HANYA BAYANG BAYANG 48
(Tien Kumalasari)
Tuan Sanjoyo duduk di ruang tengah.
Dengan mata sembab sehabis tidur serta rambut awut-awutan, Nilam datang mendekat.
“Duduklah.”
“Maaf, Tuan. Langsung saja saya mengatakan maksud kedatangan saya.”
“Ya, memang sebaiknya langsung, aku tidak punya banyak waktu.”
“Saya ingin menanyakan, mengapa rumah saya tiba-tiba menjadi musala?”
“Rumah kamu?”
“Tentu saja rumah saya. Sertipikat rumah atas nama Priyadi, suami saya.”
Tuan Sanjoyo sudah tahu kalau sebenarnya Nilam bukan anak Priyadi. Keluarga pembohong dan penipu ini masih akan menuntut sesuatu.
“Apa Priyadi tidak mengatakan bahwa rumah itu dikembalikan kepada saya karena merasa bahwa rumah itu dibeli dan dibangun dengan cara menipu aku selama bertahun-tahun?”
“Masa iya? Tuan sudah kaya, jangan mengakali saya dengan pernyataan yang tidak mungkin itu.”
“Puspa, tolong ambilkan map hijau di dalam ruang kerja bapak,” perintahnya kepada Puspa.
Puspa yang ikut duduk diantara mereka segera berdiri dan beranjak ke kamar.
Tuan Sanjoyo menatap perempuan kumuh itu dan merasa kesal karena dia dan Priyadi menipu dengan mengatakan bahwa Nilam adalah anaknya. Barangkali juga Srikanti juga merasa dibohongi dengan kenyataan itu. Pikir tuan Sanjoyo.
Puspa kembali dengan membawa map yang diminta ayahnya.
Tuan Sanjoyo membukanya sesaat, kemudian menyerahkannya kepada Nilam.
“Itu surat-surat yang ditulis suami kamu sebelum meninggal, disaksikan beberapa penegak hukum yang ikut tanda tangan di situ.”
“Jadi ….," sepatah kata Nilam setelah membaca surat-surat yang disodorkan tuan Sanjoyo.
“Jadi … saya … tidak punya apa-apa?”
“Barang-barang yang ada di dalam rumah termasuk baju-baju dan lain-lain, aku titipkan di sebuah gudang yang aku sewa. Kamu bisa mengambil semuanya dan menjualnya untuk kelanjutan hidup kamu. Setelah itu aku tidak mau lagi berurusan dengan kamu.”
Nilam masih menatap tulisan yang ada di dalam map itu.
“Rumah itu juga tidak aku pergunakan untuk diriku sendiri, tapi aku jadikan tempat ibadah yang bisa dipergunakan oleh siapa saja, kecuali barang-barang yang ada di dalamnya.”
“Barang-barang itu masih ada?”
“Barang-barang yang tersisa dan semua perabot. Alamatnya ada di situ. Selembar kertas yang tersendiri, ambil dan uruslah sendiri oleh kamu.”
Gemetar tangan Nilam ketika mengambil selembar kertas bertuliskan sebuah alamat.
"Ambil kuncinya pada orang yang memiliki gudang itu. Rumahnya jadi satu halaman. Sekarang kamu boleh pergi,” tandas tuan Sanjoyo
Nilam pergi, ada uang yang tak seberapa dari bik Supi yang tadi merasa kasihan, yang bisa dipergunakan untuk mencapai alamat yang diberikan tuan Sanjoyo.
Tuan Sanjoyo dan Puspa membiarkannya pergi, tanpa ucapan pamit, apalagi terima kasih. Mereka menatap punggung Nilam dengan berbagai perasaan yang tak bisa mereka lukiskan. Bertahun-tahun Srikanti dan kelompoknya melakukan kebohongan dan penipuan, sedangkan tuan Sanjoyo masih menganggapnya sebagai orang yang mengasihinya. Bukan main tuan Sanjoyo ini. Tak tampak luka membayang pada wajahnya yang teduh, walau bertubi-tubi duka dan kekecewaan menghantamnya.
Tuan Sanjoyo menghela napas panjang. Puspa mendekatinya lalu memeluknya.
“Semoga semuanya benar-benar berakhir,” bisik Puspa.
“Aamiin. Sekarang aku mau mandi. Bapak bau acem, kamu malah memeluk bapak,” kata tuan Sanjoyo.
“Tidak, Bapak selalu berbau wangi.”
Keduanya urung masuk ke kamar masing-masing, karena bik Supi telah menghidangkan dua gelas coklat susu panas di meja.
“Minum dulu saja Pak, keburu dingin, baru kita mandi,” kata Puspa sambil tersenyum.
***
Termangu Nilam ketika memasuki gudang yang disewa tuan Sanjoyo. Bagaimanapun tuan Sanjoyo tidak sekejam yang dibayangkan. Dia tidak pernah mengeluh karena ditipu, dia tak sampai hati mengambil semua yang ada di rumah itu. Dia hanya mengambil rumahnya yang kemudian dijadikannya musala, tapi barang-barang yang ada di dalamnya dia tak mau mengambilnya. Dibela-belain menyewa gudang untuk tempat barang-barang itu, agar kalau kerabat Priyadi menanyakannya, masih bisa memiliki barang-barangnya.
Tak terasa air mata Nilam menitik. Betapapun busuk hatinya, mengetahui sikap tuan Sanjoyo yang masih tak tega merampas semua barang-barang yang ada di dalamnya, membuat Nilam merasa sangat tersentuh, kemudian menyadari betapa jahat Srikanti, bahkan suaminya, yang begitu tega menyakiti orang sebaik tuan Sanjoyo.
Ada almari, tempat tidur, peralatan dapur, barang-barang pecah belah, baju-bajunya, baju Priyadi, bahkan ada baju Srikanti beberapa potong juga ada.
Tak ada yang bisa Nilam lakukan. Ia butuh melanjutkan hidupnya, dan dengan menjual barang-barang itu barangkali ia bisa mempergunakannya untuk berusaha sesuatu. Berdagang, atau berjualan, siapa tahu dia bisa melakukannya. Pemikiran serakah yang semula memenuhi jiwanya karena merasa memiliki rumah seisinya warisan Priyadi, buyar sudah. Ia bahkan sadar, ketika orang yang diperlakukan kejam dan jahat, justru berbuat baik.
“Aku harus melakukan sesuatu untuk hidupku, sesuatu yang baik. Semoga barang-barang ini bisa aku jadikan modal,” pikir Nilam dengan hati mantap.
“Terima kasih tuan Sanjoyo, telah membekali hidupku walau tidak sebanyak yang aku bayangkan. Semoga aku bisa menjalani hidup lebih baik,” bisiknya sambil menitikkan air mata.
Ternyata sikap tuan Sanjoyo yang memperhatikan kehidupan seseorang, bisa mengubah perilaku seseorang tersebut.
***
Puspa bersiap pulang dari kantor. Setelah bekerja mendampingi sang ayah, Puspa selalu berangkat dan pulang bareng ayahnya. Nugi yang sebenarnya diminta untuk datang ke rumah keluarga Sanjoyo, lalu berangkat dan pulang bersama-sama, menolaknya. Dia memilih naik sepeda motor bututnya, walau dia sudah dilantik menjadi wakil manager.
Pada awalnya Nugi masih bersikap biasa saja terhadap Puspa, walau tidak begitu apa yang dirasakannya di dalam hati. Tapi perbedaan status, lalu ingatan tentang perkataan Srikanti saat beberapa waktu lalu berucap, masih terngiang di telinganya. Memang sih Puspa sudah minta maaf, dan dia mengatakan kalau tidak apa-apa, tapi semakin dipikirkan, semakin dia ingin menjauh dari kehidupan Puspa. Hanya saja sayangnya setiap hari dia harus bertemu karena berada dalam satu kantor, sehingga sulit baginya untuk melupakannya.
Siang hari itu Nugi makan di kantin.
Dan karena sang ayah sedang makan bersama tamu bisnisnya, Puspa memilih makan di kantin. Ia melihat Nugi, lalu duduk di depannya.
“Kok makan sendiri Nug?”
“Iya, aku makan belakangan, karena ada yang belum aku selesaikan.”
“Pesan apa tuh?”
“Biasa, nasi soto. Kamu sudah pesan?”
“Aku mau pesan sama seperti kamu saja.”
Lalu Puspa memesan nasi soto dan segelas teh manis, seperti yang dipesan Nugi.
Agak lama mereka berdiam diri, masing-masing bingung apa yang sebaiknya dikatakan untuk membuka percakapan.
“Kamu tidak menengok ibumu?” akhirnya itulah yang dikatakan Puspa.
“Tidak untuk sekarang ini. Bukankah Minggu kemarin ibuku baru pulang ke kampung?”
“Iya, itu benar. Tapi ketemu setiap hari kan tidak ada salahnya.”
“Tidak apa-apa, kalau aku mampir ke sana, nenekku pasti bingung menunggu. Dia sudah tua, dan temannya cuma aku.”
“Nanti akan aku minta agar bik Supi sering-sering pulang kampung.”
Nugi hanya tersenyum.
“Nugi, mengapa akhir-akhir ini kamu kelihatan aneh?”
“Aneh? Apa aku punya tanduk?” canda Nugi yang tidak membuat Puspa tidak tertawa seperti biasanya.
“Kelihatan sekali kalau kamu menjauhi aku.”
“Aku hanya takut mengganggu.”
“Masa? Biasanya kamu melihat aku selalu terganggu ya?”
“Entahlah. Sebenarnya aku biasa-biasa saja. Mengapa kamu berpikiran lain? Puspa, aku dan kamu itu bagai bumi dan langit, kalau kita terlalu dekat, apa kata orang nanti,” akhirnya Nugi mengucapkan kata-kata yang sudah lama dipendamnya.
“Apa maksudmu bumi dan langit? Aku adalah teman kamu, kamu lupa?”
“Tidak lupa, tapi aku mohon kamu bisa mengerti. Aku hanya menjaga martabat kamu.”
“Kamu bicara tidak karuan. Menjaga martabat apa? Aku tidak malu atau tidak berasa menjadi rendah kalau bergaul dengan siapapun yang ada di bawah aku.”
“Aku tahu, tapi tidak semua orang bisa menerima itu.”
Tiba-tiba ponsel Nugi berdering, Nugi mengangkatnya, tanpa menyebutkan nama penelpon, tapi itu adalah sebuah perjanjian pertemuan.
“Iya, aku ingat, aku samperin kamu sekitar jam sepuluh. Tidak, tidak repot. Kan besok hari Minggu, jadi aku tidak punya pekerjaan.”
Ketika Nugi selesai menelpon, dia melihat Puspa sudah tidak lagi duduk di kursi sebelumnya.
***
Besok lagi ya.
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 48* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
.
ππͺΈππͺΈππͺΈππͺΈ
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ
Cerbung HaBeBe_48
sampun tayang.
Matur nuwun Bu, doaku
semoga Bu Tien selalu
sehat, tetap smangats
berkarya & dlm lindungan
Allah SWT.AamiinYRA. ππ¦
ππͺΈππͺΈππͺΈππͺΈ
Alhamdulillah....
ReplyDeleteHaBeBe_48 sudah hadir.
Terima kasih mBak Tien, salam SEROJA.
Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteTerima ksih bunda hbb nys..slmt mlm dan slm sht sll unk bunda sekeluargaππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulilah Cerbung HBB 48 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mnak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~48 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Trmksh mb Tien, smg sll sht
ReplyDeleteAlhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien semiga bunda dan keluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 48 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulilah
ReplyDeleteTerimakasih Bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga
Siapa ya yang nelepon.?...
Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 48" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng dalu π
ReplyDeleteAlhamdulillah Puspa sudah hadir, semoga Puspa bisa bahagia dengan Nugi, walaupun melewati liku2 kehidupan,... maturnuwun Bu Tien ,tetap sehat ,semangat, dan bahagia bersama Kel tercinta..
ReplyDeleteπ
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteHamdallah sampun tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 48 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 48 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Nugi payah terlalu baper...skrng malah berpindah ke lain hati lagi
Terima kasih cerbung semakin seru dan penasaran...terima kasih Inu Tien, semoga Ibu selalu diberikan sehat
ReplyDeleteJanjian dengan siapa Nugi, penasaran tunggu besok. Terima kasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aduhaai
ReplyDeleteMks bun.....selamat malam
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien semoga Ibu dan keluarga dalam keadaan sehat..ππ
ReplyDeleteAlhamdulillah .... terima kasih Bu Tien semoga sejat selalu.
ReplyDeleteSekarang Puspa yang terluka..
ReplyDeleteNugi, jangan biarkan cinta tak berpenghuni, nanti ada roh halus yang ngembatnya...
Terimakasih Mbak Tien
Slmat petang Mbakku sayang. Lanjut dong.
ReplyDeleteSugeng dalu mbak Tin....
ReplyDelete