BIARKAN AKU MEMILIH 02
(Tien Kumalasari)
Bima sudah turun lebih dulu, tapi Nirmala kebingungan. Tiba-tiba Bima sudah membukakan pintu untuknya, dan tak ada alasan bagi Nirmala untuk tetap duduk di dalamnya. Ia turun, matanya mencari-cari.
Bima menariknya masuk karena Nirmala tampak ragu. Ia mencari bangku kosong jauh dari pintu masuk, lalu menarik kursi agar Nirmala duduk.
Nirmala masih mencari-cari, ketika ia melihat bayangan Adri, ia hampir berteriak memanggil, tapi Bima menyodorkan buku menu ke hadapannya.
Nirmala tampak gelisah. Ia melihat Adri keluar dari rumah makan itu. Apakah Adri keluar karena melihatnya, atau karena bosan menunggunya dan sama sekali tidak melihat kedatangannya?
“Ada apa? Ayo, pilih menu dulu, aku belakangan,” kata Bima setengah memaksa.
“Kamu saja, bukankah kamu yang lapar? Aku memilih minum teh hangat saja, dan cemilan. Apa saja aku mau. Tolong kamu yang menulisnya."
“Baiklah. Kamu mau teh panas sama cemilan … mmm … pisang goreng?”
“Ya … apa saja,” jawab Nirmala yang sedang asyik menulis pesan singkat untuk Adri.
Nirmala menanyakan Adri ada di mana, tapi tidak terkirim, tampaknya ponselnya tidak aktif. Apakah Adri marah?
“Nirma, kamu seperti sedang gelisah, ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Keburu beli buku?”
“Tidak, tidak apa-apa kok.”
Tapi wajah Nirmala yang tampak gelisah tak bisa membohongi Bima.
“Katakan ada apa, kalau ada sesuatu yang membuatmu gelisah, katakan saja, siapa tahu aku bisa membantu.”
Nirmala menatap Bima. Wajah tampan yang tulus itu membuatnya luluh, jadi tak enak untuk menutupi kegelisahannya.
“Sebenarnya aku sedang kencan.”
“Apa? Mengapa tidak mengatakan sedari tadi? Kencan sama pacar kamu? Kamu punya pacar?”
“Tidak, hanya teman.”
“Teman dekat?”
“Teman kuliah. Kebetulan kencan ketemuan di sini. Jam sembilan tadi.”
“Mengapa tidak bilang dari awal? Kalau kamu bilang dari awal pasti aku tidak akan mengajakmu kemari.”
“Tidak apa-apa. Tuh, pesanan kamu sudah datang. Makanlah, nanti kamu masuk angin,” kata Nirmala mencoba bercanda, untuk mencairkan kegelisahannya.
Bima menarik piring makanan ke hadapannya, dan mempersilakan Nirmala menikmati pisang goreng hangat yang dihidangkan.
“Jadi kamu tidak sedang akan mencari buku? Kamu kelihatan sangat gelisah. Maafkan aku. Aku telah menggagalkan kencan kamu.”
“Bukan kencan seperti orang pacaran. Dia hanya ingin membelikan hadiah untuk ibunya yang ulang tahun, lalu minta tolong aku untuk memilihkan hadiah yang tepat untuk seorang ibu. Dia teman kuliah aku, setahun di atasku.”
“Kalau begitu mengapa tidak datang saja ke rumah, sehingga tidak terjadi kekisruhan seperti ini,” sesal Bima.
“Bapak tidak suka aku berteman dengan dia,” wajah Nirmala menjadi muram.
“O, begitu. Jadi karena bapak tidak suka, lalu kamu memilih bertemu di sini? Dia sudah tak ada di sini ya? Jangan-jangan dia melihat kita, lalu dia marah.”
“Entahlah. Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Ini bukan masalah serius. Makanlah sebelum kamu pingsan,” canda Nirmala walau sebenarnya hatinya tidak tenang.
Bima mulai makan, Nirmala menggigit pisang gorengnya perlahan.
“Kamu mencintai dia?” tiba-tiba tanya Bima.
“Dia sebenarnya baik. Kami kenal dekat.”
"Aku menganggapnya sebagai bukan sekedar teman dekat. Ada sesuatu yang lain. Itu cinta, bukan?”
“Entahlah, apa itu cinta, ataukah bukan.”
“Aku akan mendukungmu, kalau kamu memang mencintai dia.”
“Terima kasih, Bima.”
“Apakah tadi dia benar berada di sini?”
“Ya, ketika kita duduk, dia sudah berjalan sampai di pintu keluar. Aku ingin memanggilnya tapi dia sudah keburu ilang.”
“Kamu sudah menghubunginya?”
“Sudah, tidak dijawab.”
“Barangkali dia melihat kita.”
“Aku maklum kalau dia marah. Aku tidak datang di waktu yang aku janjikan, lalu dalam kedatangan yang sangat terlambat, aku sedang bersama seseorang.”
“Aku sangat menyesal.”
“Bukan salah kamu, Bima.”
“Mengapa bapak tidak suka pada dia?”
“Entahlah. Alasannya tidak masuk akal.”
“Pasti ada alasannya, mengapa bapak melarangnya.”
Nirmala tidak menjawab, kecuali hanya mengangkat bahunya.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Menemuinya, minta maaf. Apa lagi?”
“Boleh aku usul?”
“Hm?”
“Bukankah dia akan mencarikan hadiah untuk ibunya yang ulang tahun?”
“Iya, dia minta tolong aku agar memilihkan hadiah untuk ibunya itu.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kamu membelikan hadiah untuk ibunya, lalu kamu berikan sebagai hadiah ulang tahun dari kamu. Masa dia akan marah terus-terusan?”
“Iya juga ya. Bima, kamu luar biasa, aku suka. Setelah makan aku mau belanja untuk hadiah itu.”
“Jangan khawatir, biar aku antar kamu. Masa kamu akan berangkat sendiri dan aku tega membiarkanmu?”
“Baiklah, terima kasih Bima. Kamu baik sekali. Selamanya baik, aku tak akan bisa melupakan kamu.”
“Hm, tersanjung nih aku,” kata Bima sambil mengakhiri makan paginya.
“Kamu memang baik, bukan hanya karena mau mengantarkan aku. Kamu baik segala-galanya.”
“Sudah, berhenti memujinya, nanti aku jadi besar kepala deh.”
“Lucu dong kalau besar kepalanya,” kata Nirmala yang kekesalannya mulai mencair.
***
Dan Bima memang mengantarkan Nirmala belanja. Mereka membeli sebuah alat masak yang sangat bagus, dan diharapkan ibu Adri akan suka. Nirmala menolak ketika Bima akan membayarnya.
"Jangan Bima, yang memberi hadiah kan aku, kalau kamu yang membayarnya berarti bukan dari aku kan?”
Bima tertawa.
“Baiklah, kamu benar, hadiah dari calon menantu pastinya berbeda,” goda Bima.
Nirmala memelototi Bima, pura-pura marah.
“Belum apa-apa juga, bagaimana bisa disebut calon menantu?”
“Kalau kalian saling mencintai, apakah nanti arahnya bukan ke sana? Aku hanya bisa berdoa agar kamu bahagia.”
“Terima kasih Bima.”
Nirmala tersenyum. Kalau saja hatinya belum menyukai Adri, barangkali dia akan senang menerima tawaran ayahnya agar Bima menjadi jodohnya. Bima sangat baik dan bisa menjadi sahabat yang luar biasa. Sayang Nirmala tidak mencintainya. Lalu Nirmala menjadi sedih. Kisah cintanya akan menjadi sangat rumit ketika sang ayah tidak menyukai orang yang dicintainya.
“Hei, mengapa merengut?”
“Tidak apa-apa. Ayo antar aku pulang, aku akan mengantarkan hadiah ini setelahnya.”
“Mengapa tidak kita antar saja sekalian? Kalau kamu pulang dulu, aku yakin kamu harus berbohong pada bapak ketika mau pergi mengantar hadiah itu.”
“Kamu, mau mengantarkan aku ke rumah Adri juga?”
“Kenapa tidak? Apa kamu takut Adri cemburu? Nanti aku bilang bahwa aku adalah kakak kamu.”
“Baiklah, tidak apa-apa. Dia cemburu kalau belum tahu siapa kamu. Kalau begitu sekarang saja?”
“Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi? Bulan depan?”
Nirmala terkekeh. Bima bukan hanya baik. Terkadang dia juga kocak, dan itu sangat menghibur bukan?
***
Di rumah, bu Bondan sedang duduk berdua dengan suaminya.
“Nirmala kok lama ya?” katanya.
“Memangnya kenapa kalau lama? Aku senang dia bisa jalan-jalan sama Bima. Dia laki-laki yang pas untuk Nirmala.”
“Apa Bapak yakin kalau Nirmala akan bisa menerimanya?”
“Bodoh sekali kalau dia menolak Bima. Bima itu kan ganteng, hatinya baik, hormat pada orang tua. Dan yang paling penting dia sudah mapan, bukan seperti Adri yang masih kuliah dan belum jelas nanti bagaimana. Mencari pekerjaan itu susah. Biar sarjana tetap saja susah.”
“Aku merasa kalau Nirmala menyukai Adri.”
“Dan Ibu mendukungnya?”
“Tidak. Aku sih mana yang baik saja. Sebagai orang tua, pasti senang kalau anaknya bahagia kan?”
“Orang tua itu wajib mengarahkan anaknya ke jalan yang benar. Yang nantinya bisa membuat hidupnya tenang, senang, bahagia. Kalau anak muda, yang dipikir hanya asal dia suka. Pertimbangan untuk berpikir ke arah kehidupan yang lebih jauh, sama sekali tidak ada.”
“Nirmala bukan anak kecil, dia pasti sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Belum tentu juga. Baik karena dia suka. Aku kok merasa kalau Adri bukan jodoh yang baik untuk Nirmala.”
”Bapak harus mendoakan agar anak kita bahagia, jangan berkata buruk, ingat, ucapan adalah doa.”
“Kamu harus tahu, kalau aku berharap agar Nirmala hidup bahagia.”
“Kalau begitu kita doakan saja, jangan ngomong yang jelek-jelek.”
Pak Bondan diam, ia hanya tidak suka pada Adri, entah kenapa. Apakah alasan bahwa Adri terlahir pada keluarga yang berantakan adalah sudah pada tempatnya?
***
Bima dan Nirmala sudah sampai di rumah Adri. Rumah kecil sederhana yang ditata rapi pada halamannya. Barangkali ibunya suka menanam bunga, seperti kesukaan wanita pada umumnya.
“Kamu saja yang turun, aku tunggu di mobil, ya.” kata Bima yang menghentikan mobilnya di pinggir jalan, tidak masuk ke halamannya yang sempit.
“Baiklah, atau sebaiknya kamu tinggalkan aku saja?”
“Nanti pulangnya bagaimana?”
“Ada taksi, ada Adri yang pasti tidak keberatan mengantarkan aku.”
“Baiklah kalau begitu, aku pergi ya.”
“Terima kasih banyak, Bima.”
“Hati-hati membawa bungkusannya, itu berat lhoh.”
“Iya, aku tahu.”
Nirmala melambaikan tangan ketika Bima membawa pergi mobilnya. Ia sengaja menyuruh Bima meninggalkannya, agar Ardi tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Nirmala melangkah menuju rumah, Adri berdiri di tangga teras, wajahnya gelap.
“Adri, maafkan, tadi urusanku belum selesai, sehingga_”
“Urusan dengan laki-laki bermobil itu?” kata Adri tak senang.
“Adri, kamu jangan salah sangka. Bima adalah sahabat aku.”
“O, namanya Bima? Akan aku ingat itu.”
“Adri, apa maksudmu?”
“Tidak ada. Kamu datang membawa bungkusan, untuk apa?”
“Ini hadiah ulang tahun untuk ibu. Mana ibu?”
“Tidak usah, aku sudah membelikannya. Mengapa kamu membawa hadiah lagi? Ini dari laki-laki bernama Bima itu kan? Aku melihat kalian ketika belanja di toko perabotan itu.”
“Apa?”
***
Besok lagi ya.
Suwun mb Tien
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah cerbung ~ BIARKAN AKU MEMILIH 02 ~ sudah tayang . Maturnuwun Bunda semoga selalu sehat bersama Pak Tom dan Amancu .Aamiinπ€²π⚘π·
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Herry
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteNuwun jeng In
DeleteMatur suwun Bu Tien salam sehat selalu & tetap semangat.πππ
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulilah Cerbung "BAM 02 " sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Sri.
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah cerita baru "BIARKAN AKU MEMILIH 02" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis
DeleteSugeng dalu
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Endah
DeleteAduhai hai hai
Alhamdulillah π
ReplyDeleteNuwun pak Bam's
DeleteTerima ksih bunda cerbungnya..slm sht sll unk bunda sekeluargaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteSami2 ibu. Salam sehat juga
DeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat slalu.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih bapak Endang
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Biarkan Aku Memilih telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
Deleteππππππππ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung BeAaeM_02
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
ππππππππ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih jeng Sari
DeleteAlhamdulillah, Maturnuwun Bu Tien cerbungnya yg selalu membuat pembaca larut dlm cerita, seperti melihat film/sinetron....sehat dan bahagia selalu Bu π
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Tatik
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH (BAM) 02 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Uchu
Delete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *BIARKAN AKU MEMILIH 02* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Wedeye
DeleteAlhamdulillah BIARKAN AKU MEMILIH~02 sudah hadir.
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Jodhi
DeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Sami2 jeng Susi
DeleteMatur nuwun Bu Tien...di awal cerita sdh ada konflik yg aduhai. Semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Reni
DeleteAda yang cemburu nich ye?
ReplyDeleteAdri cemburu, melihat Nirma dan Bima belanja di toko perabotan.
Matur nuwun mBak Tien, semoga sehat terus dan terus sehat nggih.
Salam SEROJA dan tetap ADUHAI.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih mas Kakek
DeletePuji Syukur cerbung baru sudah muncul dan semoga semakin menari....dan semoga Ibu Tien sehar2 dan tetap terus berkarya, semangat penggmar Ibu semakin banya
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Tugiman. Ini pembaca lama..
DeleteKisruh sudah mulai dari awal. Mbak Tien makin pintar membuat masalah dan mengawetkannya..
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
πππ·πͺ·⭐
ReplyDelete