Dwi? Tidak. Adri mengacuhkannya. Ponselnya dibiarkan tergeletak begitu saja, dan bergetar-getar karena panggilan yang tidak dijawab.
Adri tidak mau terlibat lebih jauh, karena ia merasa Dwi punya maksud lain. Apa Dwi lupa bahwa dia punya istri? Lagi pula dia juga sedang hamil.
Seorang sekretarisnya mengetuk pintu dan kemudian masuk.
“Maaf Pak, ada telpon dari bu Dwiyanti, katanya ingin menghubungi Bapak, tapi ponsel Bapak tidak diangkat.”
“Abaikan saja. Bilang aku sedang rapat, atau apa. “
“Katanya sangat penting.”
“Abaikan saja. Kamu tidak mendengar perintahku?” kata Adri dengan nada tinggi sehingga sekretaris itu undur kebelakang setelah mengangguk berkali-kali.
Ia menjawab telpon Dwi seperti diperintahkan atasannya.
Adri sangat kesal. Kemudian dia ingin sekali menelpon sang istri.
Dari seberang, terdengar nada sibuk. Katanya orang yang dia hubungi sedang bicara dengan penelpon lain.
Adri menghela napas, kemudian ia menuliskan pesan di ponselnya.
“Nirma, apa kabarmu? Semoga kamu dan Tama baik-baik saja. Tadi aku menelpon kamu, tapi kamu sepertinya sedang sibuk. Ini saat istirahat, aku pikir kamu juga sedang istirahat. Kapan tugas kamu selesai? Pastinya langsung pulang bukan? Jangan terlalu lama. Aku kangen sekali.”
Sudah terkirim, masih centang satu. Adri ingin pesan itu segera mendapat jawaban, tapi tidak. Sampai saat pulang kantor pesan itu belum dibacanya.
Adri tidak bernafsu makan. Ia hanya menyuruh OB untuk membelikan gado-gado, yang barangkali membuatnya segar, dan segelas jus alpukat dengan toping coklat.
Lalu terdengar notifikasi pesan. Adri buru-buru meraih ponselnya. Ternyata dari Dwi. Adri urung membacanya. Ia kembali meletakkan ponselnya agak menjauh, lalu terdengar dering telpon berkali-kali. Dari Dwi lagi? Adri mematikan ponselnya, lalu meraih makanan yang dipesannya setelah disajikan dengan manis oleh OB. Ada piring, ada sendok, ada pula serbet makan. Adri memakannya pelan.
***
Dwi pulang dari kantor dengan wajah pucat. Ia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah-muntah sampai lemas. Seluruh makanan yang disantapnya tak ada yang tersisa dari mulutnya.
Bibik merasa panik. Ia membantu sang nyonya majikan mengganti pakaiannya, dan menggosok seluruh tubuhnya dengan minyak yang berbau segar dan menghangatkan.
“Buatkan aku minuman panas.”
“Susu ya?”
“Nggak mau, coklat saja.”
“Kalau susu kan bisa membuat Nyonya bertenaga.”
“Buatkan saja apa yang aku inginkan.”
“Baiklah, Nyonya.”
“Belikan aku rujak,” katanya setelah bibik datang dengan segelas coklat panas di tangannya.
“Nyonya, kita orang baru di sini, bagaimana dan ke mana harus membeli rujak? Lagipula ini sudah malam.”
“Kamu kan bisa bertanya-tanya?”
“Apa tidak sebaiknya nyonya makan dulu, lalu minum obatnya?”
“Tidak mau, itu obat pusing, aku tidak pusing, hanya mual.”
“Jadi Nyonya tidak punya obat mual?”
“Aku baru merasa mual sekarang ini. Keterlaluan sekali, aku tidak apa-apa tadi, kenapa tiba-tiba begini?
“Barangkali Nyonya terlalu letih.”
Dwi bangkit dan menghabiskan segelas coklat yang diminumnya.
Tapi tak lama kemudian Dwi lari lagi ke kamar mandi. Bibik mengejarnya, dan membantunya dengan memijat-mijat tengkuknya.
Setelah kembali berbaring, bibik mengajaknya ke dokter saja.
“Tidak, biar begini saja, aku mau rujak.”
“Nanti perut Nyoya bertambah sakit. Lebih baik ke dokter saja.”
“Tolong panggilkan Adri, Bik. Pakai ponselku itu.”
“Tapi Nyonya, bagaimana kalau istrinya tahu. Ini kan saatnya mereka sudah berduaan di rumah.”
“Tidak, istrinya tidak akan marah, mana ponselnya, biar aku saja.”
“ Nyonya, ayo bibik antar ke doker dulu.”
“Aku telpon Adri dulu, kalau tidak diangkat juga, aku mau telpon istrinya.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung BeAaeM_23
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππππππππ
Alhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda.
Sehat slalu beserta keluarga
Matur sembah nuwun Biarkan aku memilih epsd 23 sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah....BeAaeM_23 sdh hadir.
ReplyDeleteMatur nuwun mBak Tien....
Salam SEROJA
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 23" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng sontenπ
ReplyDeleteTrmksh mb Tien π
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteRasain Dwi, dicuekin sama Adri....
ReplyDeleteAdri dan Nirma, sdh merasa ada mis komunikasi...
Semoga rukun² aja ya Nirma dan Adri....
Bima cepat nikah, ya
Matur nuwun kawigatosanipun mas Kakek
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *BIARKAN MEMILIH 23*
* yang di tunggu2 sdh hadir...*
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~23 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 23 ~ Sudah tayang Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulilah Cerbung "BAM 23 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri. Aduhai aduhai
DeleteMatur nwn bu Tien. Nekat juga si Dwi ini, semoga RT adri baik2 saja.
ReplyDeleteSalam sehat unt bu Tien dan keluarga π€²
Sami2 pak Bam's. Salam sehat ugi
DeleteAlhamdulillah, maturnuwun Bu Tien semoga ibu tetap sehat semangat bahagia bersama Kel tercinta............Dwi ngotot ingin dekat Adri, semoga Adri sadar kembali mencintai keluarga nya..
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun kawigatosanipun ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah...matur sembah nuwun bunda Tien...
ReplyDeleteDwi nekat sekali....
Sami2 ibu. Nuwun kawigatosanipun
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 23 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Adri...semoga kamu sadar dan tahu rencana tidak baik dari Dwi. Kamu sdh berkeluarga, maka uruslah kel mu, jangan nurut apa kemauan Dwi ya.
Adri orangnya tolol, sedangkan Dwi orangnya "mada" tak mau tau bahwa orang sudah bosan padanya.
ReplyDelete