Monday, January 19, 2026

HANYA BAYANG BAYANG 40

 HANYA BAYANG BAYANG  40

(Tien Kumalasari)

 

Hari itu, di pagi harinya, Srikanti sudah meninggalkan rumah. Tak ada ucapan selamat tinggal diucapkannya, dan tak ada ungkapan selamat jalan diterimanya. Ia merasa semuanya sudah selesai.

Tak seorangpun mengira apa yang terjadi pada Srikanti setelah tiba di rumah mesum yang dibangunnya dengan tetesan dosa bersama Priyadi.

Tak seorangpun juga tahu bahwa Srikanti terkapar di lantai, di dalam kamar yang selalu dipakainya bersama Priyadi.

***

Ketika Srikanti datang, Priyadi dan Nilam sedang pergi jalan-jalan. Mereka tidak pergi ke kantor karena hari itu adalah Minggu.

Mereka bersenang-senang di hotel, makan enak di restoran, dan pulang ketika hari sudah malam.

Ketika pulang, mereka tidak mengira kalau Srikanti sudah datang ke rumah itu. Mereka melihat kasur berantakan, seprei dan sarung bantal berserakan di lantai, dan seprei yang masih terlipat rapi terletak di lantai.

“Apa yang terjadi?”

“Kamu tidak mengunci pintu ya? Rumah kita dirampok,” teriak Priyadi.

Nilam berlari ke kamarnya, melihat almari terbuka dan kotak yang berisi perhiasan yang dibelikan oleh  Priyadi lenyap tak berbekas. Juga dompet berisi uang tak bersisa.

“Mas, benar, kita telah di rampok. Perhiasan satu kotak hilang,” pekik Nilam sambil menangis.

“Kita tidak mengunci rumah kita.”

“Tadi ketika masuk, pintu juga tidak terkunci.”

Priyadi memeriksa almarinya sendiri. Uang simpanan yang ada di dalam dompet, lenyap tak berbekas.

“Mas, ayo lapor polisi,” tangis Nilam.

“Tapi kenapa ya perampok itu mengobrak abrik tempat tidur?”

“Mungkin mencari sesuatu, atau barangkali dia punya pikiran bahwa ada yang kita sembunyikan di bawah kasur atau di dalam sarung bantal.”

“Mereka mengambil seprei dari dalam almari tapi dibiarkan tergeletak di lantai.”

“Pastinya bukan bermaksud mengambil seprei Mas, barangkali ia ingin mencari sesuatu di almari itu, karena tidak mendapatkannya maka membiarkan saja seprei itu tergeletak di lantai.”

“Kamu benar juga Nilam, ayo kita lapor polisi. Tapi sebentar, aku juga harus menelpon Srikanti. Ia harus tahu tentang pencurian ini, karena aku masih membawa sebagian uangnya, dan yang ternyata sekarang hilang.”

“Ya ampuun, kita tidak punya apa-apa Mas, habis semuanya,” Nilam masih tetap menangis, sementara Priyadi gagal menghubungi Srikanti. Berkali-kali dilakukannya, tapi tak bisa tersambung. Srikanti mematikan ponselnya.

***

Suroto dan Suwondo bersiap pulang ke tempat kerjanya pagi itu, ketika melihat tuan Sanjoyo juga bersiap pergi ke kantor.

“Bapak tidak istirahat saja?” kata Sekar.

“Iya, istirahat di rumah dulu, biar Puspa menemani.”

“Tidak usah, bapak baik-baik saja. Bukankah ujian untuk kamu diundur besok pagi?”

“Iya Pak, itu sebabnya saya akan di rumah saja menemani Bapak.”

“Tidak, bapak akan tetap pergi ke kantor. Parto sudah dalam perjalanan kemari.”

“Ya sudah, ini mas Wondo dan Suroto juga mau pamit, Sekar juga akan segera ke kantor.”

“Ya sudah, kalian sudah terlambat ke tempat kerja kalian karena bapak.”

“Tidak, kami sudah merencanakan akan kembali ke kantor Senin siang, atau libur sama sekali.”

“Hati-hati di jalan, terima kasih atas semuanya.”

“Bapak tidak perlu berterima kasih, kami bahagia melihat Bapak juga bahagia.”

“Aku sangat bahagia. Aku merasa sudah terlepas dari sebuah kungkungan yang melingkupi hidupku. Yang penting aku memiliki kalian yang benar-benar menyayangi ayahmu ini dengan sepenuh hati.”

Mereka berangkulan, dan masing-masing kembali ke tempat kerja mereka.

“Puspa, apakah kamu mau ikut bapak ke kantor? Bukannya kamu ingin belajar dari awal tentang perusahaan bapak?”

“Besok saja setelah ujian Pak, supaya Puspa merasa lebih tenang. Doakan saja Puspa berhasil lulus.”

“Doa bapak selalu untuk kalian.”

Puspa merangkul ayahnya dengan perasaan haru. Ia sedih mengetahui dosa-dosa ibunya, tapi ia sedih melihat ayahnya terluka.

***

Puspa membantu bibik di dapur, sambil tak henti-hentinya membicarakan Srikanti yang akhirnya bisa ketahuan kelakuan busuknya.

“Tapi saya minta maaf Non, pasti Non juga ikut terluka, karena nyonya adalah ibu kandung Non.”

“Tidak apa-apa Bik. Memang sudah kehendak Tuhan sehingga semua bisa menjadi seperti ini.”

“Non jangan membenci ibu sendiri, doakan dan mintakan ampun kepada Tuhan, dan agar Tuhan menunjukkan jalan yang benar dalam sisa hidupnya.”

“Terima kasih ya Bik, Bibik selalu menguatkan aku.”

Suara dering bel tamu terdengar, lalu Puspa berlari ke depan. Betapa terkejutnya Puspa ketika melihat siapa yang datang.

“Nugi?”

Nugi berdiri di depan pintu, lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

"Waktu datang pada ulang tahun Tuan Sanjoyo, aku belum sempat bicara banyak. Aku harus berterima kasih karena keluarga ini telah memberikan pekerjaan untuk ibu, sehingga ibu bisa menyekolahkan aku.”

“Sudah, jangan berterima kasih untuk itu, aku yang harus berterima kasih karena bik Supi telah berbuat banyak untuk keluargaku. Ayo masuk, langsung ke belakang. Ibumu ada di belakang,” kata Puspa yang mendahului masuk ke dalam.

“Bibik, lihat siapa yang datang,” Puspa berteriak.

Bik Supi melongok dari pintu dapur, dan sangat bergembira ketika melihat Nugi berjalan di belakang Puspa.

***

“Nugi?”

Mereka kembali berangkulan, hati Puspa sedikit teriris. Alangkah bahagianya memiliki ibu yang sangat baik dan penuh kasih sayang.

“Aku datang untuk memohon restu, karena besok mau maju ujian.”

“Ibu selalu mendoakan kamu, Nugi. Kamu anak baik yang membanggakan ibu.”

“Semua karena doa Ibu.”

“Ayo duduklah, aku buatkan minuman,” kata Puspa tiba-tiba.

“Eh, jangan Non, biar bibik saja.”

“Kan bibik baru kedatangan tamu. Tenang saja, yang akan Puspa buat itu minuman instan, tinggal menuang air panas dari termos, selesai,” kata Puspa yang nekat mengambil cangkir-cangkir, membuat minuman instan dan diletakkan di meja dapur.

“Atau kita duduk di ruang tengah saja?”

“Tidak Non, di sini saja. Ini kan bukan tamu, tapi anak bibik.”

“Ya sudah, terserah Bibik saja.”

“Bibik tidak mengira kalau Non itu teman kuliahnya Nugi. Berkali-kali bicara tentang Nugi, dan Non sudah tahu kalau Nugi itu anaknya bibik, tapi tidak pernah mengatakan bahwa Nugi itu teman Non.”

“Nugi juga tidak tahu kalau Ibu bekerja di rumahnya Puspa,” sambung Nugi.

“Sedang musim saling menutupi rahasia,” kata bik Supi tiba-tiba, membuat Puspa tersenyum kecut. Ia merasa bik Supi juga sedang menyindir keluarganya.

“Bik, aku sudah bilang pada bapak, kalau nanti Nugi sudah lulus, aku minta kepada bapak agar diterima bekerja di kantornya.”

“Ya ampun Non, Nugi hanya anaknya bibik, mana pantas bekerja bareng orang-orang kaya.”

Puspa tertawa.

“Bik, orang bekerja itu yang penting pekerjaannya, bukan dia siapa atau anak siapa.”

“Tapi kalau tuan tahu bahwa Nugi itu anak bibik, jadi nggak enak bibik ini Non.”

“Bibik jangan khawatir, nanti aku akan mengajak Nugi ke kantor bapak. Bapak yang menyuruhnya.”

“Tuh Nug, kamu akan bekerja diantara orang-orang kaya,” kata bik Supi sambil menepuk bahu anaknya, membuat Nugi tertawa. Rupanya ibunya merasa minder kalau dirinya kelak bisa bekerja di kantor tuan Sanjoyo.

“Bibik gimana sih? Tidak ada orang melamar pekerjaan itu ditanya, apakah dia kaya atau miskin. Kalau diterima bukan karena dia kaya. Kalaupun ditolak bukan karena dia miskin atau anak siapa. Yang penting dia bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.”

Bibik menutup mulutnya, tersipu. Tapi rona bahagia tampak pada wajahnya.

“Bibik tahu? Aku tuh belajar banyak hal dari Nugi. Aku yang terbiasa hidup serba mewah, diperkenalkan oleh Nugi bagaimana hidup sederhana, makan di pinggir jalan, berbuat baik kepada sesama, dan masih banyak lagi. Jadi kalau bibik merasa bahwa aku sudah berubah, itu semua karena Nugi.”

“Benarkah Non?” kata bik Supi yang memang merasa ketika pada suatu hari ia melihat sikap Puspa berubah menjadi baik.

Puspa mengangguk, sementara Nugi hanya tersenyum-senyum mendengarkannya.

“Ini Bibik mau masak apa? Nanti kita ajak Nugi makan bersama-sama. ”

“Tidak usah Non.”

“Hei, mengapa kamu berubah memanggil aku non? Tetaplah seperti dulu, tak ada yang berubah,” sergah Puspa.

“Baiklah, tapi aku mau pulang dulu.”

“Tidak boleh, ayo Bik, masak soto ayam seperti dulu aku minta lalu aku bawa ke kampus.”

“O, itu dulu dimakan bersama Nugi?” tanya bibik heran.

Puspa mengangguk sambil tersenyum. Kedatangan Nugi membuat semua derita yang melandanya akibat ulah ibunya menjadi sedikit berkurang.

***

Priyadi sudah melapor polisi tentang kehilangan uang dan barang-barang di rumahnya. Polisi sudah memeriksanya dan menanyakan apa yang harus ditanyakannya.

Ia juga menanyakan apakah ada orang lain yang sering datang ke rumah, dan Priyadi hanya menjawab bahwa dia, Srikanti, istri seorang pengusaha besar yang tak mungkin mencuri barang-barangnya, karena semua barang-barang itu juga pemberiannya.

***

Pagi hari itu Priyadi dan Nilam masuk bekerja seperti biasa. Priyadi tetap tidak bisa menghubungi Srikanti sampai saat itu.

Dengan wajah muram Nilam segera menceritakan kepada teman-temannya bahwa kemarin ketika ditinggal pergi, ada orang yang menjarah barang-barangnya.

Demikian juga Priyadi. Tapi ketika dia asyik bercerita, tiba-tiba manager ekspedisi memanggilnya.

“Pak Sanjoyo meminta agar kamu menghadap Pri.” katanya, dan entah mengapa Priyadi merasa debar jantungnya berdetak keras. Pada pikirnya, pasti ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Srikanti malam itu.

***

Besok lagi ya.

55 comments:

  1. 🌾🌿🌾🌿🌾🌿🌾🌿
    Alhamdulillah πŸ™πŸ˜
    Cerbung HaBeBe_40
    sampun tayang.
    Matur nuwun Bu, doaku
    semoga Bu Tien selalu
    sehat, tetap smangats
    berkarya & dlm lindungan
    Allah SWT.AamiinYRA. πŸ’πŸ¦‹
    🌾🌿🌾🌿🌾🌿🌾🌿

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun jeng Sari

      Delete
  2. Alhamdulillah "Hanya Bayang-Bayang 40" sdh tayang. Matur nuwun Bu Tien, sugeng daluπŸ™

    ReplyDelete
  3. Alhamdulilah Cerbung HBB 40 sampun tayang .... maturnuwun bu Tien, semoga ibu sekeluarga selalu sehat dan bahagia .. salam hangat dan aduhai aduhai bun πŸ™πŸ©·πŸŒΉπŸŒΉ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Sri
      Aduhai aduhai

      Delete
  4. Alhamdulilah
    Terimakasih bunda. Semoga bunda sehat begitu juga keluarga sehat

    Srikanti dilaporkan ke polisi ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun bapak Endang

      Delete
  5. Masya Allaah...... Astaghfirullooh..
    2 tahun ini saya kena 'candu' tulisan mbak Tien. Setiap waktu saya menyesali kok harus libur di hari minggu, hingga kehilangan sehari rangkaian cerita yang menghipnosis saya. Maafkan saya ya Robb..

    ReplyDelete
  6. Terima kasih Bu Tien..
    Semoga Bu Tien beserta keluarga selalu sehat

    ReplyDelete
  7. Matur suwun bu Tien salam sehat selalu.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah.Maturnuwun Cerbung " HANYA BAYANG BAYANG ~ 40 " πŸ‘πŸŒΉ
    Semoga Bunda dan Pak Tom Widayat selalu sehat wal afiat .Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Herry

      Delete

  9. Alhamdullilah
    Matur nuwun bu Tien
    Cerbung *HANYA BAYANG BAYANG 40* sdh hadir...
    Semoga sehat dan bahagia
    bersama keluarga
    Aamiin...



    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Wedeye

      Delete
  10. Matur nuwun mbak Tien-ku Hanya Bayang-Bayang telah tayang

    ReplyDelete
  11. Matur nuwun mBak Tien.apa
    Alhamdulillah nganti nyundul "paksu" ada apa gerangan?

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah sdh tayang..semakin medebarkan kisah selanjutnya..sehat selalu Bunda Tien...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Swissti

      Delete
  13. Selalu bikin deg deg saaar😊,ceritanya makin seru dan penasaran,..... Alhamdulillah dah tayang, maturnuwun Bu Tien,πŸ™salam sehat bahagia selalu dan semakin semangat Krn pecinta cerbung makin dibukin penasaran.

    ReplyDelete
  14. Alhamdulillah HANYA BAYANG BAYANG ~40 sudah hadir..
    Maturnuwun Bu Tien πŸ™
    Semoga tetap sehat dan bahagia senantiasa bersama keluarga, serta selalu berada dalam lindungan Allah SWT.
    Aamiin YRA..🀲

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Djodhi

      Delete
  15. Alhamdulillah, HANYA BAYANG-BAYANG (HBB) 40 telah tayang, terima kasih bu Tien, semoga Allah senatiasa meridhoi kita semua, aamiin yra.

    ReplyDelete
  16. Waw ..... tambah seru bagaimana ya nasib Priyadi apakah dia dipecat dari pekerjaannya... Terima kasih Bu Tien, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah
    Terima kasih bu da Tien
    Semoga bunda dan keluarga sehat walafiat
    Salam aduhai hai hai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Endah
      Aduhai hai hai

      Delete
  18. Alhamdulillah bun...mks selamat mlam

    ReplyDelete
  19. Matur nuwun Bu Tien, semoga Ibu sekeluarga sehat wal'afiat.....

    ReplyDelete
  20. Terima kasih Bunda, serial cerbung : Hanya Bayang Bayang 40 sampun tayang.
    Sehat selalu dan tetap semangat nggeh Bunda Tien.
    Syafakallah kagem Pakdhe Tom, semoga Allah SWT angkat semua penyakit nya dan pulih lagi seperti sedia kala. Aamiin

    Kel Sanjoyo sdh berhasil membuang Benalu. Di tempat kerjaan, tuan Sanjoyo juga akan menyingkirkan Benalu tsb.
    Yadi...is out ya...😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun pak Munthoni

      Delete
  21. Alhamdulillah
    Syukron nggih Mbak Tien❤️🌹🌹🌹🌹🌹

    ReplyDelete
  22. Terima kasih bunda Tien, sehat dan bahagia selalu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Yaa Robbal'alamiin. Matur nuwun ibu Komaroyah

      Delete
  23. Priyadi harus dipecat...
    Terimakasih Mbak Tien...
    Mery, bagaimana kabarnya? Mau disamperan dulu...

    ReplyDelete

HANYA BAYANG BAYANG 42

  HANYA BAYANG BAYANG  42 (Tien Kumalasari)   Sudah lama Nilam menunggu, dan minta kepada polisi yang akan menangkapnya agar jangan dulu mem...