HANYA BAYANG BAYANG 43
(Tien Kumalasari)
Puspa terpana, Priyadi menatapnya, wajahnya memelas, Puspa membuang muka. Ia menoleh kebelakang, tadi Nugi datang bersamanya. Tapi tak kelihatan. Ia ingin menemukan sandaran, tempat ia menguatkan batinnya mendengar pernyataan Priyadi.
“Kamu jangan mengada-ada, kamu penjahat licik yang tentu saja bisa melakukan apapun. Pergi, atau aku menelpon polisi?”
“Puspa, apa kamu tega membiarkan ayahmu dibawa polisi, kemudian meringkuk di dalam penjara.”
“Pergiiii!.” Puspa berteriak. Ia melangkah mundur ketika Priyadi mendekatinya. Tapi tiba-tiba terdengar raungan mobil polisi. Priyadi terkejut. Ia melihat mobil polisi berhenti di depan gerbang. Masih meraung-raung, pasti tidak hanya satu.
Priyadi kebingungan, sementara Puspa tak peduli melihatnya kebingungan.
“Puspa, tolong sembunyikan aku, aku bapakmu, Puspa, kamu tetesan darahku.”
“Pergiiii!!” Puspa berteriak.
Tiba-tiba beberapa polisi sudah berdiri di depan pintu, dan Puspa terkejut ketika Priyadi meraihnya, lalu mengacungkan belati yang diarahkan kepada lehernya.
“Lepaskaaaan.”
Polisi merangsek maju. Priyadi berteriak.
“Kalau kalian menangkap aku, gadis ini aku bunuh!!”
Beberapa polisi mengacungkan senjatalnya, dan pisau itu sudah mengiris sedikit kulit leher Puspa, membuatnya berteriak.
“Gadis bodoh. Kalau kamu sembunyikan aku, kamu tidak akan terluka. Kamu tega kepada ayah kandungmu,” desis Priyadi dengan masih tetap mengacungkan belatinya.
“Tangkap dia, penjahat licik ini biarkan membunuhku, tangkap saja, pak Polisi,” teriak Puspa. Tapi polisi harus berhati-hati, mereka sudah terbiasa menghadapi ancaman semacam itu.
“Biarkan aku pergi, akan aku lepaskan dia,” kata Priyadi sambil menarik tubuh Puspa, menuju pintu samping, sambil berjalan mundur.
“Lepaaskaaan aku, penjahat.”
“Kamu akan kualat, aku bapakmu,” desisnya lagi, membuat Puspa merinding.
Polisi mengikutinya perlahan. Tapi tiba-tiba sebuah hentakan keras menghantam lengan Priyadi, lalu belati itu terlempar. Seseorang menarik tubuh Puspa yang jatuh terkulai dalam dekapannya. Dengan sigap polisi menangkap Priyadi, memborgolnya dan menyeretnya keluar rumah. Priyadi berteriak-teriak.
“Puspa, kamu tega, aku ini bapakmu! Kamu biarkan bapakmu dipenjara Puspaa!”
Teriakan itu tenggelam oleh raungan mobil polisi yang berjalan menjauh.
***
Puspa terbaring di sofa panjang. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir disekujur tubuhnya.
“Pergi kamu … pergi … aku tidak sudi punya ayah sejahat kamu … pergi … pergi …” ucapnya berkali-kali, seperti tidak sadar bahwa dia berucap. Bibik bersimpuh dibawahnya, mengelap wajah dan lengannya yang basah. Nugi duduk di seberang, menatap gadis cantik itu dengan iba.
Tadi Puspa mencarinya yang semula datang bersamanya. Ia ingin bersandar, menenangkan jiwanya yang terguncang, tapi tak dilihatnya Nugi di depan. Ternyata Nugi masuk ke belakang melalui pintu samping, untuk menemui ibunya. Di dapur, sang ibu sedang melongok ke ruang tengah, di mana seorang laki-laki sedang bercakap dengan Puspa.
“Bu …” sapanya.
Ketika bik Supi menoleh, ia langsung menutup mulut Nugi dengan telapak tangannya.
"Itu Priyadi, bekas sopir tuan Sanjoyo, mengapa memanggil non Puspa dengan namanya saja. Sejak kapan dia menjadi orang yang kurang ajar?"
Nugi terkejut. Ia sudah mendengar tadi di kantor, tentang Priyadi bekas sopir tuan Sanjoyo yang buron. Nugi mengambil ponselnya, lalu menelpon polisi. Itu sebabnya tiba-tiba polisi datang dan langsung menangkap Priyadi.
***
Simbok sudah menyiapkan minum untuk Puspa, tapi sepertinya Puspa masih belum benar-benar sadar. Ia terus mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkannya di depan Priyadi.
“Pergi … pergi … aku tidak sudi … pergi …”
“Non, ini bibik … sudahlah Non, dia sudah pergi. Ini bibik Non,” bik Supi terus memijit-mijit tubuh Puspa yang dingin.
“Apakah tidak lebih baik memanggil tuan Sanjoyo?”
“Tapi hari kerja tuan tidak suka di telpon.”
“Ini kan ada masalah … aku kira tidak apa-apa.”
“Baiklah,” kata bik Supi sambil mendekat ke arah telpon rumah.
“Katanya sudah pergi … kamu masih di sini …!"
“Puspa, aku Nugi …”
Dan seperti tersengat aliran listrik, Puspa membuka matanya, mencari-cari.
“Nugi? Tadi kamu ke mana? Ada penjahat, aku butuh teman …” lirihnya.
Nugi mengambil gelas minum dan meminta Puspa untuk minum.
Puspa meneguknya beberapa teguk.
“Tadi kamu di mana? Sekarang mana penjahat itu?”
“Dia sudah pergi, dibawa polisi.”
“Bagaimana bisa ada polisi?”
“Aku tadi masuk rumah lewat pintu samping, bermaksud ketemu ibu di belakang. Tapi aku melihat laki-laki itu yang berbicara dan melihat kamu seperti marah. Ibu mengatakan bahwa laki-laki itu Priyadi, bekas sopir tuan Sanjoyo. Tadi aku kan mendengar cerita tuan Sanjoyo, bahwa Priyadi buron, kok tiba-tiba ada di rumah ini, lalu aku menelpon polisi.”
“Ah, syukurlah, aku takut sekali. Mana bibik?”
“Non Puspa sudah sadar? Syukurlah. Tuan Sanjoyo sedang dalam perjalanan pulang.”
Puspa meraba lehernya yang terluka, ada darah membasahi bajunya.
“Ya ampun … Non sampai terluka,” kata bibik sambil berlari ke belakang untuk mengambil obat.
“Apakah kamu percaya kalau aku anak penjahat itu, Nugi?”
“Sepertinya dia tidak pantas menjadi ayahmu.”
“Dia pasti mengada-ada, aku takut sekali,” rintih Puspa yang kemudian menjatuhkan diri lagi di sofa.
“Polisi sudah mengurusnya. Kamu tidak usah memikirkannya.”
“Aku tidak mau menjadi anak penjahat busuk itu, aku ini putri tuan Sanjoyo, aku ini keluarga Sanjoyo.”
“Non, mana lukanya, biar bibik bersihkan lalu di tempel obat dan di plester.”
“Aku sedih sekali Bik … “ lirihnya.
“Sudah, jangan memikirkan orang gila itu. Sebentar lagi tuan pulang, kalau Non sedih, tuan pasti juga sedih, karena tuan sangat menyayangi Non.”
“Sakit Bik, perih.”
“Ini bibik bersihkan darahnya dulu, perih sedikit, nah sudah bersih, akan bibik kasih obat. Hanya luka luar, bibik plester saja.”
Bibik sudah selesai mengurus luka Puspa, lalu ia mengambil kotak obat ke belakang. Saat itulah terdengar mobil memasuki halaman.
Puspa bangkit, matanya merebak. Begitu tuan Sanjoyo memasuki rumah, Puspa segera menubruknya dan merangkulnya erat, sambil menangis sejadi-jadinya.
“Bapak, bukankah Bapak adalah ayahku? Bukankah aku putrimu, Pak, aku tidak mau ayah lain, Bapak adalah ayahku,” tangisnya membuat tuan Sanjoyo bingung.
Ia tidak tahu apa-apa. Bibik hanya mengatakan bahwa Puspa sakit, dan minta agar tuan Sanjoyo pulang.
“Ada apa ini? Mengapa kamu berkata seperti itu?”
Puspa tetap merangkulnya erat, lalu tuan Sanjoyo mengajaknya duduk. Puspa tak mau melepaskan ayahnya.
“Puspa, jangan begini. Bapak jadi bingung.”
“Nugi, apa kamu bisa mengatakan apa yang terjadi? Ini lehermu terluka juga Puspa. Ada apa ini? Nugi, bukankah tadi Puspa pulang bersama kamu? Puspa ingin mengajak kamu makan masakan ibumu, bukan? Lalu ada apa ini?”
“Saya tidak begitu tahu, ketika saya masuk dari pintu belakang, saya melihat laki-laki yang sedang berkata-kata dengan Puspa. Saya melihat Puspa marah-marah, lalu ibu saya mengatakan bahwa dia adalah Priyadi. Saya mendengar bahwa Priyadi menjadi buron, lalu saya berinisiatif menelpon polisi.”
“Jadi tadi Priyadi datang kemari?”
Lalu Nugi mengatakan apa yang dia lihat, ketika Puspa di sandera dengan ancaman belati di lehernya, lalu Nugi berhasil menendang Priyadi sehingga belatinya terlepas dan Puspa pingsan di pelukannya.
“Polisi sudah menangkapnya? Syukurlah, tapi mengapa Puspa menjadi begini?”
“Bapak, Priyadi mengatakan bahwa Puspa anak kandungnya, dia ingin bersembunyi di sini dan aku harus melindunginya karena aku adalah anak kandungnya. Aku tidak mau … aku putri Bapak bukan? Aku bukan anak penjahat,” Puspa masih menangis.
Tuan Sanjoyo terkejut. Priyadi mengatakan kalau Puspa adalah anaknya?
“Bapak, aku anak Bapak bukan? Aku tidak mau Priyadi, aku hanya mau Bapak yang menjadi ayahku,” Puspa kembali merangkul sang ayah. Tuan Sanjoyo mengelus kepalanya dengan lembut. Puspa, anak bungsu yang sangat dikasihinya adalah anak Priyadi? Kalau itu benar, tuan Sanjoyo tak akan melepaskannya.
Barangkali Priyadi benar. Perselingkuhan itu pasti ada dan terjadinya sudah bertahun-tahun, bersamaan dengan adanya kebohongan tentang sumbangan panti. Tuan Sanjoyo kurang cermat mengamati tingkah laku Srikanti atas hubungannya dengan Priyadi. Ia masih mempercayainya, karena pintarnya Srikanti menyenangkan hatinya. Tuan Sanjoyo mengelus dadanya, dan berusaha sabar dalam menghadapi kejadian tak terduga yang datangnya bertubi-tubi.
“Puspa, kamu adalah anak bapak, kamu bukan anak siapa-siapa. Kamu anakku, Puspa.”
Kemudian keduanya justru bertangisan. Nugi, priya gagah dan tegar tetap saja matanya berkaca-kaca melihat adegan itu. Puspa itu anak tuan Sanjoyo atau bukan, tapi tuan Sanjoyo tetap mencintainya. Kelihatan sekali dari sikapnya.
“Puspa, biarpun orang mengakui kamu sebagai darah dagingnya, tapi kamu tetap anakku. Kamu anakku, Puspa, jangan sedih, kamu tak akan kehilangan ayahmu ini, ia akan tetap ada untuk kamu.”
“Terima kasih Pak, Puspa sangat menyayangi Bapak, Puspa hanya mau Bapak sebagai ayahku.”
“Bapak juga sangat menyayangi kamu. Sudahlah, berhentilah menangis, jangan memikirkan apa-apa lagi.”
Puspa mengusap air matanya, mencium pipi sang ayah dengan penuh kasih sayang, lalu mengusap pipi yang setengah keriput itu dengan telapak tangannya, karena basah oleh air matanya.
"Jangan lupa, besok kamu dan Nugi ke kantor untuk mempelajari semua yang kamu harus mengerti.”
Perkataan tuan Sanjoyo itu menyiratkan, bahwa tak ada perubahan posisi Puspa yang akan menjadi pendampingnya dalam perusahaan. Dan itu juga berarti bahwa pengakuan Priyadi bahwa Puspa adalah darah dagingnya tidak membuatnya beringsut dari ketetapan hatinya.
***
Besok lagi ya.
Alhamdulillah yang ditunggu sdh tayang
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 43* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete
ReplyDeleteAlhamdullilah
Matur nuwun bu Tien
Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 43* sdh hadir...
Semoga sehat dan bahagia
bersama keluarga
Aamiin...
Matur nuwun, Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang
ReplyDeleteAlhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 43" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπ
ReplyDeleteAlhamdulillah,suwun mb Tien π
ReplyDeleteYesss... πͺπͺπͺ
ReplyDeleteterima kasih Bu Tien
ReplyDeleteMatur nuwun bunda
ReplyDeleteSemoga sehat si lalu
Tuan Sanjoyo begitu sabar. Kayanya tidak mau kehilangan Puspa. Semoga Puspa baik baik saja. Selamat Nugi
Selamat bekerja d perusahaan tuan Sanjoyo. Kamu jadi pahlawan.
Alhamdulillah sudah tayang
ReplyDeleteTerima kasih bunda Tien
Semoga sehat walafiat
Salam aduhai hai hai
Alhamdulillah HBB dah tayang, begitu bijaknya pak Sanjoyo,orang tua yg betul2 menyayangi Puspa, walaupun hati kecilnya ada sdikit keraguan,...... Maturnuwun Bu Tien,π salam sehat dan bahagia, tetap semangat sll berkarya cerbung untuk hiburan para pecintanya.
ReplyDeleteAlhamdulilah maturnuwun bu Tien... smg ibu sehat dan dlm lindungan Allah SWT... OTW solo ingin berjumpa dg bu Tien ... aduhai aduhai senengnya
ReplyDeleteAlhamdulillah mksh Bu Tien smg sekeluarga sehat selalu
ReplyDeleteAlhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 43 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.
ReplyDeleteAlhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~43 sudah hadir..
ReplyDeleteMaturnuwun Bu Tien π
Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin YRA..π€²
Mks bun....selamat malam, sehat" sll
ReplyDeleteπ·☘️π·☘️π·☘️π·☘️
ReplyDeleteAlhamdulillah ππ¦
Cerbung HaBeBe_43
telah hadir.
Matur nuwun sanget.
Semoga Bu Tien dan
keluarga sehat terus,
banyak berkah dan
dlm lindungan Allah SWT.
Aamiinπ€².Salam seroja π
π·☘️π·☘️π·☘️π·☘️
Alhamdulillah.... Cerbung HBB~43 sudah tayang, sungguh baik hati bpk Sanjoyo tetap sayang pada Puspa. Terimakasih bunda Tie, sehat dan bahagia selalu, aduhaai....
ReplyDeleteTerima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 43 sampun tayang.
ReplyDeleteSehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin
Adegan penuh haru, Puspa tdk mengakui Yadi sbg ayah nya dan tuan Sanjoyo tdk mau kehilangan Puspa.
Matur nuwun Bunda Tien , salam sehat , barokalloh
ReplyDeleteTuan Sanjoyo pantas menjadi pengusaha sukses karena bisa mengambil keputusan dengan cepat, cermat dan tepat...
ReplyDeleteTerima Kasih Mabk Tien..
Permisi mau ketemu Mery apakah sudah pergi dari rumah Baroto karena serangan tajam Nenek Sasa? Puspa dan Mery sama-sama disambar petir, namun Puspa sudah selamat, apakah Mery selamat juga?
Waah...Priyadi nekat bener menyandera Puspa. Beda dengan ending yg biasanya ibu Tien tulis ya...nampaknya sudah hampir sampai ke ujung cerita nih.π
ReplyDeleteTerima kasih, ibu Tien...salam sehat.ππ»π₯°