HANYA BAYANG BAYANG 45
(Tien Kumalasari)
Puspa menatap tetesan darah itu dengan tubuh gemetar. Priyadi terluka parah pada sebelah kakinya. Ketika tuan Sanjoyo menanyakan kepada polisi yang bertugas, dia mengatakan bahwa tadinya Priyadi pura-pura sakit dan ketika dibawa ke rumah sakit dia berusaha melarikan diri. Polisi berhasil menembak kakinya, dan dia lolos dengan nekat berlari sambil terpincang pincang. Darah yang menetes di setiap jalan yang dilaluinya, membawa polisi ke suatu tempat di sebuah rumah di jalan Ternate. Ia mengambil sesuatu dan berlari melewati pintu belakang, di mana kebetulan pagarnya masih berupa pohon perdu. Dia lolos dan kemudian terdeteksi memasuki rumah tuan Sanjoyo.
Dia lemas kehabisan darah.
Ketika polisi membawanya pergi, dia seperti tak lagi punya daya. Tuan Sanjoyo terkejut ketika melihat sesuatu di tempat di mana tadi Priyadi tertelungkup lemas. Tuan Sanjoyo mengambilnya, sebuah sertipikat rumah dengan noda darah, atas nama Priyadi.
“Ini sertipikat tanah, dia tadi mengatakan akan mengembalikan rumah itu, karena Priyadi sadar bahwa rumah itu dibangun melalui kebohongan tentang uang-uang yang harusnya diberikan kepada panti-panti.”
Tuan Sanjoyo meletakkan sertipikat yang ternoda darah itu di atas meja, menatap Puspa yang duduk dengan wajah pucat.
“Apa yang kamu khawatirkan? Biar dia seribu kali mengatakan bahwa kamu adalah darah dagingnya, tapi aku adalah ayahmu,” katanya sambil meraih tubuh Puspa, direngkuhnya dengan mata berlinang.
Puspa terisak di pelukan sang ayah.
“Anakku … kamu adalah anakku …” tangannya yang setengah keriput mengelus rambut sang anak.
Bibik yang datang dari belakang, terkejut melihat darah.
“Bersihkan Bik,” kata tuan Sanjoyo sebelum bik Supi berkata sesuatu. Dan tak perlu dua kali tuan Sanjoyo mengatakannya, bibik dengan sigap melakukan apa yang diperintahkan sang tuan majikan.
“Besok di kantor bapak, kamu panggil Sekar saat makan siang. Kita akan bicara.”
“Bapak, bolehkah tes DNA agar Puspa yakin bahwa Puspa anak dia seperti pengakuannya?”
“Tes DNA? Apakah itu perlu sementara aku mengakui kamu sebagai anak kandungku?”
“Hanya agar Puspa merasa yakin, walaupun nantinya Puspa akan tetap bersama Bapak.”
“Besok kita pikirkan bersama tentang banyak hal, bersama kakakmu Sekar. Lain kali kita bicara bersama Suroto dan Suwondo juga.”
Puspa mengangguk. Apa yang dilihat dan membuatnya terguncang adalah ketika melihat darah, dan pengakuan Priyadi dengan mengulang perkataannya, bahwa dia adalah darah dagingnya.
Darah yang tercecer dilantai itu, sama dengan darah yang mengalir ditubuhnya, dan Puspa merasa nyeri seperti ribuan jarum menusuk jantungnya.
***
Siang harinya, Sekar memang datang ke kantor sang ayah. Di ruangan itu mereka memperbincangkan tentang Priyadi dan pengakuannya, setelah tuan Sanjoyo menyuruh Nugi pergi ke ruang bagian keuangan. Hal itu membuat Sekar terkejut, Puspa hanya menundukkan muka.
"Rumah yang kamu katakan beberapa waktu yang lalu, inilah sertipikatnya."
“Diberikan oleh dia?”
“Dia menyerahkan rumah itu kepada bapak, karena merasa bahwa rumah itu dibeli dengan cara yang sangat tidak terpuji.”
“Begitu saja?”
“Pasti akan melalui mekanisme yang semestinya, bapak belum tahu, apakah dengan menyerahkan sertipikat bisa langsung menjadi milik bapak, atau entahlah. Tapi yang jelas, seandainya benar, bapak akan menjadikan rumah itu sebagai mushola, yang akan bapak bangun untuk tempat ibadah. Barangkali itu lebih bermanfaat.”
“Sekar setuju. Rumah yang tadinya penuh dosa akan dibersihkan dengan gaung doa-doa orang beribadah. Semoga amanah.”
“Itu nanti, bapak belum jelas benar keinginan Priyadi.”
“Puspa tidak usah bersedih, kamu putra tuan Sanjoyo, adik Sekar dan Suroto, apa yang kamu sedihkan ketika bapak sudah mengakui bahwa kamu adalah darah dagingnya?” kata Sekar sambil menepuk tangan Puspa.
“Kemarin Puspa ingin meyakinkan dirinya, apakah yang dikatakan Priyadi itu benar, dengan melakukan tes DNA.”
“Apakah itu akan ada gunanya, Puspa?” tanya sang kakak.
“Agar jelas bagiku Mbak. Walaupun akhirnya bapak ini adalah ayahku, tapi perkataan Priyadi harus dibuktikan.”
“Kalau begitu kita serahkan saja semuanya pada Bapak, bagaimana menurut Bapak?”
“Tidak apa-apa, hanya untuk meyakinkan dia. Tapi kamu harus tetap yakin bahwa akulah ayah Puspa,” kata tuan Sanjoyo lembut.
Puspa hanya mengangguk.
“Baiklah, periksa saja darah Puspa dan aku, kalau Puspa bukan anakku, berarti perkataan Priyadi benar,” kata tuan Sanjoyo yang enggan berurusan dengan Priyadi.
***
Tapi di hari ketika tuan Sanjoyo dan Puspa melakukan tes DNA, sebuah kabar terdengar, bahwa Priyadi meninggal dunia. Ia kehabisan darah dan tak punya semangat hidup. Ia bahkan tak tahu bagaimana hasil tes DNA yang dilakukan oleh Puspa yang diakuinya sebagai anak kandungnya. Tapi ada pesan dari Priyadi melalui surat yang ditanda tanganinya, mengenai rumah yang sertifikatnya diberikan kepada tuan Sanjoyo. Dia menyerahkan rumah itu kepada tuan Sanjoyo.
Seperti sudah direncanakan, tuan Sanjoyo akan segera menjadikan rumah itu sebagai masjid kecil atau Mushala. Ia menyerahkan pembangunan itu dan perawatannya kepada lurah dan penduduk sekitar, agar bisa menjadi tempat ibadah yang bermanfaat bagi semua orang.
***
Srikanti kebingungan mendengar Priyadi meninggal, kecuali dia sebenarnya sangat mencintai Priyadi, dia juga harus menanggung dosa yang dibuatnya seorang diri. Minimal hukuman yang akan membawanya ke penjara. Rasa sedih menjadi kesal ketika pada suatu hari Nilam menemuinya, dan mengatakan bahwa dia akan terbebas lebih dulu, dan dia berhak memiliki rumah yang mereka pakai bersama, tanpa peduli pada nasib Srikanti.
“Apa maksudmu Nilam? Kamu pengkhianat busuk yang tak tahu diuntung. Bukankah kamu tahu bahwa akulah yang membiayai semua pembangunan dan mengisi rumah itu dengan perabotan lengkap?”
“Aku tidak tahu, bu Srikanti, yang jelas rumah itu kan milik mas Priyadi, dan aku adalah istrinya.”
“Kamu penjahat busuk yang tidak punya hati. Kamu pura-pura menjadi anaknya padahal kamu selingkuhannya.”
“Bukan selingkuhan Bu, aku istrinya, karena di dalam rahimku ada anak dia,” kata Nilam tenang.
“Penjahat busuk, apa kamu buta? Bukankah aku yang selalu memberi uang untuk kebutuhan rumah itu?”
“Aku tidak tahu, yang jelas rumah dan semua isinya adalah milik aku, karena aku istrinya, dan bayi di dalam kandunganku ini anaknya. Bukankah sudah selayaknya kami memiliki peninggalannya.
“Perempuan macam apa kamu ini? Suami meninggal kamu malah bersorak-sorak ingin menguasai peninggalannya?”
“Yang mati biarlah mati. Sebenarnya aku dulu mau melayani mas Priyadi bukan karena cinta, tapi karena dia memberi banyak barang-barang mewah untuk aku, dan menuruti semua kemauanku. Sekarang benar-benar hartanya sudah menjadi milik aku.”
Kemarahan Srikanti memuncak. Biarpun ada beberapa polisi menjaga pertemuan sesama narapidana, tapi keinginan Srikanti untuk menghajar Nilam sangatlah besar Seperti sebuah sungai yang tenang, lalu diterjang banjir yang menggelegak tak bisa dibendung, tiba-tiba Srikanti berdiri, menjambak rambut Nilam dan menendang perutnya dengan sekuat tenaga, membuat Nilam terjatuh. Sambil memegangi perutnya ia menjerit jerit karena perutnya terasa sakit.
Polisi segera menarik Srikanti dan dibawanya kembali masuk ke dalam tahanan, sementara Nilam dilarikan ke rumah sakit karena perdarahan.
“Rasain kamu, pengkhianat. Mampuslah bersama bayimu!” teriak Srikanti walau polisi menyeretnya paksa.
***
Nilam terus merintih-rintih, darah terus mengalir dari rahimnya. Dan ternyata dokter tak berhasil menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Nilam keguguran.
Tapi apakah dia bersedih kehilangan bayinya? Tidak. Tanpa sadar bahwa rumah itu sudah tidak akan menjadi miliknya, dia tetap bersyukur dan merasa akan mendapat warisan rumah beserta isinya. Bukankah rumah itu milik Priyadi?
“Tidak apa-apa aku kehilangan bayiku. Malah kebetulan, aku tidak usah mengurusnya setelah lahir nanti, aku bisa bersenang senang semauku. Barangkali rumah itu akan aku jual saja setelah aku bebas. Hukumanku kan tidak berat, karena aku bukan pelaku kejahatan itu, kecuali hanya merasakan sedikit kesenangan. Lalu aku jual rumah itu, lalu uangnya aku pergunakan untuk usaha, atau apa, pokoknya hidupku harus berlanjut. Mungkin aku bisa mendapatkan suami kaya, syukur-syukur wajahnya ganteng. Bukankah aku juga cantik?” gumamnya tanpa mengingat dosa.
***
Puspa mengambil hasil tes DNA itu, lalu membukanya bersama sang ayah, setelah membawanya ke rumah. Mereka tak ingin membukanya saat di rumah sakit, takut emosi keduanya, terutama Puspa, yang akan meledak ketika membaca hasilnya. Mereka sudah sampai di rumah dan mereka berdebar-debar, seperti sedang menunggu sebuah keputusan di meja sidang.
“Tapi Puspa tetap anak Bapak bukan, apapun hasilnya?”
“Bapak sudah mengatakannya, dan bapak tidak akan mengingkarinya. Bapak sangat menyayangi kamu, Puspa.”
“Puspa juga sangat menyayangi Bapak,” kata Puspa dengan mata berlinang.
Perlahan mereka membuka hasil tes itu.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah
ReplyDeleteSyukron nggih Mbak Tien❤️πΉπΉπΉπΉπΉ
ReplyDeleteTrmksh mb Tien, smg sht sll
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteHamdallah sdh tayang
ReplyDeleteπΈπ·πΈπ·πΈπ·πΈπ·
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_45
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
πΈπ·πΈπ·πΈπ·πΈπ·
Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~45 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Alhamdulikah MLM tayang
ReplyDeleteTerimakasih bunda. Semoga sehat slalu beserta keluarga
Mudah"an hasil tes DNA. , PUSPA bukan anak Priyadi.
Alhamdulilah, episode teranyar sudah tayang, matur kesuwun mbakyuku Tienkumalasari sayang, sudah ndak capek khan hehehe...salam sehat sll beserta kelg tercinta, wassalam dari Tanggamus, Lampung
ReplyDeleteAlhamdullilah..terima ksih bunda HBB nya..slmt mlm dan slm seroja unk bunda sekeluarga πππΉ❤️
ReplyDeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 45" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteAlhamdulillah....
ReplyDeleteHaBeBe_45 sudah hadir setelah tertunda selama 3 hari, karena ada acara Jumpa Fans & HUT-5 PCTK di Solo.
Terima kasih mBak Tien, semoga mBak Tien sehat selalu.
Waah...tenan to, Prithil tilar donya....
ReplyDeleteSrinthil ngelu...
Terima lasih Bu Tien, semoga sehat selalu.
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 45* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Alhamdulilah Cerbung HBB 45 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun ππ©·πΉπΉ
ReplyDeleteMatur suwun bu Tien salam sehat selalu
ReplyDeleteMatur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat...
ReplyDeleteMatur nwn bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun, Bu Tien. Sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 45 " ππΉ
ReplyDeleteSemoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin
Alhamdulillah,yg ditunggu dah hadir, dan tokoh yg membuat gemes dah hilang dr peredaran, smg cerita lanjutannya tetap seru, maturnuwun Bu Tien, salam sehat semangat dan bahagia bersama Kel tercinta...ditunggu sll lanjutannya..
ReplyDeleteAlhamdulillah
ReplyDeleteTerima Kasih Bunda Tien
Semoga bunda seKeluarga Sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Mks bun, smg selalu sehat....selamat malam
ReplyDeleteAlhamdulillah yg ditunggu tunggu sdh terbit. Trm ksh Bu Tien. Smg sehat sll.
ReplyDeleteAlhamdulillah... yang ditunggu sdh hadir, terimakasih bunda Tien, salam sehat dan bahagia selalu, aduhaai
ReplyDeleteSami2 ibu Komariyah. Salam sehat dan bAhagia
DeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 45 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Walau nnt hasil..tes DNA secara genetik, Puspa adalah anak kandung Yadi. Puspa tdk boleh ingkar, wajib mendoakan, agar Sang Murbeng Dumadi...mengampuni dosa dan kesalahannya.
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni
DeleteAlhamdulillah...smg hasil tes DNA positif..mengingat Puspa adalah orang baik..Terimakasih Bunda Tien
ReplyDeleteSami2 ibu Swissti
DeleteTerima kasih Bu Tien semoga sehat selalu
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Anik
DeleteDitunggu sampai besok ya...
ReplyDeleteTerimakasih Mbak Tien...
Sami2 prof
DeleteLogikanya ya pasti hasil DNA Puspa anak biologis Priyadi, karena Srikanti sudah hamil waktu menikah dengan tuan Sanjoyo...tidak dikisahkan ya, bagaimana cara mereka berjumpa? Ini jatuhnya kan kasus penipuan berencana, untuk mengeruk harta tuan Sanjoyo...tapi uniknya ada kisah "penipu tertipu" di sini dengan hadirnya tokoh Nilam. Ibu Tien memang piawai merangkai kisah yg bikin baper pembaca. Terima kasih, ibu...sehat selalu ya...ππ»πππ
ReplyDeleteAamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun perhatiannya ibu Nana
DeletePriyadi sudah meninggal apakah bisa tes DNA dengan Puspa?
ReplyDeleteTerima kasih perhatiannya ibu Tatik
DeleteTesnya dengan pak Sanjoyo.
Menanti HBB 46
ReplyDeleteSemoga bunda Tien sehat selalu π
Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Wiwik
Delete