Monday, March 2, 2026

BIARKAN AKU MEMILIH 22

 BIARKAN AKU MEMILIH  22

(Tien Kumalasari)

 

Adri mengikuti di belakang Nirmala yang sudah berjalan mendekati mobil.

“Kehamilannya biasa saja. Tadinya dia mau minta cerai dari suaminya. Maksudku, sudah meminta cerai, barangkali sudah diurus oleh suaminya.”

“Syukurlah,” kata Nirmala singkat. Kalau sudah cerai, lalu Adri bisa menikahinya bukan? Ada darah menetes dari hatinya, perih.

“Kehamilan itu akan menghambat perceraiannya, jadi beberapa hari yang lalu dia ingin menggugurkannya.”

“Kamu sudah melarangnya bukan?”

“Tentu saja aku melarangnya, bayi itu tidak berdosa,” kata Adri tanpa merasa bersalah.

“Bagus. Jangan sampai dosa menjadi bertumpuk,” katanya sambil naik ke mobil.

Mbak Rana masih tegak di teras, sambil menggendong Tama. Ia tak segera mengikuti karena kedua majikannya sedang bicara, yang tampaknya sangat serius.

“Mbak Rana, kenapa berdiri saja di situ?” teriak Nirma, sementara Pratama sudah melambai-lambaikan tangannya sambil mengoceh, takut tidak jadi diajak pergi.

Mbak Rana segera turun sambil menggendong Tama yang berjingkrak-jingkrak. Tampaknya ia ingin menyapa sang ayah.

“Paaaa … pp… paaaa.”

“Iya sayang, jaga ibu ya,” kata Adri sambil mencium kedua pipi anaknya berkali-kali.

“Jangan lama-lama, aku akan merindukan kalian. Nanti kita bicara lagi.”

Nirmala tak bereaksi. Ia menstarter mobilnya sambil menikmati ucapan indah itu.

 “Rindu ya, kangen ya, katakan cinta juga, aku tak akan percaya,” kata Nirmala dalam hati.

“Aku pergi dulu,” katanya sambil berlalu.

Adri masih menatapnya, tangannya melambai ke arah mereka dengan lambaian lemah. Ada yang terasa berbeda. Mengapa Nirma tidak mencium tangannya? Oh ya, sudah berhari-hari hal itu tidak dilakukannya.

“Ada apa sebenarnya istriku? Harusnya tadi bisa bicara banyak, tampaknya ada yang membuat kesal, kedekatanku dengan Dwi? Aku kan hanya  mengingat persahabatan masa kecil, dan aku sudah mengatakan semuanya pada Nirmala. Sepertinya dia tak apa-apa. Tidak melarang, tidak marah. Aku jadi bingung,” gumamnya sambil masuk ke rumah. Tapi bukannya masuk ke dalam, dia malah duduk di teras.

Adri terlalu bodoh, atau dalam hal bergaul, berpikirnya sangat sederhana. Bias jadi dia pintar dalam menjalani kuliah. Lulus dengan nilai memuaskan, bisa bekerja dengan nilai yang sangat jempolan seperti yang pernah dikatakan mertuanya. Tapi dalam hal memahami hati wanita, Adri benar-benar bodoh.

Ada wanita yang bisa menutupi kekesalannya dan memilih diam sementara hatinya luka di dalam. Tapi ada wanita yang meledak-ledak. Begitu kesal langsung dilampiaskan, dengan amarah pula.

Adri hanya mengira kalau istrinya marah karena ia pulang terlampau malam.

Kemarin setelah sesambat pusing dan minta dipijit, Dwi tak juga mengatakan kalau pusingnya sudah sembuh, atau paling tidak berkurang. Tapi Dwi masih saja mengeluh, sehingga Adri yang sebenarnya lelah memaksanya membawa ke dokter. Lalu membelikan obatnya, lalu mengantarnya pulang, dan memaksanya minum obat yang diberikan sang dokter. Setelah itu Adri memaksa pulang. Dwi merengek-rengek agar jangan ditinggal, tapi Adri tak bisa lebih lama.

“Dwi, ini sudah malam, istriku bisa marah kalau aku pulang terlalu malam.”

“Adri, kamu mengatakan kalau istrimu sabar, tidak pernah marah,” Dwi masih merengek.

“Tapi ini sudah malam, tidak baik aku kelamaan berada di sini.”

“Adri ….”

“Aku pulang dulu,” katanya sambil menjauh. Ia merasa Dwi sudah keterlaluan, dan ada tanda-tanda ingin menggodanya. Adri baru merasakannya? Semoga tidak terlambat.

Sebelum menutup pintu kamar, ia masih mendengar rengek Dwi yang kemudian turun dari pembaringan.

“Kamu berjanji akan sering menjengukku bukan?”

“Kalau senggang, semoga bisa,” katanya sambil menjauh. Ia merasa ada ular yang melilitnya, yang seperti menghambat langkahnya. Tapi Adri tetap melangkah, keluar dari rumah.

“Adri, aku akan merindukanmu,” teriak Dwi ketika mobil Adri sudah berjalan.

Adri menghela napas panjang. Sekarang ia sendirian, sang istri pergi karena tugas bisnisnya. Anak semata wayang dibawanya serta. Tiba-tiba, walau sudah sering mereka berpisah demi pekerjaan, tapi kali itu rumahnya terasa sangat lengang. Tak ada napas kasih sayang. Tak ada teriakan si kecil ketika minta dia menggendongnya.

“Maafkan aku, Nirma, aku janji akan menjauhi Dwi, dan sebenarnya aku tidak mengabaikanmu,” bisiknya pelan.

Adri tersadar ketika ponselnya berdering. Dari sekretarisnya.

“Selamat pagi Pak, apakah Bapak tidak ke kantor hari ini?”

“Apa?”

Adri menutup ponselnya tiba-tiba. Sudah jam sembilan pagi, hampir setengah sepuluh, ia masih melamun di rumah. Ia bergegas ke dalam. Ketika melewati ruang makan, sarapan yang disediakan masih utuh. Nirmala juga tak memakannya. Ia ingin sarapan dulu, tapi keburu siang, ia bersiap-siap lalu mengambil tas kerjanya. Ketika ia beranjak ke depan, bibik pembantu berlari-lari mengejarnya.

“Tuan, Tuan tidak sarapan dulu?”

”Tidak, aku sudah terlambat,” katanya sambil menghampiri mobil.

Bibik berdiri di teras. Rumah akan kosong kecuali dirinya. Ia bersiap mengunci semua pintu sebelum merampungkan tugasnya, bersih-bersih rumah.

***

Walaupun baru pindah, Dwi tetap masuk ke kantor pagi itu, walau agak siang.

Bibik menyiapkan makan dan obatnya, sambil menungguinya bersiap.

“Aku tidak usah minum obat,” katanya setelah makan.

“Kenapa Nyonya, sudah susah-susah dibelikan obatnya, nanti Nyonya pusing lagi bagaimana?”

“Sudah sembuh Bik, jangan khawatir.”

“Wajah Nyonya juga masih pucat begitu, dan sembab.”

“Aku sedih Bik.”

“Memangnya kenapa?”

“Adri tergesa pulang, padahal aku sudah mengeluh sakit kepala. Tega sekali dia.”

“Nyonya ya jangan begitu. Ini sudah malam, pastinya dia ditunggu istrinya, nanti dikira kenapa-kenapa?”

“Istrinya itu tidak perhatian sama suaminya. Kemana-manapun tidak pernah marah, suaminya dibiarkan saja semaunya.”

“Kalau suaminya bisa dipercaya, memang harus begitu, Nyonya.”

“Kamu itu tidak mengerti. Sekarang ini aku sangat bergantung pada Adri. Tanpa dia, aku tidak kuat menjalani hidup ini. Bercerai dengan suami, hamil pula.”

“Sebenarnya kan lebih baik Nyonya kembali pada tuan, mengatakan kalau Nyonya hamil, jadi tuan mengurungkan niatnya menikah lagi.”

“Aku sudah bosan sama suami aku, Bik.”

“Lhoh, Nyonya bagaimana?”

“Kamu itu katanya mendukung kalau aku jadian sama Adri, sekarang malah menyuruh aku kembali pada mas Anton.”

“Saya kira tuan Adri juga suka pada Nyonya. Tapi setelah saya pikir-pikir ….”

“Tidak usah dipikir-pikir. Kamu tidak tahu perasaanku. Sebenarnya aku mencintai Adri. Dia teman mainku sejak masih kecil. Aku suka dia sejak masih kanak-kanak.”

“Kalau begitu mengapa Nyonya dulu tidak menikah dengan tuan Adri?”

“Aku tidak tahu. Dia memilih menjadi menantu orang kaya. Bos besar yang bernama pak Bondan itu kan mertuanya. Dia juga yang memiliki pekerjaan di mana aku bekerja.”

“O, berarti Nyonya kalah sama istrinya yang sekarang.”

“Aku tahu sesungguhnya Adri juga suka sama aku. Istrinya memang cantik, tapi aku ini kurang cantik apa, coba?”

“Lha kalau sudah terlanjur menikah sama dia, dan nyatanya tuan Adri juga tidak bisa meninggalkan istrinya, lebih baik Nyonya tidak usah memikirkannya.”

“Aku mau menggugurkan kandungan ini, dia melarang. Aku pikir karena dia juga menginginkan bayi ini. Ternyata semalam kelihatan sekali kalau dia tidak benar-benar suka sama aku.”

“Jangan menggugurkan kandungan Nyonya, kasihan. Bayi itu tidak berdosa.”

“Kalau Adri mau menikahi aku, tidak masalah. Ada teman mengurusnya. Tapi aku kehilangan harapan Bik. Dia sepertinya lebih mencintai istrinya. Padahal aku jadi istri kedua juga mau.”

“Nyonya, daripada dipikir terus, lebih baik lupakan saja dia.”

“Entahlah Bik, sekarang aku mau ke kantor dulu,” kata Dwi sambil beranjak ke depan, di mana ia sudah memanggil taksi.

Bibik menatapnya dengan heran. Ia mengira Nyonya majikan dan tuan Adri memang saling suka, sehingga kalaupun menikah, ya mau bagaimana lagi, namanya saling suka. Tapi kalau si tuan ganteng itu tidak  suka, lebih baik dilupakan saja, namanya suami orang. Bibik heran, Dwi minta cerai dari suaminya karena tidak mau dimadu, lha sekarang ingin jadi istri muda? Jadi dia meminta cerai itu bukan karena dimadu, tapi karena memiliki pria yain yang disukainya. Pikir bibik yang kemudian melanjutkan menata barang-barang Dwi yang baru semalam dibawanya.

***

Karena seharian sibuk mengurusi keadaan perusahaan, Nirmala bisa melupakan masalah yang sedang menimpa dirinya. Masalah yang seharusnya bisa dibicarakan, tapi kemudian dipendam oleh dirinya sendiri. Kekesalan yang dilampiaskan sepotong demi sepotong, tidak membuat suaminya mengerti sehingga terjadi salah paham yang bisa jadi akan berkepanjangan.

Sudah malam ketika Nirmala pulang ke rumah. Lelah dan letih membuatnya sejak pulang dan mandi, ia hanya terbaring di sofa sambil memejamkan mata. Mbak Rana yang pengertian, mengajak Tama bermain asyik, sehingga tidak mengganggu sang ibu yang tampak letih.

Saat istirahat itu, ia kembali teringat sang suami. Ia merasa, suaminya sama sekali tidak merasa berdosa. Bicara tentang kehamilan Dwi, dijawab dengan ringan. Dwi mau menggugurkan kandungan, dijawab dengan ringan pula. Sehabis bertelpon dengan Dwi, Adri mendekati dirinya dan merayunya, tanpa sadar bahwa telpon itu membuatnya sakit.

“Apakah Adri laki-laki yang tidak punya perasaan?”

Tiba-tiba ponselnya berdering, Nirmala tak ingin mengangkatnya, ia yakin suaminya yang menelpon. Paling-paling hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Beberapa saat lamanya tak diangkat, terdengar notifikasi pesan. Nirmala hanya melirik ponselnya. Mendengar suaranya dan membaca tulisannya, barangkali rasanya berbeda. Nirmala mengangkat ponselnya, ternyata bukan dari Adri. Nirmala berdebar, ternyata telpon dan pesan itu dari Bima.

***

Besok lagi ya.

 

 

19 comments:

  1. Alhamdulillah BeAaeM_22 sudah tayang.
    Matur nuwun mBak Tien.
    ☘️๐Ÿ’๐ŸŒน๐Ÿ™

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah "BIARKAN AKU MEMILIH 22" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, mugi Ibu & kelg tansah pinaringan sehat. Sugeng sonten๐Ÿ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Sis
      Sugeng sonten

      Delete
  3. Matur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang

    ReplyDelete

  4. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien.
    Cerbung *BIARKAN MEMILIH 22*
    * yang di tunggu2 sdh hadir...*
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
  5. ๐Ÿ„๐Ÿชธ๐Ÿ„๐Ÿชธ๐Ÿ„๐Ÿชธ๐Ÿ„๐Ÿชธ
    Alhamdulillah ๐Ÿฆ‹๐Ÿ’
    Cerbung BeAaeM_22
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin๐Ÿคฒ.Salam seroja ๐Ÿ˜
    ๐Ÿ„๐Ÿชธ๐Ÿ„๐Ÿชธ๐Ÿ„๐Ÿชธ๐Ÿ„๐Ÿชธ

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~22 sudah hadir.
    Maturnuwun Bu Tien ๐Ÿ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..๐Ÿคฒ

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah sudah tayang
    Terima kasih bunda Tien
    Semoga bunda sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
  8. Alhamdulilah Cerbung "BAM 22 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ๐Ÿ™๐Ÿฉท๐ŸŒน๐ŸŒน

    ReplyDelete
  9. Alhamdulillah BAM telah tayang, Maturnuwun Bu Tien semoga Bu Tien tetap sehat bahagia bersama Kel tercinta,....
    BAM, semoga pilihannya masing2 tokoh memilih yg terbaik dan berujung kebahagiaan.

    ReplyDelete
  10. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Biarkan Aku Memilih 22 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Adri di lulu kok ora tanggap ya.

    Coba uneg2 mu di keluarin ya Nirma, agar Adri tdk bingung.

    ReplyDelete
  11. Saya rasa Adri itu sedang sakit. Kemungkinan penyakitnya adalah tolol atau bengal,
    Terimakasih Mbak Tien, mau menemui Ristya & Lukman...

    ReplyDelete
  12. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat

    ReplyDelete

BIARKAN AKU MEMILIH 22

  BIARKAN AKU MEMILIH  22 (Tien Kumalasari)   Adri mengikuti di belakang Nirmala yang sudah berjalan mendekati mobil. “Kehamilannya biasa sa...