Tuesday, January 20, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 41

 HANYA BAYANG BAYANG 41

(Tien Kumalasari)

 

Priyadi sudah duduk di depan tuan Sanjoyo. Ia menundukkan kepalanya ketika pandangan matanya beradu dengan tuan majikannya. Ia merasa tatapan tajam itu menusuk jantungnya, menghunjam dalam-dalam dan membuatnya gemetar.

Beberapa saat lamanya tuan Sanjoyo tidak mengatakan apa-apa. Ia masih terus menatap Priyadi yang semakin menundukkan wajahnya.

“Angkat wajahmu,” tiba-tiba kata tuan Sanjoyo. Priyadi mengangkat wajahnya tapi tetap tak berani menatap wajah tuan majikannya.

“Selama ini aku mempercayai kamu, bertahun-tahun, sepuluhan tahun, bahkan lebih. Benarkah?”

“Ya Tuan.”

“Aku sama sekali tidak mengira bahwa ternyata kamu mampu membohongi aku.”

“Tu … tuan … sebenarnya … sebenarnya saya … menjalankan perintah nyonya. Bukan saya yang … yang … itu Tuan, tentang … tentang panti-panti itu, bukan … bukan keinginan saya. Saya hanya … di … disuruh oleh nyonya …”

“Benarkah? Begitu patuhnya kamu kepada nyonyamu, sehingga menuruti semua kemauannya. Pasti itu tidak gratis bukan?”

“Tt.. tapi … eh … iya, tidak gratis … maksud saya … saya juga mendapatkan upah, Tu …tuan.”

“Upah berupa uang, dan apa lagi?”

“Tuan … mohon Tuan memaafkan saya.”

“Memaafkan untuk kesalahan yang mana?”

“Semua … kesalahan  ss..saya. Ssaya tahu … Tuan sangat baik hati dan .. dan dermawan, mohon maafkanlah … saya, Tuan.”

“Saya baik hati dan dermawan? Benarkah? Barangkali ya, tapi untuk seseorang yang berkhianat kepadaku selama bertahun-tahun, menipu selama bertahun-tahun juga, barangkali kamu akan menganggap aku ini kejam.”

“Tt … tuan, sess sesungguhnya … saya hanya dipaksa oleh nyonya.”

“Dipaksa atau tidak, kamu tetap aku anggap berkhianat.”

“Tuan, maafkanlah sayy … sayya.”

“Mulai besok kamu sudah tidak bisa masuk kerja lagi.”

“Tuan … mohon … Tuan memaafkan saya.”

“Baiklah, aku maafkan, tapi tetap hari ini hari terakhir kamu bekerja di sini. Srikanti sudah aku usir dari rumah, kemarin pagi dia sudah tidak ada lagi di rumahku.”

“Aap … appa?”

“Hari ini aku sudah mengurus surat gugatan cerai.”

“Tt … tapi …”

“Aku belum menemukan keterlibatan Nilam dalam kasus ini, tapi nanti begitu ketahuan, dia akan menyusul kalian … pergi dari sini.”

Priyadi merasa lemas. Jadi Srikanti sudah diusir sejak kemarin? Mengapa tidak pulang ke rumah? Apa? Srikanti pasti pulang ke rumah. Jangan-jangan Srikanti yang mengobrak abrik rumah dan mengambil barang-barang berharga serta uang. Mengapa dia melakukannya? Pikir Priyadi dengan keringat dingin yang sudah membasahi tubuhnya.

“Aku sudah cukup bicara, kalau kamu butuh surat pengalaman kerja, bagian kepegawaian akan mengurusnya, tapi kamu tidak akan mendapat pesangon, sepeserpun.”

“Tu … tuan.”

“Sekarang pergilah. Kalau ada barang-barang kamu yang ada di kantor ini, segera kamu kemasi dan tinggalkan tempat ini.”

Priyadi mengangkat tubuhnya sendiri dengan sangat berat, lalu tertatih keluar dari ruangan.

Dalam berjalan itu ia justru berpikir tentang Srikanti. Benarkah Srikanti yang mengobrak-abrik rumah dan mengambil semua benda berharga? Kenapa? Priyadi dan Nilam sama sekali tidak berpikir tentang surat nikah mereka.

***

Priyadi tidak segera pulang. Ia menunggu Nilam sampai menyelesaikan jam kerjanya. Nilam tentu saja tidak mengira kalau ternyata Priyadi sudah dipecat. Ia baru tahu ketika mereka sudah sampai di rumah mesum itu.

“Jadi Mas dipecat?”

“Tampaknya tuan Sanjoyo sudah tahu semuanya. Baik tentang uang untuk panti-panti itu, maupun tentang hubunganku dengan istrinya. Srikanti sudah diusir dari rumah sejak kemarin.”

“Apa? Kalau begitu mengapa dia tidak datang ke rumah ini?”

“Aku sedang berpikir tentang pencurian itu. Mungkinkah Srikanti pelakunya?”

“Dia? Mengapa dia melakukannya? Mengapa dia tidak memilih untuk tinggal baik-baik di rumah ini dan justru mengambil barang-barang berharga yang ada?”

“Aku masih bingung memikirkannya,” kata Priyadi yang merasa lemas dan hanya duduk bersandar di sofa.

Nilam beranjak ke kamar. Dari tadi malam dia belum selesai membersihkan dan merapikan barang-barang yang berantakan. Tapi ketika dia membuang sesuatu ke keranjang sampah, ia berteriak keras, membuat Priyadi terkejut.

“Maaas, lihat!”

Priyadi bangkit dan beranjak mendekati Nilam yang berjongkok di depan keranjang sampah.

“Ada apa?”

Nilam menunjukkan buku nikah keduanya yang sudah dirobek menjadi serpihan kecil.

“Ternyata dia menemukan ini Mas,” kata Nilam gemetar.

“Kalau begitu dia marah, lalu mengambil semua barang berharga dan uang.”

“Bagaimana ini Mas. Segera laporkan kecurigaan kita ini kepada polisi. Enak saja dia mengambil barang-barangku.”

“Baik, aku akan segera melaporkannya. Kemungkinan besar dia berada di sebuah hotel, entah apa lagi yang akan direncanakannya.”

***

Dugaan Priyadi benar. Srikanti sedang berada di sebuah hotel, membawa luka karena diusir suaminya, dan membawa kemarahan ketika menyadari bahwa dia dikhianati oleh laki-laki yang dicintainya. Tapi cinta itu sudah tak ada. Semenjak ia menemukan surat nikah itu, cinta itu sudah berubah menjadi kebencian dan kemarahan yang menyala. Sekarang dia sedang berpikir tentang apa yang akan dilakukannya.

“Aku harus membalas pengkhianatan ini,” geramnya sambil mengumpulkan perhiasan miliknya sendiri dan perhiasan milik Nilam, yang diyakininya diberi oleh Priyadi dengan uangnya juga.

Ia juga menghitung uang yang berhasil dibawanya. Uang hasil kebohongannya, baik yang dibawanya maupun yang disimpan Priyadi.

“Rasain kamu Pri, kamu tak memiliki apa-apa sekarang.”

Ketika ia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan perasaannya, pintu kamarnya diketuk dari luar. Srikanti ingin mengacuhkannya, tapi ketukan itu terdengar semakin keras dan bertubi-tubi.

Dengan malas Srikanti bangkit, dan membuka pintu. Ia terkejut ketika dua orang polisi berdiri di depan pintu.

“Ada apa ya?”

“Apakah Ibu adalah nyonya Srikanti?”

“Be … benar, ada apa?”

“Kami mendapat perintah untuk menangkap Nyonya.”

“Menangkap saya? Kenapa?”

“Atas tuduhan pencurian di rumah bapak Priyadi. Ini surat perintahnya.”

Srikanti tak menggubris surat itu. Ia berteriak marah.

“Aku bukan mencuri, itu barang-barang saya sendiri.”

“Nanti Ibu bisa memberi keterangan di kantor, sekarang Ibu harus ikut saya.”

“Kurangajar Priyadi. Aku tak mau memikul ini semua sendiri, kamu dan Nilam akan merasakan hal yang sama,” teriaknya.

***

Hari itu Puspa dinyatakan lulus, dengan riang dia pergi ke kantor ayahnya. Ketika ia memasuki halaman kantor, di gardu satpam ia mendengar kasak kusuk bahwa Priyadi dipecat, dan Nilam tak lagi masuk bekerja.

Puspa tak menggubrisnya, ia sudah tahu bahwa sang ayah akan melakukannya. Beruntung ayahnya tidak melaporkan kebusukan mereka kepada polisi. Mereka bisa dihukum bertahun-tahun kalau ayahnya melaporkannya. Tapi ia tahu bagaimana ayahnya. Seperti kata orang, tuan Sanjoyo sangat baik hati dan dermawan.

Puspa meneruskan langkahnya, melewati beberapa karyawan yang sudah mengenalnya, lalu mengangguk hormat. Ketika memasuki ruang kerja sang ayah, ia melihat bagian ekspedisi sedang berbicara dengan ayahnya. Ia menunggu duduk di sofa dengan perasaan tak sabar. Ternyata mereka sedang membicarakan tentang Nilam yang ikut-ikutan tak masuk kerja hari ini.

“Biarkan saja kalau dia mau mengikuti ayahnya untuk keluar. Nanti aku carikan lagi pengganti.”

“Baiklah, saya permisi.”

Tuan Sanjoyo mendekati Puspa yang kemudian merangkulnya.

“Bapak, aku sudah lulus,” katanya sambil berlinang air mata.

Tuan Sanjoyo memeluknya erat.

“Anak baik, anak pintar. Bapak bahagia sekali mendengarnya. Ayo sekarang harus mulai belajar bekerja membantu bapak.”

“Iya, pasti Pak.”

“Duduklah, kalau mau minum ambil sendiri. Apa kamu lapar? Kita bisa makan diluar.”

“Iya, aku mau Pak.”

“Sebentar lagi ya, bapak sedang menunggu laporan dari bagian keuangan.”

“Pak, Priyadi sudah dipecat?”

“Sudah, mulai hari ini dia bukan lagi karyawan. Dan tampaknya Nilam juga mengikuti ayahnya. Biarkan saja.”

“Bagaimana dengan permintaan Puspa?”

“Permintaan yang mana?”

“Nugi, anak bik Supi, bisa nggak ikut bekerja di sini?”

“Mana dia? Bukankah bapak sudah menyuruh kamu agar membawanya kemari?”

“Besok pasti akan Puspa ajak dia menghadap Bapak. Bukankah Bapak sudah pernah bertemu ketika ulang tahun Bapak?”

“Iya. Tapi kan hanya sekilas. Nanti bapak mau mengajaknya bicara dalam banyak hal. Kalau cocok, akan bapak tugaskan dia di bagian keuangan, menjadi wakil pak Utoyo.”

“Terima kasih Pak.”

“Kamu bersemangat sekali mencarikan pekerjaan buat dia? Jangan-jangan ada apa-apa diantara kalian,” tuduh sang ayah.

Puspa tersenyum tersipu.

“Belum ke arah sana, baru berteman dekat. Bapak ada-ada saja.”

“Bapak hanya berpesan, pilih pasangan yang baik, jangan asal tampan, atau jangan asal kaya.”

“Iya, Puspa tahu.”

“Sebentar, itu sepertinya pak Utoyo sudah datang, kamu tunggu dulu, lalu kita makan siang diluar.”

***

Nilam sedang sendirian di rumah. Ia menyuruh Priyadi membeli makanan, karena dia ingin sekali makan nasi gudeg, tapi dia sedang malas keluar. Ia juga sudah mendengar bahwa kemarin Srikanti sudah ditangkap. Nilam senang, barang-barang berharga miliknya pasti akan segera dikembalikan.

Tapi lamunan Nilam buyar, ketika tiba-tiba ada polisi berdiri diluar. Ia tidak mengunci pintunya sehingga langsung melihat mereka.

Nilam mengira polisi-polisi itu akan memberikan keterangan tentang Srikanti, tapi ternyata polisi-polisi itu ingin membawanya.

“Saya juga akan membawa bapak Priyadi.”

“Kenapa? Kami yang kehilangan, mengapa kami mau ditangkap?”

“Ada laporan bahwa bapak Priyadi dan ibu Nilam terlibat dalam penipuan bersama ibu Srikanti.”

“Sebentar, suami saya sedang pergi, saya akan menelponnya,” kata Nilam yang tiba-tiba ketakutan.

 Nilam mengambil ponselnya, dan menelpon Priyadi. Ia mengatakan tentang penangkapan yang akan dilakukannya kepada dirinya dan Priyadi. 

Celaka duabelas, ini namanya senjata makan tuan. Pikir Priyadi. Bukannya ia pulang, ia justru kabur.

***

Besok lagi ya.

51 comments:

  1. Alhamdulillah HaBeBe_41 sudah hadir....
    Terima kasih mBak Tien....
    Salam SEROJA

    ReplyDelete
  2. Alhamdulilah Cerbung HBB 41 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Sri. Besok ketemu kan?
      Aduhai aduhai

      Delete

  3. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 41* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Wedeye

      Delete
  4. 🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️
    Alhamdulillah πŸ™πŸ¦‹
    Cerbung HaBeBe_41
    telah hadir.
    Matur nuwun sanget.
    Semoga Bu Tien dan
    keluarga sehat terus,
    banyak berkah dan
    dlm lindungan Allah SWT.
    Aamiin🀲.Salam seroja 😍
    🌷☘️🌷☘️🌷☘️🌷☘️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih jeng Sari

      Delete
  5. Mks bun HBB 41 sdh tayang....selamat mlm smg bunda sll sehat πŸ™πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Supriyati

      Delete
  6. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 41" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  7. Terimakasih mb Tien ❤️
    Salam sehat dan semangat πŸ’ͺ

    ReplyDelete
  8. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu.

    ReplyDelete
  9. Alhamdulilah
    Puji syukur kehadirat Allah SWT.
    Terimakasih Bu Tien. Semoga sehat slalu
    Sukurin Priyadi dipecat.
    Selamat Puspa telah lulus
    Semoga Nugi diterima kerja.
    Tuan Sanjoyo. Segera pecat Nikam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Endang

      Delete
  10. Mantab sekali Bu Tien, sudah ketangkap semuanya, Alhamdulillah, Maturnuwun Bu Tien, salam sehat,bahagia dan semangat ,sll ditunggu episode berikutnya ...

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  12. Semoga mbak Tien selalu sehat bersama keluarga, aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Latief

      Delete
  13. Wow
    BruwΓͺt yΓ₯
    JarΓ© kabur..
    Lunga Sragen nggolèk kacamata..
    BΓ¨n cΓͺthΓ₯...

    Terima kasih Bu Tien Hanya Bayang bayang yang ke empat puluh satu sudah tayang
    SΓ©hat sΓ©hat selalu doaku
    Sedjahtera dan bahagia bersama keluarga tercinta



    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha iki priyayine ngΓ©tok. Kok ilang2an ta pak Nanang

      Delete
  14. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 41 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Uchu

      Delete
  15. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~41 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Djodhi

      Delete
  16. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah
    Terima kasih bunda Tien
    Semiga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Endah.
      Aduhai hai hai

      Delete
  18. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 41 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Herry

      Delete
  19. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 41 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Kanti & Nilam, rumahmu di balik jeruji ya, sebentar lagi Yadi...menyusul...😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih pak Munthoni
      Besok ke Solo nggak?

      Delete
  20. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Reni

      Delete
  21. Matur nuwun Bunda Tien, barokalloh .. ditunggu cerita selanjutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Yulian

      Delete
  22. Alhamdulilla.... Terima kasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu bunda Tien Sekeluarga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Terima kasih ibu Komariyah

      Delete
  23. Alhamdulillaah, Matur nuwun Bu Tien, salam sehat wal'afiat semua ya πŸ€—πŸ₯°πŸ’–πŸŒΏπŸŒΉ

    Seru ,,, kabur kemana pri...

    ReplyDelete
  24. Priyadi ini tololnya kebangetan. Orang mengambil barang-barangnya sendiri dituduh mencuri. Pakai lapor polisi segala, padahal dia sendiri yang mencuri.
    Dalam episode ini Mbak Tien eh Tuan Sanjoyo tegas sekali...
    Terimakasih Mbak Tien...

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...