HANYA BAYANG BAYANG 47
(Tien Kumalasari)
Salah seorang laki-laki yang sedang menyiram tanaman menoleh ketika mendengar teriakan Nilam.
“Hei, apa kamu tuli? Ini apa-apaan?”
“Apa maksudnya Bu?”
“Ini rumahku, mengapa dijadikan seperti ini?” Nilam masih berteriak.
“Lha saya tidak tahu Bu, saya hanya mendapat tugas merawat tanaman di sekitar musala ini.”
“Ini rumahku, siapa yang menyuruh merubahnya menjadi musala?”
Seorang laki-laki setengah tua muncul dari dalam, mendekat karena mendengar teriakan Nilam.
“Ada apa ya?”
“Ini pak Haji, ibu ini marah-marah, katanya rumah ini miliknya, mengapa dijadikan musala.”
“Ibu siapa ya?” laki-laki setengah tua itu bertanya kepada Nilam yang sekarang berkacak pinggang tanpa rasa hormat.
“Apa Bapak tidak mendengar? Tukang bersih-bersih itu kan sudah mengatakannya. Saya pemilik rumah ini, mengapa tiba-tiba bisa jadi musala?”
“Bagaimana mungkin Ibu bisa mengatakan bahwa ini rumah Ibu? Musala ini dibangun dua tahunan yang lalu. Ini rumah tuan Sanjoyo yang dihibahkan untuk menjadi musala.”
“Apa maksudnya? Ini rumah Priyadi, suami saya. Kok bisa-bisanya menjadi milik tuan Sanjoyo. Ada sertipikatnya di dalam rumah ini tadinya. Lha sekarang mana barang-barang saya, berikut surat tanah itu? Tuan Sanjoyo itu orang kaya. Bisa-bisanya merampas hak orang lain? Saya akan melaporkannya pada polisi,” teriakan itu tak kunjung reda.
“Ibu jangan berteriak di sini. Sepertinya ibu juga mengenal tuan Sanjoyo, jadi bicaralah dengan tuan Sanjoyo. Saya, kami ini hanya mendapat tugas mengelola tempat ibadah ini, saya tidak tahu menahu tentang sertipikat atau apa-apa yang kata Ibu menjadi milik suami Ibu.”
“Kurangajar benar. Baik, saya akan melaporkan ini kepada polisi.”
“Sebelum Ibu melapor, lebih baik Ibu menemui tuan Sanjoyo dulu, siapa tahu ada yang bisa Ibu dengar dari beliau tentang musala ini.”
Tanpa menjawab lagi, Nilam segera membalikkan tubuhnya. Ia harus menemui tuan Sanjoyo karena ia merasa bahwa rumah ini milik suaminya yang bernama Priyadi.
Sepeninggal Nilam, pak tua yang disebut pak Haji itu geleng-geleng kepala.
“Orang cantik tapi nggak punya adab. Ngomong sambil berkacak pinggang. Pejabatpun nggak akan melakukan hal seperti itu,” omel si tukang kebun.
“Dunia ini kan macam-macam. Lanjutkan pekerjaan kamu, biar dia mengurus hak kepemilikan itu sendiri. Sepertinya dia bukan orang baik-baik. Semoga Allah mengampuni dosanya,” kata pak Kyai sambil kembali masuk ke dalam musala.
***
Siang hari itu bik Supi sedang memasak di dapur. Ia sedang memikirkan apa yang dikatakan anaknya kemarin malam.
Saat itu bik Supi sedang pulang kampung bertemu dengan ibunya, dan tentu saja Nugi. Ia melihat wajah Nugi yang muram, tidak seperti biasanya. Bik Supi mendekat dan menepuk bahunya.
“Ada apa le? Kamu memikirkan apa?”
Nugi menatap sang ibu .
“Bu, apakah jatuh cinta itu salah?”
“Apa maksudmu Nugi? Jatuh cinta tak ada yang salah. Siapa menyalahkannya?”
Nugi tersenyum.
“Kamu sedang jatuh cinta? Kamu sudah dewasa, sudah saatnya memiliki istri. Kamu juga sudah bekerja dan mapan. Bisa memperbaiki rumah simbahmu yang sudah lapuk, dan bisa menyenangkan dia.”
“Sayangnya perasaan Nugi ini jatuh di tempat yang salah.”
“Bagaimana sih kamu ini? Jatuh di tempat yang salah itu bagaimana?”
“Nugi mencintai non Puspa.”
Bik Supi terbelalak. Ia mengira Nugi dan Puspa hanyalah teman biasa yang sangat dekat karena kuliah di tempat yang sama. Bik Supi tak pernah mimpi sang anak bisa berdampingan dengan Puspa. Siapa dirinya dan siapa tuan Sanjoyo. Bik Supi benar-benar tak pernah membayangkannya.
“Nugi, apa kamu sadar apa yang kamu katakan? Kamu itu hanya anakku, non Puspa itu nona majikanku.”
“Itulah yang membuat Nugi sedih.”
“Sadarilah siapa dirimu, dan endapkan perasaan kamu. Di kampung ini banyak gadis-gadis cantik yang pasti tak akan menolak dipersunting olehmu. Jangan meraih bintang Nugi, itu kan hal yang tak mungkin.”
“Iya Bu.”
“Ada anak pak Wiro yang baru saja lulus sekolah guru. Dia cantik dan lembut, kamu pasti sudah mengenalnya. Mirah, kamu ingat Mirah kan?”
“Ingat Bu, tapi Nugi tidak tertarik pada dia.”
“Cinta itu bisa tumbuh perlahan. Sekarang kamu tidak perhatian, besok kamu pasti bisa mencintainya.”
Nugi menghela napas panjang.
“Nugi belum memikirkan istri Bu. Biarkan saja begini.”
Bik Supi sadar dari lamunan, ia sampai lupa memasukkan sayur sementara air di panci sudah mendidih. Apa yang diutarakan anak laki-lakinya membuatnya terus memikirkannya. Nugi juga menolak gadis yang diusulkannya, padahal dia cantik dan baik.
“Masa mencintai majikan? Seperti pungguk merindukan bulan, kan? Ah, Nugi … Nugi. Kamu ini membuat ibumu ini bingung saja. Habis wajahmu jadi murung begitu." katanya sambil memasukkan sayur ke dalam panci.
Tiba-tiba seseorang muncul di dapur, membuatnya sangat terkejut.
“Nilam?”
“Bagus bik Supi masih mengingat aku.”
“Tentu saja ingat, tapi bukankah kamu …. “
“Aku dipenjara? Iya. Ini gara-gara bekas majikan perempuan kamu yang jahat itu.”
Bik Supi terperangah. Nilam dulu sangat pendiam, kalau di rumah itu tak pernah banyak bicara. Ia datang bersama Priyadi, sarapan, lalu berangkat ke kantor bersama tuan Sanjoyo, karena Priyadi memang sopir tuan Sanjoyo. Sekarang dia bisa berkata sekasar itu?
”Sekarang aku sudah bebas. Mana tuan Sanjoyo?”
“Lho, siang-siang begini mencari tuan Sanjoyo? Pastinya tuan ada di kantor. Kalau mau ketemu nanti sore saja.”
“Kelamaan menunggu, aku butuh bicara sama dia, segera.”
“Ya tidak bisa, nanti sore tuan baru pulang. Apa kamu mau menunggu, atau menyusul ke kantor?”
“Ke sana naik apa? Aku tidak punya uang.”
“Kalau begitu tunggu saja di sini sampai tuan datang.”
“Tapi aku lapar, ada makanan tidak?”
“Aku sedang masak, tapi ada sisa makanan tadi pagi, sisa sarapan. Bukan makanan sisa sih, masih aku simpan, tadinya mau aku makan setelah memasak. Kalau kamu mau, aku keluarkan dari almari.”
“Ya sudah, aku mau. Aku lapar dan tidak punya uang. Kalau bibik punya, bolehkah aku minta uang? Aku tidak punya apa-apa,” kali ini ia tampak memelas.
“Baiklah, makanlah dulu, akan aku siapkan. Aku punya uang, meskipun tidak banyak, nanti aku berikan sama kamu.”
Nilam mengangguk, lalu duduk begitu saja di kursi dapur, sementara bik Supi mengambilkan makanan untuknya.
***
Siang hari itu tuan Sanjoyo makan bersama Puspa di luar, sementara Nugi menolak makan bersama mereka. Ia memilih makan di kantin dengan berbagai alasan.
Puspa tampak tak berselera, dan wajah muram itu tertangkap oleh tuan Sanjoyo.
“Ada apa denganmu? Apa karena Nugi tak mau makan bersama kita, siang hari ini?”
“Akhir-akhir ini Nugi tampak selalu berusaha menjauh dari Puspa, entah mengapa.”
“Mungkin dia sedang sibuk, atau sedang banyak pikiran.”
“Biasanya tidak begitu.”
“Mengapa kamu risau seandainya benar dia menjauh dari kamu?”
“Hanya merasa tidak enak saja.”
“Bapak sudah tahu apa yang kamu rasakan.”
Puspa mengangkat wajahnya. Apakah sang ayah masih ingat olok-olok kakak-kakaknya tentang dirinya dan Nugi? Padahal sekalipun Nugi tidak pernah mengatakan perasaannya terhadap dirinya.
“Kamu menyukai Nugi kan?”
Puspa menghela napas.
“Dulu, ketika Puspa menengok ibu di penjara, ibu marah-marah dan mengatai hal yang menyakitkan. Padahal Nugi dan Puspa merasa hanya berteman. Ibu tiba-tiba mengatakan kalau tidak sudi berbesan dengan pembantu. Pastilah sakit hati Nugi.”
“Ibumu selalu kasar dan tidak pernah menghargai orang. Dulu kalau marah pada bik Supi juga pasti mengeluarkan kata-kata yang tidak enak, untunglah bik Supi sabar. Kalau tidak pasti dia sudah kabur sejak lama.”
“Puspa sudah minta maaf pada Nugi. Pada awalnya, Nugi masih bersikap baik setelahnya. Tapi akhir-akhir ini tampak sekali dia berusaha menjauhi Puspa.”
“Kamu mencintainya?”
Puspa tersipu, dia tak menjawab apapun kecuali melanjutkan makan siangnya.
“Cinta itu kan tidak salah. Mengapa kalian saling mengingkari perasaan?”
“Masa Puspa harus mengatakan cinta lebih dulu? Nugi tidak pernah mengatakan apapun, walau sikapnya menunjukkan itu. Tapi dulu, sekarang sikapnya berbeda. Barang kali lama kelamaan dia semakin berpikir bahwa Puspa tidak seharusnya disukai, apalagi dicintai.”
“Gara-gara dia merasa bahwa dia anaknya bik Supi?”
“Pastilah Pak.”
“Nanti bapak akan bicara sama dia.”
“Jangan Pak.”
“Kok jangan? Bapak hanya ingin menilai seberapa besar perasaan cinta Nugi terhadapmu, seandainya benar dia juga mencintaimu. Kamu jangan khawatir, bapak tidak akan merendahkan kamu di hadapannya.”
***
Puspa terkejut, ketika dia mengambil air minum di dapur, melihat seseorang tidur terbujur di bangku dapur yang panjang.
“Bik … dia …”
“Dia Nilam.”
“Nilam?”
“Baru keluar dari penjara, ingin menemui tuan. Tadi dia kelaparan dan bilang tak punya uang. Sejak siang dia ada di sini.”
Puspa membalikkan tubuhnya, menemui sang ayah yang baru saja masuk ke kamarnya.
“Pak, di dapur ada Nilam.”
“Nilam? Sudah keluar dari penjara?”
“Sudah sejak siang, kata bik Supi.”
“Suruh bibik membangunkan, aku tunggu di sini, dia mau bilang apa.”
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah....
ReplyDeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG~47 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Alhamdulilah Cerbung HBB 47 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteAlhamdulillah,matur nuwun Bunda Tien
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteπΉ☘️πΉ☘️πΉ☘️πΉ☘️
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_47
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
πΉ☘️πΉ☘️πΉ☘️πΉ☘️
Terima ksih bundaqu..hbb nya..slmt mlm dan slmt isyrhat..slm seroja uno bunda sekel ππ₯°πΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 47 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteSelamat mlm bun, mks HBB 47 sdh tayang....sehat" sll y bun
ReplyDeleteπ
ReplyDeleteAlhamdulilah HBB ke 47 udah tayang.
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat slalu
Wah Nilam ngotot....
Nugi sabar. Cinta kamu nanti juga PD waktunya akan tiba. Terus berjuang Nugi. Jangan putus asa
Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 47 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Alhamdulillah HBB - 47 sdh tayang matur suwun bu Tien salam sehat selalu utk keluarga...Aamiin ππ
ReplyDeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 47" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien.
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 47* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdulillah dah tayang, pinternya Bu Tien membuat cerita yg bikin unjal ambekan, seakan2 melihat sinetron, ceritanya menarik,..... Maturnuwun Bu Tien,π salam sehat semangat bahagia bersama Kel tercinta,...tetap berkarya cerbung ya Bu, banyak pecintanya
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 47 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Nilam keluar dari penjara..gigit jari, krn rumah mesum nya sdh tdk ada bekas nya.ππ
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....
ReplyDeleteAlhamdulillaah " Hanya Bayang Bayang - 47 sdh hadir.
ReplyDeleteTerima kasih Bunda Tien, semoga sehat dan bahagia selalu.
Aamiinπ€²
Alhamdulillah HBB 47 sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien semoga bunda sekeluarga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Terimakasih bunda Tien cerbung HBB~47 sdh hadir, sehat dan bahagia selalu bunda Tien sekeluarga.... Aamiin YRA π€²π€²π€²
ReplyDeleteMatur nuwun
ReplyDeleteNilam pulang dari penjara malah jadi orang yang tak beradab. Penjara membuatnya menjadi orang kasar...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...