HANYA BAYANG BAYANG 50
(Tien Kumalasari)
Puspa berdebar oleh perasaan yang tidak menentu. Jadi yang menelpon Nugi kemarin itu adalah Wuri? Itu kan adik kelas mereka yang dulu sering bertanya-tanya pada Nugi tentang pelajaran kuliahnya. Sekarang mereka menjadi dekat? Nugi menyukainya karena mereka hampir sederajat? Yang Puspa tahu adalah bahwa Wuri adalah anak orang yang kurang berada. Dan itu sebabnya maka Nugi mau dekat dengannya? Sejak kapan mereka berhubungan? Jangan-jangan karena ada Wuri maka Nugi berusaha menjauhinya dengan alasan perbedaan derajat seperti antara bumi dan langit? Alangkah sakit hati Puspa. Aduh, mengapa sakit? Diantara mereka belum pernah ada hubungan apapun kecuali hanya berteman dekat. Dan itu bukan berarti Puspa harus sakit hati bukan?
“Ya Tuhan, tapi kenapa hati hamba merasa sakit?” keluh Puspa yang menjalankan mobilnya begitu pelan sehingga terdengar klakson bertubi-tubi mengingatkannya bahwa bukan hanya dia pemakai jalanan itu. Puspa segera sadar kemudian mempercpat laju mobilnya.
Tapi bayangan motor Nugi masih tampak. Rupanya Nugi ingin menikmati kebersamaan itu dengan menjalankan motornya pelan-pelan. Puspa ingin berbelok saja daripada melihat pemandangan yang membuat dadanya terasa nyeri. Tapi tak ada belokan. Ingin berhenti dan memarkir mobilnya di suatu tempat, tapi parkiran penuh. Di hari liburan begini banyak orang belanja dan jalan-jalan hanya sekedar membeli sesuatu atau menikmati keramaian. Puspa ingin memejamkan matanya, tapi bagaimana kalau mobilnya menabrak kendaraan di depannya?
Karena pikiran tiba-tiba kacau, akal warasnya kurang bisa bekerja.
“Ya Tuhan, begitu besarnya pengaruh Nugi untuk perasaan hamba ini,” lagi-lagi Puspa berkeluh kepada Yang Maha Kuasa.
Tapi tiba-tiba motor Nugi berbelok ke arah jalan kecil yang ada di depannya. Mau ke mana mereka? Puspa sedang mengingat-ingat, sepertinya dia pernah masuk ke jalan kecil itu. Itu kan jalan menuju rumah dosen pembimbing skripsinya? Apakah Wuri dan Nugi mau ke sana? Untuk apa? Bertahun silam, Wuri belum lulus juga? Sedang mengerjakan tugas akhirnya? Entahlah, Puspa terus menjalankan mobilnya lalu berhenti di depan sebuah toko. Kelamaan kalau ia harus ke supermarket, lalu memilih-milih barang, lalu antrinya lama, sementara dia ingin segera pulang untuk menenangkan diri.
***
Ketika bik Supi sampai rumah di kampungnya, ia hanya bertemu ibunya.
“Ke mana Nugi, Mbok?”
“Nggak tahu aku Pi, tadi hanya pamit mau mengantar temannya, begitu.”
“Mengantar ke mana? Siapa temannya?”
“Entahlah, aku tidak bertanya terlalu jelas, yang penting dia pamit, begitu saja.”
"Sudah lama perginya Mbok?”
“Agak lama, setelah sarapan dia pergi. Mungkin sebentar lagi pulang, tapi ya nggak tahu aku. Sebaiknya kamu tunggu saja dulu, simbok buatkan minum ya?”
“Tidak usah Mbok, aku buat sendiri saja. Simbok duduk saja, ini aku bawakan oleh-oleh roti isi pisang kesukaan Simbok.”
“Wah, sudah lama aku tidak makan roti pisang.”
“Simbok makan dulu rotinya, aku mau buat minum ke dapur.”
"Di termos selalu ada air panas."
“Iya, aku tahu.”
Ketika kembali dari dapur, bik Supi sudah membawa dua gelas teh panas manis, yang kemudian diletakkan di bangku depan simboknya duduk.
“Kamu membuat minum untuk aku juga?”
“Ya tidak apa-apa Mbok, kita duduk berdua, masa cuma aku sendiri yang minum.”
“Ya sudah, terima kasih ya Nduk.”
"Dapurnya sekarang bersih, temboknya sudah dicat bagus, Mbok.”
“Akhir-akhir ini Nugi sering bebenah rumah. Mana yang sudah usang diganti. Kamar simbok juga sudah tidak bocor lagi.”
“Syukurlah Mbok, dulu simbok merawat Nugi, sekarang saatnya Nugi menyenangkan hati simbok.”
“Benar Pi. Hanya sayangnya, bocah itu kenapa belum ingin punya istri?”
“Tidak apa-apa Mbok, nanti juga dia bakalan punya.”
“Aku prihatin Pi, dulu kan dia pernah bilang kalau menyukai anak majikanmu?”
“Iya. Tapi Simbok jangan khawatir, tampaknya tuan majikan Supi itu suka sama Nugi.”
“Kok yang suka tuanmu, kan yang disukai Nugi itu anaknya?”
Bik Supi tertawa mendengar simbok salah terima.
“Maksud Supi, tuan majikan Supi itu bisa menerima seandainya Nugi menyukai anaknya.”
“Masa iya? Majikan mau berbesan sama pembantunya?”
“Sepertinya ya tidak mungkin Mbok, tapi semalam tuan Sanjoyo bilang begitu sama Supi. Ya simbok doakan saja supaya bisa terlaksana, terus Nugi hatinya senang, tidak suka melamun terus-terusan.”
“Aamiin, simbok selalu mendoakan kok.”
***
Tengah hari, barulah Nugi sampai di rumah. Senang sekali Nugi melihat ibunya ada di rumah, sedang berbincang dengan simbahnya.
“Kamu dari mana Le?
“Dari mengantarkan teman.”
“Teman laki-laki atau perempuan?” tanya sang ibu.
Nugi hanya tertawa. Memangnya kenapa kalau temannya laki-laki? Dan kenapa pula kalau temannya perempuan?
“Ditanya kok tertawa.”
“Biyungmu ini, merasa senang kalau kamu bepergian dengan anak perempuan, karena kamu itu sudah lebih cukup umur untuk punya teman perempuan, lalu menikah. Jangan sampai simbahmu ini meninggal tanpa sempat melihat cucu buyut simbah.”
“Walau perempuan kan juga belum tentu kalau akan menjadi istri. Simbah malah bicara tentang cucu buyut,” kata Nugi sambil mencomot roti di meja.
“Sebenarnya kamu itu bagaimana sih Nug, ini aku bicara beneran nih, dan keinginan simbahmu itu kan juga keinginan ibumu ini?”
“Iya Bu, sabarlah. Jangan sampai Ibu itu membuat Nugi jadi takut bertemu Ibu. Habis pertanyaannya hanya itu ... itu ... terus.”
“Takut kenapa? Memangnya ibu tuh hantu?”
“Bukan, habis Ibu selalu bicara tentang hal itu terus. Yang lainnya kenapa?”
“Soalnya yang terpikirkan oleh ibu hanya itu. Pengin punya mantu, pengin punya cucu.”
“Sabar lah Bu, nanti pasti juga Nugi bisa memenuhi keinginan Ibu dan simbah.”
“Sekarang ibu mau tanya. Apakah kamu masih menyukai nona majikan ibu itu?”
“Apa maksud Ibu?”
“Kamu kan pernah bilang kalau kamu suka sama dia?”
“Dia siapa sih Bu?”
“Non Puspa, pakai pura-pura nggak ngerti. Bukankah dia yang kamu suka?”
“Bagaimana mungkin Ibu masih berpikiran begitu? Non Puspa itu langit, dan Nugi ini bumi. Mana mungkin bumi dan langit bisa bertemu?”
“Bukan. Non Puspa itu bulan, kamu itu bintang, jadi kalian bisa saja bersatu dan menari-nari bersama di langit sana.”
Nugi terbahak-bahak.
“Perumpamaan ibu itu nggak lucu. Kalau non Puspa itu bulan, Nugi itu pungguk, mana mungkin pungguk merindukan bulan?”
“Tapi mengapa tiba-tiba bicara Ibu seperti itu? Bukankah sejak dulu Ibu selalu memarahi Nugi ketika Nugi mengutarakan apa yang ada di hati Nugi? Nugi akan mencari istri gadis yang sederajat saja. Paling tidak ya yang tidak terlalu tinggi sehingga Nugi bisa menjangkaunya," sambung Nugi lagi.
“Kamu sudah menemukan gadis itu?”
“Hampir sih Bu, sudah lama dia suka sama Nugi. Sejak kami masih kuliah bersama-sama.”
“Gadis itu teman kuliah kamu juga?”
“Bukan sekelas, dia dua tingkat di bawah Nugi, tapi karena orang tuanya tak mampu, dia sempat berhenti selama hampir dua tahun. Mungkin sekarang sudah hampir selesai.”
”Jadi kecintaan kamu pada non Puspa itu sudah hilang begitu saja? Sudah tak suka? Sudah tak sayang?”
“Mengapa ibu bicara begitu? Seakan Ibu marah kalau aku tak suka lagi sama non Puspa.”
“Cinta sejati itu tak bisa hilang begitu saja. Bagaimana bisa kamu sekarang mengatakan sudah menemukan yang lain?” tegur bik Supi tak senang.
"Begitu dangkalkah rasa cinta itu?” sambungnya.
“Mengapa Ibu marah-marah? Bukankah Nugi hanya ingin memenuhi keinginan Ibu dan simbah? Dan dia gadis yang tepat untuk Nugi.”
“Jadi kamu sekarang menyukai gadis itu? Gadis yang entah siapa, aku tak ingin menanyakannya?” bik Supi menatap anaknya tak senang.
Nugi heran melihat sikap ibunya. Katanya ingin segera punya cucu, setelah mengetahui dia dekat dengan seorang gadis, kok seperti marah-marah begitu?
“Nugi, cinta itu harus diperjuangkan. Lalu apakah kamu sudah mengatakan kepada gadis itu bahwa kamu menyukainya? Apakah kamu dan dia sudah mengatakan kalau kalian saling mencintai?”
Nugi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Ia merasa sikap ibunya sangat aneh. Ia bingung kemana maksud pembicaraan itu.
“Nugi, ibumu ini berharap agar non Puspa menjadi jodohmu,” tiba-tiba kata sang nenek.
“Apa?”
“Ngomong berbelit-belit tidak karuan ibumu itu. Tujuannya hanya satu, kok ngomongnya ke mana-mana,” omel sang nenek lagi.
“Tapi kalau Nugi sudah terlanjur ngomong suka pada gadis itu ya percuma. Orang bicara kan tidak boleh mencla-mencle. Nugi itu seorang laki-laki, kalau sudah menentukan pilihan ya sudah," sambung bik Supi.
Nugi masih bingung mendengar semuanya. Ia menoleh ke arah sang ibu dan sang nenek berganti-ganti, lalu tiba-tiba ponselnya berdering. Nugi mengangkatnya.
"Ya ... o.. iya aku juga lupa ... jangan ... rumahku jauh ... kapan- kapan saja. Tidak apa-apa ... aku yang akan ke rumah kamu... iya ... nggak apa-apa... aku suka kok. "
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 50" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteSami2 pak Sis
DeleteSugeng dalu
Trmksh mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteSami2 Yangtie
DeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~50 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi
DeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteSami2 pak Latief
DeleteAlhamdulillaj, matur nwn bu Tien, semoga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Bam's
DeleteAlhmdulillah suwun Bunda Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Isti
DeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 50 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Uchu
DeleteAlhamdulillah HBB - 50 sdh tayang ..Salam sehat selalu Bu Tien πππ
ReplyDeleteSami2 pak Indriyanto
DeleteSalam sehat juga
Alhamdulillah, maturnuwun Bu Tienππ,semoga Puspa jadian sama Nugi,.....
ReplyDeleteSami2 ibu Tatik
DeleteIya.. hehe
Alhamdulilah Cerbung HBB 50 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
DeleteAduhai aduhai
Alhamdulillah sdh tayang....mks bun....selamat malam, salam sehat tetap semangat
ReplyDeleteSami2 ibu Supriyati
DeleteSelamat malam
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 50* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye
DeleteMatur nuwun
ReplyDeleteTerimakasih bunda.
Sehat slalu..
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang
DeleteHandallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 50 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry
Deleteπ·πͺ·π·πͺ·π·πͺ·π·πͺ·
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung HaBeBe_50
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
π·πͺ·π·πͺ·π·πͺ·π·πͺ·
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 50 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Selamat berakhir pekan nggeh Bunda dengan Amancu.
Nugi..lagi di tatar marang Biyunge...lagi di kuliah..i, terlalu baper, hati nya begitu mudah nya berbelok arah...ππ
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Rndah.
DeleteAduhai hai hai
Wuri menelpon lagi bikin bik Supi naik pitam...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Yang penting prof nggak naik pitam
DeleteAlhamdulillaah "Hanya Bayang Bayang-50" sdh hadir.
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, semoga sehat selalu.
Aamiin Yaa Robbal' Aalaamiinπ€²
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Ting
Delete